Season 1
Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.
Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.
Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.
Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Praang...
Botol minuman anggur merah di banting ke lantai sampai belingnya berserakan.. Pria itu begitu marah mengetahui rival dan istrinya saling berpelukan mesra. Gemuruh di dada begitu bergejolak ingin meluapkan seluruh sesak yang ia rasa.
Entahlah...
Pria itu belum pernah merasakan semarah ini. Saat menjalin kasih dengan Eliza dirinya tidak pernah seperti ini. Saat Eliza mengkhianatinya tidak semarah ini.
"Sialaaann..! Darimana Sean mengenal Bian? kenapa mereka begitu mesra? ada hubungan apa Sean dengan Bian?" Nathan terduduk lesu di pinggir ranjang menekuk satu lututnya serta tangan sekilas mengacak rambutnya.
************
"Makasih udah nganterin aku. Kalau tidak ada Kak Sean aku tidak tahu apa yang akan ku lakukan di kota sebesar ini sendirian. Terima kasih juga untuk hadiahnya." Bian mengangkat paper bag berisi ponsel seraya tersenyum menatap pria yang satu prekuensi dengan suaminya.
"Sama-sama Baby. Kakak senang bisa membantumu, kau kan adikku." Balas Sean tersenyum manis mengusap pucuk kepala adiknya. Adik satu ayah.
( Andai, kau Kakak kandungku pasti aku akan sangat bahagia merasa terlindungi. )
"Masuklah! Istirahat yang nyenyak, jangan memikirkan Nathan terus! Kalau memang dia jodohmu pasti kalian akan terus bersama seperti yang kau ucapkan dulu jika kau ingin menikah hanya satu kali." ucapnya dan Bian mengangguk.
Sean tidak melarang Nathan menikahi Bian karena dia tahu seberapa setianya pria itu. Namun, yang ia takutkan adalah Bian akan tersakiti bersama pria yang masih memiliki hubungan dengan masa lalunya.
"Aku masuk dulu, kak." Bian memegang gagang pintu membukanya. Mereka sempat meminjam kunci cadangan sebab pintunya di kunci dan tidak Bian tidak memilikinya.
Merasa Bian sudah masuk, Seanpun masuk ke kamarnya.
**********
Sepasang mata elang menatap tajam arah pintu. Bian terbelalak terkejut melihat keadaan kamar berantakan bagaikan rumah tidak di bereskan. Acak-acakan.
"Astaga..! Kapan terjadi gempa bumi sampai kamar hotel berantakan?"
"Sudah puas jalan bareng selingkuhannya? kau meninggalkanku demi menemui pria lain, pulang malam, di belikan oleh-oleh, murahan sekali dirimu ini." Suara bariton mengejutkan Bian.
Bian mencari asal suara dan ternyata Nathan berada di samping tempat tidur duduk di lantai menyenderkan punggungnya menoleh menatap tajam gadis itu.
"Seharusnya aku yang nanya, sudah puas bernostalgia dengan kekasihnya sampai kau melupakan aku?" Bian menyimpan paper bag di atas meja dekat tv. Berjalan hati-hati dikarenakan banyak pecahan beling.
"Aku tidak melupakanmu. Aku tidak sedang bernostalgia! Kau yang sibuk bermesraan berpelukan dengan Sean." Sergah Nathan terbakar amarah.
Bian berpikir. ( Apa Nathan melihat aku memeluk Kak Sean? )
"Kami tidak sengaja bertemu. Aku memeluknya karena merasa bersyukur ada orang yang aku kenal di sini. Sedangkan kamu sibuk mengurusi kekasihmu tanpa memperdulikan aku!" Bian tidak terima di tuduh seperti itu. Tubuhnya lelah, mata lelah habis menangis, sekarang Nathan menuduhnya membuat ia tak bisa menahan kesalnya.
Nathan berdiri mendekati Bian masih marah istrinya di peluk pria lain.
"Mana ada tidak sengaja terlihat begitu mesra. Di bayar berapa kau sama dia sampai kau bersedia meninggalkan aku sendirian, hah?" ucap Nathan meninggikan suaranya.
Bian mendongak mengepalkan tangannya marah dengan ucapan Nathan.
"Seharusnya aku yang nanya, di bayar pakai apa kau sama Eliza sampai kau meninggalkan aku sendirian di kamar hotel tanpa memikirkan sedikitpun perasaanku." pekik Bian tersulut emosi dan matanya berkaca-kaca.
"Eliza dan aku tidak semurahan itu!" sentak Nathan.
"Aku juga tidak semurahan itu, Nathan!" Jawabnya tak kalah keras. Nathan pun semakin tersulit emosi, mungkin tanpa di sadari Nathan cemburu. Dia mencengkram pipi Bian sampai gadis itu meringis.
"Kalau kamu tidak murahan kamu tidak akan mesra-mesraan dengan pria lain!"
"Sakit Nathan! Lepasin!" Bian meringis kala cengkraman itu semakin keras di pipinya. Bahkan air matanya mulai meluncur membasahi pipinya.
"Ikut aku!" Nathan melepaskan cengkramannya menarik paksa lengan Bian membawanya ke kamar mandi.
"Kau mau apa, Nathan? lepasin tangan aku! Sakit!" Bian berusaha melepaskan cekalannya. Nathan tak menggubris, pria itu memutar air shower tepat membasahi tubuh Bian.
"Akkhhh... Dingin!" pekik Bian terkejut.
"Akan ku tunjukan kalau kamu itu wanita murahan! Kamu menggunakan warna hitam hanya semata-mata sebagai kedok untuk menutupi kebusukanmu!" Dengan kasar, Nathan menggosok tubuh Bian menghapus warna hitamnya dan memaksa melepaskan pakaian Bian.
"Apa yang kau lakukan Nathan? sakit!" Bian menangis ketakutan, tubuhnya gemetar, bayangan hampir di lecehkan kembali terlintas.
Nathan mencium paksa gadis di dalam dekapannya. Amarahnya masih belum reda tidak terima Bian di sentuh pria lain.
"Nathan, lepasin aku! Jangan seperti ini?" pintanya sudah menangis terisak akan kekerasan yang dilakukan Nathan. Bian mendorong keras tubuh Nathan berlari keluar kamar mandi. Salah satu kakinya tak sengaja menginjak beling. "Aaaww.."
"Kenapa kau menghindar, hah? di peluk pria lain bersedia, di peluk suami menolak. Itu menunjukan kau murahan." Nathan mengejar Bian memeluknya dari belakang melemparkannya ke atas kasur.
Secepatnya menindih tubuh Bian mencium paksa lehernya dan tangannya meremas kasar salah satu asetnya Bian. Nathan sudah tersulut api gairah dan juga emosi sampai tak melihat jika kaki Bian terluka.
"Ku mohon jangan seperti ini!" pinta Bian gemeteran menangis terisak menahan tubuh Nathan yang sudah menjelajahi tubuhnya.
"Kenapa? bukankah ini sering kau lakukan dengan banyak pria? layani aku!" Pekiknya menggigit keras salah satu aset Bian.
"Aw.. sakit!"
Bersambung.....