Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Tepat jam 4 sore, aku dan Ferdy menutup laptop bersama. Siang tadi Ferdy langsung meminjamkan laptop OSIS untukku. Setelah sholat Dzuhur dan makan siang yang hanya memakan satu roti dibagi 2, kami langsung berkutat pada rekapan laporan masing-masing bagian dan mulai menyusun proposal pensi ini. Nafsu makan kami seakan menghilang karena dihadapkan pada pekerjaan yang dikejar waktu seperti ini.
"Alhamdulillah... Thanks banget ya Dit. Gue mau nge-print ini dulu. Lo mau ikut?"
"Gue ke kelas aja Dy, mau ambil tas dan cepet-cepet pulang. Sorry banget ya nggak bisa nemenin Lo sampai akhir." Ferdy hanya menjawab dengan anggukan nya dan segera melangkahkan kakinya ke ruang OSIS yang ada diseberang sana. Kami memang memilih mengerjakan semuanya di gazebo yang tidak jauh dari ruang OSIS.
Aku segera melangkahkan kaki menuju kelasku di lantai dua. Saat mengambil tas, kurasakan getaran cukup intens didalamnya. Aku benar-benar melupakan ada iPhone ku didalam sana, mungkin mama atau Bi Asih yang sedang mencoba meneleponku.
Mama...
Segera ku gulir tombol hijau dan menjawab telepon dari mama.
"Belum pulang Dit?" Kudengar suara cukup berisik disana. Mungkin mama sedang di luar yang posisinya dekat dengan jalan raya.
"Belum mah, ini baru mau jalan. Mama mau nitip sesuatu?"
"Nggak sayang, ada hal penting yang mau mama sampaikan. Kita ketemu di rumah sakit tempat Ivan di rawat aja ya. Kamu bisa kan langsung kesini dari sekolah?"
"Bi-bisa mah."
Aku tidak mendengar kalimat selanjutnya yang diucapkan mama sebelum akhirnya panggilan terputus. Entah kenapa hatiku sedikit bimbang untuk kesana. Ada rasa khawatir hatiku akan tersakiti lagi dengan melihat interaksi mama dan kak Ivan nantinya. Aku takut mama memperlihatkan rasa sayang yang lebih besar kepada kak Ivan dibandingkan kepadaku.
Segera kulangkahkan kakiku menuju pos satpam depan untuk mengambil kunci motorku. Tanpa adanya syarat apapun, aku berhasil mendapatkan kunci motorku kembali dengan mudah.
Kupelankan laju motorku keluar dari area sekolah menuju rumah sakit tempat kak Ivan dirawat. Jarak 9 km yang biasanya bisa kutempuh dengan waktu kurang dari 20 menit, kini aku sengaja memelankan nya. Semakin lama aku sampai akan semakin baik. Entah kenapa feeling ku mengatakan bahwa Aku butuh mempersiapkan hati ini untuk bertemu mama dan kak Ivan.
Hampir 40 menit perjalananku, dan sekarang aku sudah berada di depan pintu kamar ruang inap kak Ivan.
"Assalamualaikum..." Tanpa menunggu siapapun membukakan pintu, kubuka pintu ini dengan mengucapkan salam.
"Wa'alaykumussalaam... Akhirnya, sampai juga Adit... Mama khawatir, kamu lama banget sampai nya." Ku terima uluran tangan mama yang berniat menyalamiku. Semoga selamanya tangan ini bisa terulur untukku.
"Macet mah."
"Sini sayang,,, duduk dulu." Aku meletakkan backpack ku di meja dan mengikuti anjuran mama untuk duduk berdampingan dengan nya di sofa kamar inap ini.
"Mama belum pulang dari tadi?" Aku sengaja memulai pertanyaan ini agar mama tidak segera pada inti pembicaraan. Hatiku masih was-was akan terlukai lagi.
"Belum,, tadi mama sampai sini Ivan masih tidur. Jadi mama tungguin, dan baru sekitar satu jam lalu dia bangun." Beliau menjelaskan masih dengan suara yang terdengar agak tergesa.
"Kalau bi Asih udah pulang mah?" Kembali kucoba mengulur waktu.
"Dari Dzuhur tadi mama minta Bi Asih pulang aja. Kasian, biar bisa istirahat di rumah aja. Hmm... Adit,, mama mau diskusi sesuatu." Mama mulai menatapku intens.
"Diskusi apa mah? Oh iya, Kak Ivan kok nggak ada?" Lagi, aku menemukan pertanyaan pengulur waktu selanjutnya saat aku menatap sekitar dan tak kulihat keberadaan kak Ivan di ruangan ini.
"Ivan lagi ketemu dokter, mungkin sebentar lagi balik kesini. Adit,,, mama baru dapat kabar dari Ivan. Kamu ternyata sekarang udah tau kalau rumah sakit kita sedang ada agenda besar menguji coba obat antiretroviral. Dan ternyata kamu pun udah tahu bahwa yang sedang jadi objek uji coba ini adalah kamu. Ivan merasa menyesal, dia mau menghentikan penguji coba-an obat antiretroviral untuk kamu. Padahal sebelumnya dia sangat bersemangat. Dan uji coba ini akan sangat bisa mengembangkan rumah sakit kita Dit. Sayang sekali kalau harus dihentikan, padahal jelas-jelas ada objek yang sempurna di depan mata. Apa kamu yang udah mempengaruhi Ivan untuk menghentikan nya?"
Astaghfirullah, dadaku rasanya sangat sesak. Tanpa kucari tahu pun aku bisa mengetahuinya bahwa memang mama ada di balik agenda uji coba obat itu untukku.
Mama,,, tidak kah mama tahu betapa menderitanya Adit beberapa hari ini?!
"Nan-nanti Adit bujuk kak Ivan lagi buat melanjutkan mah." Kucoba menahan semua rasa sesak ini.
"Baiknyaaa anak ganteng mama ini. Sekarang coba cerita ke mama, ada efek samping apa aja yang kamu rasakan beberapa hari ini?" Mama merangkul pundakku pelan, mendekatkan posisi duduknya dengan ku.
"Nggak ada mah, aku bisa melewatinya dengan baik." Aku mencoba menguatkan hati untuk terus merespon dengan senormal mungkin semua kalimat dari mama.
"Bener? Mama nggak tau si seberapa keras nya obat itu. Tapi info dari semua tim dokter, obat-obat antiretroviral itu sangat keras Dit. Ada efek jangka pendek dan efek jangka panjangnya. Papa kamu yang punya ide ini juga sempet agak ragu kalau kamu jadi objeknya. Tapi akhirnya, papa bisa menerima semuanya dengan alasan akan ada saatnya kamu nanti bisa mengkonsumsi yang paling minim efeknya buat kamu. Kamu nggak merasakan mual, pusing atau sampai lemes gitu?" Aku sedikit kaget mendengar info ini, jadi papa dalang semuanya. Dan mama mendukung nya. Dan kak Ivan pelaksananya. Ya, ini semua demi kebaikanku. Memang, tapi aku merasa dikhianati oleh orang-orang disekelilingku sekarang.
"Paling mual aja si mah, dan nggak lama." Aku beringsut menggeser tubuhku dan mulai berdiri.
"Mah, Adit ke toilet dulu ya."
Bergegas aku menuju toilet di kamar inap ini, hatiku terasa hancur. Bahkan aku masih merasakan pukulan bertubi-tubi yang setia berusaha membuat hatiku yang sudah hancur menjadi lebur.
Bayang-bayang wajah mama yang terlihat biasa saja bahkan terkesan senang dengan semua penderitaan yang kurasakan seakan menari di kepalaku. Bahkan wajah papa pun tiba-tiba muncul, wajah keangkuhan yang nyata. Yang nyata menunggu semua hasil penderitaanku. Wajah dingin yang seakan siap membekukan ku jika aku tidak bisa memberikan hasil apa-apa.
Pagi tadi sudah sangat kusiapkan hati ini untuk melanjutkan apa saja yang menjadi proyek besar kak Ivan pada tubuh bervirus ku ini. Dengan alasan, aku tahu kak Ivan pun sangat menyesali perbuatan nya, dan aku tahu pasti kak Ivan akan mengusahakan yang terbaik untukku.
Tapi sekarang, aku merasa sangat dikhianati oleh orangtua ku sendiri. Orangtua yang kuharapkan bisa melindungi ku, bisa menjadi tempatku bersandar. Bisa merasakan sakitku dan semua penderitaanku untuk ditanggung bersama, untuk berusaha melindungi ku dari semua rasa sakit yang menghampiriku.
Keluar dari kamar mandi langsung kuhampiri kak Ivan yang berdiri membelakangiku di depan brankar nya.
"Kak,,, lanjutkan aja kak." Sedikit berbisik aku mengucapkan nya, rasanya begitu berat.
"Eh, Adit? Kapan sampai? Kakak nggak tau ada kamu disini." Kak Ivan terlihat kaget melihatku. Dia segera berbalik dan mengulumkan senyum ramah nya untukku.
"Kak,,, obat berikutnya mana?" Tanpa berbasa-basi aku mencoba menanyakan perihal obat yang dijanjikan nya malam tadi.
"Obat?!"
"Oh,,, maaf... Kakak hampir lupa. Kakak udah bilang ke mama kamu nggak akan melanjutkan lagi Dit. Jadi kamu aman, nggak perlu konsumsi obat yang lainnya lagi. Karna yang semalem kamu minum sepertinya cukup ringan efek nya. Nanti kak Ivan kasih obat itu lagi, malam nanti. Krna dalam sehari hanya boleh satu obat kamu minum." Aku menggeleng cepat.
"Obat yang lainnya kak. Kak Ivan baru ngasih aku dua obat pas di kafe dan yang semalem. Pasti nggak bisa dijadikan bandingan dengan seluruh obat antiretroviral yang ada." Aku berusaha meyakinkannya untuk tetap melanjutkan.
"Nggak, udah cukup. Dan,,, sebenarnya sudah enam obat Yang sempat dikonsumsi kamu Dit. Memang seharusnya ada lima belas, tapi sudah cukup Dit. Kakak udah menemukan yang terbaik buat kamu."
"Enam?! Kapan?" Aku sangat syok mendengarnya. Seberhasil itukah perannya sebagai detektif sampai aku tidak sadar telah menelan obat dari nya?!
"Sorry,,, Kak Ivan merasa jadi penjahat banget buat kamu. Maaf banget. Nanti Kakak jelasin. Kita sudahi semuanya Dit. Cukup. Jangan paksa kakak buat melanjutkan lagi."
"Ivan, tadi Adit sudah Tante ajak ngobrol. Dia mau melanjutkan kok. Iya kan sayang?" Kemunculan mama yang tiba-tiba membuatku menyimpan kembali kalimat yang akan kuucapkan.
"Tante?! Kalau pun Adit mau, Ivan yang nggak mau." Kupahami kesungguhan kak Ivan untuk menghentikan semuanya.
"Ivan! Kamu sudah tahu kan konsekwensi nya?!" Mama terlihat kaget dan sangat tidak menerima keputusan dari kak Ivan.
"Iya Tante, Ivan siap di depak dari rumah sakit Mahardika dan Ivan juga siap mengembalikan semua hutang orangtua Ivan yang sudah om Dhika dan Tante Mey selesaikan." Kali ini aku cukup tercengang dengan konsekwensi yang akan kak Ivan dapatkan. Seserius itu kah orangtua ku membuat anaknya menjadi objek uji coba yang bahkan mungkin bisa membunuhnya?
"Ivan,,, Tante mohon... Nggak cuma kamu aja yang akan di depak dari rumah sakit Mahardika. Tapi,,, tapi Tante juga akan kena imbasnya. Om Dhika bisa-bisa langsung menceraikan tante. Tante nggak mau menjanda, Tante sudah menjanjikan hasil uji coba ini sebagai syarat kepulangan om Dhika. Sebelum ini selesai, Tante akan terus dihantui rasa sakit itu. Rasa sakit ditinggalkan... Kamu tega lihat Tante depresi lagi? Lihat Tante ketakutan nggak jelas lagi?! Ini demi kebaikan kita bersama Ivan..." Dengan suara mengibanya mama mulai terisak.
Astaghfirullah...
Sepelik ini kah masalahnya.
Kenapa papah bisa sejahat ini?!
"Kak, kalau kak Ivan nggak mau. Adit akan cari dokter lainnya untuk menuntaskan ini!" Aku tidak bisa mengambil keputusan terbaik lainnya kali ini. Biarlah tubuh ku ini berkorban untuk kebaikan semuanya.
"Nggak! Dokter lain nggak akan memanusiakan kamu Adit. Mereka pasti hanya akan fokus tujuan. Nggak, nggak! Kakak nggak mau! Udah cukup kamu merasakan kesakitan itu."
"Oke aku siap, kalau kakak tetep nggak mau. Nggak apa-apa, Adit masih kuat menerima perlakuan terburuk sekalipun dari dokter lain yang kak Ivan bilang nggak akan manusiawi seperti yang kak Ivan lakukan. Mama bisa segera uruskan mencari dokter yang lainnya. Udah mah, kita langsung ke rumah sakit Mahardika saja." Aku bersiap pergi mengajak mama sebelum tangan itu berhasil menahan langkahku.
"Adit!!! Oke! Kak Ivan akan lanjutkan. Dengan syarat selama 24 jam kamu harus selalu dalam pengawasan kak Ivan! Kita tinggal bersama di apartemen Kakak. Kakak akan alihkan semua tugas di rumah sakit ke yang lain."
Aku tersenyum miris menanggapinya. Ya, ini yang kuinginkan. Kurasa kak Ivan akan dengan sangat berhati-hati dan mengambil tindakan paling tepat atas segala efek yang akan kurasakan nanti dibandingkan dokter-dokter lain yang tidak kukenal. Perasaan ku cukup lega sekarang meskipun ada kekhawatiran yang ikut menelusup juga.
semangatt juga kak 💪