Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Daley
Aston menunggu kedatangan Daley yang dijemput oleh Malik di Amerika. Pria tua itu sangat merindukan cucunya. Seharusnya Daley sudah kembali dua tahun yang lalu, namun Daley tiba-tiba mengurungkan niatnya dan tetap berada di Amerika lebih lama.
Kematian Darwin dan Leyni masih belum terungkap, Kurdi mantan sopir mereka masih tidak bisa ditemukan walaupun Aston dan Malik sudah mengerahkan banyak cara untuk mencarinya. Namun bukan berarti gagal sama sekali, keluarga Jamiko sudah mengantongi beberapa nama yang dicurigai mencelakakan keluarga Jamiko.
Kepulangan Daley ke kota Velos bersamaan dengan acara penyerahan perusahaan padanya. Bagaimana pun keadaannya, perusahaan Jamiko tetap harus jatuh ke tangan Daley. Sisa saham milik Aston sudah diserahkan pada cucunya sehingga kini saham milik Daley lebih besar dari pemegang saham di perusahaan tersebut. Mau tidak mau, mereka semua harus menerima Daley Jamiko sebagai Presdir PT. Jamiko Elektronik yang baru.
Pesawat yang ditumpangi oleh Daley dan Malik mendarat dengan selamat di kota Velos. Aston melihat pintu kedatangan bandara sambil berdiri dengan tongkat tuanya.
Tak lama kemudian, sebuah kursi roda di dorong keluar dari pintu tersebut. Ya... itulah Daley dengan wajah tampannya. Pria itu masih duduk di kursi roda dan didorong oleh Malik keluar dari pintu kedatangan.
Melihat kedatangan Daley, sontak Aston mengeluarkan air matanya. Pria tua itu mendekati cucunya seraya memeluknya dengan erat.
"Kakek merindukanmu Ley," kata Aston.
"Ley juga sangat merindukan kakek," jawab Daley.
Aston melepaskan pelukannya, ia menatap kaki Daley dengan sedih. Daley justru tersenyum lebar melihat kesedihan kakeknya.
"Mereka pasti terkejut melihat keadaanmu, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena kau sekarang pemegang saham terbesar di perusahaan," kata Aston.
"Kita ke perusahaan sekarang," kata Daley.
"Tunggu nak, keluarga Furhet ingin menyambutmu. Mereka masih dalam perjalanan menuju kemari," kata Aston.
"Haruskah bertemu dengan mereka sekarang?" tanya Daley mulai kesal.
"Mereka akan menjadi keluargamu juga. Pernikahan kalian sudah diatur minggu depan. Dengan adanya saham milikmu dan Lisa, kedudukanmu di dalam perusahaan semakin tidak tergoyahkan Ley."
Daley menghela nafas panjang, "aku belum siap melihat keluarga serakah itu," celetuknya.
"Hentikan ucapanmu, Lisa akan menjadi istrimu. Kau harus menghormati keluarga Furhet."
"Oke baiklah," jawab Daley malas.
"Sialan... kenapa jantungku terus berdegup kencang saat tahu ingin bertemu dengan Lisa. Wanita itu tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik, aku memang selalu melihatnya di internet. Tapi menurut Malik, ia adalah wanita yang sulit diatur, sering mabuk dan keluar masuk hotel bersama beberapa pria yang berbeda. Lisa Furhet, kau pikir bisa masuk ke dalam keluarga Jamiko begitu mudah? tidak akan aku biarkan wanita murahan sepertimu mempengaruhiku," pikir Daley.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekati mereka. Juanda dan Amel datang, sedangkan Lania bersembunyi di balik tubuh kedua orang tuanya.
Jantung Daley kembali berdegup dengan kencang saat melihat kaki mulus Lania, ia menelan saliva-nya saat mereka semakin dekat.
"Juan, Amel... kalian akhirnya tiba," kata Aston sambil merentangkan tangannya.
Juanda menyambut pelukan Aston, "apa kabar kek? sudah beberapa bulan kita tidak bertemu."
"Benar Juan, kau sibuk sekali."
Juanda terkekeh, "aku sering berangkat keluar kota kek."
Juanda melihat ke arah Daley, begitu juga dengan Amel yang terus memperhatikannya.
"Ternyata pengobatannya benar-benar gagal, untung saja Lisa tidak perlu mengurusnya berkat Lania," pikir Amel.
"Ya Tuhan... aku hampir tidak bisa mengenali Daley. Kau tumbuh menjadi pria yang sangat tampan Ley," kata Juanda sambil memeluknya.
Wajah Daley tetap datar, "tapi aku selamanya menjadi pria lumpuh, apa kalian tidak keberatan?" celetuknya.
"Ehm... Ley... bicaralah yang sopan," pinta Aston.
"Aku bicara apa adanya kek, kau... kenapa terus bersembunyi di belakang ibumu? apa kau tidak sudi melihat calon suamimu yang cacat ini?" kata Daley tertuju pada Lania.
Lania akhirnya menunjukkan dirinya di depan mereka semua. Wajahnya tentu saja masih menggunakan masker karena takut ada fans Lisa yang mengenalinya.
Deg... deg...
Deg... deg...
Deg... deg...
Suara jantung Daley berdegup begitu keras saat melihat wajah cantik Lania langsung di depannya. Walaupun wajahnya masih ditutupi masker, namun aura wanita itu sangat terasa.
Dan saat Lania membuka maskernya, wajahnya terlihat lebih cantik dari yang pernah Daley lihat di internet. Lania tersenyum lebar, senyumnya yang cantik membuat jantung Daley semakin ingin melompat keluar dari tubuhnya. Daley mengumpat dalam hati, ia sulit melupakan cinta pertamanya.
"Wajahmu berubah tapi cara bicaramu tetap ketus seperti dulu," celetuk Lania.
"Ciiiih... bukan urusanmu."
Aston terkekeh geli, "Lisa, sudah berapa lama kakek tidak bertemu denganmu? kenapa kau semakin cantik?"
Lania tersenyum lagi, "kita bertemu beberapa bulan yang lalu kek, saat aku mengambil iklan perusahaan Jamiko."
Aston tertawa, "kau benar juga, aku nyaris lupa. Tapi kau selalu berbeda setiap kali bertemu denganku Lisa. Kemarilah, kakek ingin memelukmu," pintanya.
Lania mendekati Aston seraya memeluk pria tua itu. Namun tatapan mata Lania tertuju pada pria tampan yang duduk di kursi roda tersebut. Malik memperhatikan wajah dan sorot mata Lania.
"Apa ia benar-benar Lisa? sorot mata kali ini adalah kesedihan bukan kesombongan yang sering aku lihat. Apa ia sekarang ingin berakting lagi?" pikir Malik.
"Entah kenapa setiap aku memelukmu, aku seperti tidak ingin melepaskannya. Juan, Amel... bagaimana jika kita mempercepat pernikahan mereka? aku ingin Lisa segera tinggal di rumah keluarga Jamiko," pinta Aston sambil melepaskan pelukannya.
Juanda dan Amel sama-sama tertawa. Sedangkan Lania kembali memakai maskernya.
"Itu terserah pada kakek saja," kata Juanda.
"Lebih cepat, lebih baik kek," sahut Amel.
"Tidak perlu, minggu depan sudah paling cepat," sergah Daley, "pak Malik, aku sudah lelah," imbuhnya.
"Baik tuan muda. Pak Presdir, lebih baik kita segera ke perusahaan agar tuan muda bisa beristirahat dengan cepat," kata Malik.
"Oh ya Tuhan, aku terlalu senang melihat kalian sampai lupa jika hari ini Daley harus ke perusahaan," kata Aston.
"Ke perusahaan? kenapa terburu-buru kek, Ley pasti sangat lelah," kata Juanda.
"Hari ini adalah serah terima jabatanku padanya. Tidak bisa aku tunda lagi Juan. Begini saja, kalian tunggu saja di rumah besar Jamiko, kita akan merayakan kembalinya Daley di rumah. Kami akan segera pulang setelah acaranya selesai," pinta Aston.
"Baiklah, kami akan menunggu kepulangan kalian," kata Juanda.
"Pak Malik, bolehkah aku yang mendorong kursi rodanya," pinta Lania.
"Tidak perlu... aku tidak butuh dikasihani," bentak Daley.
Seketika Lania terkesiap, wajahnya memucat karena dimarahi oleh Daley di depan mereka semua.
"Ley... kau ini membuat takut Lisa. Malik, biarkan Lisa yang mendorongnya," kata Aston.
"Ck... menjengkelkan sekali," gerutu Daley.
Malik menyerahkan Daley pada Lania, wanita itu terlihat sedang tersenyum karena sorot matanya berubah pada Malik.
"Sebenarnya ada apa dengan wanita ini? kenapa aktingnya terlihat sangat alami? aku tidak akan pernah membiarkannya mempengaruhi tuan muda Ley. Ia bukan wanita baik-baik," pikir Malik.
Lania mulai mendorong kursi roda Daley, keduanya kini cukup berada jauh di depan mereka semua.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Lania.
Daley bergeming.
"Aku dengar kau berhasil lulus kuliah dengan nilai yang sempurna, tapi aku tidak pernah mendengar kondisi kesehatanmu. Aku pikir..."
Sontak Daley menahan rodanya hingga mereka berhenti tiba-tiba.
"Apa kau menyesal karena melihat kakiku ternyata tidak bisa sembuh?" tanya Daley.
"Bukan seperti itu, apapun keadaanmu aku tidak akan pernah menyesal."
"Ciiiih... dasar ratu drama. Aku tahu kau berbuat seperti ini karena ingin harta keluarga Jamiko. Jangan mimpi Lisa, walaupun aku lumpuh bukan berarti aku bodoh."
"Kau benar Ley, mama Amel dan kak Lisa hanya ingin hartamu. Tapi aku tidak, aku hanya ingin keluar dari rumah Furhet, aku ingin mendapatkan kebahagiaanku sendiri walaupun aku kehilangan identitasku sebagai Lania. Aku harap kau tidak membenciku semakin dalam dan kau bisa membantuku keluar dari neraka ini," pikir Lania sedih.
"Ciiiih... kau diam karena memang benar. Lakukanlah sesukamu, jika bukan karena kakek, aku tidak akan pernah mau menikah denganmu. Kau akan merasakan hidup seperti dalam neraka itu seperti apa setelah menikah denganku," celetuk Daley.
Lania meneteskan air matanya, ia ingin keluar dari keluarga Furhet karena sudah merasakan neraka di sana. Tapi mendengar Daley mengatakan itu, ketakutannya kembali menghampirinya.
"Apakah aku juga akan hidup tersiksa bersamamu Ley? aku mohon jangan lakukan itu, aku lelah," pikir Lania.
Daley mengambil alih kursi rodanya sendiri, pria itu segera meninggalkan Lania. Sedangkan Lania langsung menghapus air matanya karena keluarganya sudah semakin dekat.
...****************...
Ilustrasi Daley Jamiko👇🏻👇🏻👇🏻
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣