NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:34.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

****

Kabar tentang perjuangan Bidan Melani menyelamatkan Tari dan bayinya menyebar secepat angin subuh yang membelah perbukitan Hulu Rawa. Dukun Mbah Salma yang memvonis bayi itu sebagai pembawa sial kini tertunduk malu, sementara warga yang semalam mendengar jeritan dan tangis kehidupan di rumah Mbah Karsa tak berhenti membicarakan keajaiban medis yang terjadi.

Pagi itu, sebelum kabut tipis di atas tajuk pohon menghilang, bunyi gema gong adat bertabuh tiga kali dari teras Rumah Adat. Suara nyaring itu menandakan sebuah panggilan resmi dari Ketua Adat dan para tetua senior—panggilan yang mewajibkan seluruh kepala keluarga, para ibu, hingga pemuda desa untuk berkumpul tanpa terkecuali.

Ratusan warga memenuhi pelataran tanah yang luas. Namun kali ini, tidak ada raut amarah, obor pembakaran, atau bisik-bisik kebencian seperti hari-hari lalu. Suasana pelataran begitu hening dan sarat akan rasa hormat yang membumbung tinggi.

Di atas teras Rumah Adat, berdiri Rangga Wira dalam balutan jubah adat kebesarannya. Sosok tegapnya memancarkan wibawa yang amat kuat. Di sampingnya, berdiri Mbah Karsa—tetua berambut perak yang kini tak lagi menatap dengan pandangan tajam penuh prasangka, melainkan dengan raut penyesalan dan kedamaian yang dalam.

Sementara itu, Melani berdiri di samping tangga kayu teras. Bidan muda berwajah manis itu telah membersihkan noda darah dari tubuhnya, mengenakan kemeja putih bersih dipadu kain tenun birunya yang anggun. Kalung tenun sakral milik mendiang ibu Rangga melingkar indah di lehernya.

Rangga Wira melangkah satu tapak maju, memecah keheningan pelataran dengan suara baritonnya yang menggelegar tenang.

"Wargaku sekalian! Para tetua yang saya hormati!" seru Rangga Wira, pandangannya menyapu seluruh rakyatnya. "Semalam, di balik kegelapan yang hampir menelan desa kita, bumi Hulu Rawa menyaksikan sebuah kebenaran yang tak bisa lagi dibantah oleh siapa pun!"

Rangga berpaling menatap Mbah Karsa, memberi isyarat agar tetua senior itu mengambil alih pembicaraan.

Mbah Karsa melangkah perlahan ke depan teras, menopang tubuhnya pada tongkat kayu. Matanya yang tua dan berair menatap lurus ke arah ratusan pasang mata warganya.

"Wargaku..." panggil Mbah Karsa dengan suara bergetar namun jernih melintasi pelataran. "Saya berdiri di sini hari ini bukan sebagai tetua yang angkuh, melainkan sebagai seorang kakek yang hampir kehilangan cucu dan cicitnya karena kebodohan dan kesombongan tua saya sendiri."

Warga saling pandang, menahan napas menyimak pengakuan jujur sang tetua adat.

"Selama ini, saya adalah orang yang paling keras menolak Bidan Melani. Saya menuduh ilmu medismu merusak tradisi, menyebut obat-obatannya racun, dan bahkan berniat jahat padanya semalam," pukas Mbah Karsa, air mata mengalir di pipinya yang keriput. "Tapi apa yang dilakukan Bidan Melani saat cucu saya bertaruh nyawa antara hidup dan mati?"

Mbah Karsa menunjuk ke arah Melani dengan jemari gemetar.

"Dia tidak dendam! Dia tidak menolak! Dia bertaruh nyawa, bersimbah darah hingga kemejanya memerah demi memotong jalan lahir dan merawat cucu saya! Jika bukan karena Bidan Melani dan ilmu medismu yang cekatan... hari ini rumah saya dipenuhi tangis duka atas kematian Tari dan bayinya!"

Mbah Karsa mengusap air matanya, lalu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di hadapan seluruh warga ke arah Melani.

"Bidan Melani tidak datang ke sini untuk merusak tradisi leluhur kita!" tegas Mbah Karsa nyaring. "Kehadirannya di tanah ini justru mempererat, memperkuat, dan menyelamatkan anak cucu serta generasi penerus suku kita di masa depan!"

Sorak riuh dan tepuk tangan bergemuruh seketika di pelataran Rumah Adat. Bu Minah, Melati, dan para ibu muda yang hadir mengusap air mata haru. Anak-anak desa bersorak gembira menyebut nama Bidan mereka.

"Benar! Bidan Melani penyelamat kita!" seru Seno dari barisan depan pemuda, memicu gemuruh persetujuan seluruh warga.

Rangga Wira mengaitkan kedua tangannya di balik punggung, kembali mengambil alih ketegasan sidang adat tersebut.

"Maka dari itu," seru Rangga Wira dengan nada otoritas mutlak yang tak terbantahkan, "Atas kesepakatan seluruh tetua adat dan persetujuan dari saya sebagai Ketua Adat Hulu Rawa... Hari ini kita menetapkan Pembaruan Hukum Adat!"

Suasana pelataran kembali hening, menyimak keputusan sejarah baru desa mereka.

"Pertama!" pukas Rangga Wira. "Anak perempuan di Hulu Rawa dilarang keras dinikahkan di bawah usia delapan belas tahun! Tubuh dan mental anak-anak kita harus tumbuh matang dan siap sebelum memikul tanggung jawab rumah tangga!"

Melani menahan napasnya di bawah tangga, matanya membelalak pelan penuh rasa haru dan takjub. Perubahan itu benar-benar terjadi! batin Melani bergetar.

"Kedua!" lanjut Rangga Wira. "Setiap kehamilan wajib mendapatkan pemeriksaan medis berkala di Pustu! Jarak kehamilan antar-anak wajib dijaga minimal dua hingga tiga tahun demi keselamatan jiwa sang ibu!"

Rangga menatap lurus ke arah para warga dengan sorot mata menajam. "Dan ketiga! Seluruh pengobatan tradisional atau praktik dukun yang membahayakan nyawa ibu dan bayi dilarang keras di tanah ini! Hanya penanganan medis Bidan Melani dan tim kesehatan resmi yang diakui oleh hukum adat Hulu Rawa!"

Tepuk tangan dan sorakan persetujuan membahana jauh lebih keras dari sebelumnya. Warga yang kini telah terbuka matanya menyambut pembaruan hukum adat tersebut dengan sukacita dan rasa lega yang amat sangat.

Rangga Wira melangkah turun beberapa anak tangga, mengulurkan tangannya pada Melani. Bidan muda itu menyambut uluran tangan tegap Rangga, melangkah naik berdampingan hingga berdiri sejajar di tengah teras Rumah Adat.

Di bawah naungan pendar sinar matahari pagi yang hangat, Rangga Wira menatap wajah ayu Melani yang tersenyum manis penuh kebahagiaan.

"Di hadapan seluruh warga dan para leluhur Hulu Rawa..." seru Rangga Wira nyaring, "Saya secara resmi mengangkat Bidan Melani tidak hanya sebagai tenaga medis kita, tetapi juga sebagai 'Bidan Pelindung Generasi Hulu Rawa'! Barang siapa yang mencoba mengganggu, menghalangi tugasnya, atau berniat jahat padanya... artinya menantang seluruh hukum adat dan perlindungan darah dari saya!"

Mbah Baya menyerahkan sebuah mahkota rangkaian bunga hutan dan serat tenun halus. Dengan gerakan yang lembut dan sarat akan rasa hormat, Rangga Wira menyematkan mahkota sederhana itu di atas rambut hitam terurai milik Melani.

Jarak mata mereka begitu dekat. Rangga menatap dalam-dalam ke dalam manik mata jernih Melani, menguarkan aroma cendana dan hangatnya perasaan yang tak lagi disembunyikan.

"Terima kasih, Melani..." bisik Rangga pelan, suaranya hanya cukup didengar oleh gadis di sebelahnya. "Kamu tidak hanya menyembuhkan warga desa ini... tapi kamu menyembuhkan jiwa tanah ini."

Melani merasakan pipinya merona merah muda yang sangat hangat. Jemari lentiknya memegang batu hitam kalung tenun di dadanya, menatap lurus ke dalam mata hitam Rangga yang tajam namun penuh kelembutan.

"Terima kasih, Pak Rangga..." balas Melani tulus, senyum manisnya memancar bagaikan surya pagi. "Saya berjanji akan menjaga generasi desa ini dengan seluruh jiwa saya."

Anak-anak desa berlarian mendekati tangga teras, memanggil nama Bu Bidan mereka dengan gembira. Dinding isolasi dan ketakutan yang puluhan tahun mengurung Hulu Rawa kini telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh harapan baru, keadilan medis, dan benih-benih cinta yang makin mengakar kuat antara sang Ketua Adat dan Bidan Pelindung mereka.

Bersambung..

1
falea sezi
klo gede harusnya sekolah ke kota biar jd dokter hebat🤭 jangan cm di desa doank anaknya
Naufal hanifah
bagus ceritanya
Rian Moontero
mampiir👍👍
neng ade
bikin gemas dan lucu , Arshaka dan Rangga saling menempel sama Melani 😁
neng ade
pintar dan berani,
Kusii Yaati
kirain kembar kak🤭
dika edsel
anak juga baru loncing,blm juga dikasih nama masa iya udahan...,,lanjut dong thor...?? eh pesan buat melani..jgn mau hamil lagi.., sakitnya sampe sini mel..
neng ade: lanjutkan !
total 2 replies
neng ade
masih blm tuntas, kasihan Melani, semoga selamat dan lancar kelahiran nya
neng ade
saatnya menantikan kelahiran sang penerus suku
neng ade
nah kan ! mas Rangga harus belajar ngalah ya 😁
Kusii Yaati
semoga anak Melani kembar ya, pasti heboh satu desa 🤭
neng ade
hebat mas Rangga,, suami idaman, suami siaga ❤️
neng ade
luar biasa sekali Ki Rangga ini
Kusii Yaati
Heleh kemarin" aja sempet mengacuhkan Melani sampai berminggu-minggu, omongan nya ketus pula, sekarang Melani di puji" merasa bangga dia 😒🤭
Heresnanaa_: namanya laki laki Bun wkwkw
total 1 replies
neng ade
saya. yang baca aja ngiler dengan segala hidangan khas hulu rawa beserta kue nya, othor harus nya bungkusin dong buat saya ❤️😁
Heresnanaa_: waduhh, author aja cuma bisa bayangin kak 😌🙏
total 1 replies
Sari Sindanglaya
wuihhh ngaku2 pak Rangga 🤣🤣
neng ade
menunggu kelahiran sang penerus suku adat Hulu rawa
Sari Sindanglaya
ayo kamu bisa😍😍
neng ade
manja nya Rangga Wira
imel
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!