mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cemburu
Ruang VIP Restoran. Kenan baru saja duduk di hadapan Sagara dan Silla. Suasana formal mendadak berubah ketika Kenan menatap Silpa dengan mata yang berbinar.
"Silpa? Benar-benar kamu? Astaga, bumi ternyata sempit ya. Aku tidak menyangka pertemuan bisnis hari ini malah mempertemukan aku lagi sama kamu."
Silla menjawab dengan ceria dan nada riang "Eh, Kak Kenan?! Ya ampun, aku juga kaget banget! Kakak apa kabar? Makin keren aja sekarang, sampai pangling aku!"
Sagara berdeham sangat keras, melipat tangan di dada dengan wajah masam "Ehem! Ini mau bahas memorandum of understanding atau mau reuni alumni taman kanak-kanak ya? Silpa, jadwal saya padat."
Kenan Mengabaikan sindiran Sagara, tetap menatap Sillabdengan lembut "Kabar baik, Sil. Apalagi setelah lihat kamu secerah ini hari ini. Kamu masih suka minum matcha latte hangat tanpa gula? Tadi aku sengaja pesankan buat kamu sebelum kalian datang."
Silpa yang mendengar ucapan kenan Tersenyum lebar, tampak sangat senang "Wah, Kakak masih ingat aja! Makasih banyak ya, Kak! Perhatian banget deh dari dulu enggak berubah."
Sagara Langsung merebut cangkir matcha yang baru ditaruh pelayan, lalu meminumnya sampai habis "Wah, kebetulan saya lagi haus. Lagian Silla sekarang sudah tobat minum ginian, Pak Kenan. Dia sekarang cuma minum air putih demi kesehatan mentalnya menghadapi bos yang luar biasa seperti saya. Iya kan, Sil?"
SillanMengerucutkan bibirnya, menatap Sagara kesal) "Ih, Sagara! Itu kan punya gue!!! Kok main minum aja sih? Rese banget!"
Kenan hanya Tersenyum sabar, berbicara dengan nada tenang namun menusuk "Tidak apa-apa, Silpa. Nanti aku pesankan lagi yang baru. Pak Sagara sepertinya tipe orang yang suka mengambil apa yang bukan haknya, ya? Termasuk minuman asistennya sendiri."
Sagara Mata Sagara menyipit, senyum jailnya hilang, digantikan tatapan tajam dan cemburu yang kentara"Hak? Di sini semuanya hak saya, Pak Kenan. Silpa ini asisten pribadi saya. 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Dia harus siap sedia mengurusi semua kebutuhan saya, lahir dan batin... maksud saya, urusan pekerjaan."
Silla yang sudah emosi Wajahnya agak memerah, mencoba mencairkan suasana dengan ceria "Hahaha, Pak CEO kita ini memang suka bercanda, Kak Kenan! Jangan dimasukin ke hati ya. Oh iya Kak, proyek properti yang kemarin Kakak ceritain lewat email itu gimana kelanjutannya? Aku tertarik banget dengarnya!"
Kenan condong ke depan, menatap Silpa dalam-dalam dengan suara rendah yang soft "Kalau kamu yang tertarik, aku bisa jelasin secara privat malam ini sambil makan malam, Sil. Kebetulan ada restoran baru yang suasananya tenang, cocok buat kita... mengobrol."
Sagara Menggebrak meja pelan, memotong cepat dengan nada bar-bar dan tengilnya yang kumat karena makin cemburu "Oh, tidak bisa! Malam ini Silla ada lembur. Lembur menemani saya nonton... eh, menyusun laporan keuangan maksudnya. Sangat krusial. Sampai subuh!"
SillanMenatap Sagara dengan heran dan sebal "Lembur apa sih, Ga? Kan laporan bulanan udah beres kemarin lusa? Kamu jangan ngada-ngada deh!"
Sagara Menarik kursi Silla agar lebih dekat ke arahnya, posesif) "Saya bosnya, jadi saya yang nentuin kapan ada lembur mendadak. Pokoknya Pak Kenan yang terhormat, silakan tawarkan bisnis Anda ke saya, bukan ke asisten saya. Dan satu lagi... berhenti menatap Silpa seperti itu, mata Anda bisa saya beli beserta perusahaannya kalau mau."
Kenan Terkekeh tenang, tidak terpancing emosi) "Pak Sagara kelihatan sangat tidak tenang ya. Seperti orang yang takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya... sudah bukan miliknya lagi."
Sagara mengepalkan tangan, menatap Kenan sengit "Tahu apa kamu soal milik siapa? Silla, bawa berkasnya, kita rapat di kantor saja. Di sini AC-nya terlalu dingin, bikin orang jadi sok lembut tapi gatel!"
Silla menghela napas, menggelengkan kepala melihat kelakuan mantan kekasihnya itu, namun tetap tersenyum ramah pada Kenan"Maaf ya Kak Kenan, bos aku emang agak... ajaib. Nanti aku hubungi Kakak lagi lewat WhatsApp pribadi aku ya!"
Sagara yang mendengar ucapan silla Langsung menyambar ponsel silla dari meja"Nggak ada WhatsApp-WhatsApp-an! Nomornya mau ganti hari ini."
"yauda silla besok free kan?tar kita jalan ya..tar aku dm di ig kamu ...masih ig yang du____"
Sagara berdeham sangat keras, sengaja memotong pembicaraan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melipat tangan di dada, menatap Kenan dengan pandangan menyelidik.
" Ekhem! Tolong ya, Pak Kenan yang terhormat. Ini ruang rapat bisnis, bukan ajang cari jodoh atau reuni alumni. Lagipula, panggilan 'Silpa' itu terlalu kasual. Di jam kerja, dia ini asisten pribadi saya. Panggil Sekretaris Silla, okay?"
Silla melirik Sagara dengan tatapan tajam, namun ia langsung mengubah ekspresinya menjadi manis saat kembali menatap Kenan.
"Ah,tidak apa-apa kok, Panggil Silla saja seperti biasa, terasa lebih akrab dan nyaman di telinga saya ,Kenan terkekeh pelan, suaranya terdengar sangat tenang dan tertata, membuat Sagara makin gerah.
Kenan: Baik, Silpa. Oh ya, setelah meeting ini selesai, kebetulan saya tahu ada restoran gelato baru yang enak di dekat sini. Kamu mau pergi ke sana ?"
"Oh ya?! Kok Pak Kenan tahu sajh kalau saya gelato? Mau banget dong, Pak! Kebetulan cuaca di luar lagi panas banget, jadi pas-"
"Gak bisa! Gak boleh! Silpa ada jadwal super padat setelah ini."potong sagara
Silpa mengernyitkan dahi, menatap Sagara dengan heran.
"Jadwal apa, Pak Sagara? Perasaan setelah ini jadwal Bapak cuma pulang ke kantor dan tidur siang di ruangan?"
"Jadwal nemenin saya makan siang! Saya mau makan bakso mercon yang super pedas, dan kamu harus ikut buat ambilin minumnya kalau saya kepedasan. Titik. Lagian, ngapain sih makan es krim siang-siang? Nanti batuk, terus gak bisa kerja, ujung-ujungnya saya lagi yang repot.
Kenan tersenyum tipis, menyadari ada nada cemburu yang sangat kentara dari sang CEO.
"Maaf, Pak Sagara. Tapi seingat saya, urusan makan siang staf di luar jam kerja itu adalah hak pribadi mereka. Kecuali, Pak Sagara punya alasan personal lain untuk melarang Silla pergi dengan saya?"
Sagara langsung memajukan badannya, menopang dagu dengan kedua tangannya sambil menatap Kenan dengan senyum tengil khas andalannya.
" Alasan personal? Oh, jelas ada dong. Sila ini kan mantan pacar saya. Jadi sebagai mantan yang baik, saya punya kewajiban moral buat menyeleksi cowok-cowok yang mau mendekati dia. Dan standar saya itu tinggi, Pak Kenan."
Silla langsung mencubit lengan Sagara dengan gemas di bawah meja, membuat pria itu mengaduh pelan namun tetap berusaha menjaga gengsinya.
"Jangan didengarkan ya, Pak Kenan! Pak Sagara ini memang suka bercanda dan agak kurang kerjaan orangnya."
"Haha, tidak apa-apa, Silpa. Saya justru makin penasaran dengan standar yang dimaksud Pak Sagara. Jadi, Sila... bagaimana dengan tawaran gelato tadi?"
"Tentu saja jad-"
"Silla, dokumen analisisnya salah ketik ini! Nih, lihat, masa angka nolnya kurang satu? Duh, asisten macam apa ini. Ayo ikut saya ke kubikel luar sekarang, kita perbaiki berdua. Pak Kenan, meeting kita sudahi sampai di sini saja ya, proposalnya saya bawa. Permisi!"
Tanpa menunggu jawaban, Sagara langsung berdiri, merapikan berkasnya dengan asal, dan menarik ujung blazer Silpa agar mantan pacarnya itu segera ikut berdiri dan menjauh dari Kenan.