Yara adalah seorang wanita cantik namun teramat lugu dan sedikit ceroboh karena didikan dari sang papa Randy juga kelembutan mama Naya ( Tokoh 'Untuk Kamu' ). Yara juga punya seorang adik yang begitu sayang padanya. Yang selalu melindunginya.
Berbanding terbalik dengan lelaki yang di temui Yara. Lelaki ini begitu tegas dalam hidupnya. Kehidupan masa lalunya yang kelam membuatnya berprofesi sama seperti papa Yara. Tidak ada masa kelam dalam hidupnya yang tidak pernah di cobanya. Mulai dari berantem, tawuran, mencuri, geng motor, menyentuh narkoba ( tanpa mengkonsumsi ), minum minuman keras, tato tidak permanen, dan Pecinta wanita. Dialah Rivaldi Alfario.
Hanya satu ulah kenakalannya yang tidak pernah dia coba. Hingga tanpa alasan mencintai Yara tanpa syarat dalam sifat kerasnya.
cover by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Ingin kamu saja
"Maaa.. perutku sakit sekali" Yara menghubungi Naya.
-------
Langkah Rival terburu buru karena cemas istrinya di bawa ke rumah sakit.
Hasil lab dari cek darah Yara sudah keluar dan Yara di ijinkan pulang. Rival melipat surat dari lab tersebut. Dalam perjalanan Yara sejak terus saja muntah dan lemas.
Zein melirik kecemasan di raut wajah Rival. Dengan telaten pria 28 tahun itu mengurusi Yara yang sedang sakit.
"Kamu sudah makan apa belum dek" tanya Rival lembut.
"Nggak enak makan mas" ketus Yara. Rival mendekat dan menarik Yara, menyandarkan kepala Yara pada bahunya. Yara mencium aroma tubuh Rival merasa nyaman hingga tertidur.
"Bau keringat begitu bisa tidur dia, mengherankan" dengus Zein sambil melirik Yara yang sudah tidur di pelukan Rival.
"Kasian kamu" belaian Rival pada Yara semakin memperdalam tidur Yara.
"Abang harus ceritakan, tidak apa apa bang"
"Tidak semudah itu Zein" ucap Rival melemah.
"Aku akan membantumu bang" Rival tersenyum penuh arti.
***
Hampir tiga minggu setelah kejadian itu, Yara memang masih melakukan semua pekerjaan ibu rumah tangga tapi sikapnya pada Rival memang sedikit berubah. Hanya kadang saja Yara tiba tiba ingin di peluk Rival saat mau tidur.
"Jangan diam seperti itu, mas nggak tahan kamu cuekin begitu dek" tegur Rival menarik tangan Yara yang sedang mengepel lantai. Leher putih dan rambut terangkat membuat Rival salah tingkah.
"Lepas mas, sakit" Yara melepaskan kasar tangannya. Rival tak menolak tangan Yara yang menepisnya, tapi hatinya yang sedang bergemuruh tidak tenang membuatnya tidak bisa selalu bersabar.
Rival mendekati Yara dan mengambil gagang pel yang ada di tangan Yara dan menyandarkannya. Rival memeluknya dari belakang.
"Semarah marahnya kamu jangan pernah menolak aku. Jangan buat dosa karena lalai mengurus suamimu" Rival mengecup tengkuk Yara. Yara terbayang bagaimana suaminya bersama wanita lain. Bagi Yara hubungan suami istri itu sangat pribadi dan rahasia. Jadi karena kepolosannya, Yara jijik membayangkan suaminya harus 'begitu' dengan yang lain.
"Haruskah aku melayani laki laki yang sudah melakukannya berkali kali?"
"Kamu tuduh aku dek? Sebegitu rendahnya kamu menilai suamimu?" kekecewaan Rival tak bisa di sembunyikan lagi.
"Aku nggak bisa kasih mas anak, tapi mas punya anak di luar" Yara melepas kasar tangan Rival.
"Anak lagi..anak lagi, aku tidak punya anak di luar sana. Apa aku ini gila menebar anakku dimana mana. Mainku dulu memang di tempat maksiat. Tapi aku tidak pernah 'check sound' pada mereka. Halah..sudah..kelamaan debat sama kamu dek" Rival mengangkat tubuh Yara yang berontak ingin di lepaskan. Rival mengunci rapat kamarnya.
"Teruskan marahmu itu" tegas Rival.
"Pekerjaanku sudah banyak yang tidak fokus karena ingin terus bersama istriku, kepalaku sakit memikirkan kamu saja"
Sebenarnya Rival tau yang di lakukan adalah salah, memaksa Yara melayaninya dengan posisi Yara yang masih sakit hati dan salah paham padanya. Tapi Rival juga tidak bisa menahan lagi rasa dalam kepala dan persaannya.
--------
Hhkkkk
Rival terkejut Yara mendorong tubuhnya sekuat mungkin.
"Ada apa dek?" Suara berat Rival masih terdengar. Pikirannya masih fokus dengan hal yang di lakukannya.
"Mas berat sekali, perutku sakit. Aku mau muntah" Yara menangis karena tidak menikmati sama sekali walau Rival sudah membuatnya senyaman mungkin.
Yara menahannya karena Rival sulit sekali untuk di kalahkan. Setelah Rival turun, Yara menyambar selimut yang ada di ranjang, memakai sekenanya dan berlari ke kamar mandi. Rival mengatur napasnya sejenak lalu mengikuti Yara setelah merapikan dirinya.
"Kenapa kamu ini" Rival memijat lembut tengkuk Yara yang terus saja muntah. Yara hanya menggeleng.
Yara sangat lemah hingga yang bisa di lakukannya saat ini hanya menyandarkan tubuhnya pada Rival. Rival terkejut melihat wajah Yara yang sangat pucat.
"Sakitmu pasti kambuh lagi dek" Rival mengangkat Yara kembali ke kamar.
--------
"Zein..aku nggak kembali ke kantor ya!"
"Kenapa bang? tumben malas" tanya Zein.
"Kakakmu yang manja ini minta kutemani"
"Yaelah bang" Zein malas menjawab pernyataan kakak iparnya yang tidak penting.
.
.
ceritanya bagus banget... keren aku suka Kak Nara 👍👍👍❤❤❤
tega sekali kau Thor... memisahkan Rival dengan Yara.
jadinya sad ending ya cerita ke 2 ini 😢
walaupun aku udah baca beberapa bab awal di cerita ke 3 yg udah tau klo Yara meninggal, tetap aja nangis dan ada rasa gak rela😭
dasar anak king cobra, gada takutnya sama ular🐍 😅😅