"Jangan deket-deket!" teriak Aleta galak saat mengetahui Elvan cowok genit yang kerap dipanggil pecinta banyak wanita itu hendak meraih tangannya.
"Hari ini lo boleh nolak gue. Tapi lihat aja cepat atau lambat lo bakalan ngejar-ngejar gue!" Elvan berkata dengan nada meremehkan lalu terkekeh pelan. "camkan itu!" lanjutnya sambil mendorong pelan kening Aleta dengan jari telunjuknya.
"Gak akan!"
"Berani apa?"
"Gue bakalan tembak lo di depan lapangan upacara kalau sampe gue suka sama lo!" kata Aleta penuh keyakinan.
"Fine. Gue bakalan putusin semua cewek gue kalau sampai gue suka sama lo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
021
Elvan menatap Aleta dengan badan panas dingin. Ah ... kenapa si Karin harus datang ke sini? Kan dia udah bilang tunggu aja di rumah nanti dia jemput!
"Heh? Jadi Elvan bilang udah putus sama pacarnya?" tanya Karin semangat. Iya, dia bukan sedih, tapi semangat. Karena dipikirannya pacar Elvan akan berkurang.
Aleta mengernyit heran. "Iya. Semua pacarnya," kata Aleta sambil merentangkan tangannya selebar mungkin.
Elvan gelagapan sendiri saat Karin menatapnya tajam. "Bener? Kamu bilang udah putus sama semua pacar kamu termasuk aku?"
Elvan menganggukkan kepala namun sedetik kemudian menggeleng cepat.
"Yang bener mana? Oh ... Kamu incer cewek ini ya?" Karin menunjuk Aleta dengan sinis.
"Cantik. Tapi sayang gak tinggi. Eh bentar, dia terlalu alim buat jadi pacar kamu," kata Karin mengomentari.
Aleta yang merasa jengah memilih memutar bola mata malas.
"Selesaiin masalah kalian. Jangan sangkutpautin gue." Setelah berkata demikian, Aleta memilih pergi.
Elvan yang bingung lebih memilih mengejar Aleta. Sekarang hanya Aleta yang dia incar dan meninggalkan Karin dengan wajah kesalnya.
"Aleta, tunggu!" teriak Elvan sambil mencekal pergelangan tangan Aleta.
Aleta menghempaskan tangannya kasar. Tatapan tajam mengarah tepat ke mata Elvan, membuat si tersangka menyengir lebar.
"Gak perlu teriak! Gue gak budeg."
"Iya maaf. Em ... Lo percaya kan sama gue?" tanya Elvan sambil menatap Aleta meyakinkan.
Aleta sendiri merasa tidak yakin. Jelas sekali cowok di depannya ini adalah playboy kelas kakap.
"Enggak."
"Lah kok gitu sih ... Percaya dong. Gue beneran udah putus sama cewek gue. Semuaa," ucap Elvan masih dengan nada sok meyakinkan.
"Terus itu apa?" Aleta menujuk ke arah Karin yang melihatnya dengan wajah kesalnya.
Elvan bingung sendiri. Digaruknya tengkuk yang sama sekali tidak gatal. Dengan sedikit senyum canggung, Elvan kembali meyakinkan Aleta. "Dia emang belum sih. Kan tadi niatnya mau ketemu, gue bakalan putusin dia."
Karin yang mendengar ucapan Elvan langsung maju berjalan dengan kaki dihentakkan keras. Cewek itu menunjukan ekspresi semakin marah.
"Jadi kamu mau putusin aku?"
Elvan yang tidak siap langsung gelagapan. Dia jadi bingung sendiri harus bilang iya atau tidak?
"Kok diem? Jawab dong, katanya mau diputusin. Sekarang aja, gue bakalan jadi saksinya," kata Aleta dengan nada kalem ah lebih tepatnya sedikit mengejek Elvan.
Cowok itu meneguk ludahnya kasar. Ini yang dinamakan ular masuk kandang singa, padahal niatnya mau masuk kandang kelinci.
"Em ... Karin sayang," panggil Elvan sedikit ragu, matanya tak henti melirik Karin dan Aleta bergantian.
Aleta terkekeh geli mendengar panggilan Elvan untuk Karin.
"Apa?Kamu mau putusin aku?" tanya Karin ngegas.
Cowok itu melirik takut-takut kepada Aleta. Sedangkan yang dilirik berdiri santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan alis kiri yang dinaikkan.
"Sialan. Kenapa juga si Karin ke sini. Gue kan baru 3 minggu jadian. Mana si ketos songong banget, gak ikhlas dah gue."
"Jawab dong!" suruh Aleta sambil mengarahkan dagunya ke Karin.
"Em ... iya, jadi tadi tuh aku, eh gue mau ngajak ketemu karena mau bilang ... pu-tus."
Bukannya marah, Karin justru membulatkan mulutnya bingung. "Bukannya kita mah nonton? Nonton film romance kan? Kamu prank aku?"
Mendengar jawaban Karin, Aleta langsung menahan tawa. Playboy SMA Angkasa Raya akhirnya gagal.
"Eh, bukan gitu." Elvan menjawab dengan nada kaget dan sedikit melirik Aleta lagi.
"Gue emang mau ngajak lo nonton, tapi abis itu gue mau putusin lo."
"Maaf ya? Gue minta maaf Karin sayang."
Karin langsung membekap mulutnya dramatis. Air matanya berhasil mengalir. Padahal baru 3 minggu dia dan Elvan pacaran. Ibarat makan, baru ambil sayur belum jadi dimakan udah tumpah. Kan sakit.
"Ja-jadi be-bener?" tanya Karin dengan nada yang sudah serak.
Elvan mengangguk lemah. Namun setelah itu senyumnya terbit seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kita masih bisa temenan. Jangan nangis, oke?"
"KAMU JAHAT!" teriak Karin sambil menampar Elvan keras dan setelah itu ia memilih meninggalkan Elvan dengan pipi memerah.
Jangan tanya ekspresi Aleta. Karena cewek itu sekarang sibuk menutup mulutnya dengan kedua tangan seolah-olah terkejut. Namun setelah Karin jauh, cewek itu langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, parah gila. Hahaha, gak nyangka gue, lo beneran putusin dia. Duh, mana pipinya jadi merah ahahaha."
Elvan cemberut. Cowok itu mengusap pipinya kasar. Matanya menatap Aleta penuh sengit, namun ada rasa lega. Entahlah yang jelas dia suka tawa Aleta.
"Demi lo ini. Jadi lo percaya kan?"
Aleta tetap menggeleng kuat. Raut wajahnya dibuat sepolos mungkin.
"Ush. Trus biar percaya gue harus apa?" tanya Elvan sedikit frustrasi.
"Gue alergi sama playboy."
Cowok dengan baju yang memang tidak rapi sama sekali itu mendengus. Kaki jenjangnya melangkah mendekati Aleta. Rambut coklat susu yang sedikit basah tertiup angin membuat cowok itu terkesan cool dengan penampilan amburadulnya.
"Kok diem? Jadi gue harus apa?" tanya Elvan lagi.
Bukannya menjawab, Aleta justru bengong memerhatikan penampilan Elvan. Ternyata hama dan cowok yang paling dia tidak suka itu keren. Ah, bukan tampan lebih tepatnya cool abis.
"Sial. Kenapa cowok hama ini justru keliatan keren? Eh, inget Aleta lo gak boleh suka dia. Mau apa nembak cowok di tengah lapangan upacara? Jelas Enggak!"
"Woy!" Elvan menyentak bahu Aleta kasar.
Aleta yang tersadar langsung melotot kaget. Jaraknya dan Elvan- ah bukan, tapi jarak wajahnya dan Elvan begitu dekat.
"Kenapa? Ganteng ya gue?"
Mendengar Elvan bertanya, Aleta kembali tersentak. Dengan secepat jurus larinya si Ceking Aleta mendorong Elvan agar menjauh.
"Modus mulu, TUMAN!"
"Lah siapa? Orang cuma pengen deket," jawab Elvan cuek.
Karena gemas, tangan mulus Aleta berhasil memukul pipi Elvan yang belum lama tertampar oleh tangan Karin.
"Aw!"
"Kok kasar sih!"
Elvan marah-marah. Pipinya kembali ia usap. Wajahnya nampak begitu kesakitan.
"Lebay kan. Cuma kaya gitu aja," ejek Aleta tanpa rasa bersalah.
Elvan gemas sendiri. Sulit sekali mendapat perhatian dari Aleta. Kalau misal dia cewek lain mungkin udah Elvan cacimaki deh, untung ini Aleta. Udah cantik, pinter, cuma sayangnya galak.
Tanpa aba-aba Aleta sudah tertarik, diseret paksa Elvan menuju motornya.
"Eh lepas! Jangan culik gue!" Aleta berteriak dengan memukul tangan Elvan.
Elvan tetap diam. Cowok itu terus berjalan dengan langkah lebar tanpa belas kasih membiarkan Aleta terseok-seok.
"Aaa tolong, Aleta mau diculik!" Aleta mencoba berteriak pelan, matanya melirik Elvan berharap agar dilepaskan. Namun, Elvan tetap cuek dan menarik tangan Aleta menuju motor.
"Aaaa ... TOLONG! IBU ALETA MAU DICULIK! TOLONG! LEPAS! LEPAS!"
Kali ini teriakan Aleta berhasil membuat Elvan panik. Cowok itu langsung membekap mulut Aleta. Wajahnya panik takut ada satpam yang mendengar.
"Gila ya lo! Teriak-teriak gitu. Gue gak akan culik elo!" kata Elvan tepat di depan wajah Aleta.
"Hmmm hmmm."
"Kenapa? Mau teriak lagi? Udah ah ayok!"
Kini Elvan berhasil menyeret Aleta tanpa suara. Iyalah, sekarang Elvan menyeret dengan posisi tangan kanan membekap mulut Aleta sedangkan tangan kirinya memegang kedua tangan Aleta.
"Makanya punya mulut jangan kaya toa masjid. Gue tuh gak akan nyulik elo, gak laku dijual."
.........
"Turun!" perintah Elvan saat mereka telah sampai di depan rumah Aleta.
Aleta cemberut, enggan untuk turun dari motor Elvan. Lagian dirinya tidak mau diantarkan pulang oleh cowok hama seperti Elvan.
Elvan melirik malas. Pasti si ketua OSIS songong itu sedang merajuk. Memang apa yang salah sih kalau diantar pulang oleh dirinya? Padahal dia kan ganteng, pake banget. Keren, cool abis, dan yang jelas banyak penggemarnya.
"Turun gak lo?" tanya Elvan sedikit terkekeh. Aleta kalau malah lucu uga.
"Males sama lo gue," balas Aleta.
Elvan semakin tertawa, tawa renyah yang semakin membuat Aleta memberengut kesal.
"Kalau gak mau turun, gue bawa pulang. Mau?"
Mendengar itu Aleta langsung turun. Wajahnya memerah, entah karena marah atau malu.
Elvan mengulurkan tangannya. Kedua alisnya naik turun memberi kode.
"Apa?" tanya Aleta galak. "Pulang gih, sepet mata gue."
"Helm. Itu mahal belinya," jawab Elvan yang berhasil membuat pipi Aleta bersemu merah. Kali ini benar-benar karena dirinya malu.
Cepat-cepat Aleta membuka helmnya, menyerahkan kepada Elvan dengan kasar sambil bergumam.
Elvan terkekeh pelan. "Lo yang salah, lo yang marah."
"Elvan!"
"Hm, apa?"
"Pulang sana!"
"Galak."
"Lo nyebelin sih!"
"Nyebelin apa ngangenin?"
"Elvan!"
......
astaga thor,2X aku ngulang bc dialog ini baru ngeh maksudnya apa...
Lola banget kyknya aku😂😂😂😂
Semangatt..
Jangan lupa mampir juga dicerita ku yaa🙏😉