Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASIH SAYANG YANG TENANG
Beberapa hari setelah pertengkaran di pusat perbelanjaan, Evelyn seolah menghilang dari kehidupan Elma. Tidak ada telepon, tidak ada pesan, bahkan tidak ada kabar singkat seperti biasanya. Anehnya, Elma justru merasa lega. Ia bisa kembali menjalani rutinitas tanpa harus menghadapi berbagai permintaan mendadak dari kakaknya.
Meski begitu, ponselnya sesekali menampilkan notifikasi dari bank yang menampilkan transaksi berhasil. Elma hanya melirik sekilas sebelum kembali meletakkan ponselnya di meja. Ia tahu kartu kredit yang diberikan kepada Evelyn sedang digunakan. Namun, kali ini ia memilih tidak ambil pusing. Ia sudah terlalu lelah mengurusi kakaknya. Terserah Evelyn mau membeli apa. Selama pengeluarannya masih bisa dipertanggung jawabkan, Elma tidak ingin memperpanjang masalah.
Siang itu, Elma menyempatkan diri mampir ke sebuah kafe setelah menyelesaikan pertemuan dengan klien. Ia memesan segelas kopi dan beberapa makanan ringan untuk menemani pekerjaannya sore nanti. Namun, ketika hendak membayar, ia baru menyadari bahwa dompet kecilnya tertinggal di dalam laci meja kantor.
Elma menghela napas. "Astaga, kenapa harus sekarang?"
Ia memeriksa tasnya sekali lagi, berharap menemukan beberapa lembar uang tunai. Sayangnya, tidak ada.
"Maaf, bisa saya bayar dengan kartu?" tanyanya kepada kasir.
"Tentu, Nona."
Elma membuka dompet kartu yang tersimpan di tasnya. Ada beberapa kartu di sana, termasuk sebuah kartu kredit berwarna hitam yang sudah lama tidak pernah disentuhnya. Kartu pemberian Maxime. Ia sempat menatap kartu itu beberapa detik. Maxime memberikan kartu tersebut lengkap dengan pesan sederhana bahwa ia bisa menggunakannya kapan saja jika membutuhkan sesuatu. Namun, Elma selalu mengabaikannya. Ia memiliki penghasilan sendiri dan tidak terbiasa menggunakan fasilitas keuangan milik suaminya.
Tetapi kali ini situasinya berbeda.
Akhirnya, Elma menyerahkan kartu tersebut kepada kasir.
"Silakan, Nona."
Transaksi berhasil. Elma mengambil kembali kartunya dan mengucapkan terima kasih, lalu membawa pesanannya menuju meja dekat jendela. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa transaksi sederhana itu baru saja membuat seseorang di tempat lain tersenyum.
Di ruang kerjanya, Maxime sedang membaca laporan ketika ponsel pribadinya bergetar.
Sebuah notifikasi transaksi masuk dari bank.
Transaksi kartu tambahan — Elma Laurent.
Maxime menghentikan bacaannya, matanya kembali menelusuri nama yang tertera di layar. Sesaat kemudian, sudut bibirnya terangkat. Setelah sekian lama memberikan kartu itu kepada Elma, akhirnya wanita itu menggunakannya. Nominalnya tidak besar. Hanya transaksi di sebuah kafe. Namun, entah mengapa, hal sederhana itu cukup membuat suasana hatinya membaik. Maxime meletakkan ponselnya di meja, masih dengan senyum tipis.
Ketukan pintu terdengar.
"Masuk."
Asistennya muncul beberapa detik kemudian dengan membawa sejumlah dokumen.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Batalkan jadwal saya selama lima belas menit ke depan. Saya ingin melihat laporan mingguan."
Asistennya mengangguk. Ia sudah cukup terbiasa dengan permintaan tersebut. "Baik, Tuan. Laporan mengenai Nyonya Elma?"
Maxime mengangguk. "Bagaimana agendanya minggu ini?"
Asisten itu membuka tablet dan mulai membacakan informasi yang telah disiapkan.
"Senin hingga Rabu, Nyonya menghadiri beberapa pertemuan di firma. Hari Kamis beliau dijadwalkan bertemu dengan klien terkait perkara yang sedang ditanganinya. Jumat masih belum ada agenda tambahan."
"Bagaimana dengan kasusnya?" Tanya Maxime.
"Masih dalam tahap pemeriksaan dokumen dan pengumpulan bukti. Sejauh ini tidak ada kendala berarti."
Maxime mengangguk pelan. "Pastikan jadwalnya tidak terlalu padat. Kalau ada agenda yang mengharuskannya bepergian ke luar kota, informasikan kepada saya."
"Baik, Tuan."
Maxime kembali memeriksa beberapa dokumen.
Kebiasaan itu sudah dilakukannya setiap minggu. Ia meminta asistennya memperbarui informasi mengenai agenda Elma, pekerjaan yang sedang ditangani istrinya, hingga beberapa hal penting yang mungkin memengaruhi aktivitas perempuan itu. Bukan karena ia ingin mengawasi setiap langkah Elma.
Maxime tahu istrinya tidak menyukai campur tangan berlebihan. Elma memiliki pekerjaan, kehidupan, dan ruang pribadinya sendiri. Ia juga bukan perempuan yang membutuhkan seseorang untuk terus-menerus mengatur hidupnya. Namun, Maxime tetap ingin mengetahui apakah Elma baik-baik saja. Terlebih setelah berbagai masalah yang sempat mengguncang rumah tangga mereka, ia tidak ingin kembali menjadi seseorang yang terlambat menyadari ketika istrinya sedang menghadapi kesulitan.
"Apakah ada hal lain, Tuan?" tanya asistennya.
Maxime menggeleng.
"Cukup. Terima kasih."
Setelah asistennya meninggalkan ruangan, Maxime kembali mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan, mencari nama Elma, lalu mengetik sebuah pesan singkat.
Maxime: Sudah makan siang?
Tak lama kemudian, balasan masuk.
Elma: Sudah. Kenapa?
Maxime: Tidak boleh bertanya tentang istriku sendiri?
Elma membalas dengan sebuah emotikon tertawa.
Elma: Boleh, Tuan Sinclair.
Maxime tersenyum membaca balasan itu. Ia kemudian mengetik pesan lain.
Maxime: Jangan lupa makan dengan benar. Jangan hanya minum kopi.
Di kafe, Elma mengerutkan kening membaca pesan tersebut. Ia melirik cangkir kopi di hadapannya, kemudian tersenyum kecil.
Rupanya, bahkan dari tempat yang berbeda, Maxime masih memiliki kebiasaan yang sama: mengingatkan hal-hal kecil yang sering dilupakannya. Dan kali ini, Elma tidak merasa terganggu sedikit pun.
Maxime : Pulang jam berapa hari ini?
Elma : Entah. Mungkin jam delapan malam.
Maxime: Pulanglah lebih awal.
Elma terdiam sesaat, kemudian kembali mengetik.
Elma : Ada apa? Apa ada masalah?
Pesan balasan Maxime kembali datang.
Maxime: Tidak ada apa- apa.
Elma: Lalu!
Maxime: Aku hanya sedang merindukanmu.
Seketika itu juga wajah Elma bersemu merah muda, ia tidak percaya jika Maxime bisa mengatakan hal itu. Elma memutuskan percakapan, ia tidak siap bila Maxime kembali mengirim pesan dengan kata- kata yang membuat hatinya semakin berdebar.
Elma mengusap dadanya perlahan seraya berucap : " Tenanglah Elma. Tenang. Itu hanya ucapan biasa, bukan pernyataan cinta".
Elma meletakkan ponselnya dan memutuskan untuk kembali kekantor.
☆