NovelToon NovelToon
Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu

Status: tamat
Genre:Cerai / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Annami Shavian

Nuri adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki satu orang anak berusia satu setengah tahun mendapat nafkah dari suaminya tak lebih dari lima ratus ribu perbulan selama tiga tahun usia pernikahan mereka. Selain itu, Nuri sering kali mendapat perlakuan tidak adil dari sang ibu kandung serta ke dua Kakak kandung terhadap dirinya. Suami Nuri yang bekerja di kota tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupan keras Nuri di rumah ibu kandungnya. Nuri harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari hari serta gaya hidup ibunya. Suatu hari hal buruk menimpa Nuri. Dimana sang suami menceraikan nya dan memilih untuk kembali bersama mantan istri sang suami dengan alasan Nuri adalah seorang istri yang tidak berguna dan tidak dapat di andalkan. Mampukah Nuri menjalani hidup dari keluarga yang tidak berlaku adil padanya serta sebagai seorang single mom?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annami Shavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di belikan mobilan remote

Bu haji kembali lagi sambil membawa piring di tangannya lalu menyodorkan piringnya ke arah ku. Aku mengambil piring di tangan Bu haji sembari tersenyum.

"Berapa Bu haji?" tanyaku sambil meletakkan satu persatu gorengan ke atas piring menggunakan penjapit.

"Tiga puluh ribu Nuri."

Aku membelalakkan mataku mengapa Bu haji banyak sekali membeli gorengan ku padahal beliau hanya tinggal berdua saja dengan anaknya. Bu haji tersenyum seolah olah dia tau kebingunganku karena dirinya membeli gorengan begitu banyak.

"Raihan suka sekali sama gorengan Nur, apalagi gorengannya masih hangat begini. Buat teman ngopi."

"Oh, begitu ya Bu haji!"

"Oya, Nur, apa besok kamu ada acara?"

"Tidak ada Bu, paling hanya jual gorengan saja. Memangnya ada apa ya Bu haji?"

"Begitu Nur, besok adalah hari khol ayahnya Raihan. Jadi saya rencana ingin membuat nasi kotak untuk di bawa ke masjid. Si Raihan menyarankan untuk catering saja tapi saya ingin masak saja. Apa kamu bersedia tidak membantu saya masak Nur?"

Ucapan Bu haji mengingatkan ku pada almarhum ayah ku. Sudah tiga tahun ini aku tidak pernah lagi mengadakan khol untuk ayahku karena keterbatasan uang yang ku miliki. Dan tanpa sadar aku melamun di hadapan Bu haji.

"Nur, Nuri...!" Bu haji menggoyang kan bahuku pelan.

"Oh, iya maaf Bu haji, maaf. Bisa Bu, bisa. Saya bisa bantu ibu!"

"Alhamdulilah, syukurlah kalau kamu bisa. Besok kamu kesini nya habis jualan saja ya?"

"Iya, Bu haji. Ini gorengannya Bu!" Ku berikan satu piring gorengan penuh pada Bu haji!" Bu haji menerima piring dariku lalu memberikan uang lima puluh padaku.

"Mashaallah Bu haji besar sekali. Belum ada kembaliannya Bu!" aku belum mengambil uang itu dari tangan Bu haji.

"Tidak apa apa Nur, tidak usah di kembalikan."

"Tidak bisa begitu Bu, saya tidak ingin seperti ini. Kemarin saja Bu haji sudah memberikan saya uang yang besar dan itu sudah cukup."

Bu haji terdiam sesaat lalu berkata," ya sudah tunggu sebentar ya Nur!" Dia beranjak lalu masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian dia kembali lagi keluar menemui ku dan memberikan uang sebesar tiga puluh ribu pas.

"Alhamdulilah, terima kasih banyak ya Bu haji!"

"Sama - sama Nuri!"

Aku bangun lalu ku letak kan kembali penampi di atas kepalaku.

"Saya permisi dulu dulu ya Bu, assalamualaikum!"

"Wa'a.........eh, Nuri..Nuri tunggu sebentar. Saya hampir saja lupa. Ini dari Raihan. Katanya sebagai ucapan terima kasih sudah mencucikan pakaiannya yang super kotor."

Ku lihat uang di tangan Bu haji terlihat beberapa lembar uang warna merah. Aku tersenyum padanya.

"Maaf Bu, bukan maksud saya menolak rizki tapi saya bantu ibu itu ikhlas. Tidak ada maksud lain. Tolong bilang pada Raihan terima kasih sudah berbaik hati pada saya tapi maaf saya tidak bisa menerimanya Bu. Kalau begitu saya permisi dulu ya Bu."

Aku melangkahkan kembali kakiku. Mencari pembeli gorengan ku. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Hingga akhirnya dagangan ku habis. Tak henti hentinya aku ucap kan rasa syukur pada sang pemberi Rizki.

"Alhamdulilah nak, dagangan kita laris lagi. sekarang kita pulang yuk, Zain belum mandi dan belum sarapan."

"iya, mama?"

Aku bergegas pulang dengan perasaan yang riang. Tiba di rumah ku dapati rumah sepi artinya ibu belum bangun. Ku lihat tudung saji sudah sudah tidak ada gorengan lagi di atas meja. Untung saja ku pisahkan untuk ku dan Zain kalau tidak habis juga di lahapnya seperti kemarin.

Aku segera memandikan Zain, lalu menyuapinya dengan bubur yang ku beli. Karena aku punya uang jadi aku membelikan Zain bubur saja. Setelah itu aku mulai masak tumis kangkung serta ikan asin yang aku beli kemarin. Setelah masak aku mencuci pakaian lalu melakukan semua pekerjaan rumah hingga kinclong. Saat aku sedang menyapu halaman rumahku terdengar teriakan ibu dari dalam memanggil namaku. Ku letak kan gagang sapu terlebih dahulu lalu ku hampiri ibu di dalam rumah.

"Ada apa Bu?"

"Kamu tega sekali ngasih makanan tidak ada gizinya seperti ini. Apa kamu sengaja biar aku cepat mati?"

"Kembali ke realita hidup Bu, bahwa kita bukan orang kaya. Jangan tanggah. Masih kebeli beras saja masih bersyukur. Kalau ibu mau makan enak terus ya ibu cari sendiri uangnya. Kalau tidak mau di makan tidak usah di makan." Setelah berbicara aku segera ngeloyor pergi meninggalkan ibu yang masih menatapku dengan nyalang. Dan aku tidak peduli.

Keesokan harinya sesuai janjiku pada Bu haji pagi ini setelah berdagang aku akan membantunya memasak di rumahnya. Aku berjalan menuju arah rumah Bu haji dan tiba di sana ternyata Bu haji sudah menungguku di luar rumahnya. Aku mengucapkan salam dan beliau membalasnya lalu membukakan pintu gerbang.

"Ayok Nur masuk!"

"Iya, Bu!"

Aku mengekor di belakang Bu haji masuk ke dalam rumahnya. Lalu ku turunkan Zain terlebih dahulu di dapur. Ku lihat banyak bahan mentah yang masih terbungkus di dalam plastik. Mungkin Bu haji belum sempat mengeluarkan isinya. Aku keluarkan semua isi belanjaan atas permintaan Bu haji. Aku mulai sibuk memasak satu persatu menu. Sudah dua jam lamanya aku nguprek di dapur hingga aku melupakan yang namanya minum. Dan sekarang aku merasa tenggorokan ku haus. Aku mencari letak dispenser yang ternyata letak nya di pojokan. Lalu ku ambil gelas dan ku tuangkan airnya. Ketika aku berbalik tanpa sengaja aku menabrak dada bidang seseorang. Dahiku mengkerut. Dalam hati aku bertanya tanya dada siapa ini? namun ketika aku mendongak kan kepalaku ke atas tampak wajah pria super tampan sedang tersenyum manis padaku. Aku membelalakkan mataku.

"Rai....Raihan!" aku segera menyingkir dari hadapannya.

"Maaf Rai, saya tidak sengaja,"ucapku. Ku tundukan wajahku karena aku merasa malu sudah berbuat ceroboh. Senyum manis Raihan tetap mengembang di bibir tipisnya.

"Tidak apa apa mba."

Kemudian dia ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih merasa keheranan. Banyak sebenarnya yang ingin aku tanyakan pada Raihan. Namun memasak jauh lebih penting. Aku mulai memasak kembali. Memasak bahan bahan yang belum di masak. Ku dengar suara tawa Zain di ruang tamu. Aku penasaran lalu aku mengintip. Ku lihat Raihan sedang bermain bersama Zain. Se ulas senyum tersungging di bibirku. Anak ku Zain punya teman meskipun temannya orang dewasa.

Aku kembali fokus masak karena tinggal satu menu lagi yang belum di masak. Aku memasak sendiri karena aku tidak tiga jika Bu haji ikut membantu dengan kondisinya yang sudah tua dan kadang sakit sakitan. Oleh karena itu aku mengerjakan semuanya sendiri. Setelah selesai masak ku matikan kompor. Anak ku Zain menarik narik baju. Ku lihat ke bawah dia membawa mainan mobilan remote dan ku rasa harganya ratusan ribu. Aku membelalakkan mataku.

"Zain, ini milik siapa? tidak boleh sembarangan ambil punya orang nak."

"itu, punya Zain mba, untuk Zain." Aku menoleh ke ambang pintu Raihan berdiri sambil bersedekap dada.

1
Yuliana Purnomo
wooow,,nafkah nya fantastic,,,
Yuliana Purnomo
mantep 👍
Yuliana Purnomo
oohh pasti Rayhan kerjasama dgn bang Supri
Yuliana Purnomo
ya ampun buuuk,, kelakuan masih aja sama
Yuliana Purnomo
dasar Sumi penasaran SM mobil yg bergoyang
Yuliana Purnomo
uuuh gemes mau njitak pala pak yanto,, rasanya,, tetangga sableng ini memang
Yuliana Purnomo
makin seru,, bikin penasaran
Yuliana Purnomo
seruuu,,,kasian Zain,, mudahan selamat gak di perdagangkn oleh sindikat
Yuliana Purnomo
gercep Oma, selidiki latar belakang nuri
Yuliana Purnomo
pokoknya nya baik' nya bukan main Nury,, totalitas dan klhas menolong sahabat nya
Yuliana Purnomo
heeemmm bahagia nya,,,adem banget liat yg kayak gini
Yuliana Purnomo
senang nya,, Akir nya lepas dr si Surya
Yuliana Purnomo
kaapook ketauan istri mu pak ustad
Yuliana Purnomo
bingung kan nurrrr?? aku juga bingung kalau disuruh milih antara Rayhan antau Andre
Yuliana Purnomo
mantapppp Nuur,,knpa gak dr dulu kamu melawan mereka 2,, walaupun keluarga mu tapi toxic semua
Yuliana Purnomo
amit amit sm sikapnya ustad Amir
Yuliana Purnomo
ustadz juga manusia Nury,,, wajarlah khilaf tipis 2 😉
Yuliana Purnomo
diih masa Hamidun siiih ?? sudah tau punya laki Modelan Surya,, kenapa gak kb lh??
Yuliana Purnomo
nasib mu komplit banget Nuri,,,ibu yg kebangetan, saudara kyk penjajah,,suami medit
Yuliana Purnomo
😢😢😢😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!