Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : JEJAK PALSU YANG MERAYAP PELAN
...BAB 8...
...JEJAK PALSU YANG MERAYAP PELAN...
Dua minggu berlalu, keadaan kembali tenang sentosa, seolah angin kencang beberapa hari lalu yang sempat menerpa rumah mereka kini telah berlalu pergi. Arka Pradana masih datang sesekali berkunjung dengan senyum ramah dan sopan, membawa buah tangan atau sekadar untuk menyapa sebentar, dan itu makin dicintai oleh Bu Kirana serta Pak Aditya. Tidak ada lagi pesan mengerikan di dini hari, tidak ada lagi ketukan pintu aneh, tidak ada lagi alat sadap yang ditemukan berserakan. Bagi orang awam, kedamaian itu terasa sungguhan. Namun bagi Alina dan Farhan, keheningan itulah yang justru paling mereka takutkan dan perlu diwaspadai. Karena mereka tahu betul, Raka Haris tidak akan pernah berhenti hanya begitu saja. Dia hanya sedang mengumpulkan tenaga, mengatur langkah, dan menenangkan mangsanya sebelum menerkam dari arah yang paling tidak diduga.
Dan benar saja, di balik ketenangan itu, rencana jahat yang disusun bertahun‑tahun mulai bergerak sangat pelan, sangat halus, nyaris tak berbau, persis seperti yang selalu diajarkan ayahnya kepadanya. Kalau ingin menghancurkan seseorang sampai ke akar‑akarnya, jangan pukul dia sekaligus sampai roboh. Tanamlah racun sedikit demi sedikit, lama‑kelamaan dia sendiri yang akan melemah dan jatuh dengan tangannya sendiri.
Setiap malam, di lantai paling atas gedung pencakar langit miliknya, Raka duduk sendirian di hadapan tiga layar komputer besar yang menyala terang di tengah ruangan gelap. Di layar itu terpantau seluruh sistem jaringan kantor hukum tempat Alina bekerja. Selama lima tahun mengamati, dia sudah menghafal betul setiap celah kecil, setiap kebiasaan staf, setiap kata sandi yang sering dipakai, sampai jam berapa saja server kantor itu jarang diawasi. Dia tidak perlu masuk memakai paksa. Dia cukup menyewa satu orang kepercayaan yang diterima bekerja sebagai staf administrasi baru tiga bulan lalu—orang yang sama sekali tidak dicurigai siapa pun, termasuk Alina.
“Mulai dari yang paling kecil dulu,” bisik Raka pelan lewat sambungan telepon tertutup, suaranya datar namun jari‑jarinya yang berada di atas meja mengepal erat sampai buku jarinya memutih. “Transaksi‑transaksi nominal kecil, akses masuk di jam‑jam sepi, ubah sedikit saja tanggal dan kode dokumen. Jangan sampai terlihat mencolok. Biarkan satu-persatu, pelan-pelan tapi pasti.”
Saat perintah itu keluar dari mulutnya, dadanya kembali terasa diremas hebat. Di layar sampingnya, terbuka foto Alina yang baru saja dia ambil diam‑diam sore tadi, saat gadis itu berjalan keluar gedung pengadilan dengan jilbab menutup dada sempurna, wajahnya lelah tapi tetap memancarkan keteguhan iman yang selalu membuat hatinya bergetar aneh. Dia benci dirinya sendiri saat ini. Awalnya semua hanya dendam, hanya balas budi atas penderitaan ayahnya dan runtuhnya nama keluarga Haris. Tapi sekarang, setiap kali dia menyuruh orang lain menanam jejak palsu itu, rasanya seperti dia sendiri yang sedang menyakiti bagian terpenting dari hatinya. Dia ingat betul betapa kerasnya Alina berjuang menuntut ilmu sampai ke negeri Mesir, betapa air matanya pernah menetes saat bercerita ingin menjadi penegak hukum yang tidak memandang kaya atau miskin, betapa sucinya niat gadis itu. Dan sekarang, dialah orang yang perlahan‑lahan akan mengotori segalanya.
Berkali‑kali dia ingin mengangkat telepon dan membatalkan semuanya. Berkali‑kali batinnya berteriak, cukup, berhenti saja, pergilah jauh‑jauh dan lupakan semuanya. Tapi setiap kali matanya menangkap rekaman kamera tersembunyi yang memperlihatkan Farhan datang untuk menjemput Alina, berjalan beriringan dengan penuh hormat dan lembut, membawakan makanan kesukaan gadis itu, tertawa bersama dalam obrolan halal yang penuh berkah—saat itulah rasa cemburu buta dan dendam warisan itu kembali membakar habis segala keraguannya.
Kalau bukan aku yang memilikinya, tidak ada siapa pun. Apalagi dia. Itu satu‑satunya kalimat yang selalu berhasil mematikan suara hatinya.
Maka mulailah jejak‑jejak itu ditanam satu per satu, sangat pelan sampai nyaris tak terlihat.
Pertama, muncul catatan akses masuk ke sistem arsip elektronik atas nama Alina, pada pukul dua dini hari di tanggal‑tanggal tertentu. Waktu di mana Alina pasti sedang terlelap tidur di rumahnya. Nominalnya kecil‑kecil saja, ratusan ribu, kadang beberapa juta, bergerak dari rekening penampung anak perusahaan Pradana Group ke rekening‑rekening kecil yang tidak jelas pemiliknya, lalu keluar lagi. Di mata staf administrasi biasa, itu cuma data sampah atau kesalahan sinkronisasi server yang wajar terjadi sesekali. Alina sendiri sempat melihatnya sekilas saat mengecek laporan bulanan, dia hanya mengerutkan kening sebentar lalu berasumsi staf bagian keuangan yang salah input, lalu meminta diperbaiki tanpa curiga lebih jauh. Dia sama sekali tidak sadar, setiap kali data itu “diperbaiki”, justru di situlah jejak digital aslinya makin tertanam kuat dan sulit dihapus.
Kemudian datang dokumen‑dokumen cetak. Lembaran demi lembaran dengan tanda tangan digital yang bentuknya sangat mirip, persis sekali sampai alat verifikasi kantor pun menyatakan sah, diselipkan rapi di antara berkas‑berkas perkara lain yang sedang Alina tangani. Isinya perjanjian‑perjanjian kerjasama teknis, izin akses data klien, sampai persetujuan pengalihan dana yang isinya samar‑samar namun jika disusun berurutan akan membentuk satu gambaran besar, bahwa penasihat hukum mereka, Alina Mahendra, diam‑diam sedang mengatur aliran uang tidak wajar senilai ratusan miliar rupiah, memanfaatkan nama baik Arka Pradana sebagai tameng, lalu berniat melemparkan kesalahan sepenuhnya kepada pemilik perusahaan kelak di kemudian hari.
Orang kepercayaan Raka meletakkan berkas‑berkas itu persis di laci meja kerja Alina, di bagian paling bawah yang jarang sekali dibuka orang, bahkan oleh pemiliknya sendiri. Diletakkan sedemikian rupa sehingga seolah‑olah Alina yang menyimpannya diam‑diam dengan sengaja.
Satu per satu hal kecil itu terus bertumpuk. Ada kalanya Raka mematikan alat sadap di rumah Alina hanya karena tidak sanggup lagi mendengar gadis itu berdoa panjang lebar setiap malam, memohon kemudahan dan kebenaran, sementara dialah penyebab utama kesulitan yang perlahan datang menghampiri. Ada malam‑malam dia menangis sendirian di ruang kerjanya yang mewah dan dingin, membenci takdir yang mempertemukan mereka sebagai musuh, membenci kenyataan bahwa satu‑satunya wanita yang berhasil melunakkan hatinya yang keras justru adalah orang yang wajib dia hancurkan demi nama ayahnya. Dia mulai bingung sendiri, apa sebenarnya tujuan dia bertahan sampai sejauh ini. Apakah masih dendam? Atau sekadar keinginan gila supaya Alina jatuh terpuruk, lalu satu‑satunya tangan yang terulur menolong hanyalah tangan Arka Pradana, sehingga mau tidak mau gadis itu akan bergantung dan melihatnya saja?
Sementara itu di kantor, perasaan gelisah Alina makin menjadi‑jadi setiap hari. Naluri yang diasah sejak sekolah di Al‑Azhar dulu dan di ruang sidang terus berbisik keras, ada yang tidak beres. Dia merasa berkas‑berkasnya sering berubah posisi, log masuk akunnya ada di jam‑jam yang tidak dia ingat pernah lakukan, dan kadang saat dia membuka data, ada bagian‑bagian kecil yang berubah isinya padahal dia yakin sekali belum pernah menyentuhnya. Dia sudah mengganti kata sandi berkali‑kali, memeriksa perangkatnya sampai tuntas, tapi selalu saja celah baru muncul entah dari mana.
Farhan yang setiap sore selalu menjemput atau sekadar menemani sampai selesai bekerja, mulai menangkap pola aneh itu lewat sisi keilmuannya. Sebagai orang yang mendalami sains dan sistem data, dia tahu betul bahwa kesalahan berulang dengan pola sama bukanlah kebetulan belaka. Suatu malam saat mereka berjalan berkeliling taman terbuka dekat kantor—tempat paling aman berbicara tanpa takut terdengar—Farhan memegang bahu Alina pelan, sangat hati‑hati tanpa menyentuh kulit, sorot matanya tajam dan cemas sekaligus.
“Lin, ini bukan sekadar kesalahan sistem,” ucapnya pelan tertiup angin malam. “Setiap perubahan, setiap akses aneh, setiap dokumen yang muncul tiba‑tiba… semuanya punya pola hitungan yang sangat rapi. Ini dirancang. Seseorang sedang membangun sesuatu yang besar perlahan‑lahan di balik punggungmu. Bukti‑bukti sedang disusun berbaris, dan saat waktunya tiba nanti, semuanya akan muncul sekaligus dan terlihat sangat meyakinkan bahwa kamulah pelakunya.”
Alina menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. Dia menduga hal yang sama. Dia hanya belum sanggup membayangkan betapa dalam dan liciknya persiapan yang sudah dilakukan Raka Haris selama bertahun‑tahun hanya untuk menjatuhkannya. Dia juga belum tahu, bahwa di balik setiap jejak palsu yang ditanam itu, ada hati yang sama‑sama terluka, yang setiap malam bergulat mati‑matian antara keinginan menghancurkan dan keinginan diam‑diam melindunginya dari dunia.
Belum jauh dari tempat mereka berjalan, di balik kaca gelap sebuah mobil mewah yang terparkir agak menjauh, Raka menyaksikan mereka berdua lewat. Di tangannya ada perangkat yang menampilkan daftar perintah penanaman bukti yang baru saja selesai dieksekusi sempurna. Dia bisa menghapus semuanya hanya dengan satu ketukan jari. Dia bisa berhenti saat ini juga. Tapi saat matanya melihat betapa cocok dan damainya Alina berdiri di samping Farhan, jari telunjuknya justru menekan layar mengonfirmasi tahap selanjutnya.
Air mata kecil menetes pelan di pipinya yang dingin, hilang begitu saja di balik kegelapan kabin mobil.
Maafkan aku, Alina. Ini satu‑satunya cara yang aku tahu… supaya akhirnya, kau hanya melihat aku seorang.
Bersambung...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏