Kisah ini merupakan sekuel dari
'Perjalanan Cinta Davino dan Aluna'
Alvino Putra Alexander, harus merasakan dilema saat dirinya berhasil menemukan gadis kecil yang selama sepuluh tahun dicarinya dan di saat itu pula dia mengetahui kalau Febian-adik lelakinya juga mencintai gadis itu.
Manakah yang harus dia pilih?
Memperjuangkan perasaan, tapi dia akan menyakiti hati orang terdekatnya atau merelakan perasaannya demi orang berharga dalam hidupnya, meskipun dia harus terluka.
Cerita ini juga dibumbui dengan kisah Nathan Nadira yang mampu mengobrak-abrikan hatimu. Sebuah perjuangan, persahabatan, kesetiaan terangkum lengkap dalam kisah ini.
Jangan lupa selalu beri dukungan kalian untuk Othor Talas nan Kalem ini 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Tatha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Acara pelantikan Nathan sebagai pemimpin perusahaan Saputra Group akan segera dimulai. Banyak tamu undangan yang hadir meramaikan acara tersebut, bahkan ada beberapa rekan bisnis Alexander maupun Saputra Group yang ikut membawa serta putri mereka agar bisa memikat hati salah satu di antara kedua pengusaha muda itu. Akan tetapi, baik Alvino maupun Nathan seolah tidak peduli kepada gadis-gadis yang berusaha mencari perhatiannya.
"Bunda, kenapa Cacha belum juga datang? Padahal sebentar lagi acara akan di mulai," tanya Nathan, dia celingukan mencari keberadaan adiknya yang belum terlihat sama sekali.
"Mungkin sedang dalam perjalanan, tadi Cacha bilang dia sudah selesai berhias," sahut Mila, Nathan mendecakkan lidahnya kesal.
"Dasar perempuan!"
"Sudahlah Nat, lebih baik kamu bersabar. Memang sudah kodratnya wanita seperti itu. Lihatlah adikmu, dia sudah datang," kata Mila sambil menunjuk ke arah pintu masuk, seketika mereka mengalihkan pandangan mata mereka menuju ke arah pintu masuk, di mana terlihat empat orang gadis cantik sedang berjalan dengan anggun masuk ke dalam tempat acara tersebut. Pandangan mata Alvino terfokus pada Rania yang berdiri paling pojok kanan, Alvino tak berkedip saat dia menatap Rania yang terlihat begitu cantik dengan gaun panjang yang membalut tubuhnya, rambut Rania di gelung ke atas hingga menampilkan leher jenjangnya, juga riasan natural Rania yang mampu membuat kecantikan Rania semakin terpancar, apalagi malam ini Rania tidak memakai kacamata tebal yang biasa menghiasi wajahnya. Alvino benar-benar terpikat pada kecantikan Rania.
"Ehem! Berkediplah Tuan Muda." Alvino tersadar dari lamunannya saat Nathan menyenggol lengan Alvino dengan cukup kencang.
"Kamu menyebalkan, Nat!" bentak Alvino, tetapi Nathan dan Kenan yang di sampingnya hanya terkekeh geli.
"Siapa yang membuatmu terpesona, Al?" tanya Nathan menggoda.
"Tidak ada!" jawab Alvino ketus.
"Apakah kamu yakin? Aku melihat kamu tidak berkedip saat menatap mereka berempat. Biar aku tebak, kamu pasti terpikat pada Ana kan? Dia terlihat sangat cantik malam ini, kalau saja dia mau, sudah pasti aku akan jadikan dia sebagai istriku," celetuk Nathan. Semua yang berada satu meja dengan Nathan, memutar bola matanya malas mendengar ucapan Nathan.
"Kak Nathan, aku tidak terlambat, kan?" tanya Cacha yang sudah berdiri di dekat meja yang di duduki keluarganya.
"Hampir saja, kalau sampai kamu terlambat, aku akan memecatmu sebagai adik, Cha!" ketus Nathan.
"Jaga bicaramu, Nat! Ayah tidak suka kamu bicara seperti itu," kata Asisten Jo.
"Maaf Ayah," sahut Nathan pelan. Acara pelantikan itu pun di mulai, saat Nathan naik ke atas panggung untuk memperkenalkan diri, banyak gadis yang begitu terpesona kepada Nathan. Hampir satu jam acara itu berlangsung, kini para tamu sudah di persilakan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.
"Baiklah, mari kita sambut salah seorang tamu yang memiliki suara yang sangat merdu, yang akan menghibur kita pada malam ini," kata pembawa acara itu, saat acara pelantikan baru saja usai.
"Kita panggilkan saja, Rania Sandijaya," panggil pembawa acara dengan lantang. Rania naik ke atas panggung dengan langkah anggun, meski dia sangat gugup tetapi Rania mencoba untuk terlihat tenang. Setelah sedikit berbasa-basi, Rania segera menyanyikan lagu 'To the bone-Pamungkas'. Semua yang hadir terpesona saat mendengar suara Rania yang begitu memukau, bahkan Tuan Sandi yang ikut hadir karena mendapat undangan dari Davin, merasa sangat bangga dengan salah satu putrinya itu.
Would you just take me home?
Would you just love me long?
Or should i keep hoping on?
Shoul i keep hoping on?
I want you to the bone, ooh
I want you to the bone
Rania menutup lagu itu, dia menatap lekat ke arah Alvino yang juga sedang menatap ke arahnya. Namun, Nathan justru menyenggol lengan Kenan karena mengira Rania saat ini sedang menatap Kenan yang duduk di samping Alvino. Begitu Rania selesai bernyanyi, dia segera melangkahkan kakinya berjalan turun dari panggung.
Para anak muda itu, kini berkumpul dalam satu meja, mereka asyik mengobrol sambil menikmati makanan yang tersaji di meja mereka. Rania hanya duduk diam, bahkan saat semua memuji suaranya, Rania hanya menunjukkan senyum tipis. Entah mengapa, Rania merasa sangat gugup berada satu meja dengan Alvino, apalagi Rania merasa kalau sedari tadi Alvino mengawasinya.
"Oh iya Al, bagaimana dengan gadis yang kamu cari, apa kamu belum menemukan dia sama sekali? Katanya kamu sudah menyuruh Max untuk membantumu," tanya Kenan di sela makannya.
"Hampir Ken, semoga aku segera mendapatkan titik terang dari gadis kecil yang sudah menolongku," sahut Alvino, ekor matanya melirik wajah Rania yang terlihat memucat karena terlalu gugup.
"Kamu hebat, Al. Sepuluh tahun sudah mencari gadis itu, tetapi kamu tidak sekalipun menyerah," kata Kenan memuji, Alvino hanya menunjukkan senyum tipisnya. Mata Alvino menatap tajam ke arah Nathan memberi kode agar Nathan tidak membuka suaranya. Paham kode yang diberikan Alvino, Nathan hanya diam dan menikmati makanannya.
"Aku yakin kalau Kak Al bakalan bucin sama gadis penolong itu seandainya Kak Al sudah berhasil menemukan gadis itu," ucap Nadira yang sedari tadi tidak membuka suaranya.
"Tidak juga, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepadanya saja, tidak lebih." Alvino kembali melirik Rania yang kini sedang menunduk.
"Kamu yakin Al tidak memiliki perasaan dengan gadis itu?" tanya Kenan penasaran. Alvino menggeleng dengan cepat.
"Aku tidak memiliki perasaan dengan siapapun untuk saat ini. Aku benar-benar hanya sebatas ingin berterima kasih karena dia sudah menolongku. Tidak sedikitpun lebih dari itu!" jawab Alvino dengan tegas. Rania meremas kedua tangannya yang berada di bawah meja dengan kuat untuk menyalurkan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya, bahkan mata Rania mulai terlihat basah, Rania segera bangkit sebelum airmatanya terjatuh dari sudut matanya. Semua mengalihkan pandangan matanya ke arah Rania yang sudah berdiri.
"Aku pamit ke toilet dulu." Rania berjalan cepat meninggalkan meja itu, bahkan sebelum ada satupun yang merespon ucapan Rania. Ana menatap curiga ke arah Rania, hatinya merasa kalau Rania menyembunyikan sesuatu darinya.
"Rania kenapa, An?" tanya Cacha heran saat melihat punggung Rania yang perlahan menjauh.
"Mungkin dia masih merasa gugup jadi kebelet ke kamar mandi, biasanya seperti itu," jawab Ana santai, dia tidak ingin membuat mereka semua curiga, walaupun di dalam hati Ana, dia juga merasa heran.
Rania yang berpamitan ke toilet justru melangkahkan kakinya menuju ke taman yang berada di sekitar tempat acara itu. Rania mendudukkan tubuhnya di bangku panjang yang berada di taman. Rania duduk menunduk, dia sudah tidak bisa lagi menahan airmatanya, Rania terisak pelan. Awalnya dia masih berharap kalau Alvino akan membalas perasaannya, akan tetapi harapan itu kini musnah setelah mendengar ucapan Alvino tadi. Rania sempat berharap saat tahu Alvino mencarinya selama sepuluh tahun lebih, dia pikir Alvino mencarinya karena Alvino mencintainya, tetapi ternyata Alvino mencarinya hanya sekedar untuk berterima kasih tidak lebih, membuat harapan dan hati Rania menjadi patah begitu saja. Rania merasakan hatinya sangat hancur, dia harus belajar menghapus nama Alvino yang sejak dulu dia simpan di hatinya yang paling dalam. Rania menangis terisak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa ucapanku ada yang menyakitimu, hingga kamu menangis seperti itu?" Rania mendongak, dia terkejut melihat Alvino yang sudah berdiri di depannya. Rania segera menghapus airmatanya dengan cepat, dia tidak ingin Alvino melihat dirinya yang sedang menangis.
"Kenapa kamu tidak menjawab ucapanku?" tanya Alvino penuh penekanan. Rania beranjak bangun dan hendak pergi dari tempat itu, tetapi tangan Alvino menahan lengan Rania hingga langkah kaki Rania berhenti seketika.
"Katakan semuanya dengan jujur," perintah Alvino dengan suara yang terdengar begitu memohon. Rania masih belum membuka suaranya, dia hanya menatap tangan Alvino yang masih memegang lengannya dengan erat.
sekarang sdh tua sm anaknya