Karyaku yang ke tujuh dan juga lanjutan dari cerita Zandra's Family alias Zandra's Family season 3!!!
Petualangan dari keturunan Rendra dan Yumi, alias anak dari si kembar Afwa dan Afwi.
Kelima keturunan Zandra yang memiliki kemampuan dari buyutnya, kini harus bertemu dengan hantu dari seorang gadis yang tengah koma.
Pertemuan yang tidak di sengaja dan malah jadi salah satu pelengkap petualangan Power Ranger.
Apakah akan ada petualangan hebat seperti oma, opa dan orangtua mereka?
Cuss.. ahh, kita lanjut ke ceritanya!!!!
Semoga kalian semua suka yaaaa🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback Caroline
'Aku.... namaku Caroline' ucapnya
'Wait.... Caroline Rosmaria?' tanya Sherina yang langsung di angguki sosok tersebut.
"Kalau tidak salah ingat, Caroline Rosmaria adalah seseorang yang akan mengikuti kompetisi bulan depan bukan? Bersamaan dengan kompetisi lainnya." ucap Fre
Caroline kembali mengangguk dan sedikit tersenyum, ia kembali menerawang ingatannya. Di mana ia merasa bahagia, karena terpilih untuk mewakili sekolahnya dalam kompetisi tersebut, namun semua kebahagiaannya harus hancur karena seseorang yang mengaku sahabat.
"Kamu benar, sudah 4 bulan tak mendengar berita tentangmu dan tiba-tiba ruangan ini di tutup. Dan tiba-tiba perwakilan itu di gantikan oleh sisiwi yang bernama Jeni Mahendra, benarkan? " ucap Za yamg lain mengangguk setuju.
'Ya... 4 bulan lalu merupakan kematian ku yang tragis dan jasadku pun masih terkurung. Aku tidak tau, bagaimana kabar kedua orangtuaku. Jiwaku terjebak di sini, sehingga aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di luar sana.' jawab Caroline
"Apa yang terjadi padamu sebenarnya?" tanya Ar
Caroline pun menceritakan kejadian tersebut
Flashback
3 hari sebelum dirinya hilang, tepatnya saat dimana pembimbing mengumumkan Caroline akan mewakili sekolah untuk kompetisi alat musik harpa. Tentu saja semua orang senang mendengarnya, terutama Caroline sendiri. Teman-teman Caroline pun bergantian memberi selamat padanya, karena pemegang alat musik tersebut hanya 3 orang. Caroline, Jeni dan Merry.
Jeni merupakan sahabat Caroline, sedangkan Merry hanya cukup tau saja. Ia tak terlalu dekat, namun kenal. Di hadapan Caroline, Jeni terlihat tersenyum bahagia dan memberinya selamat. Namun siapa tau, ternyata dalam hatinya ternyata menyimpan rasa Iri dan tidak terima dengan pencapaian Caroline.
Padahal ia sudah merasa lebih baik dari Caroline, ia selalu berlatih siang malam di setiap harinya. Sampai mengundang guru profesional untuk mengajarinya, tapi apa sekarang? Yang terpilih bukan dirinya, melainkan sahabatnya.
"Selamat Olin, kamu memang pantas mendapatkan kepercayaan ini. Karena permainanmu di setiap lagu yang kamu mainkan, sangat penuh penjiwaan." ucap Merry tersenyum
"Terimakasih Mer" jawab Caroline tersenyum bahagia
"Jeni, aku benar-benar tak menyangka dengan ini semua. Kedua orangtuaku pasti sangat bahagia mendengar hal ini." ucap Caroline, membuat Jeni semakin membencinya
"Hmm... tante pasti senang mendengar berita ini." jawab Jeni dengan senyum yang di paksakan, namun Caroline tidak menyadarinya.
"Selamat Caroline, ibu sangat berharap dengan penampilanmu nanti. Semoga kamu bisa mengharumkan nama sekolah kita." ucap Miss Ambar sang pembimbing, tentu saja amarah Jeni semakin tak terbendung. Jeni pun pamit untuk ke toilet dan di angguki miss Ambar.
Saat Jeni sudah sampai di kamar mandi.
"Sial*n, kenapa dia yang terpilih? Kenapa bukan aku?" ucap Jeni geram seraya menatap cermin di hadapannya, ia pun mengepalkan kedua tangannya di atas wastafel.
"Aku tidak terima, aku harus melakukan sesuatu untuk menggagalkan Caroline tampil." ucapnya lagi dengan seringaian jahat pada bibirnya.
Ia pun mencuci muka dan kembali ke Ruang Musik dengan wajah palsunya. Sudah terpampang jelas di kepalanya, rencana jahat untuk menghentikan Caroline tampil, ia pun tersenyum menatap Caroline. Caroline yang tidak tau apa-apa, hanya membalas senyuman Jeni dengan tulus.
Setiap pulang sekolah, Caroline selalu berlatih di Ruang Musik. Terkadang Merry ikut menemaninya, namun tidak dengan Jeni. Ia selalu beralasan ada keperluan.
Namun, hari dimana Caroline tidak di temani Merry adalah hari dimana hidupnya terancam dan merupakan hari terakhirnya untuk bisa menghirup udara.
Saat itu hari minggu, sepulang ia dari acara keluarganya. Ia pun berpamitan pada kedua orangtuanya untuk ke sekolah, karena akan melakukan latihan seperti biasanya. Dengan gaun hitam, ia pergi ke sekolah tanpa mengganti pakaiannya.
Jeni yang sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari, dari bagaimana caranya membuat ketiga orang security agar sibuk dan juga menyiapakan orang-orang suruhannya untuk melakukan sesuatu pada Caroline.
Caroline yang memang memainkan Harpa dengan membelakangi pintu masuk, tak menyadari ada yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Saat ia tengah fokus, tiba-tiba ada yang membekapnya dari belakang. Lambat laun kesadarannya pun hilang, Caroline pun jatuh pingsan.
Tak lama, Caroline pun tersadar. Namun, saat ia ingin bergerak. Ternyata ia tak bisa melakukannya, karena tangan dan kakinya yang terikat, mulutnya yang terbungkam dan matanya yang tertutup.
"Apa yang akan kita lakukan padanya?" samar-samar Caroline mendengar percakapan orang-orang tersebut.
"Entah, dia hanya meminta kita untuk membuatnya merasa malu dan mundur dari kompetisi."
"Buka bajunya" Caroline yang mendengar hal itu pun langsung berusaha untuk berteriak, namun nihil. Usahanya tak membuahkan hasil, karena mulutnya yang terbungkam oleh kain.
"Dia sudah sadar kawan, lihat tubuhnya membuatku bergairah."
"Kamu benar, kita buat vidio dewasa saja. Bagaimana kalau kita pakai ia bergiliran."
"Kamu benar, aku setuju. Sayang sekali kalau hanya di foto dalam keadaan telanjang saja, tanpa kita manfaatkan."
Caroline menggelengkan kepalanya dan terus berusaha untuk melepaskan diri. Ia menangis dan juga mencoba untuk mengeluarkan suara.
"mmmmmm mmm mmm" Caroline terus menangis, tubuhnya yang dalam keadaan terikat. Membuat dirinya benar-benar ketakutan.
Tubuhnya merasa merinding, saat ada tangan yang membuka ikatan di kakinya. Dan ia merasakan bila ada tangan yang perlahan naik ke atas. Tangisan Caroline semakin menjadi dan terus berontak, namun tangan-tangan lain menahan tubuhnya.
"Ssssttt... kita akan bersenang-senang, kamu pasti akan menyukai hal ini. Aku akan membawamu melayang ke kenikmatan dunia." ucap salah satu pria dengan berbisik, sedangkan yang lainnya tertawa cekikikan.
Entah bagaimana caranya, Jeni benar-benar membuat tak ada siapapun datang ke lantai tersebut. Di tambah bila hari ini adalah hari minggu, sehingga hanya beberapa orang yang datang ke sekolah.
"Mmmmm... mmmm... mmmm" Caroline terus berusaha untuk berteriak, namun teriakan itu tak di hiraukan oleh orang-orang tersebut. Gairahnya yang sudah memuncak, membuat mereka menulikan telinga dan menutup mata. Karena yang ada di otak mereka saat ini adalah, nafsu mereka yang sudah tak tertahan.
Plakkk
"Diam!" bentak pria itu, ia menampar pipi Caroline sampai mengeluarkan sedikit darah. Ia pun semakin gencar menjamah tubuh Caroline.
'AAAAAAA..... Aku bersumpah tidak akan memaafkan kalian, demi Tuhan aku benci.' teriak Caroline dalam hati.
Pria itu, membuka kaki Caroline dan memaksakan sesuatu miliknya untuk masuk ke dalam milik Caroline.
"MMMMMMMM" teriakan itu berbarengan dengan rasa sakit yang ia rasakan di bawah sana. Tangisannya yang tidak bisa berhenti, perasaannya yang hancur saat itu.
"Dia masih perawan bro." ucap salah satu temannya saat melihat ada darah keluar dari bagian inti milik Caroline.
"Anjirrr... rejeki lu merawanin." oceh yang lain.
"Diam kalian, vidiokan saja. Setelahnya kirim pada Jeni, agar ia puas dengan hasil kerja kita.
'Jeni? Kenapa kamu tega melakukan ini padaku Jen? Demi Tuhan aku tidak akan memaafkan mu, aku membencimu JENI' Caroline pun langsung tak sadarkan diri, karena merasakan rasa sakit yang teramat sangat.
Namun perbuatan as*sila tersebut tak berhenti, Caroline di perk*sa bergilir oleh ke enam orang tersebut. Setelah selesai, salah satunya orang tersebut mengirimkan vidio tersebut pada Jeni. Jeni yang melihatnya sangat terkejut, ia yang kini ada di ruangan lain. Jeni pun langsung berlari keluar dan bermaksud ke ruangan tersebut.
BRAKK
Saat ia masuk, kondisi Caroline sudah sangat berantakan. Ia pun berjalan mendekat dengan tubuh bergetar.
"Caroline!!! Apa yang kalian lakukan? Aku hanya menyuruh kalian untuk membuat foto bugil, bukan memperkosanya secara bergilir." bentaknya dengan suara bergetar.
...****************...
Astaghfirullah..... jahat banget ihhh😭😭
Baru ✅
thor apakabarnya daddy sama mommy Bianca?
tanya Iren pada nek Rasmi ✅