Ketika sedang berlibur bersama teman-teman kerjanya ke sebuah wisata air terjun, tanpa sengaja Mila menemukan sebuah kalung berlian berwarna merah.
Tidak lama setelah itu, sesosok mahluk gaib muncul di hadapannya dan mengaku sebagai pemilik kalung tersebut. Mahluk itu menjerat Mila ke dalam hubungan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Cerita ini hanyalah sebuah karangan Author belaka. Jadi, harap maklum jika di dalamnya terdapat cerita yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Mila
"Aaakh!"
Bukgh ... bukgh ... bugkhhh!
Tubuh ringkih dan tak berdaya itu terus mendapatkan berbagai pukulan dan tendangan dari beberapa orang laki-laki bertubuh besar. Gadis itu meringis kesakitan sambil meminta ampun.
"A-ampunnn!"
"Tidak ada kata ampun untuk gadis rendah seperti dirimu! Yang sudah lancang mencintai putraku tanpa ingat dari mana kamu berasal! Dasar pelayan rendahan!"
Seorang lelaki bertubuh tegap dengan jenggot tipis, menyeringai menatap gadis itu. Bukannya iba, lelaki berjubah dengan mahkota di atas kepalanya itu, malah semakin bersemangat melihat penderitaannya.
"Jangan berhenti! Terus siksa gadis ini sampai dia benar-benar menyesali perbuatannya!"
Lelaki berjubah itu bergegas pergi sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Sementara para lelaki bertubuh besar itu kembali melanjutkan tugasnya, menghukum dan menyiksa gadis bertubuh mungil yang kini sudah tidak berdaya tersebut.
"Ampunnnn ...." lirihnya sambil menahan rasa sakit yang amat sangat di seluruh tubuhnya.
"Sakittt ... kumohon, berhentilah ...." sambung gadis itu.
Bukgh ... bugkhhh ....!
"Hentikan!" teriak Mila.
Tiba-tiba Mila terbangun dari tidurnya dengan napas yang tersengal-sengal. Mila memegang dadanya dengan erat kemudian duduk di tepian tempat tidur.
"Si-siapa gadis itu dan kenapa mereka tega menghukumnya seperti itu?" gumam Mila, yang masih syok dengan mimpi buruknya barusan. Mila meraih gelas berisi air putih di atas nakas lalu meminum air tersebut hingga tandas.
"Oh, Tuhan! Pertanda apa ini," gumam Mila sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Tiba-tiba tatapan gadis itu tertuju pada kedua belah tangannya. Samar-samar Mila melihat beberapa luka lebam yang membiru di kedua tangannya tersebut.
"A-apa ini?" gumamnya dengan wajah heran.
Bukan hanya kedua tangannya, tetapi hampir seluruh tubuh Mila dipenuhi luka lebam yang membiru. Tangan, kaki, paha, perut dan seluruh anggota tubuhnya tak luput dari semua itu.
"A-apa yang terjadi padaku! Ke-kenapa tubuhku jadi seperti ini?" pekik Mila yang kini ketakutan setengah mati.
Mila tampak kebingungan. Di dalam mimpi buruknya barusan, ia melihat sosok gadis muda yang terus disiksa oleh para algojo. Ya, walaupun wajahnya hanya terlihat samar-samar. Namun, yang membuat Mila heran, ia pun merasakan sakit dan perih ketika para lelaki bertubuh tambun itu melancarkan berbagai pukulan dan tendangan ke tubuh gadis tersebut.
Mila bergegas bangkit kemudian menghidupkan lampu di kamarnya. Ia ingin melihat luka lebam yang kini menghiasi seluruh tubuhnya dengan jelas. Dan benar saja, tubuh Mila memang di penuhi oleh warna hitam kebiruan tersebut.
"Ya, Tuhan! Apa ini ...." pekik Mila sembari mengibaskan-ngibaskan tangannya, berharap tanda biru yang menghiasi tubuhnya segera menghilang.
Selang beberapa detik kemudian luka-luka lebam itu mulai memudar kemudian menghilang dari tubuh Mila. Kejadian itu benar-benar membuat Mila syok. Gadis itu kembali ke tempat tidurnya dengan tergopoh-gopoh. Tubuhnya mendadak panas dingin dan ia pun segera masuk ke dalam selimut lalu meringkuk di sana.
"Kamu kenapa, Aurora?" tanya Pangeran Hans yang ternyata masih berada di tempat tidurnya. Karena saking ketakutannya, Mila bahkan sampai lupa bahwa pangeran tampan itu masih berbaring bersamanya di atas tempat tidurnya tersebut.
"Pangeran Hans!" pekik Mila sembari menyingkap sedikit selimutnya kemudian menyembulkan kepalanya menatap pangeran Hans.
"Pangeran, jadi kamu masih berada di sini?"
"Ya. Aku masih di sini," jawab Pangeran Hans singkat dan jelasl.
"Kamu jahat, Pangeran! Sudah tahu aku mengalami mimpi buruk. Bukannya mencoba menenangkan aku, kamu malah membiarkan aku ketakutan!" ucap Mila sambil mendengus kesal.
"Memangnya kamu mimpi apa, hingga kamu ketakutan seperti itu?" tanya Pangeran Hans, seolah tidak tahu apa yang dimimpikan oleh Mila barusan.
Mila bergegas bangkit kemudian bersandar di sandaran tempat tidur tanpa melepaskan selimut yang sudah menempel di tubuhnya.
"Barusan aku mimpi aneh, Pangeran. Aku melihat seorang gadis tengah disiksa dengan sadis oleh beberapa orang laki-laki bertubuh besar. Dan yang memerintahkan mereka menyiksa gadis itu adalah seorang Raja. Dan kamu tau apa yang lebih aneh dari itu, gadis itu yang dipukul, aku pun ikut merasakan sakitnya. Sakit sekali, Pangeran. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku berada di posisi gadis itu," tutur Mila dengan wajah sedih.
Pangeran Hans terdiam dengan mata berkaca-kaca menatap Mila. Ia duduk di samping Mila kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Mila tampak bingung, tetapi ia menurut saja ketika Pangeran Hans memeluknya dengan erat dan terus menciumi puncak kepalanya hingga berkali-kali. Seolah tidak ingin kehilangan Mila untuk kesekian kalinya.
"Aku berjanji, Aurora. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu, termasuk Raja Edward."
"Raja Edward? Siapa dia dan memangnya siapa gadis itu?" tanya Mila dengan alis yang saling bertaut. Ia mendongak, menatap Pangeran Hans yang masih mendekapnya dengan erat.
Pangeran gaib itu membuang napas berat. "Raja Edward itu adalah ayahku dan gadis yang kamu lihat barusan adalah Aurora, kamu di masa lalu. Apa sekarang kamu masih tidak bisa mempercayai kata-kataku tentang reinkarnasi itu?"
Mila terdiam sejenak dengan mata membulat. Walaupun sebenarnya ia masih belum bisa menerima pernyataan Pangeran Hans soal reinkarnasi itu, tetapi mimpinya barusan seolah membuktikan bahwa apa yang dikatakan oleh lelaki gaib tersebut adalah benar.
"Maafkan aku, Aurora. Seandainya dulu aku tidak mengikuti perintah Raja, mungkin kita akan tetap bersatu dan tidak akan terpisah seperti ini."
Dada lelaki bertubuh kekar itu bergetar dan membuat Mila kembali menengadahkan kepalanya. Ternyata lelaki itu menangis, menyesali perbuatan bodohnya di masa lalu.
"Pangeran Hans ...."
"Ya?" Pangeran Hans menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Kamu tidak pernah bercerita soal hubungan kalian kepadaku. Bagaimana kalian berpisah, hingga akhirnya kamu tersesat di sini."
Pangeran Hans menatap dinding kamar Mila dengan tatapan kosong menerawang. Mencoba mengingat semua kejadian naas itu. Di mana Aurora, kekasihnya di siksa dan diperlakukan seperti binatang oleh sang raja.
"Aurora adalah seorang pelayan yang bekerja di istana. Dia salah satu pelayan yang bertugas melayani Ratu Caroline, ibuku. Aku jatuh cinta padanya. Aneh memang, tetapi aku rasa dia bukanlah gadis biasa. Bahkan aku harus berjuang keras untuk mendapatkan cinta darinya. Tidak mudah meluluhkan hatinya karena pada dasarnya gadis itu memang keras kepala. Sama seperti dirimu." Pangeran Hans tersenyum tipis sembari mengacak pelan puncak kepala Mila.
"Oh, sekarang aku mengerti. Jadi hubunganmu dengan Aurora tidak direstui Raja dan Ratu, 'kan? Secara kasta kalian berbeda jauh," lanjut Mila, mencoba menebak-nebak apa yang terjadi antara Pangeran Hans dan kekasih masa lalunya.
"Ya, kamu benar. Mereka tidak setuju, terutama Raja Edward. Raja Edward bahkan sudah mempersiapkan calon istri untukku. Seorang putri dari kerajaan timur. Aku menolak dan bersikeras mempertahankan hubunganku bersama Aurora, hingga hari naas itu pun terjadi ...."
...***...
sungguh mantap sekali
terus lah berkarya dan sehat selalu...
tahniah buat kehamilan Mila...