NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Berondong

Terjerat Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Selingkuh / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Pihak Ketiga / Beda Usia
Popularitas:42.1k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alana Xaviera merasa seperti sosok yang terasing ketika pacarnya, Zergan Alexander, selalu terjebak dalam kesibukan pekerjaan.

‎Kecewa dan lapar akan perhatian, dia membuat keputusan nekad yang akan mengubah segalanya - menjadikan Zen Regantara, pria berusia tiga tahun lebih muda yang dia temui karena insiden tidak sengaja sebagai pacar cadangan.

‎"Jadi, statusku ini apa?" tanya Zen.

‎"Pacar cadangan." jawab Alana, tegas.

‎Awalnya semua berjalan normal, hingga ketika konflik antara hati dan pikiran Alana memuncak, dia harus membuat pilihan sulit.


‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 : TCB

Malam telah menyelimuti kota dengan kegelapan. Di atap gedung yang dulu Zen bawa dia kesana, Alana berdiri sendirian. Lampu-lampu kota menyala seperti bintang-bintang kecil di bawahnya, tapi cahaya itu tidak mampu menghangatkan hati yang sudah membeku karena kabar yang didengar tadi sore.

‎‎Kata-kata Karina yang mengatakan bahwa Kayla adalah anak kandung Zergan terus berputar di kepalanya. Setelah mengalami konflik batin yang membuatnya akhirnya tetap memilih Zergan dan mengakhiri hubungan dengan Zen, kini kabar yang menyakitkan justru datang menghampirinya saat acara pertunangannya bahkan sudah tinggal menunggu waktu sehari lagi.

‎‎Alana terkesiap saat seseorang tiba-tiba memakaikan jas untuk menutupi bahunya yang sedikit terekspos, menoleh kesamping dan melihat Zen sudah berdiri dibelakangnya dengan masih memakai kemeja kerjanya.

Alana mengarahkan kembali pandangannya lurus kedepan, terdiam untuk beberapa saat. "Aku pikir aku sudah membuat keputusan yang tepat, dengan tetap mempertahankan Zergan dan mengakhiri hubungan denganmu."

Perlahan dia memutar tubuhnya, dengan pandangan tertunduk Alana mengayunkan tas hobo-nya dan memukul-mukulkannya pada Zen.

"Kamu pikir kamu siapa?! Jika aku tahu sejak awal, aku pasti sudah mengambil keputusan sejak lama!"

"Dasar badjingan! Apa kamu pikir aku akan bahagia diatas penderitaan seorang anak kecil yang tidak berdosa, hah?! Sebenarnya apa yang ada di isi kepalamu itu, Zergan!!"

Zen hanya berdiri diam dan memperhatikan, membiarkan Alana melampiaskan kekesalannya dengan menganggap dia sebagai Zergan yang menjadi sumber kemarahannya, membiarkannya sebagai target sementara tanpa kebencian.

‎"Sudah puas memukulnya? Atau masih mau pukul lagi?" tanya Zen saat Alana berhenti memukulinya, menatap iba wajah Alana yang terlihat begitu lelah karena terus menangis.

‎Zen menggenggam lengan Alana dengan erat namun lembut, menariknya perlahan dan membawanya masuk kedalam pelukannya. Tangisan yang sudah menahan nafas itu kembali pecah, Alana memeluk erat, wajahnya menempel dibahu Zen.

Zen memeluknya lebih erat, wajahnya menempel di atas kepala wanita itu, bibirnya sedikit meringis seolah-olah dia ikut merasa sakit melihat Alana menangis.

"Bawa aku pergi dari sini, Zen. Aku ingin menghabiskan malam ini denganmu." Alana berbisik, melerai pelukannya secara perlahan.

Tatapan keduanya saling bertemu. Jari-jari Zen menyentuh wajah Alana dengan lembut, mengusap air mata yang tersisa disana. Tanpa kata-kata, tangan Zen mulai turun, menggenggam erat tangan Alana dan membawanya turun dari atap gedung.

-

-

Setelah menelfon orang untuk mengambil mobil Alana dan memintanya untuk membawanya ke kantornya, Zen mengajak Alana pergi dengan mobilnya. Mereka pergi mengunjungi villa yang beberapa waktu lalu pernah mereka datangi untuk menginap.

Jarak villa dari kota memang lumayan jauh, setiap kilometer yang dilewati mobil hanya membuat suasana semakin sunyi, jauh dari deru dan cahaya kota.

‎Di dalam mobil, Zen melihat wajah Alana yang masih pucat, dan dia yakin Alana bisa memenangkan diri di tempat yang tenang dan terpencil ini. Begitu mobil sudah terparkir di halaman villa, Zen langsung membuka pintu untuk Alana dan membimbingnya masuk kedalam kamarnya. Saat tangannya mau mencapai saklar lampu di dinding, seketika dia tertahan oleh genggaman Alana yang kuat di lengannya.

‎‎"Aku hanya ingin menyalakan lampu, aku tidak akan---"

‎‎"Biarkan saja gelap." Alana memotongnya cepat, dia memegang lengannya lebih erat, "Temani aku disini, Zen. Jangan tinggalkan aku sendirian."

‎‎Di dalam kegelapan yang pekat, suara degupan jantung mereka mulai terdengar. Zen memutar tubuhnya agar menghadap Alana, tangannya perlahan merangkul pinggangnya yang ramping.

‎‎Saat wajah mereka semakin dekat, Alana bisa merasakan nafas Zen yang hangat menyentuh wajahnya, jarak antara mereka semakin menyempit. Zen menurunkan wajahnya dan mencium bibir Alana dengan lembut.

‎‎Alana sedikit terkesiap, lalu dia membalas ciuman itu, tangannya menggenggam kerah kemeja yang Zen kenakan. Tangan Alana turun seiring dengan ciuman mereka yang semakin memanas, membuka kancing kemeja Zen satu persatu.

"Zen..." suara Alana seperti hembusan angin, tangannya menyentuh wajah Zen begitu ciuman mereka terlepas. Napas keduanya tersenggal-senggal akibat ciuman panas mereka sebelumnya.

Cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela sedikit menyinari wajah mereka, kedua mata mereka saling menatap dalam diam dan tatapan penuh damba. Alana kembali terkesiap saat bibir Zen menyentuh bibirnya kembali, memagutnya dengan lembut dan penuh perasaan.

Di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Tanpa melepaskan ciuman, langkah kaki mereka saling membimbing menuju ke sisi ranjang. Saat kancing kemeja Zen sudah terbuka semua, dia langsung melepaskan dari tubuhnya dan menjatuhkannya ke lantai. Perlahan dia membimbing tubuh Alana untuk berbaring di atas ranjang.

Zen mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Alana, menggeser tubuhnya sedikit kesamping supaya tidak terlalu menindih tubuh wanitanya.

"Masih ada waktu untuk berfikir, sebelum aku membawamu terlalu jauh," ucap Zen, menatap lekat manik mata Alana.

‎Tangan Alana bergerak lembut menyentuh wajah Zen, dia bisa melihat mata Zen yang sudah berkabut gairah. "Tidak ada yang ingin aku pikirkan lagi selain kamu, Zen. Setidaknya untuk saat ini."

Senyuman tipis terukir di wajah Zen, dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Alana kembali. Kali ini tangannya tak tinggal diam, tangannya mulai bergerak nakal menyentuh dada Alana yang masih terbalut oleh dress yang dikenakan dan mengusapnya dengan lembut dari luar.

"Ahh, Zen..."

Alana menggigit bibir bawahnya saat ciuman Zen turun ke leher jenjangnya, memberikan gigitan-gigitan kecil disana. Sementara tangan Zen mulai menurunkan resleting belakang dress Alana dan menurunkan dress itu sampai ke perut.

‎Zen menelan salivanya kasar, menatap pemandangan indah yang kini terpampang di depan matanya. Dia menahan tangan Alana yang hendak menutupi dadanya. Jika lampu kamar itu menyala, mungkin Zen bisa melihat dengan jelas wajah Alana yang bersemu merah karena malu.

"Ahhh..." Alana mendesah saat Zen sudah berhasil membuka pengait bra yang dikenakannya dan membenamkan wajahnya di dadanya.

-

-

-

"Apa?? Alana belum pulang?"

Zergan terkejut saat mendengar cerita dari Amara jika Alana belum kembali sejak pamit pergi tadi pagi. Saat ini mereka sedang berdiri di teras rumah.

"Tante pikir dia masih sama kamu," ujar Amara, setelah Alana pergi dia memang sempat menelfon Zergan untuk memastikan Alana benar-benar pergi menemuinya.

"Alana memang datang ke kantor dan kami sempat ngobrol lama, tapi sorenya dia pamit pulang dan harusnya sudah sampai dirumah." Zergan mulai tampak cemas, dia mengusap wajahnya kasar.

Ingatannya terbang ke kejadian tadi siang saat Alana menceritakan tentang pacar cadangannya. Apa mungkin malam ini Alana kembali menemui pacar cadangannya itu? Tapi siapa pria yang menjadi pacar cadangan Alana?

"Sial! Kenapa tadi aku tidak menanyakan siapa orangnya supaya aku bisa memberinya pelajaran!" umpat Zergan, tangannya mengepal kuat dan sorot matanya menatap tajam.

-

-

-

Bersambung....

1
Zuri
yg kamu lewatkan banyak Zergan. karena kamu hanya fokus pada dirimu sendiri🤧
Zuri
mantanmu itu lohh Lana🤧
Zuri
oohhh kok udahann /Grin//Grin/
Zuri
tangan sakit tak menghalangi untuk raba meraba, remas meremas🤣
Zuri
akhirnya ketemuuu🥹
Zuri
yg kamu sebut rendahan itu udah kamu coblos berkal kali loh🤧
D_wiwied
tebakanmu bener Al, zergan biang keroknya
Khusnul Khotimah
aduhh kenapa mbak Mina bilang KLO diajak kakaknya Zen.
s moga zergan tidak cari keberadaan zen
markona
ini jg mulut nya mba mina GK bisa semua sekali menyembunyikan sesuatu mulutnya rombeng bgt jangan jangan mba mina ini naksir bgt ke zergan, pecat aj Alana itu pembantu mu mulut GK bisa dijaga, heran dan km Alana pura pura aj GK tau masalah ini ke zergan apa lg NT klu zergan ingin cari tau tentang Zen ke km, disitu lah bisa km curiga,
lia juliati
biarin aja orng jahat kerna karna trus d bayar tunai
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
mana suasana nya mendukung lagi ya zen.berduan,hujan pula.hemmmmmm....
POV setan 😈"lanjutkan, jangan berhenti"


Emang ada yang kamu lewatkan gan degan alias zergan.yaitu tentang kemungkinan terkecil dari setiap kejadian.harusnya,kamu pastiin mayat nya zen.kalo blm lihat dengan mata,kepala,pundak dan kaki.jangan lgsg menyimpulkan Zen udah end.
Resa05
wah ngga sabar nih tungguin cerita selanjutnya
Bunda HB
ART ember mulut e apa2 bilang sama zearga .bilang aja gk tau.art nya pecat aja gk guna. 🤭🤭
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
ingat zergan! siapa menanam, bakal memanenn, jika kamu menanam bunga lateng, jangan harap akan memanen mawar. jadi jangan salahkan zen sama Alana, jika akan mengirimmu masuk hotel prodeo wkwkw
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
Awalnya aku cium-ciuman
Akhirnya aku peluk-pelukan
Tak sadar aku dirayu setan
Tak sadar aku ku kebablasan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan

Dangdutann dulu gaes..Ben tambah semangat goyangnya 💃🤣
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
yaeelahhh zen zen, sudah macam orang kelaparan saja 🤣 Tangan sakit tak menghalangi kegiatan jamah, menyesap dan meremat 🤦‍♀️ yang sakit tangannya penting itunya tak sakit, gass lahhh wkwkw
Khusnul Khotimah
baca bab ini q baca pelan pelan ikut berdebar jantungku....🤭
🔥Violetta🔥: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
Pertemuan yang kuimpikan
Kini jadi kenyataan
Pertemuan yang kudambakan
Ternyata bukan khayalan
Sakit karena perpisahan
Kini telah terobati
Kebahagiaan yang hilang
Kini kembali lagi...nyanyi sek Ben nggak oleng wkwkwkwk
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™: kita mah anak buahnya Mr crab yang mata duitan 🤣🤣
total 6 replies
ℕℹℕ⅁_ℕↂℕ⅁™
wah wah wah kamu meremehkan karina..zergan! demi anak, seorang ibu bisa melakukan apa saja. meskipun nyawa taruhannya..jadi jangan main2 dengan sosok yang di panggil ibu.
ALURRA KHAI BACHTIAR 💅
Mereka yang ketemu, aku yang deg-deg serrrrrr. Lana, cerita juga ya, kalo kamu positip.serius dech, doi pasti seneng banget.


Di episode ini aku hawatir sama Karina well.serius, zergan kek psikopat.halalin semua cara buat dapetin keinginannya.
🔥Violetta🔥: Minta didemo si Ntoon 😅😅
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!