NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Bentuk Perhatian

Begitu suara langkah kaki Bylla di koridor luar benar-benar lenyap, Nezha menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa tenaganya. Ia bergeser ke tepi kasur, lalu melangkah perlahan menuju lemari pakaian yang masih terbuka setengah.

Dengan hati-hati, Nezha menggeser gantungan baju di dalam lemarinya dan mengetuk panel kayu itu beberapa kali.

Hanya butuh waktu tiga detik sampai panel itu bergeser dari seberang. Celah dinding beton yang gelap itu terbuka, dan Carson langsung melangkah masuk dengan gerakan taktis. Di dalam kamar Nezha yang remang-remang, wajah Carson tampak luar biasa tegang. Mata tajamnya langsung menyapu seluruh penjuru ruangan sebelum tertuju pada Nezha.

"Siapa yang tadi di sini?" tanya Carson langsung, suaranya berupa bisikan rendah yang sarat akan kewaspadaan.

"Itu Bylla," jawab Nezha sambil berjalan kembali ke kasur dengan langkah yang agak goyah. Ia mendudukkan dirinya perlahan.

Carson mengernyitkan dahi, melangkah mendekat. "Bylla? Tetangga baru yang kamu ceritakan beberapa hari lalu itu? Kenapa dia ada di sini? Apakah dia mencurigai sesuatu tentang kita? Atau tentang—"

"Bukan, Carson. Bukan soal itu," potong Nezha pelan, mencoba memotong kepanikan yang mulai merayap di nada suara pria itu. "Dia justru yang mengantarku pulang dari tempat kerja. Hari ini aku... agak tidak sehat. Dan karena Bylla kebetulan satu apartemen dengan kita, rekan kerjaku meminta dia untuk memastikanku sampai di sini dengan selamat."

Mendengar kata 'tidak sehat', fokus Carson langsung beralih total. Langkah kakinya mendadak berhenti tepat di depan Nezha. Ia menunduk, menatap lekat-lekat wajah perempuan di hadapannya. Di bawah pendar lampu tidur yang bewarna kuning samar, barulah Carson menyadari betapa rapuhnya kondisi Nezha saat ini. Kulit wajahnya pucat pasi, bibirnya kering, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.

Carson berlutut di lantai, sejajar dengan tempat duduk Nezha. Tangannya yang biasanya dingin dan kokoh saat memegang instrumen mesin, kini bergerak menyentuh dahi Nezha dengan kelembutan yang sangat kontras.

"Kamu demam? Sebelah mana yang sakit? Perlu aku carikan obat?" Rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Carson. Gurat panik yang sangat jarang ia perlihatkan di luar kini tercetak jelas di wajahnya. "Apakah gejalanya parah? Apa yang kamu butuh—"

Nezha tersenyum tipis, lalu meraih tangan Carson yang menempel di dahinya, menggenggamnya erat untuk menyalurkan ketenangan. "Aku tidak apa-apa, Carson. Tolong tenang dulu. Ini normal... di bulan-bulan awal kehamilan, tubuh memang akan sering merasa lemas dan mual seperti ini. Tadi di kantor aku sempat muntah beberapa kali, makanya badanku agak syok."

Carson terdiam. Ia menatap tangan mereka yang saling bertautan, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar berat. Rasa paniknya perlahan surut, digantikan oleh rasa bersalah yang menyelimuti dadanya. Ia benci fakta bahwa di saat Nezha berjuang sendirian menahan rasa sakit di tempat kerja, ia justru sedang berada di Sektor Militer, berkutat dengan baris kode dan sampel laboratorium.

"Maaf," bisik Carson rendah, kepalanya agak menunduk. "Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak melakukan hal bodoh malam itu, kamu tidak akan merasakan semua ini."

"Jangan bodoh," sahut Nezha lembut, jemarinya mengusap punggung tangan Carson. "Kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Kita berdua yang menginginkan hal itu. Aku bahkan sangat bersyukur dengan adanya benih di dalam rahimku. Lagipula, semuanya aman. Gelang perakku sudah kamu manipulasi dengan baik, jadi sistem hanya membacanya sebagai kelelahan biasa. Bylla juga tidak menaruh curiga apa pun."

Carson mendongak, matanya tertuju pada seragam tebal yang masih melekat di tubuh Nezha. Kain seragam itu kaku, dengan ritsleting logam dan lencana otoritas yang berat.

"Kamu belum mengganti pakaianmu," kata Carson. Ia berdiri, lalu mengambil kaos abu-abu longgar dan celana kain yang tadi sempat disiapkan oleh Bylla di atas meja. "Biar kubantu. Pakaian ini pasti membuatmu sesak."

Nezha tidak menolak. Dengan telaten dan penuh kehati-hatian, Carson membantu Nezha melepaskan seragamnya, membuka kancing seragam itu satu per satu. Setiap gerakannya begitu tersistematis namun lembut, seolah-olah ia sedang memegang barang paling berharga di dunia yang mudah retak.

Setelah seragam itu terlepas, Carson berjalan ke kamar mandi. Ia kembali dengan membawa sebuah wadah kecil berisi air hangat dan selembar kain handuk lembut.

"Sini, biar aku bersihkan dulu tubuhmu," ujar Carson.

Ia duduk di tepi kasur, tepat di samping Nezha. Dengan perlahan, Carson mengusapkan kain hangat itu ke tengkuk Nezha, menyeka peluh dingin yang sempat tertinggal di sana. Rasa hangat dari kain itu seketika membuat otot-otot Nezha yang tegang menjadi rileks. Carson melanjutkan gerakannya ke lengan, lalu ke wajah Nezha, membasuh sisa-sisa pucat dengan usapan yang menenangkan.

"Terima kasih, Carson," bisik Nezha, matanya mulai terasa berat akibat rasa kantuk yang mendadak menyerang setelah tubuhnya merasa nyaman.

"Sama-sama. Sekarang ganti pakaianmu," ucap Carson, menyerahkan kaos longgar tadi.

Setelah Nezha selesai berganti pakaian dengan pakaian yang jauh lebih longgar, Carson membereskan wadah air dan seragam kotor ke sudut ruangan. Ketika ia kembali ke tempat tidur, Nezha sudah berbaring di bawah selimut, menyisakan ruang kosong di sebelahnya.

Carson melepas sepatu botnya, lalu ikut merebahkan diri di atas kasur yang sama. Kamar itu begitu sunyi, hanya menyisakan dengung halus filter udara dari luar. Carson bergeser mendekat, menarik tubuh Nezha ke dalam pelukannya dari belakang. Lengan kokohnya melingkar di pinggang Nezha, membawa punggung perempuan itu bersandar erat pada dadanya.

Nezha menggeser posisinya, mencari kenyamanan dalam dekapan hangat Carson yang selalu berhasil menjadi tempat paling aman di negara yang kejam ini.

Perlahan, telapak tangan Carson bergerak turun, menyelinap ke balik kaos longgar Nezha dan berhenti tepat di atas perutnya. Kulit hangat Carson bersentuhan langsung dengan kulit perut Nezha. Di sana, belum ada tonjolan yang begitu kentara, namun Carson tahu, ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam sana. Sebuah rahasia paling indah sekaligus paling berbahaya yang mereka miliki.

Jemari Carson bergerak memutar, mengusap permukaan perut Nezha dengan ritme yang sangat teratur dan konstan.

"Hei, Anak Kecil," bisik Carson pelan, bibirnya berada tepat di dekat tengkuk Nezha, membuat suaranya terdengar seperti dengung rendah yang menenangkan. "Jangan nakal di dalam sana, ya? Jangan buat ibumu kesulitan."

Nezha terkekeh kecil mendengar bisikan itu, rasa hangat menjalar ke seluruh hatinya. "Dia tidak nakal, Carson. Dia hanya sedang tumbuh."

"Kalau begitu, tumbuhlah dengan tenang," lanjut Carson, seolah-olah ia sedang berbicara langsung dengan janin yang belum bisa mendengar itu. "Ayah dan ibumu sedang berusaha mencarikan tempat aman untukmu tinggal di dunia ini."

Nezha memejamkan matanya, menikmati setiap usapan tangan Carson di perutnya. Rasa lemas, mual, dan ketegangan yang ia rasakan sepanjang hari, menguap begitu saja digantikan oleh rasa damai yang absolut.

"Carson..." gumam Nezha pelan, suaranya makin menjauh akibat kantuk yang mendalam.

"Tidurlah, Nezha. Aku di sini. Semuanya aman," balas Carson, mengecup lembut pundak Nezha.

Dalam keheningan malam apartemen lantai dua belas, di bawah kepungan kamera pengawas kota yang tak pernah tidur di luar sana, kedua manusia itu saling mendekap erat. Merajut mimpi tentang masa depan yang fana, ditemani detak jantung yang saling bersahutan dan kehangatan sebuah rahasia kecil yang terus dijaga di balik dinding beton yang dingin.

1
Rudy satria
bylla berbahaya nggk sih,ko bikin deg,deg,degan😅😅
Rudy satria
semoga bylla bukan mata² pemerintah 😅
Rudy satria
saya pikir langsung curi buahnya satu ² ternyata bijinya saja,sabar ya dedek bayi kira² 3 bulan sampai tomatnya matang😅😅
ririma: wkwk,,
total 1 replies
Rudy satria
apakah bylla salah satu tim yang nantinya kabur bersama Carlos dan Nessa
Rudy satria
lebih nggk kebayang,kalo beneran ada negara yang memiliki peraturan sekonyol itu🤣
ririma: lah iya juga ya🤣
total 1 replies
Rudy satria
Kay nggk asing,negara Konoha seperti itu jga nggk ya semoga si nggk ya😅😅
ririma: hmm, ngga ikutan ya kak🤭
total 1 replies
Rudy satria
ceritanya bagus, meskipun masih blm paham kenapa ada peraturan anomali seperti itu😄
ririma: engga usah dipahami kak, emang anomali itu peraturannya😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!