NovelToon NovelToon
CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / One Night Stand / Duniahiburan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

Di Shannonbridge, satu-satunya hal yang tidak bisa direncanakan adalah jatuh cinta.
​Elara O'Connell membangun hidupnya dengan ketelitian seorang perencana kota. Baginya, perasaan hanyalah sebuah variabel yang harus selalu berada di bawah kendali. Namun, Shannonbridge bukan sekadar desa yang indah; desa ini adalah ujian bagi tembok pertahanan yang ia bangun.
​Di balik uap kopi dan aroma kayu bakar, ada Fionn Gallagher. Pria itu adalah lawan dari semua logika Elara. Fionn menawarkan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan kesuksesan di London. Kini, di tengah putihnya salju Irlandia, Elara terperangkap di antara dua pilihan.
​Apakah ia akan mengejar masa depan gemilang yang sudah direncanakan, atau berani berhenti berlari demi pria yang mengajarkannya bahwa kekacauan terkadang adalah tempat ia menemukan rumah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 : Dukungan bukan Pengikat

Setelah kejutan dari Martha Vance dan pembersihan besar-besaran di tubuh Doherty & Associates, Shannonbridge berubah menjadi sarang lebah yang sibuk. Selama beberapa bulan terakhir, suara gergaji dan dentuman palu menjadi musik latar harian. Namun, ini bukan suara mesin industri yang dingin; ini adalah suara gotong royong.

Elara tidak lagi memakai setelan jas Dublin-nya yang kaku. Ia kini lebih sering terlihat mengenakan sweater wol tebal, celana jins belel, dan sepatu bot berlumpur.

"Seamus! Kayu ek itu harus dipasang dengan kemiringan sepuluh derajat agar air hujan tidak menggenang!" teriak Elara dari ujung dermaga.

"Tenanglah, Nona Arsitek! Aku sudah membangun pagar sejak kau masih belajar merangkak!" balas Seamus sambil terkekeh, meski ia tetap mengikuti instruksi Elara dengan presisi.

Di sisi lain, Fionn sibuk mengangkut peti-peti berisi makanan dan minuman. Biscotti berlarian di antara para pekerja, sesekali menggonggong memberi semangat atau mencuri potongan sosis dari kotak makan siang mereka. Kehidupan terasa sangat nyata, sangat emosional, dan sangat... Shannonbridge.

...****************...

Hari yang dijanjikan pun tiba. Dermaga baru Shannonbridge telah selesai. Bangunan itu berdiri megah namun rendah hati—perpaduan antara kayu ek gelap yang kokoh dan lampu-lampu gantung temaram yang memantul di permukaan sungai.

Warga desa tumpah ruah. Mereka mengenakan pakaian terbaik mereka. Aroma panggangan daging dan pai apel menyeruak di udara dingin malam itu. Sebuah panggung kecil di tengah dermaga sudah diisi oleh pemain biola lokal yang memainkan irama Irish Folk yang menghentak.

Elara berdiri di pojok dermaga, menatap mahakaryanya dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa sebuah tangan besar dan hangat melingkar di pinggangnya.

"Jangan menangis sekarang, Nona. Riasanmu akan luntur dan warga akan mengira aku sedang menyakitimu," bisik Fionn di telinganya.

Elara tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Fionn. "Ini hanya... luar biasa, Fionn. Lihat mereka. Mereka tidak lagi takut kehilangan rumah mereka."

"Itu karena kau memberikan mereka sesuatu yang lebih dari sekadar bangunan. Kau memberikan mereka martabat," Fionn memutar tubuh Elara, menatapnya dengan intensitas yang membuat napas Elara tertahan. "Kau terlihat sangat cantik malam ini. Bahkan dengan noda cat di ujung jemarimu."

"Fionn, ini bukan saatnya untuk merayu," Elara merona, namun ia tidak melepaskan tatapannya.

"Siapa yang merayu? Aku hanya menyatakan fakta arsitektur," balas Fionn nakal, membuat Elara mencubit lengannya dengan gemas.

Musik semakin kencang. Warga mulai membentuk lingkaran besar untuk berdansa. Bibi O’Malley, yang malam itu memakai gaun beludru hijau tua, menarik Moira ke tengah panggung.

"Ayo, Moira! Jangan biarkan tulang-tulangmu berkarat!" seru Bibi O’Malley riang.

Elara dan Fionn ikut bergabung. Di bawah cahaya lampu gantung, mereka berdansa mengikuti irama biola. Biscotti ikut melompat-lompat di antara kaki mereka, membuat suasana semakin kacau namun penuh tawa.

"Kau tahu," Fionn berkata di sela-sela putaran dansa mereka, "aku dulu benci keramaian seperti ini. Terlalu banyak kebisingan."

"Dan sekarang?" tanya Elara.

"Sekarang, aku merasa kebisingan ini adalah suara paling indah yang pernah kudengar. Karena ada kau di dalamnya," Fionn menarik Elara lebih dekat, mengabaikan tatapan menggoda dari para tetua desa.

Momen itu begitu manis, begitu emosional, hingga Elara merasa seolah waktu berhenti berputar. Tidak ada Dublin, tidak ada Tuan Doherty, tidak ada krisis ekonomi. Hanya ada detak jantung yang beradu dan suara tawa warga desa.

Namun, di tengah kegembiraan itu, Elara melihat sosok yang familiar berdiri di kegelapan, di ujung jembatan yang menuju ke arah jalan raya. Itu Sinead.

Wanita itu tidak mendekat. Ia mengenakan mantel lusuh, menatap ke arah kemeriahan dermaga dengan tatapan yang sulit diartikan—antara iri, menyesal, dan kehilangan. Sinead telah kehilangan segalanya—reputasinya, hubungannya dengan para pejabat, dan mimpinya untuk menjadi "Ratu Shannonbridge" melalui jalan pintas yang kotor.

Elara melepaskan tangan Fionn sejenak. "Fionn, lihat."

Fionn menoleh dan melihat mantan kekasihnya itu. Senyumnya sedikit memudar, namun tidak ada kemarahan di sana. Hanya ada rasa iba yang tulus.

"Dia sudah membayar harganya, Elara," gumam Fionn.

"Haruskah kita mengajaknya bergabung?" tanya Elara ragu.

Fionn menggeleng perlahan. "Beberapa orang harus menemukan jalan pulang mereka sendiri. Dia belum siap untuk menghadapi kebenaran yang kita bangun di sini."

Sinead tampaknya menyadari bahwa ia terlihat. Ia segera berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan sisa-sisa aroma parfum kota yang hambar di udara desa yang murni.

...****************...

Saat pesta mencapai puncaknya, Fionn mengajak Elara ke ujung dermaga, ke paviliun kaca kecil yang dirancang khusus oleh Elara. Di sana, suara musik terdengar sayup-sayup, digantikan oleh suara riak air sungai yang menenangkan.

"Elara," Fionn memulai, suaranya mendadak serius namun lembut.

Elara jantungnya berdegup kencang. Apakah dia akan melamar sekarang? Ada ketakutan kecil di hatinya. Ia mencintai Fionn, tapi hidupnya baru saja dimulai kembali. Ia baru saja menemukan jati dirinya sebagai arsitek independen. Menikah sekarang terasa... terlalu cepat dalam skenario hidupnya yang baru saja diperbaiki.

Fionn seolah bisa membaca pikiran Elara. Ia menggenggam kedua tangan Elara, namun tidak berlutut.

"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau sedang menghitung Gantt Chart di kepalamu, kan? Menghitung kapan waktu yang tepat untuk sebuah komitmen besar," Fionn tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat dewasa.

"Fionn, aku—"

"Ssst. Dengarkan aku," Fionn memotong dengan lembut. "Aku tidak akan memintamu menikahiku malam ini. Aku tahu kau baru saja mendapatkan sayapmu kembali. Aku tidak ingin menjadi sangkar yang mengurungmu, Elara."

Elara merasa matanya panas. Kepekaan Fionn selalu berhasil meruntuhkan pertahanannya.

"Tapi aku ingin memberikanmu ini," Fionn merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Bukan kotak cincin beludru, melainkan sebuah kunci perak kuno dengan gantungan kayu kecil berbentuk biji ek. "Ini adalah kunci studio baru yang sedang kubangun di loteng pondok. Studio arsitekturmu."

Elara menutup mulutnya dengan tangan, terisak haru.

"Ini bukan janji pernikahan, Elara. Ini adalah janji dukungan. Ini adalah tanda bahwa aku percaya pada mimpimu, lebih dari aku percaya pada keinginanku untuk memilikimu secepatnya. Tetaplah di sini, bangunlah desa ini, bangunlah kariermu. Aku akan selalu ada di kedai, menunggumu dengan kopi paling panas setiap kali kau merasa lelah."

Elara memeluk Fionn dengan kekuatan yang luar biasa. "Kau pria paling menyebalkan dan paling luar biasa yang pernah kutemui, Fionn Gallagher."

"Dan kau arsitek paling keras kepala yang pernah mencuri hatiku," balas Fionn sambil tertawa pelan.

Di bawah naungan bintang-bintang Shannonbridge, mereka berdiri di atas dermaga yang mereka perjuangkan. Tidak ada cincin, tidak ada janji pernikahan yang mengikat secara hukum, namun ada ikatan jiwa yang jauh lebih kuat dari apa pun. Pesta di dermaga baru itu bukan hanya tentang bangunan, tapi tentang perayaan atas kebebasan untuk memilih masa depan tanpa rasa takut.

Biscotti datang menyusul, menyandarkan kepalanya di kaki mereka berdua, seolah ikut mengesahkan janji tanpa kata yang baru saja mereka buat. Malam itu, Shannonbridge bukan lagi sekadar proyek bagi Elara; itu adalah rumah, dan Fionn adalah penghuninya.

1
Alnayra
👍🏻👍🏻👍🏻 top
d_midah (Hiatus)
ceilah bergantung gak tuh🤭🤭☺️
d_midah (Hiatus): kaya yang lebih ke 'sedikit demi sedikit saling mengenal, tanpa terasa gitu' 🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!