NovelToon NovelToon
Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Berbagi Cinta: Istri Untuk Ardhi

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Poligami / Tamat
Popularitas:292.3k
Nilai: 4.6
Nama Author: heni

Sebagai seorang wanita, saat pacaran pun tidak rela diselingkuhi, apalagi dalam ikatan pernikahan, poligami adalah mimpi terburuk.

Namun keadaan yang menyudutkannya, Risma harus meminta Ardhi menikah lagi, demi membahagiakan orang tua Ardhi.


Demi rasa cintanya pada sahabatnya, Ishana menerima permintaaan Risma, untuk menjadi madu sahabatnya. Mengesampingkan penilaian buruk orang-orang, karena jadi yang kedua selalu salah di mata masyarakat.

Apakah Ardhi bisa adil terhadap istri-istrinya nanti? Atau ikatan baru malah menghapuskan cinta Ardhi yang semula hanya tertuju pada Risma?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Pembelaan Ardhi

Ardhi berusaha menahan dirinya kala hinaan Rita terus tertuju pada Ishana.

Brakkk!

Pyar!

Prank!

"Aaak!" Eva kaget, dia langsung memeluk Rita.

Bermacam bunyi pecahan dan barang jatuh menggelegar dari arah meja makan. Terlihat wajah Ardhi memerah menahan kemarahannya.

Meja makan yang sebelumnya dipenuhi makanan, kini nampak kosong.

Lantai yang tadinya bersih kinclong, kini sangat kotor makanan dan pecahan gelas dan piring tersebar kemana-mana.

"Selama ini aku diam, karena aku menghormati mama. Tapi mama tetap saja menghina kedua istriku!"

Rahang Ardhi tampak mengeras menahan segala emosi yang terus menyala. "Andai Risma tidak memintaku menikah lagi, sampai detik ini hanya papa dan mama yang tersakiti."

"Aku menikah, karena menuruti permintaan Risma, karena Risma menyayangi papa dan mama. Inikah balasan buat keteguhan dan pengorbanan Risma?"

"Ada Eva, karena ada Ishana. Ada Ishana, karena permintaan Risma."

"Aku menuruti permintaan Risma bukan karena takut pada istriku, namun aku sayang padanya. Aku tidak mematuhi permintaan mama, karena bukan suatu dosa jika aku menolak keinginan mama yang satu itu. Aku kekeh ingin setia, karena salah satu kewajibanku menjaga hati dan perasaan istriku."

"Aku tau, kalau sampai mati aku wajib berbakti sama mama, tapi menolak perintah mama bukan suatu kedurhakaan bagiku, ingat mah kewajibanku juga menyayangi istriku!"

"Namun semua itu gagal, aku bukan menyayangi dan melindunginya, aku malah menyakitinya. Bahkan aku bukan hanya menyakiti hati Risma, namun menyakiti hati 2 wanita yang lain."

Ardhi terlihat begitu tertekan, wajahnya terlihat gurat kehancuran. "Seumur hidupku, niatku ingin setia pada pasanganku, namun apa daya, takdirku begitu rumit."

"Aku mohon pada mama, berhenti menghina istriku, aku ini manusia biasa mah, keadilan sangat sulit untuk aku tegakkan. Jangan mama tambah lagi luka hati istri-istriku, ketidak adilanku saja sudah sangat menyakiti mereka."

"Eva, kamu jaga diri, perlu apa-apa minta sama pelayan di rumah ini."

Eva hanya menganggukkan kepalanya.

"Ishana, Risma! kalian berdua ikut aku."

Ishana dan Risma masih membatu.

"Hei! Apa kalian Tuli!"

Keduanya terperanjat mendengar teriakkan Ardhi, keduanya segera mengikuti Ardhi.

Rita dan Eva diam. Rita sungguh tidak menyangka Ardhi berani bersikap seperti ini.

"Bi, tolong bersihkan semuanya," titah Eva pada para pelayan.

Sedang Rita masih membisu. Entah mengapa Ambisinya membuat kedua matanya buta, kasih sayangnya juga menghilang begitu saja. Hanya rasa takut, marah, khawatir yang menyelimuti jiwanya.

"Kamu mau sarapan apa Va? Biar nanti mama minta pelayan siapkan lagi," ucap Rita.

"Nanti aku order saja ma, mama istirahat dulu aja." Eva memahami kekacauan hati Rita. "Mama mau aku pesankan sesuatu?"

"Tidak perlu, mama nanti bisa kok."

"Ya sudah, aku mau balik ke kamar saja," ucap Eva.

Pandangan mata Eva tertuju pada Firliy dan Yazmi. "Saya memesan susuatu, nanti kalau pesanan saya datang, antar ke kamar saya, ya."

"Baik Nona." jawab keduanya.

Sedang Rita kembali ke kamarnya, memastikan Wisnu sudah meminum semua obatnya.

"Suara apa tadi mah? kok kedengaran sampai sini?" tanya Wisnu.

"Cuma kehebohan di meja makan," jawab Rita.

"Papa kira mama menabuh genderang perang lagi."

"Ingat mah, biarkan Ardhi memandu kapalnya sendiri, sebagai orang tua kita hanya perlu menasehati, bukan mengatur arah kapal itu berlayar."

Rita masih diam.

"Biarkan Ardhi menentukan siapa saja yang menumpang di kapalnya. Kalau ada yang membahayakan, kita kasih masukan dan nasehat."

"Ingat mah, menasehati bukan menghakimi."

"Andai papa tahu, keadaan Risma seperti ini, papa ingin sekali mengubur mimpi papa, jujur papa bahagia Ardhi setia. Tapi mimpi itu adalah keinginan terbesarku. Dan aku merasa bersalah pada Ardhi."

Entah apa yang terjadi pada Rita, wanita itu masih betah mengunci rapat mulutnya.

***

Ardhi, Ishana dan Risma berada dalam mobil yang dikemudikan Ardhi, mobil itu terus melaju membelah jalanan yang terlihat lengang.

"Kita mau kemana mas?" tanya Risma.

"Cari sarapan." Fokus Ardhi masih tertuju pada jalanan yang ada di depannya.

"Mas cari gara-gara lagi, sekarang aku tidak punya keberanian memandang wajah ibu," keluh Risma.

Ishana menepuk tangan Risma meminta sahabatnya itu diam. Kala Risma memandang kearahnya, Ishana menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju dengan ucapan Risma.

"Kamu enak Na, sepanjang siang kamu bekerja, jadi kamu nggak akan ketemu mama, lah aku?!"

Ishana malah kena marah Risma.

"Kita sarapa dulu, kasian kak Ardhi, dia harus bekerja." Ishana berusaha mengubah arah pembicaraan mereka.

"Kalian itu sama saja ya? Sama-sama nggak ngerti aku!"

Tiba-tiba Ardhi menginjak pedal gasnya, hingga mobil itu melaju semakin cepat.

"Mas! Mas mau ngajak kita mati bareng?!" Risma sangat ketakutan.

Namun Ardhi tidak memerdulikan perkataan Risma.

Ishana hanya diam dan memasang sabuk pengamannya. Memejamkan kedua matanya, pasrah dengan apa yang terjadi.

"Mas!" Risma terus berteriak, karena rasa takutnya.

15 menit mobil itu melaju cepat, akhirnya mobil itu perlahan menurunkan kecepatannya, dan berhenti di sebuah halaman yang luas.

"Kamu takut melihat wajah mama kan? Nanti sore aku jemput kamu."

Risma melihat keadaan sekitar, ternyata Ardhi membawanya ke Panti Asuhan Bunda Aiswa.

"Sampai jumpa nanti sore."

Perasaan Risma saat ini kacau, keputusan Ardhi mengantarnya ke Panti Asuhan sangat membantunya untuk menenangkan diri. "Terima kasih mas." Risma segera turun dari mobil.

Ishana membuka kaca mobil yang ada di sampingnya. "Maafin aku Ris, aku hari ini dinas siang, jadi aku nggak bisa temanin kamu di sini."

Risma hanya tersenyum kecil, dan melangkahkan kakinya menuju bangunan berlantai 3 itu.

Sedang Ardhi segera melajukan mobilnya, dia harus ke kantor dan mengantar Ishana terlebih dulu.

Baru setengah perjalanan, Ardhi menepikan mobilnya di tepi jalan. "Pindah kedepan Na, kamu dibelakang sendirian, rasanya aku bukan suami kamu, tapi supir kamu."

Tanpa komentar Ishana segera turun dan masuk kembali duduk di kursi bagian depan di samping Ardhi. Perlahan mobil pun melaju kembali.

"Terima kasih kak," ucap Ishana.

"Jangan berterima kasih, harusnya aku yang minta maaf padamu, selama ini aku sangat tidak adil."

"Andai suatu saat ibu marah lagi, tolong kakak jangan balas marah, ibu marah karena rasa takut."

"Kalian dihina, mana bisa aku diam."

"Tapi, rasa sakit terbesar seorang ibu, kala anaknya membentaknya. Kakak tidak bisa membayangkan betapa sakitnya ibu berjuang melahirkan kakak, dan sekarang kakak malah membentaknya."

Ardhi hanya diam. Diam tidak melawan salah, bertindak membela pun salah. Karena 2 sisi yang berlawanan sama-sama berharga baginya.

"Aku lapar Na, selama ini aku tidak pernah makan di luar, tahu di mana tempat sarapan pagi yang enak?"

"Di kantin Rumah Sakit, ada sarapan pagi yang enak. Itu pun kalau kakak mau."

"Ya udah, kita sarapan di sana."

Mobil Ardhi memasuki parkiran khusus untuk para pegawai Rumah Sakit. Keduanya segera turun kala mobil itu terparkir sempurna.

Melihat Ardhi dan Ishana berjalan bersamaan, membuat mata-mata para pegawai Rumah Sakit itu tertuju kearah mereka berdua.

Kini mereka tahu, kalau salah satu perawat di Rumah Sakit ini, adalah salah satu Istri pemilih Rumah Sakit tempat mereka bekerja. Selama ini, mereka hanya tahu, kalau Ardhi Pramudya memiliki 3 istri, yang mereka tahu hanya istri pertama saja.

1
Meriati Sibarani
ujung2nya istri pertama yg tersiksa istri kedua bahagia cerita poligami selalu seperti itu
Tri Nindiyah: bikin kesel klo cerita poligami😡😡
total 1 replies
Ratih Ayu Muthia
udah ketebak
Ratih Ayu Muthia
sesuai dengan fikiran saya, yg melompat pertama kali itu ishana
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
kira2 selamat nggak yah ishana
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
waaawww foto keluarga tiga istri..
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
eeehhh kirain udah insyaf beneran
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
ya udah lah lepasin aja risma daripada dia makin tersiksa..klo aku sih ya mending hidup sendiri dripada hidup dalam penderitaan selamanya..
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
drama queen..
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
isssshh dasar mak lampir
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
keselll..nggak tahu msti kesel sma risma apa kesel sma yang lainnya
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
yesel krna udah ngelakuin sma yang satu.. eh malah mau ngelakuin sma yang satunya lagi..itu mah bukan nyesel ardhi..tp ngelunjak..
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
nyesekkk
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
yahhh mlah nambah lagi 🤦‍♀️🤦‍♀️
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
kaya nggak kuat lanjut baca..tp penasaran 😩😩
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
apaan ehekk 🤣🤣
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
ini mama nya gimana sih..sebentar sayang sebentar jahat..perlu diruqyah nih
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
hhmmm kuat berapa lama nggak nyentuh klo tiap hari ketemu
ummi_Շɧ𝐞𝐞ՐՏ🍻muneey☪️
ya ampuuunn..hati rasanya kaya diremes2 😭😭😭😭
fa _azzahra
aku bakalan baca novel kakak lainya.aq kecanduan sama karya kamu.dr td jarang komen.maaf kalo like ga ketinggalan pasti.soalnya terlalu asik baca nya.sampai maraton aku tuh
fa _azzahra
takdir author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!