NovelToon NovelToon
Dendam Dan Cinta

Dendam Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:632
Nilai: 5
Nama Author: indah Mayaddah f

Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.

Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?

Baca selengkapnya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Jejak Gelap yang Terbuka

Jam di dinding kantor sudah tepat menunjukkan pukul 22:15 malam, Gedung pencakar langit markas Teriaz Group yang siangnya penuh hiruk-pikuk suara telepon, ketikan keyboard, dan langkah kaki orang yang bergegas mengejar waktu, kini berubah menjadi tempat yang sunyi senyap. Keheningan itu begitu pekat, bahkan suara detak jantung sendiri seolah terdengar bergema di telinga. Hanya terdengar suara dengungan halus dari sistem pendingin ruangan yang meniupkan udara dingin tanpa henti, membuat kulit yang terbuka merinding pelan.

Nabila masih duduk diam di kursi kerjanya, dia tak berani bergerak sebelum memastikan satu per satu orang benar-benar telah pergi. Ia melihat lampu di ruangan rekan kerjanya satu per satu dipadamkan. Ia melihat petugas kebersihan mendorong gerobaknya menuju lantai bawah. Ia melihat satpam di lobi berjalan berkeliling memeriksa pintu utama. Hingga akhirnya, setelah menunggu hampir dua jam, ia yakin bahwa kini hanya ada dirinya yang tersisa di lantai ini setidaknya itulah yang ia pikir saat itu.

Perlahan ia berdiri, merapikan lipatan kemejanya, lalu menyelipkan selembar kertas kecil berisi deretan angka di saku dada. Itu adalah kode akses rahasia yang Galen berikan kepadanya pagi tadi, dengan suara berbisik dan tatapan yang sungguh-sungguh.

"Kode ini hanya diketahui oleh tiga orang yaitu paman Bram, Arvin, dan aku sendiri. Gunakan hanya jika sangat terpaksa, dan tinggalkan tempat itu secepatnya jika ada hal yang terasa aneh, apa pun itu" Ucap Galen

Langkah kakinya pelan namun mantap menyusuri lorong yang remang, bayangannya memanjang di lantai marmer yang dingin. Seolah menjadi teman setia satu-satunya malam ini, tujuannya adalah ruang arsip pusat, sebuah ruangan yang terletak di bagian paling belakang gedung, tersembunyi di balik koridor yang jarang dilewati siapa pun. Pintu ruangan itu terbuat dari baja tebal berwarna abu-abu gelap, tanpa jendela, dan terlihat tak tersentuh selama bertahun-tahun.

Nabila berdiri tegak di depan pintu itu. Ia menarik napas panjang, menahan rasa gugup yang meluap di dadanya lalu mulai menekan tombol angka di papan ketik keamanan. Detik berikutnya, terdengar bunyi "klik" halus, diikuti suara mekanisme roda gigi yang berputar berat di balik tembok. Pintu besar itu perlahan bergeser ke samping, menyambutnya dengan udara yang lebih dingin dan bau khas kertas tua yang bercampur debu.

Di dalam ruangan itu, cahaya lampu neon di langit-langit menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan tajam di sela-sela rak berkas yang setinggi langit-langit. Berkas fisik tersusun rapi memenuhi sisi kiri dan kanan ruangan, sementara di sudut paling dalam, berdiri satu unit komputer server utama yang menyimpan seluruh data digital perusahaan, sebuah harta karun sekaligus peti mati bagi mereka yang berani mengaksesnya tanpa izin.

Nabila segera duduk di depan layar yang gelap itu, tangannya sempat terhenti di atas papan ketik sejenak. Keraguan sempat datang: Apakah aku siap melihat kebenaran yang mungkin jauh lebih mengerikan daripada yang aku bayangkan?, namun seketika itu juga, bayangan wajah Anggita yang pucat, tatapannya yang kosong, dan air matanya yang tak henti menetes kembali terlintas di benaknya. Ia tak bisa mundur sekarang.

Nabila mulai mengetik, memasukkan sandi tambahan yang juga diberikan Galen. Layar monitor menyala terang, menampilkan antar muka sistem yang rumit. Dengan panduan yang sudah ia pelajari matang-matang, Nabila menyusup melewati lapisan demi lapisan perlindungan data. Awalnya ia hanya mencari berkas yang berhubungan dengan kasus pelecehan pada Anggita. Namun saat ia menemukan folder tersembunyi berlabel rahasia, ia menyadari bahwa masalahnya jauh lebih besar.

Layar itu menampilkan ribuan baris data transaksi. Milyaran rupiah, puluhan milyar, bahkan ratusan milyar rupiah terlihat dialihkan dari rekening resmi perusahaan ke rekening-rekening yang tak memiliki nama jelas—rekening fiktif yang tak bisa dilacak ke mana ujungnya. Ia membuka berkas lain: laporan proyek pembangunan jalan, sekolah, dan fasilitas umum yang dananya sudah dicairkan dua tahun lalu, namun di catatan terpisah ia temukan bukti bahwa proyek itu tak pernah dibangun sama sekali. Ada pula bukti penggunaan dana bantuan sosial dan tabungan pensiun karyawan yang disalahgunakan untuk kepentingan pribadi keluarga Teriat.

Dan yang paling membuat darahnya mendidih hingga ubun-ubun: di sebuah berkas bernama "Penyelesaian Masalah", tertera jelas catatan pembayaran sejumlah besar uang kepada orang-orang yang melihat kejadian malam itu, serta instruksi untuk menyebarkan berita bohong bahwa Anggita lah yang mendekati Arvin dengan sengaja.

Nabila menutup mulutnya dengan tangan agar tak menjerit, matanya memanas, dadanya sesak menahan campuran amarah dan kengerian.

"Mereka bukan sekadar penjahat..." Bisik Nabila parau

"Mereka adalah monster yang menyembunyikan taringnya di balik setelan jas mahal, kejahatan Arvin hanyalah satu tetes air di lautan dosa mereka" Tambah Nabila

Ia segera menyambungkan perangkat penyimpanan data rahasia yang ia bawa, waktu terasa berjalan sangat lambat saat persentase penyalinan data bergerak perlahan dari sepuluh persen menjadi dua puluh, lima puluh, delapan puluh. Ia begitu fokus menatap layar, tak berkedip, tak menyadari bahwa di balik pintu yang sedikit terbuka, ada sosok yang memperhatikannya sejak tadi.

"Kau tidak seharusnya berada di sini sendirian, Nabila"

Suara rendah itu terdengar tiba-tiba tepat di belakangnya membuatNabila tersentak hebat, tubuhnya menegang kaku seolah membatu. Jantungnya rasanya mau melompat keluar dari dada, Nabila berbalik dengan napas tertahan, siap berteriak atau berlari, namun napasnya kembali lega saat melihat itu adalah Galen.

Pria itu tampak terengah pelan, seolah berlari menaiki tangga darurat dari lantai bawah. Ia segera masuk ke dalam ruangan, menutup pintu dengan hati-hati, lalu memutar kunci pengamannya.

"Maaf, aku tak bermaksud mengejutkan kamu" ucap Galen pelan sambil melangkah mendekat.

"Aku tak sengaja melihat lampu ruangan ini menyala dari jendela klinikku di lantai satu, aku tak tenang membiarkanmu di sini sendirian" Lanjut Galen

Mata Galen kemudian beralih ke layar monitor yang menampilkan bukti-bukti mengerikan itu, dia berdiri diam, membaca baris demi baris tulisan di sana. Perlahan, warna wajahnya yang biasanya segar berubah menjadi pucat pasi. Tangannya yang tergenggam di samping tubuh mengepal begitu erat hingga urat-urat di punggung tangannya terlihat menonjol.

"Aku sudah lama mencurigai ada yang salah, Seringkali aku melihat laporan keuangan yang tak masuk akal, dan saat aku bertanya pada paman Bram, dia selalu marah besar dan menyuruhku fokus saja pada pekerjaanku sebagai dokter. Aku tahu mereka mungkin licik dalam bisnis, tapi aku tak pernah menyangka mereka berani menipu orang miskin, mengambil harapan orang yang sudah menderita, dan membungkam kebenaran dengan cara sekeji ini. Aku malu, Nabila. Aku sungguh malu menjadi bagian dari darah keluarga ini"Ucap Galen

Galen memalingkan wajah, tak sanggup menatap layar itu lagi. Rasa bersalah yang berat menindihnya, seolah ia ikut bertanggung jawab atas semua yang dilakukan pamannya dan sepupunya. Melihat kesedihan yang tulus di wajah pria itu, Nabila lupa rasa takutnya sejenak. Ia berdiri, melangkah selangkah lebih dekat, lalu meletakkan tangannya di atas lengan Galen yang bergetar.

"Dengarkan aku, Galen," ucap Nabila tegas namun lembut, menatap lurus ke mata pria itu.

"Kejahatan mereka adalah pilihan mereka sendiri dan itu bukan urusan kamu, dan itu bukan kesalahanmu. Kau justru satu-satunya orang yang berani berdiri di sisi kebenaran, tanpamu aku tak akan pernah bisa masuk ke sini, dan aku tak akan pernah tahu betapa busuknya rahasia mereka. Kamu berbeda dari mereka, jangan pernah merasa bersalah karena kau memilih menjadi manusia yang baik." Lanjut Nabila

Galen menatap mata Nabila lama sekali, di tengah ruangan dingin yang penuh bahaya itu, tatapan gadis itu seperti pelita yang menerangi kegelapan hatinya. Perlahan, ia membalikkan tangannya dan menggenggam erat tangan Nabila, kehangatan kulit mereka saling menyatu, membawa kekuatan baru bagi keduanya yang sedang berjuang sendirian melawan raksasa.

Namun momen tenang itu hancur seketika saat ponsel di saku jas Galen bergetar hebat, memecah keheningan dengan nada dering khusus yang tajam. Ia segera merogohnya, dan saat melihat nama pengirim serta isi pesan yang masuk, darah di wajahnya seketika habis.

"Ini dari sekretaris pribadi Paman Bram," Desis Galen dengan napas tercekat.

"Pesan ini baru masuk semenit yang lalu, dan dia bilang paman Bram baru saja memeriksa ulang rekaman CCTV seluruh lantai gedung. Dia melihat ada akses yang tak terdaftar masuk ke ruang arsip ini, dia tahu ada orang asing di sini" Lanjut Galen

Nabila merasa kakinya mendadak lemas seolah tak bertulang.

"Mereka tahu kita di sini sekarang?" Tanya Nabila

"Belum tentu tahu siapa kita, tapi mereka sedang bergerak. Jika mereka datang memeriksa langsung, kita tak akan punya jalan keluar. Hapus semua jejak aksesmu di komputer ini, ambil salinan datanya, dan kita lewat pintu darurat belakang karena kamera di sana rusak sejak kemarin dan belum diperbaiki dan itu satu-satunya jalan " Jawab Galen cepat, berusaha tetap tenang meski matanya penuh kekhawatiran

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Nabila kembali ke depan layar untuk menghapus riwayat penjelajahannya, mengembalikan semua pengaturan seperti semula, lalu mencabut perangkat datanya dan menyelipkannya rapat di bagian paling dalam tasnya. Galen memeriksa sekeliling ruangan untuk memastikan tak ada barang yang tertinggal atau jejak yang terlihat, mereka berjalan keluar melalui pintu belakang yang gelap, menyusuri lorong sempit yang remang, bergerak secepat kilat namun senyap seperti bayangan yang berusaha menghilang sebelum tertangkap mata.

Sementara itu, di ruangan kerja Bram Teriaz di lantai paling atas, suasana terasa mencekam. Bram duduk diam dengan wajah dingin, sementara Arvin berdiri di sampingnya menatap layar monitor yang menampilkan rekaman samar sosok di ruang arsip dan senyum licik dan kejam mengembang di bibir Arvin.

"Ada tikus berani masuk ke sarang singa, Paman," ucapnya pelan namun penuh ancaman. "Dan tikus itu pasti sudah membawa kabur sesuatu yang sangat berharga. Aku akan cari siapa pun dia, sampai ke akar-akarnya. Dan aku pastikan dia akan menyesal telah berani menantangku." Sarkas Arvin

1
Ilfa Yarni
itu orang ga ada kapok2nya ya lagian polisi knp diam aja klo tau orang yg didalam sel merencakan kejahatan yg barublg
Ilfa Yarni
aduh Galen jgn lengah Bram duluan beraksi tuh
Rima Rismawati
Lanjut thor makin seru ceritanya 🙏🏻😊
indah Mayaddah f: Di tunggu ya kak 🙏😊
total 1 replies
Rima Rismawati
Ternyata bu RT dan kedua orang tua Nabila kocak juga 🤣
Rima Rismawati
Ada ya keluarga seperti itu, kepada saudara kandungnya sendiri 😡
Ilfa Yarni
seru jg ceritanya sebuah kluarga yg memperebutkan harta warisan
indah Mayaddah f: Terima kasih 🙏
total 1 replies
Rima Rismawati
Nkvel aru thor
indah Mayaddah f: Iya kak, semoga suka ya 🙏
total 1 replies
indah Mayaddah f
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!