*KHUSUS PEMBACA UMUR 17+*
Pertemuan mereka berdua membuat roda takdir berputar.
Hari – hari indahnya bermula saat Dion bersama dengannya, mengawali dan menutup hari dengan mengucap namanya yang sudah terukir didalam hati. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua dari kebahagian itu, hingga suatu saat....
“Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu.” Gumam Dion
Di malam hari, gelap, tanpa cahaya aku berdiri dan kembali menyesali perbuatanku. Awan besar menutupi rembulan, aku tak dapat berkata – kata lagi tanpa kusadari air mata telah mengalir.
“maafkan aku teman – teman....”
Disini, dikelas ini, diantara jasad seluruh sahabat2ku, aku menangis.
Dengan tatapan kosong dan tubuh bermandikan darah.
“anak iblis”
“Pembunuh”
“Penjahat”
Satu persatu sebutan itu terdengar ditelingaku hingga sampai membuatku lupa akan identitasku sendiri. 1 minggu kemudian Aku terbangun disebuah rumah sakit jiwa tanpa mengingat apapun dan langsung pindah ke kota Lando dan berseklah di SMA Violet
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahroni nurhafid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Kembalinya Si anak Iblis
“apakah benar
yang dikatakan dion itu,Rui?” Jay melempar pisau dari Dion dang memegang kedua
pundak Rui, namun Rui hanya tetap diam dan menutup kedua matanya.
“orang itu Dion
menunjuk Rui terlihat kesakitan dimataku.”
“Tentu saja
tidak, kau salah Dion. Aku baik – baik saja.”
“kau mungkin bisa
menipu orang lain\, tapi tidak untuk mataku ini.......*Dion menatap langit* mata
yang sudah terbiasa melihat kematian ini.”
Seketika Rui dan
Jay memandang Dion dengan serius,
“Kau......siapa
sebenarnya?” tanya jay
*Kring.......Kring....
HP Jay berbunyi,
saat dilihat ternyata ada panggilan dari Ibo.
“siapa?” tanya
Rui
“dari Ibo,
mungkin dia masih mencari Dion.”
Jay menjawab
telpon dari Ibo,
Ibo :”Akhirnya
terhubung jg, jay lu tau dimna yang lain enggk? Gue cari g ketemu – ketemu gue
telpon gak bisa.”
Jay :”aku juga
tidak tau dimana yang lainnya.”
Dion :”aku tadi
bertemu dengan mereka semua ditaman.” Jawab dion
Jay :”kau dengar
sendiri kan?”
Ibo :”loh?eh?
Dion? Kenapa lu bisa bareng sama dion jay? Dan lu gak lapor ke gue?!”
Jay :”sudahlah,
yang terpenting sekarang adalah menemukan teman –teman dulu.”
Ibo :”ok gue otw
dulu ke taman, nanti aku telpon lagi kalau sudah sampai.”
Ibo mengakhiri
telponnya,
Dion :”maaf,
sepertinya mustahil menemukan mereka.”
Rui :”apa
maksudmu?”
Dion menunjuk
kearah langit,
Diantara air
hujan dan awan hitam terlihat sesuatu yang jatuh dari langit, titik – titik hitam
yang cukup banyak dan semakin membesar.
Jay dan Rui terus
fokus memandang langit mencari tau benda itu, sedangkan Dion sudah sangat kenal
akan benda tersebut dan tau apa maksud dari benda tersbut.
“Sepertinya kau
tidak bisa lari, diriku.” Gumam kecil Dion lalu mengambil kembali pisau yang
dibuang jay tadi.
“sepertinya aku
harus mengakhiri sendiri.” Dion bergumam lagi sambil menatap pisaunya
“Benda apa itu?
melayang – layang dan jatuh dengan perlahan....hmm.......sebuah kertas hitam?”
Jay memfokuskan pandangan kelangit bersama Jay
“Keras hitam? Tidak!
itu bukan sekedar kertas, Itu amplop hitam.....sebuah amplop hitam turun dari
langit....dari mana amplop itu muncul......”
Setelah beberapa
saat akhirnya amplop itu sampai ke bawah dan menghujani mereka bertiga hingga
tanah tertutup oleh tumpukan amplop hitam.
Jika dilihat –
lihat mungkin sekitar 15 – 20 amplop hitam turun dari langit, mungkin ini
adalah sesuatu yang baru bagi Jay dan Rui namun bagiku ini.....
Setelah tertidur
cukup lama aku terbangun ditempat yang asing dan bersama kedua orang asing ini,
namun anehnya aku tau nama mereka berdua. Terakhir kuingat harusnya aku berada di sebuah
rumah sakit jiwa setelah kejadian itu.
Kupikir aku sudah
mati, namun sayangnya tidak. aku masih belum bisa bertemu teman –temanku,
tapi.....mungkin ini adalah yang terbaik, mana bisa aku menatap mereka disurga
kalau belum membalaskan dendam mereka.
Itu benar,
Itu mungkin
adalah alasanku kembali kesini lagi,
Aku harus
mengakhiri cinta ini,
Aku harus
menghentikannya,
meski nyawa harus
melayang,
aku harus
menghentikannya
.
.
.
“astaga! banyak
sekali amplop turun dari langit.” Jay bergerak dan mencoba mengambil salah
satunya,
“Kusarankan
jangan menyentuh amplop itu dan lupakan teman – temanmu. Biar aku yang
menyelesaikan semua ini.”
Dion langsung
pergi,
“Apa maksudmu?!
Apa kau tau pelaku dari semua ini?” teriak jay
“Padahal
pelakunya selalu berada disamping kalian.” Gumam Dion
Tiba – tiba langkah
Dion terhenti,
Rui memegang
tangan Dion,
“Kau harus
jelaskan semua ini pada kami, kami berhak untuk mengetahuinya.”
“lepaskan aku.”
“tidak akan
sampai kau menjelaskannya.”
“AKU BILANG
LEPASKAN!” ku ayunkan pisau ditanganku dengan sekuat tenaga kearah Rui,
(BERHENTI!)
Tiba – tiba pisau
itu terlepas dari tanganku,
“Ugh! Ada apa
ini?! Kepalaku terasa mau meledak!”
Sakit,
Sakit,
Sakit,
Kuhantamkan kepalaku
ketanah berkali – kali sampai mengeluarkan darah,
“TU-Tunggu! Dion!
Hentikan!” Rui mencoba menghentikanku
“Hey! Apa yang kau
lakukan Dion!” Jay berlali dan menghentikan pergerakanku
“Ug!
AAAAAA!Argggg!”
Rasa sakit terus
memenuhi kepalaku sampai membuatku tak bisa berpikir apapun lagi sampai tak
menyadari bahwa kepalaku sudah berlinang darah, tanganku terus mencakar – cakar
bagian tubuhku yang lain namun terus dihentikan oleh Jay.
Pandangan ku
mulai kabur, rasa sakit ini tak kunjung mengilang.
“Dion, Maaf.” Kata
Rui lalu ia memukul bagian belakang leherku sampai membuatku pingsan
“Kenapa kau
lakukan itu Rui!”
“Itu satu –
satunya cara! Apa kau tega melihat temanku kesakitan seperti itu terus?!”
“I-itu...”
“Sudahlah, lebih
baik kita bawa Dion ke tempat yang teduh dulu.”
*Kriing....Kriinggg
Jay mengangkat
panggilan dari Ibo
Ibo :”Jay, gue
mungkin salah lihat atau gue mungkin sudah gila.”
Jay :”Ada apa,
Ibo! Apa kau sudah menemukan teman – teman?!”
Ibo :”lenyap....”
Jay :”Apa? Kau bilang
apa? Apa maksudmu?”
Ibo :”mereka semua,
tepat didepan gue. Mereka semua lenyap.”
Jay dan Rui
teringat akan perkataan Dion,
Ibo :”hey,
Jay....sebenarnya apa sih yang sedang kita lawan ini?” Suara Ibo mulai berat
seakan ingin menangis dan ketakutan
Ibo :”Apa kau
pikir manusia bisa melakukan hal seperti ini? Tidak! tidak! tidak! kalau begini
terus selanjutnya pasti gue yang menghilang! TIDAK! hey, jay kalau aku mati
apakah lu mau mengangis buat gue?”
Jay :”IBO!
tenang! Kita pasti akan mengakhiri semua ini! Kita pasti bisa mengembalikan
mereka semua!”
Ibo :”Tapi
gimana?! Lu ada ide? Informasi? Bahkan kita tidak tau apa yang sedang kita
lawan gimana mau menang?!”
Jay :”kalau soal
itu, aku sudah punya jalan keluarnya.”
15 menit
kemudian,
Kami berkumpul
dirumah Lina karena usulan dari Ibo.
Setelah kami
mengeringkan diri dan kami meminjam beberapa pakaian dari Lina, anehnya Lina
memilki koleksi pakaian untuk laki – laki,
“Padahal aku
menyiapkannya hanya untuk kak Dion saja.” kata Lina sambil cemberut melihat
Jay, Rui dan Ibo memakai pakaian simpanannya
“Maaf, dan juga
terima kasih sudah menginjinkan kami datang bahkan sampai mau meminjami kami
pakaian, kami benar – benar tertolong.” Kata Jay
“Sudahlah, mana
mungkin aku membiarkan kak Dion kehujanan diluar bisa – bisa dia kena flu. Semua
ini hanya demi kak Dion.”
Setelah itu jay
dan Rui menceritakan tentang tingkah Dion yang aneh dan juga amplop hitam yang
jatuh dari langit.
“intinya lu ingin
mengatakan kalau Dion taui semua dibalik masalah ini, begitu?” tanya Ibo
“Tunggu – tunggu dulu!”
tiba – tiba Lina yang memotong pembicaraan kami,
“tadi apa kau
bilang? Kak Dion terlihat menakutkan?” tanya Lina dengan wajah serius
“iy-iya....matanya
terlihat sangat sinis dan dingin tapi pandangannya kosong.” Jawab Jay
“dia kembali.” Gumam
kecil Lina
“dia siapa?”
Rui,Jay dan Ibo seketika langsung melihat Lina
“Kak dion yang
asli. Lebih tepatnya kak Dion dengan ingatannya yang dulu, anak yang membantai
seluruh teman sekelasnya dengan sadis.”
ISTRI MUDAKU MAFIA
kalo seru saya supor
kalo enda seru saya like
kalo seru saya supor
kalo enda saya like