Bacaan khusus dewasa (***)
Ameera, gadis polos yang pura-pura tegar. Sedangkan Awan pria mesum yang sangat terobsesi dengan Ameera.
Bagaimana cara Awan menghadapi Ameera yang teramat polos, segala cara ia gunakan agar berhasil memiliki gadis itu.
Apa setelah menjadi kekasih mereka akan berakhir bahagia? tentu saja belum, karena mereka harus berjuang mendapatkan restu dari kedua orangtua Awan.
Kisah cinta mereka begitu mengharukan, ada perjuangan dan penghianatan di dalamnya.
Yuk baca AMEERA sebuah cerita cinta yang di adaptasi dari kisah nyata yang tentunya di sisipi kehaluan ala Author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan Awan
💥Sepahit apapun proses kehidupan, insya Allah jika dengan keikhlasan akhirnya akan terasa manis💥
"Mas, apa kamu marah ?" gumam Ameera saat melihat Awan keluar duluan dari ruangan pak Mario, sedari tadi pria itu nampak diam saja setelah managernya tersebut membahas dirinya dan Rangga.
Kemudian Ameera segera menyusulnya untuk memberikan penjelasan.
"Mas." panggil Ameera saat baru masuk ke dalam ruangannya, ia melihat Awan sedang merapikan berkas diatas mejanya.
"Mas kamu marah ?" tanya Ameera mendekati Awan, pria itu langsung menghentikan kegiatannya lalu menatapnya.
"Menurutmu ?" sahut Awan datar.
Ia tahu Ameera memang tidak mempunyai hubungan dengan Rangga, tapi ia hanya ingin melihat bagaimana keseriusan kekasihnya itu terhadap hubungan yang kini mereka jalani.
"Aku sama Rangga murni berteman Mas." Ameera mencoba menjelaskan.
"Apa aku harus percaya ?" sahut Awan dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja." Ameera nampak memelas dan itu membuat Awan merasa gemas.
"Ya sudah buktikan kalau memang kalian nggak ada hubungan." pinta Awan.
"Aku nggak punya bukti." Ameera nampak berpikir.
"Kamu mau aku percaya ?" tukas Awan kemudian.
"Hm." dengan polosnya Ameera mengangguk.
"Cium aku." Awan menunjuk pipinya sendiri.
"Apaan sih dasar mesum." Ameera bersungut-sungut, kemudian melangkah pergi.
Namun Awan langsung meraih tangannya sebelum kekasihnya itu menjauh.
"Biar aku saja yang melakukannya." tukas Awan yang langsung membungkam bibir Ameera dengan ciumannya.
Ameera yang belum siap langsung melotot saat Awan m3lum4t bibirnya.
"Astagfirullah." teriak Rangga yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut hingga membuat Awan melepaskan panggutannya.
Sedangkan Ameera langsung menunduk malu dengan wajah memerah.
"Apa yang sedang kalian lakukan, kalian pacaran ?" Rangga nampak terkejut.
"Tentu saja." tegas Awan sembari merangkul pinggang Ameera dengan posesif.
"Tapi bukannya aturan di....." Rangga belum menyelesaikan perkataannya tapi Awan sudah menyelanya.
"Kamu kemarin ingin membeli sepatu kan? nih ambillah." Awan langsung menyerahkan Credit card miliknya pada Rangga.
"Beneran bro ?" Rangga nampak tersenyum lebar saat melihat credit card di tangannya tersebut.
"Tentu saja, asal..."
"Tenang saja bro, Meera itu sahabat terbaikku." sela Rangga sambil mengangkat tangannya untuk menyentuh lengan Ameera, namun Awan langsung melotot menatapnya hingga membuatnya langsung menurunkan tangannya kembali.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian lagi." ucap Rangga pada akhirnya.
"Terima kasih ya." imbuhnya sembari mengangkat credit card milik Awan, setelah itu ia berlalu pergi.
Pria itu nampak bersiul senang karena impiannya untuk membeli sepatu yang lumayan mahal itu akan segera terwujud.
"Dasar matre." gerutu Ameera sambil memajukan bibirnya, karena sahabatnya itu lebih mementingkan uang dari pada dirinya.
Sedangkan Awan nampak terkekeh saat melihatnya, segala tingkah laku Ameera selalu saja membuatnya gemas.
Siang harinya Ameera berlalu ke kantin bersama Awan dan Rangga, namun saat baru sampai di kantin Awan langsung di tarik oleh Viona ke mejanya.
"Di sini saja mas Awan, jangan ganggu pasangan yang lagi hangat-hangatnya itu." ucap Viona seraya menatap Ameera dan Rangga bergantian.
"Aku duduk sama mereka saja." tolak Awan.
"Yaudah aku temani biar kamu nggak jadi obat nyamuk." Viona nampak ikut duduk di samping Awan dan berhadapan dengan Rangga, sedangkan Ameera berhadapan langsung dengan Awan.
Sepanjang makan pandangan Awan tak lepas dari Ameera, meski Viona selalu saja mencari perhatiannya.
"Mas, nanti kalau pulang sama-sama ya. Rumah kita kan satu arah." tukas Viona, mengingat ia berasal dari kota yang sama dengan Awan.
"Aku belum ada rencana pulang." sahut Awan sembari menatap Ameera.
"Ya nggak sekarang juga mas, kalau hari raya nanti sekalian aku ingin main ke rumah Mas Awan. Aku ingin kenal dengan keluarga Mas juga, mas punya adik perempuan kan? pasti sangat cantik. Boleh ya mas aku main ?" mohon Viona.
"Terserah kamu." sahut Awan tak mempedulikan.
"Beneran mas? aku senang sekali, siapa tahu nanti kita akan mejadi keluarga." tukas Viona yang langsung membuat Ameera tersedak.
Awan ingin menyodorkan minumannya pada Ameera tapi Rangga sudah terlebih dahulu melakukannya.
"Pelan-pelan." ucap Rangga.
"Cieh, mesranya. Aku jadi iri." goda Viona sembari menggeser kursinya agar semakin berdekatan dengan kursi yang di duduki oleh Awan.
"Kamu nggak pengen mas seperti mereka, aku nggak nolak kok kalau mas mau." imbuhnya lagi sembari menatap Awan.
Ameera yang merasa cemburu, langsung bangkit dari duduknya. "Aku sudah selesai." ucapnya kemudian, setelah itu ia segera berlalu pergi.
Rangga yang melihat Ameera sedang tak baik-baik saja langsung beranjak menyusulnya.
Sementara itu Awan juga mau pergi, namun Viona langsung menahannya.
"Mas mau kemana ?" tanya Viona.
"Awan akan meeting di luar bersamaku." tiba-tiba Derry datang menimpali.
"Aku masih ada urusan bro." Awan mencari Alasan, bagaimana ia bisa meninggalkan Ameera yang sedang cemburu. Gadis polos itu pasti akan berpikir macam-macam.
"Ini penting bro dan pak Mario sudah menunggu kita." desak Derry sembari menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Awan mendesah kasar. "Baiklah." ucapnya kemudian, meski ia tak ingin pergi tapi bagaimana pun juga ia harus bersikap profesional.
Saat ia berjalan menuju parkiran, ia melihat Ameera nampak berbincang dengan Fajar.
"Apa yang sedang mereka lakukan ?" gumamnya, ia langsung meradang. Namun ia bergegas pergi saat Derry sudah membunyikan klakson mobilnya.
"Apa selama ini mereka sering bertemu diam-diam di belakangku." gumam Awan saat mobil mulai melaju meninggalkan kantornya.
"Ck dasar murahan, sudah punya yang baru tetap saja diam-diam ketemu sama mantan." cibir Derry sembari mengemudikan mobilnya.
"Apa maksudmu bro ?" Awan langsung menatap Derry.
"Ameera bro, kamu jangan tertipu sama tampang polosnya. Kamu lihat sendirikan tadi dia ketemuan sama mantannya itu dan dari gosip yang ku dengar selama ini mereka sering ngamar bareng." sahut Derry yang membuat Awan nampak mengepalkan tangannya diam-diam.
"Aku tidak percaya kalau tidak melihatnya sendiri." sahut Awan mencoba berpikiran positif tentang Ameera.
"Terserah kamu sih tapi Fajar sendiri yang bilang begitu, orang dia juga yang minta putus karena bosan." tukas Derry.
Sementara itu Ameera yang ingin menghindar saat tidak sengaja berpapasan dengan Fajar, akhirnya gagal karena pria itu sudah mengejarnya.
"Bagaimana kabarmu ?" tanya Fajar, sejak mereka putus ini untuk pertama kalinya pria itu menyapa Ameera.
"Seperti yang mas lihat." sahut Ameera.
"Jadi benar dengan gosip yang beredar jika kamu pacaran dengan Rangga ?" tanya Fajar to the point.
Ameera nampak tertawa kecil. "Aku berhubungan dengan siapapun itu bukan urusan mu mas, kita sudah selesai dan tidak ada alasan untuk ikut campur." tegas Ameera, setelah itu ia pergi meninggalkan Fajar yang masih ingin berbicara dengannya.
Malam harinya Ameera nampak menghubungi Awan beberapa kali tapi sepertinya ponsel pria itu sedang tidak aktif.
"Apa dia marah? bukannya yang seharusnya marah itu aku." gumamnya mengingat bagaimana Viona tadi menggoda laki-laki itu.
Hingga tengah malam Ameera nampak tak bisa memejamkan matanya, bahkan ia sesekali mengintip kamar Awan yang masih terlihat gelap.
Di sisi lain Awan yang berada di Cafe dekat kantornya terlihat sedang meneguk minuman berakohol di depannya tersebut.
Pria itu nampak setengah sadar setelah menghabiskan beberapa kaleng minumannya.
"Aku harus mempercayai siapa, kamu atau mereka semua." rancau Awan di tengah kesadarannya yang mulai menghilang.
tinggal saja laki laki sampah itu merra
ganti nama saja Bimoli..bibir monyong lima centi /Facepalm/