Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Bab 14
Keesokan harinya. Pukul 08.00.
Lusi terbangun dengan kepala yang sedikit pusing. Efek samping puasa mutih, mungkin. Atau efek samping dari ritual semalam. Ia duduk di tepi kasur, memijat pelipisnya pelan.
Hari ini hari keempat.
Puasa mutih sudah selesai.
Tapi Pati Geni belum dimulai.
Ia berjalan ke meja, membuka kitab Semar Mesem, dan membaca kembali bagian tentang Pati Geni.
"Pati Geni adalah puncak dari rangkaian ritual Semar Mesem. Dilakukan selama satu hari satu malam penuh (24 jam), dimulai dari matahari terbit hingga matahari terbit keesokan harinya. Selama Pati Geni, pengirim tidak boleh:"
· Makan
· Minum
· Tidur
· Berbicara
· Keluar dari ruangan ritual
"Ritual ini adalah ujian terberat. Banyak yang gagal. Dan mereka yang gagal... tidak akan pernah kembali seperti semula."
Kalimat terakhir itu selalu membuat bulu kuduk Lusi berdiri. Tidak akan pernah kembali seperti semula. Apa maksudnya? Gila? Mati? Atau sesuatu yang lebih buruk?
Ia tidak tahu. Tapi ia juga tidak mau tahu.
Yang ia tahu, ia harus berhasil.
Ia menutup kitab, lalu berjalan ke kamar mandi. Hari ini ia harus menyiapkan semuanya. Besok, saat matahari terbit, Pati Geni dimulai.
Kamar kost Dita, sebelah kamar Lusi.
Tok tok tok.
"Dit? Lo bangun?"
Suara Lusi dari balik pintu. Dita yang masih setengah tidur bangkit dari kasurnya, mengucek-ngucek mata, lalu membuka pintu.
"Lus? Tumben lo yang nyamperin gue. Biasanya gue yang ngetuk pintu lo." Dita menguap lebar. "Ada apa?"
Lusi berdiri di depan pintu dengan wajah serius. Tapi bukan serius tegang lebih ke serius yang tenang. Seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu dan tidak bisa diganggu gugat.
"Dit, aku mau minta tolong."
"Tolong apa?"
"Besok... dari pagi sampai pagi lagi... aku nggak bisa diganggu. Sama sekali. Pintu kamarku bakal aku kunci dari dalem. Apapun yang terjadi mau ada gempa, mau ada kebakaran, mau ada mantan lo yang datang sambil bawa bunga jangan ada yang ngetuk pintuku. Jangan ada yang manggil aku. Biarin aku sendirian."
Dita mengerjapkan matanya beberapa kali. "Hah? Lo mau ngapain?"
"Aku ada... urusan penting."
"Urusan apa? Sidang skripsi aja nggak sampe segitunya kali."
Lusi tidak menjawab. Ia hanya menatap Dita dengan tatapan yang membuat Dita sedikit merinding.
"Lus... lo nggak aneh-aneh kan? Lo nggak mau... bunuh diri atau apa?"
"Bukan."
"Terus?"
"Pokoknya, tolong. Satu hari doang. Aku cuma butuh satu hari."
Dita menatap Lusi lama. Ia kenal Lusi sejak semester satu gadis pendiam, penakut, gampang panikan, dan nggak bisa ngapa-ngapain sendirian. Tapi Lusi yang berdiri di depannya sekarang... berbeda. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Dita jelaskan. Sesuatu yang dewasa. Sesuatu yang... kuat.
"Oke," akhirnya Dita mengangguk. "Gue jagain. Tapi lo harus janji... begitu selesai urusan lo, lo harus cerita ke gue. Semuanya."
Lusi tersenyum tipis. "Aku janji."
Dita tidak tahu bahwa janji itu tidak akan pernah ditepati. Bahwa setelah Pati Geni selesai, Lusi tidak akan pernah lagi menjadi Lusi yang dulu.
Malam sebelum Pati Geni. Pukul 22.00.
Lusi menghabiskan malam itu dengan menyiapkan segalanya.
Lilin merah tujuh batang, baru, belum pernah dipakai.
Dupa cendana satu bungkus penuh, cukup untuk membakar selama dua puluh empat jam.
Bunga tujuh rupa mawar, melati, kenanga, kantil, sedap malam, cempaka, dan anggrek bulan.
Bokor tembaga berisi air sumur yang diambil dari rumah Ki Sarowang air yang sudah didoakan oleh kakek buyutnya.
Foto Irawan foto yang sudah kusut, tapi justru itu yang membuatnya lebih efektif. Konon, foto yang membawa emosi kuat dari pengirimnya akan memperkuat mantra.
Kitab Semar Mesem terbuka di halaman yang tepat.
Dan liontin perak berbentuk matahari dengan tujuh sinar tergantung di lehernya, tidak akan dilepas sampai ritual selesai.
Ia mengatur semuanya dalam lingkaran di tengah kamar. Persis seperti malam sebelumnya. Tapi kali ini, ia menambahkan satu benda lagi: selembar kain putih yang akan ia pakai sebagai alas duduk selama dua puluh empat jam ke depan.
"Udah siap semua..."
Ia berdiri di tengah kamar, menatap altar ritualnya. Besok, ia akan duduk di sini selama dua puluh empat jam. Tidak makan. Tidak minum. Tidak tidur. Tidak bicara.
Kalau gagal...
Tidak. Ia tidak boleh gagal.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal. Nomor yang sama yang mengirim pesan "Maaf" tiga hari lalu.
Kali ini pesannya lebih panjang:
"Lus, gue nggak bisa tidur. Tiga malem gue nggak bisa tidur. Tiap gue merem, lo muncul. Tiap gue bangun, gue kangen sama lo. Kenapa? Gue nggak ngerti. Apa yang terjadi sama gue? Lo ngapain sama gue?"
Lusi membaca pesan itu dengan wajah datar. Tidak ada emosi. Tidak ada kepuasan. Tidak ada apa-apa. Hanya ketenangan yang dingin.
Ia tidak membalas.
Ia hanya mematikan ponselnya, meletakkannya di laci meja, dan menguncinya.
Besok, Wan. Besok semuanya akan dimulai.
Hari Pati Geni. Pukul 05.30 pagi. Matahari hampir terbit.
Langit di ufuk timur mulai berubah warna dari hitam menjadi ungu, dari ungu menjadi jingga. Sebentar lagi, matahari akan muncul. Dan begitu sinar pertamanya menyentuh bumi, Pati Geni akan dimulai.
Lusi sudah duduk bersila di atas kain putih. Ia sudah memakai pakaian terbaik yang ia punya bukan pakaian mahal, tapi pakaian yang bersih dan suci: kebaya putih peninggalan ibunya, kain batik motif parang yang hanya dipakai untuk acara-acara khusus, dan jilbab putih bersih tanpa corak.
Ia terlihat seperti pengantin.
Atau seperti mayat yang sudah dikafani.
Tangannya diletakkan di atas lutut dengan telapak tangan membuka ke atas. Punggungnya tegak. Matanya terpejam. Napasnya teratur.
Di sekelilingnya, tujuh lilin masih padam, menunggu untuk dinyalakan. Dupa masih utuh di tempatnya. Bunga-bunga masih segar di dalam bokor.
Liontin perak di lehernya berkilau diterpa cahaya lampu kamar.
Niat ingsun Pati Geni...
Niat ingsun nyepi ing papan sepi...
Niat ingsun nglakoni laku...
Matahari terbit.
Dan Lusi membuka matanya.
Pukul 06.00. Pati Geni dimulai.
Gerimis turun di luar.
Lusi duduk bersila di tengah kamar. Ia sudah menyalakan lilin dan dupa. Asap cendana mulai memenuhi ruangan, menciptakan kabut tipis yang membuat segalanya terlihat seperti mimpi.
Satu jam pertama berlalu.
Tidak ada yang terjadi. Hanya hening. Hanya suara hujan di atap seng. Hanya detak jantungnya sendiri yang terasa semakin keras di telinganya.
Dua jam.
Tenggorokannya mulai terasa kering. Ia ingin minum. Tapi ia tidak boleh.
Tiga jam.
Perutnya mulai berbunyi. Ia lapar. Tapi ia tidak boleh makan.
Empat jam.
Kakinya mulai kesemutan. Punggungnya mulai sakit. Tapi ia tidak boleh bergerak dari posisinya. Ia hanya boleh duduk. Bersila. Tegak. Tidak bergerak.
Lima jam.
Pikirannya mulai berkeliaran. Wajah-wajah muncul di kepalanya. Irawan. Dimas. Rendy. Bayu. Tawa mereka. Suara mereka. Video itu. Adegan demi adegan. Ia mencoba menghalaunya, tapi semakin ia mencoba, semakin jelas wajah-wajah itu muncul.
Enam jam.
Keringat mulai mengucur dari pelipisnya. Bukan karena panas kamar itu sebenarnya dingin. Tapi karena tubuhnya mulai memberontak. Otot-ototnya berteriak minta istirahat. Perutnya menjerit minta diisi.
"Sun amatek adjiku semar mesem..."
Ia mulai membaca mantra. Bukan dengan suara keras ia tidak boleh bicara. Tapi di dalam hati. Mantra itu menjadi jangkar yang menahannya tetap sadar.
[BERSAMBUNG…]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥