"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12.Perdebatan.
Setelah punggung Rama dan Larry benar-benar menghilang di balik tikungan jalan setapak, senyum lebar yang terukir di bibir Ivy perlahan berubah menjadi senyum yang lebih tenang dan penuh arti. Bagi orang luar, senyum itu terlihat seperti senyum gadis yang baru saja mengutarakan perasaannya pada orang yang disukainya, namun kenyataannya jauh berbeda. Di dalam hatinya, tidak ada rasa berdebar karena cinta atau rasa kagum, melainkan rasa lega dan harapan yang baru saja tumbuh. Ia telah menemukan cara untuk menahan waktu yang terus berjalan mendekati kematian, dan itu adalah satu-satunya hal yang paling berharga baginya saat ini.
Melihat perubahan ekspresi di wajah Ivy, Bibi Nora yang berdiri di sampingnya masih terlihat gelisah dan cemas. Ia menggenggam ujung kemejanya yang dikenakan, lalu menatap Ivy dengan tatapan penuh kekhawatiran, seolah sedang melihat gadis yang baru saja terjerumus ke dalam masalah yang rumit.
“Nona Ivy,” panggil Bibi Nora dengan nada lembut namun tegas, mencoba menegur dengan cara yang halus. “Sebagai orang yang bekerja sebagai pelayan pribadi nyonya, Bibi harus bicara terus terang. Jangan-jangan hatimu sudah mulai beranjak ke masa puber dan mulai menyukai pria itu? Kalau benar begitu, tolong pikirkan kembali baik-baik. Tuan Rama Cahya itu bukan sembarang orang. Di kota, namanya dikenal sebagai pria yang dingin, keras kepala, sangat galak, dan paling menjaga jarak dari wanita mana pun. Banyak gadis dari keluarga terpandang yang berusaha mendekatinya, namun semuanya gagal dan malah diperlakukan dengan dingin. Jangan sampai nanti hatimu terluka sendiri karena mengharapkan sesuatu yang mustahil.”
Mendengar ucapan itu, Ivy hanya mengangkat wajahnya dan menatap langit biru yang terbentang luas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalan yang baru saja dilalui Rama. Ekspresinya terlihat tenang, seolah mendengar omongan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
“Siapa bilang aku menyukainya, Bibi?” tanya Ivy balik dengan nada santai, seolah mendengar tuduhan yang tidak masuk akal.
Bibi Nora mengernyitkan dahi, merasa bingung mendengar jawaban itu. “Lalu apa tadi? Tadi kau berteriak sekeras-kerasnya mengatakan bahwa kau menyukainya, bahkan memanggilnya dengan panggilan sayang. Apa artinya itu kalau bukan perasaan suka?”
Ivy menoleh kembali ke arah Bibi Nora, dan kali ini raut wajahnya berubah menjadi sangat serius, seolah sedang membicarakan masalah hidup dan mati yang sangat penting. Ia mendekatkan badannya sedikit dan berbicara dengan nada rendah namun jelas.
“Bibi, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak menyukainya dalam arti perasaan cinta seperti yang Bibi pikirkan. Bagiku, dia bukan pria yang membuat hatiku berdebar karena kagum atau terpesona. Aku menyukainya hanya karena dia adalah… powerbank hidupku. Satu-satunya sumber energi yang bisa membuatku bertambah,” jelasnya dengan penuh keyakinan, meski kata-katanya terdengar sangat aneh dan tidak dimengerti oleh pendengarnya.
Bibi Nora semakin mengerutkan dahi, matanya terbelalak penuh kebingungan. “Powerbank? Maksudnya apa, Nona? Bibi tidak mengerti omonganmu yang aneh-aneh ini. Apa hubungannya dia dengan energi atau waktu?”
Namun, Ivy tidak sempat menjelaskan lebih rinci karena pikirannya sudah melayang ke tujuan berikutnya. Ia mengedarkan pandangannya sekeliling, lalu bertanya dengan nada tergesa, “Ngomong-ngomong, tadi mereka pergi ke arah mana? Apakah Bibi melihatnya?”
“Sepertinya mereka berjalan menuju ke rumah Pak Aman, kepala desa. Biasanya orang luar yang datang ke sini akan langsung menemui dia untuk membicarakan urusan penting,” jawab Bibi Nora tanpa ragu.
Mendengar itu, mata Ivy langsung berbinar. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera merapikan pakaiannya dan melangkah cepat ke depan. “Kalau begitu, kita harus segera ke sana juga! Aku harus memastikan kondisi ‘sumber energi’ itu tetap dekat denganku, agar persediaan waktuku bisa terus diisi ulang sebanyak mungkin.”
Bibi Nora hanya bisa menggelengkan kepala, tidak mengerti sama sekali maksud kalimat terakhir itu, namun ia tetap berjalan cepat mengikuti langkah Ivy dari belakang. Sebagai pelayan setia mama Ivy, ia tidak berani membiarkan gadis itu berjalan sendirian, apalagi melihat kelakuan Ivy yang semakin hari terasa semakin aneh dan tidak terduga.
Nora berpikir mungkin karena penyakitnya, nona mudanya jadi aneh.
Sesampainya di rumah kepala desa yang terletak di tengah desa dan cukup luas, suara percakapan yang meninggi dan penuh ketegangan sudah terdengar jelas dari halaman depan. Begitu memasuki ruang tamu yang terbuka, Ivy dan Bibi Nora melihat Rama sedang berdiri tegak di hadapan Pak Aman, tatapannya tajam dan nada bicaranya terdengar sangat tegas seolah sedang memberikan perintah.
“Pak Aman, saya sudah membawa surat izin resmi dari pemerintah daerah. Desa ini akan diubah menjadi kawasan wisata alam yang bernilai tinggi. Sebagai gantinya, setiap kepala keluarga akan mendapatkan ganti rugi sebesar satu miliar. Uang itu cukup untuk mereka membeli rumah yang lebih layak dan hidup nyaman di tempat lain. Mengapa harus menolak tawaran yang sangat menguntungkan ini?” tanya Rama dengan nada yang terdengar meyakinkan namun tetap dingin.
Namun, Pak Aman hanya menggeleng kepala dengan tegas, tangannya mengepal erat di atas meja. “Tuan Rama, uang memang bisa membeli banyak hal, tapi tidak bisa membeli sejarah dan tanah tempat leluhur kami dimakamkan. Selama ratusan tahun, keluarga kami dan warga desa ini hidup dan mati di sini. Bagi kami, ini bukan sekadar sebidang tanah, tapi identitas hidup kami. Sekalipun Anda menawarkan sepuluh miliar, kami tetap tidak akan pergi.”
Mendengar kata-kata itu, amarah Rama perlahan mulai meluap. “Kalian ini keras kepala dan tidak tahu untung! Kalian hanya berpikir dengan cara kuno, tidak melihat kemajuan yang bisa didapatkan. Desa ini terlalu terbelakang, tidak akan berkembang jika dibiarkan seperti ini!”
Kalimat terakhir itu membuat darah Ivy terasa mendidih di dalam pembuluh darahnya. Ia ingin sekali melangkah maju dan membentak pria itu karena merendahkan tempat yang ia cintai, namun ia segera mengingat kembali angka di atas kepalanya dan mengingat bahwa pria di depannya adalah satu-satunya harapan hidupnya. Ia harus menahan emosi sekuat tenaga.
Namun, ketika Rama mulai berbicara dengan nada semakin merendahkan, kesabaran Ivy pun habis. Ia melangkah maju dengan cepat, membuat Bibi Nora yang berusaha menahannya terlambat.
“Tuan Rama, Anda salah besar jika berpikir uang bisa memutuskan segalanya!” seru Ivy dengan suara lantang yang membuat semua mata di ruangan itu tertuju padanya. “Negara ini berdiri di atas hukum dan keadilan. Warga desa ini memiliki hak atas tanah dan kehidupan mereka sendiri. Meskipun Anda memiliki kekayaan yang mencapai triliunan, Anda tidak berhak memaksa atau merendahkan orang lain hanya karena cara hidup mereka berbeda dengan Anda!”
Rama terkejut melihat kehadiran Ivy, lalu raut wajahnya berubah menjadi lebih marah. “Kau lagi? Apa urusanmu dengan ini? Ini masalah antara saya dan kepala desa. Gadis kecil sepertimu sebaiknya tidak ikut campur urusan orang dewasa!” bentaknya dengan nada keras.
Ivy tidak mundur sedikit pun, justru melangkah semakin dekat. “Saya ikut campur karena ini juga menyangkut keadilan. Kalau Anda ingin membuktikan bahwa Anda tidak hanya mengandalkan kekuasaan, ikutlah dengan saya selama satu jam saja. Saya akan tunjukkan alasan mengapa desa ini harus tetap ada dan mengapa mereka tidak boleh pergi.”
Rama hendak menolak, menganggap ajakan itu hanya buang-buang waktu. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan kata-kata penolakan, Ivy sudah dengan cepat meraih pergelangan tangannya dan menariknya keluar ruangan dengan tenaga yang lebih kuat dari yang diduga.
“Kita pergi sekarang juga!” serunya tegas.
Larry yang terkejut melihat kejadian itu segera melangkah hendak menghentikan Ivy, namun ia tertegun mendengar suara Pak Aman yang terasa tersinggung. “Kalau Tuan Rama masih ingin berdebat dengan nada merendahkan, lebih baik dia pergi dulu dan berpikir lagi. Kami tidak membutuhkan uang yang membawa kesengsaraan.”
Menyadari situasi bisa memanas, Larry segera menghentikan langkahnya, lalu membungkuk hormat kepada kepala desa. “Saya mohon maaf atas ucapan dan sikap Tuan Rama. Kami akan kembali lagi nanti untuk membicarakan ini dengan kepala dingin,” ucapnya, lalu segera bergegas menyusul ke luar untuk mengikuti tuannya yang sudah ditarik pergi oleh Ivy.
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉