"Seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa melihat, aku ingin melihat wajahmu walau itu hanya satu hari saja," ucap Safira.
Demir yang dari kecil hidup tanpa cinta, membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tidak percaya akan adanya cinta, tapi kehadiran seorang wanita bernama Safira bisa membuat Demir merasakan cinta yang selama ini dia rindukan.
Akankah Demir bisa menemukan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEO Dingin Dan Kejam
🌻
🌻
🌻
🌻
🌻
4 Tahun kemudian....
Di sebuah Bandara, terlihat pria tampan sedang berjalan dengan gagahnya sembari menggeret kopernya.
Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Demir Sugiono, kurang lebih selama 4 tahun dia menetap di Jerman untuk melanjutkan kuliahnya dan sekarang dia kembali dan siap memimpin perusahaan yang menjadi warisan dari almarhum Papanya.
Demir sudah tidak punya siapa-siapa, satu tahun setelah Kakeknya meninggal, Neneknya pun menyusul dan Demir sama sekali tidak pulang. Anggaplah Demir cucu durhaka, tapi itulah Demir dia sudah tidak ada lagi rasa sayang dan empati pada siapa pun.
Selama di sana, Katty pun terus saja berusaha mendekati Demir tapi hasilnya nihil. Apa pun yang Katty lakukan tidak membuat Demir luluh, jangankan luluh, melirik sedikit pun Demir tidak mau.
Demir menghentikan taksi, hari ini dia akan pulang terlebih dahulu ke rumah Kakek dan Neneknya dulu, kemudian dia akan menjualnya karena Demir sudah memutuskan untuk menetap di Jakarta.
Demir akan memulai semuanya di Jakarta meninggalkan kenangan-kenangan pahit yang selama ini sudah dia rasakan.
"Selamat datang, Tuan," seru ART saat Demir sampai di rumah.
"Jangan ada yang ganggu saya, soalnya saya ingin beristirahat," seru Demir dingin.
"Baik Tuan."
Demir tidak memperdulikannya dan langsung menuju kamarnya, Demir memperhatikan setiap sudut kamarnya yang ternyata tidak berubah sama sekali.
Demir pun merebahkan tubuhnya dengan tatapannya masih menerawang jauh ke langit-langit kamarnya, hingga tanpa terasa mata Demir pun tertutup.
***
Keesokan harinya....
Pagi-pagi sekali Demir sudah bersiap-siap akan pindah ke Jakarta, bahkan para ART sudah Demir kasih tunjangan masing-masing, rumah itu sudah ada yang beli dan siang ini orang itu akan datang.
Demir menggeret kopernya dan memasukannya ke dalam mobilnya, Demir pun masuk dan melajukan mobilnya menuju Jakarta. Diperjalanan, Demir sempat melihat ponsel yang dulu dia pakai, di saat membukanya ternyata wallpaper ponselnya adalah foto Safira.
Tiba-tiba perasaan marah pun kembali menguasai Demir, Demir meremas ponselnya dan melemparnya ke luar mobil. Demir sudah sangat marah kepada Safira yang menghilang begitu saja.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, Demir pun sampai di Jakarta dan Demir langsung menuju perusahaannya.
"Ayo semuanya berkumpul, kita sambut kedatangan Bos baru kita pemilik perusahaan ini," seru Wildan yang merupakan orang kepercayaan Damar sejak dulu.
Semua karyawan pun berjejer menyambut kedatangan Demir, banyak yang kasak-kusuk mengenai tampang sang Big Bos.
"Pasti Bos kita tampan ya, secara dulu Pak Damar pun sangat tampan pasti anaknya jauh lebih tampan."
"Iya, kita jadi lebih semangat buat bekerja kalau melihat wajah si Bos."
Begitulah celetukan-celetukan yang keluar dari mulut karyawan wanita. Tidak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan kantor dan Wildan segera berlari untuk membukakan pintu mobil Demir.
Semua karyawan menoleh dan tidak sabar melihat wajah Bos barunya itu. Demir pun keluar dengan wajah dinginnya membuat semua karyawan wanita bersorak dalam hatinya.
"Tuan, selamat datang di perusahaan," seru Wildan.
Seperti biasa, Demir langsung berjalan dengan gagahnya menuju ruangannya tanpa memperdulikan para karyawan yang sudah berjejer menunggu kedatangannya.
Demir berhenti di depan pintu lift yang terbuka. "Suruh mereka kembali bekerja."
"Ba-baik Tuan."
Wildan segera berlari dan berteriak menyuruh semuanya bubar dan kembali bekerja, setelah itu Wildan pun segera menyusul Demir masuk ke dalam lift.
"Siapa yang menyuruh mereka berjejer seperti itu?" tanya Demir dingin.
"Ma-af Tuan, tadi saya yang menyuruh seperti itu untuk menyambut kedatangan Tuan," sahut Wildan dengan menundukan kepalanya.
"Saya tidak pernah menyuruh kamu untuk melakukan itu, kamu tahu, waktu adalah uang jangan membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak penting."
"Ba-ik Tuan, maafkan saya."
Pintu lift pun terbuka, Demir dan Wildan menuju ke ruangan Demir. Wildan dengan sigap membukakan pintu untuk Demir.
"Silakan Tuan."
Demir masuk ke dalam ruangan yang dulunya merupakan ruangan almarhum Papanya. Demir memperhatikan setiap sudut ruangan itu, di atas meja terpajang foto Papanya dan dirinya yang sedang duduk di pangkuan sang Papa.
"Kamu boleh keluar, dan kembali bekerja."
"Baik Tuan."
Wildan pun segera keluar dari ruangan Demir. "Astaga, Tuan Demir sangat dingin padahal perasaan dulu Tuan Damar tidak sedingin itu," batin Wildan.
Demir duduk di kursi kebesarannya dan perlahan mengambil foto dirinya dan Papanya.
"Pa, sekarang Demir sudah berada di sini. Papa jangan khawatir, Demir akan membuat perusahaan ini jauh lebih maju dari sebelumnya," gumam Demir.
Demir pun mulai bekerja dan memeriksa berkas-berkas yang sudah menumpuk di atas mejanya. Demir seakan tidak lelah, padahal barusan Demir baru saja menjalani perjalanan yang lumayan jauh.
***
Waktu pun berjalan dengan cepat, Demir merentangkan kedua tangannya dan melihat ke arah jam yang melingkar indah di tangannya.
"Pantas saja perutku lapar, ternyata sudah lewat waktu makan siang," gumamnya.
Demir menekan sambungan telepon. "Ke ruanganku sekarang juga."
Tidak membutuhkan waktu lama, Wildan pun masuk ke ruangan Demir.
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Kamu selesaikan sisa pekerjaan saya, saya mau makan siang dulu dan kemungkinan langsung pulang dan tidak kembali ke sini."
"Baik Tuan."
Demir pun segera meninggalkan ruangannya dan pergi, Demir segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya ke sebuah restoran untuk makan siang terlebih dahulu.
Di saat Demir selesai makan siang, Demir memutuskan untuk pulang karena tubuhnya sudah terasa sangat lelah. Di saat Demir hendak bangkit, seorang pelayan yang sedang membawa nampan berisi piring dan gelas kotor menambrak Demir sehingga semuanya pecah dan ponsel Demir pun terjatuh.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja," seru pelayan itu dengan raut wajah ketakutan.
"Kamu bisa bekerja tidak sih?" bentak Demir.
"Maaf Tuan."
Ponsel Demir jatuh bersatu dengan pecahan gelas, karena kesal Demir langsung mengambil ponselnya dan ternyata ada pecahan gelas di atas ponsel Demir membuat Demir meringis.
"Ah...."
Seketika darah mengalir dari telapak tangan Demir.
"Ya ampun, tangan Tuan berdarah. Mari Tuan biar saya obati."
"Tidak usah."
Demir segera keluar dari restoran itu dengan darah yang masih mengalir di tangannya, Demir melihat ternyata di sebrang restoran itu ada rumah sakit, akhirnya Demir pun memilih untuk ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengobati lukanya.
Beberapa saat kemudian, luka Demir pun selesai diobati dan Demir pun berjalan hendak menuju mobilnya. Tapi dari kejauhan, Demir seperti melihat seseorang yang dia kenal.
"Bu Livia!"
Demir segera mempercepat langkahnya menghampiri wanita yang dulu adalah gurunya itu.
Wanita itu tampak mengerutkan keningnya, dan memperhatikan sosok pria tampan yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Demir, kamu Demir kan?"
"Iya Bu, aku Demir."
Bu Livia langsung memeluk Demir dan itu membuat Demir sangat bahagia.
"Ya Allah, kamu tampan sekali Demir, Ibu sampai pangling melihat kamu."
"Ibu juga masih terlihat cantik seperti dulu."
"Ah kamu bisa saja, oh iya kamu sedang apa di sini?"
"Ini Bu, tadi tangan Demir luka sedikit. Ibu sendiri lagi ngapain di sini? Apa ada yang sakit?"
"Iya, Gilsya kecelakaan Mir."
"Astaga, gadis ceroboh itu. Apa aku boleh melihat Gilsya?"
"Boleh dong, ayo."
Akhirnya Demir pun ikut untuk melihat Gilsya, teman masa kecilnya.