NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina: "Kenapa kamu kembali, Arka? Untuk menghancurkanku?"

Arka: "Aku datang untuk menghancurkanmu... tapi malah jatuh cinta."

Farhan: "Kalau begitu pergilah. Karena aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya."

CINTA DAN DENDAM

Sepuluh tahun lalu, Alina menjadi korban pelecehan oleh kekasihnya sendiri, Raka. Tanpa ia sadari, semua perhatian dan cinta yang diberikan Raka hanyalah topeng. Di balik senyumnya, tersimpan rencana keji untuk menghancurkan hidup Alina dan ayahnya demi membalaskan dendam keluarganya.

Tepat sepuluh hari menjelang pernikahan Alina dengan Farhan, Raka dengan identitas baru sebagai Arka. Di balik topeng pria yang tampak baik, berwibawa, dan penuh pesona, tersimpan dendam yang siap menghancurkan kebahagiaan Alina.

Namun, semakin dekat dengan Alina, hati Arka justru goyah. Dendam yang ia pelihara selama sepuluh tahun perlahan berubah menjadi cinta dan obsesi untuk memiliki wanita itu, meski harus merebutnya dari pelukan Farhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 : JEJAK PALSU YANG MERAYAP PELAN

...BAB 8...

...JEJAK PALSU YANG MERAYAP PELAN...

Dua minggu berlalu, keadaan kembali tenang sentosa, seolah angin kencang beberapa hari lalu yang sempat menerpa rumah mereka kini telah berlalu pergi. Arka Pradana masih datang sesekali berkunjung dengan senyum ramah dan sopan, membawa buah tangan atau sekadar untuk menyapa sebentar, dan itu makin dicintai oleh Bu Kirana serta Pak Aditya. Tidak ada lagi pesan mengerikan di dini hari, tidak ada lagi ketukan pintu aneh, tidak ada lagi alat sadap yang ditemukan berserakan. Bagi orang awam, kedamaian itu terasa sungguhan. Namun bagi Alina dan Farhan, keheningan itulah yang justru paling mereka takutkan dan perlu diwaspadai. Karena mereka tahu betul, Raka Haris tidak akan pernah berhenti hanya begitu saja. Dia hanya sedang mengumpulkan tenaga, mengatur langkah, dan menenangkan mangsanya sebelum menerkam dari arah yang paling tidak diduga.

Dan benar saja, di balik ketenangan itu, rencana jahat yang disusun bertahun‑tahun mulai bergerak sangat pelan, sangat halus, nyaris tak berbau, persis seperti yang selalu diajarkan ayahnya kepadanya. Kalau ingin menghancurkan seseorang sampai ke akar‑akarnya, jangan pukul dia sekaligus sampai roboh. Tanamlah racun sedikit demi sedikit, lama‑kelamaan dia sendiri yang akan melemah dan jatuh dengan tangannya sendiri.

Setiap malam, di lantai paling atas gedung pencakar langit miliknya, Raka duduk sendirian di hadapan tiga layar komputer besar yang menyala terang di tengah ruangan gelap. Di layar itu terpantau seluruh sistem jaringan kantor hukum tempat Alina bekerja. Selama lima tahun mengamati, dia sudah menghafal betul setiap celah kecil, setiap kebiasaan staf, setiap kata sandi yang sering dipakai, sampai jam berapa saja server kantor itu jarang diawasi. Dia tidak perlu masuk memakai paksa. Dia cukup menyewa satu orang kepercayaan yang diterima bekerja sebagai staf administrasi baru tiga bulan lalu—orang yang sama sekali tidak dicurigai siapa pun, termasuk Alina.

“Mulai dari yang paling kecil dulu,” bisik Raka pelan lewat sambungan telepon tertutup, suaranya datar namun jari‑jarinya yang berada di atas meja mengepal erat sampai buku jarinya memutih. “Transaksi‑transaksi nominal kecil, akses masuk di jam‑jam sepi, ubah sedikit saja tanggal dan kode dokumen. Jangan sampai terlihat mencolok. Biarkan satu-persatu, pelan-pelan tapi pasti.”

Saat perintah itu keluar dari mulutnya, dadanya kembali terasa diremas hebat. Di layar sampingnya, terbuka foto Alina yang baru saja dia ambil diam‑diam sore tadi, saat gadis itu berjalan keluar gedung pengadilan dengan jilbab menutup dada sempurna, wajahnya lelah tapi tetap memancarkan keteguhan iman yang selalu membuat hatinya bergetar aneh. Dia benci dirinya sendiri saat ini. Awalnya semua hanya dendam, hanya balas budi atas penderitaan ayahnya dan runtuhnya nama keluarga Haris. Tapi sekarang, setiap kali dia menyuruh orang lain menanam jejak palsu itu, rasanya seperti dia sendiri yang sedang menyakiti bagian terpenting dari hatinya. Dia ingat betul betapa kerasnya Alina berjuang menuntut ilmu sampai ke negeri Mesir, betapa air matanya pernah menetes saat bercerita ingin menjadi penegak hukum yang tidak memandang kaya atau miskin, betapa sucinya niat gadis itu. Dan sekarang, dialah orang yang perlahan‑lahan akan mengotori segalanya.

Berkali‑kali dia ingin mengangkat telepon dan membatalkan semuanya. Berkali‑kali batinnya berteriak, cukup, berhenti saja, pergilah jauh‑jauh dan lupakan semuanya. Tapi setiap kali matanya menangkap rekaman kamera tersembunyi yang memperlihatkan Farhan datang untuk menjemput Alina, berjalan beriringan dengan penuh hormat dan lembut, membawakan makanan kesukaan gadis itu, tertawa bersama dalam obrolan halal yang penuh berkah—saat itulah rasa cemburu buta dan dendam warisan itu kembali membakar habis segala keraguannya.

Kalau bukan aku yang memilikinya, tidak ada siapa pun. Apalagi dia. Itu satu‑satunya kalimat yang selalu berhasil mematikan suara hatinya.

Maka mulailah jejak‑jejak itu ditanam satu per satu, sangat pelan sampai nyaris tak terlihat.

Pertama, muncul catatan akses masuk ke sistem arsip elektronik atas nama Alina, pada pukul dua dini hari di tanggal‑tanggal tertentu. Waktu di mana Alina pasti sedang terlelap tidur di rumahnya. Nominalnya kecil‑kecil saja, ratusan ribu, kadang beberapa juta, bergerak dari rekening penampung anak perusahaan Pradana Group ke rekening‑rekening kecil yang tidak jelas pemiliknya, lalu keluar lagi. Di mata staf administrasi biasa, itu cuma data sampah atau kesalahan sinkronisasi server yang wajar terjadi sesekali. Alina sendiri sempat melihatnya sekilas saat mengecek laporan bulanan, dia hanya mengerutkan kening sebentar lalu berasumsi staf bagian keuangan yang salah input, lalu meminta diperbaiki tanpa curiga lebih jauh. Dia sama sekali tidak sadar, setiap kali data itu “diperbaiki”, justru di situlah jejak digital aslinya makin tertanam kuat dan sulit dihapus.

Kemudian datang dokumen‑dokumen cetak. Lembaran demi lembaran dengan tanda tangan digital yang bentuknya sangat mirip, persis sekali sampai alat verifikasi kantor pun menyatakan sah, diselipkan rapi di antara berkas‑berkas perkara lain yang sedang Alina tangani. Isinya perjanjian‑perjanjian kerjasama teknis, izin akses data klien, sampai persetujuan pengalihan dana yang isinya samar‑samar namun jika disusun berurutan akan membentuk satu gambaran besar, bahwa penasihat hukum mereka, Alina Mahendra, diam‑diam sedang mengatur aliran uang tidak wajar senilai ratusan miliar rupiah, memanfaatkan nama baik Arka Pradana sebagai tameng, lalu berniat melemparkan kesalahan sepenuhnya kepada pemilik perusahaan kelak di kemudian hari.

Orang kepercayaan Raka meletakkan berkas‑berkas itu persis di laci meja kerja Alina, di bagian paling bawah yang jarang sekali dibuka orang, bahkan oleh pemiliknya sendiri. Diletakkan sedemikian rupa sehingga seolah‑olah Alina yang menyimpannya diam‑diam dengan sengaja.

Satu per satu hal kecil itu terus bertumpuk. Ada kalanya Raka mematikan alat sadap di rumah Alina hanya karena tidak sanggup lagi mendengar gadis itu berdoa panjang lebar setiap malam, memohon kemudahan dan kebenaran, sementara dialah penyebab utama kesulitan yang perlahan datang menghampiri. Ada malam‑malam dia menangis sendirian di ruang kerjanya yang mewah dan dingin, membenci takdir yang mempertemukan mereka sebagai musuh, membenci kenyataan bahwa satu‑satunya wanita yang berhasil melunakkan hatinya yang keras justru adalah orang yang wajib dia hancurkan demi nama ayahnya. Dia mulai bingung sendiri, apa sebenarnya tujuan dia bertahan sampai sejauh ini. Apakah masih dendam? Atau sekadar keinginan gila supaya Alina jatuh terpuruk, lalu satu‑satunya tangan yang terulur menolong hanyalah tangan Arka Pradana, sehingga mau tidak mau gadis itu akan bergantung dan melihatnya saja?

Sementara itu di kantor, perasaan gelisah Alina makin menjadi‑jadi setiap hari. Naluri yang diasah sejak sekolah di Al‑Azhar dulu dan di ruang sidang terus berbisik keras, ada yang tidak beres. Dia merasa berkas‑berkasnya sering berubah posisi, log masuk akunnya ada di jam‑jam yang tidak dia ingat pernah lakukan, dan kadang saat dia membuka data, ada bagian‑bagian kecil yang berubah isinya padahal dia yakin sekali belum pernah menyentuhnya. Dia sudah mengganti kata sandi berkali‑kali, memeriksa perangkatnya sampai tuntas, tapi selalu saja celah baru muncul entah dari mana.

Farhan yang setiap sore selalu menjemput atau sekadar menemani sampai selesai bekerja, mulai menangkap pola aneh itu lewat sisi keilmuannya. Sebagai orang yang mendalami sains dan sistem data, dia tahu betul bahwa kesalahan berulang dengan pola sama bukanlah kebetulan belaka. Suatu malam saat mereka berjalan berkeliling taman terbuka dekat kantor—tempat paling aman berbicara tanpa takut terdengar—Farhan memegang bahu Alina pelan, sangat hati‑hati tanpa menyentuh kulit, sorot matanya tajam dan cemas sekaligus.

“Lin, ini bukan sekadar kesalahan sistem,” ucapnya pelan tertiup angin malam. “Setiap perubahan, setiap akses aneh, setiap dokumen yang muncul tiba‑tiba… semuanya punya pola hitungan yang sangat rapi. Ini dirancang. Seseorang sedang membangun sesuatu yang besar perlahan‑lahan di balik punggungmu. Bukti‑bukti sedang disusun berbaris, dan saat waktunya tiba nanti, semuanya akan muncul sekaligus dan terlihat sangat meyakinkan bahwa kamulah pelakunya.”

Alina menarik napas panjang, dadanya terasa sesak. Dia menduga hal yang sama. Dia hanya belum sanggup membayangkan betapa dalam dan liciknya persiapan yang sudah dilakukan Raka Haris selama bertahun‑tahun hanya untuk menjatuhkannya. Dia juga belum tahu, bahwa di balik setiap jejak palsu yang ditanam itu, ada hati yang sama‑sama terluka, yang setiap malam bergulat mati‑matian antara keinginan menghancurkan dan keinginan diam‑diam melindunginya dari dunia.

Belum jauh dari tempat mereka berjalan, di balik kaca gelap sebuah mobil mewah yang terparkir agak menjauh, Raka menyaksikan mereka berdua lewat. Di tangannya ada perangkat yang menampilkan daftar perintah penanaman bukti yang baru saja selesai dieksekusi sempurna. Dia bisa menghapus semuanya hanya dengan satu ketukan jari. Dia bisa berhenti saat ini juga. Tapi saat matanya melihat betapa cocok dan damainya Alina berdiri di samping Farhan, jari telunjuknya justru menekan layar mengonfirmasi tahap selanjutnya.

Air mata kecil menetes pelan di pipinya yang dingin, hilang begitu saja di balik kegelapan kabin mobil.

Maafkan aku, Alina. Ini satu‑satunya cara yang aku tahu… supaya akhirnya, kau hanya melihat aku seorang.

Bersambung...

1
Kam1la
cepet amat kak, alurnya. kesehatan Alina sendiri bagaimana? semoga cepat pulih
Kayla Rane: iya k, nnti bakal ada konflik lagi setelah Fikri nikah sama Dila. dan disini bakal serunya 🤭 ujian Alina tambah berat lagi
total 1 replies
Kam1la
Sari tidak punya perasaan
Kam1la
pasti ada jalan keluarnya
Kam1la
malah sakit yang kerepotan sendiri , mama Sari kemana ?
Kam1la
ya Allah, ada apa dengan Alina...semoga tidak serius lukanya
Kam1la
keren.... akhirnya Mama Sari sadar juga...
Kam1la
untung saja, Nisa ketahuan kalau tidak bakal sembunyi terus🤭
Kam1la
kalau Alina bekerja lagi dan kaya. pasti Sari gk ngejek
Kam1la
kalau ditinggal beneran, baru tahu rasa Farhan...🤭
Kam1la
jangan2 akal -akalan Sari...
Kam1la
alhamdulillah...sudah lahir anak cewek. siapa nama bayinya ....
Kam1la
nah kan, Farhan bakal kena akibatnya
Kam1la
Alina yg kuat ya....mending di rumah sendiri saja, cari pembantu....🤭
Kam1la
syukurlah...hamil juga. selamat ya Alina...😍
Kam1la
semoga saja dikemudian waktu Laila bisa terbuka sama Fikri, biar Alina bisa tenang.
Kam1la
Laila punya banyak rencana, tapi Alina punya seribu cara untuk menangkisnya
Kam1la
nah ...kan, Farhan mulai bercanda nya kelewatan...jangan-jangan dia juga berencana poligami
Kam1la
greget sama Laila.... Farhan kira - kira bagaimana ya hatinya? kan dia begitu mengagumi Laila
Kam1la
rencana apa yang disusun Laila?
Kam1la
aku takut, jika setiap hal Farhan ingat Laila, justru jatuh cinta padanya...😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!