NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 20

Napas lengang sore menggantung canggung di selasar batu belakang paviliun. Angin dingin yang berhembus turun dari puncak tebing menyeret dedaunan cemara kering, membenturkannya pelan pada jubin jalan. Kepergian Gao Feng beserta tiga temannya menyisakan jejak ketegangan yang belum sepenuhnya lenyap, mengendap tipis di antara keheningan tiga remaja asal desa perbatasan tersebut.

Ruan Xi'er menatap ke belokan lorong tempat rombongan klan Zhongli menghilang, lalu mendengus kesal sambil menghentakkan tumit sepatunya. "Orang-orang itu benar-benar menyebalkan! Datang cuma untuk memamerkan kesombongan klan mereka!"

"Klan besar selalu terbiasa mengatur medan sebelum pertarungan dimulai," pungkasi Gongsun Zhi dengan nada beratnya yang datar. Tangannya meremas longgar kain pembungkus Tombak Besi Hitam di bahu. "Mereka merasa ancaman verbal cukup untuk mematahkan keberanian lawan yang tidak punya latar belakang."

Shen Jue merapikan lipatan lengan jubah linen abu-abunya yang tertiup angin, lalu berbalik menatap dua sahabatnya. "Gao Feng hanya pion uji coba. Zhongli Chen sengaja mengirim orang lain untuk mengukur reaksi kita tanpa perlu mengotori tangannya sendiri."

"Tapi Shen Jue," potong Xi'er dengan binar cemas yang menggelap di matanya, "Hutan Roh itu area terbuka. Kalau mereka benar-benar mengincar kita saat ujian luar ruangan nanti, bukankah situasi kita akan sangat berbahaya?"

"Bahaya hanya milik mereka yang tidak bersiap," sahut Shen Jue lembut, menyunggingkan senyum tipis yang amat tenang. "Ayo kita ke kantin bawah. Sudah waktunya istirahat sore."

Kompleks Kantin Bintang tiga tingkat terletak di cekungan timur akademi, dikelilingi oleh kolam-kolam batu berisi ikan emas magis dan pepohonan bambu perak. Jam istirahat sore selalu menjadi waktu paling riuh di mana seluruh murid baru meluapkan kelelahan usai kelas teori dan uji coba lapangan. Aroma masakan daging panggang berbohong rempah dan kaldu obat yang gurih menguar tebal di udara, memicu selera makan puluhan murid yang memenuhi meja-meja kayu panjang.

Sama seperti hirarki di asrama, area kantin pun secara tak tertulis terbagi menjadi dua kubu. Meja-meja luas di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke pemandangan air terjun dikuasai oleh murid-murid kaya asal Kota Wushan dan Kota Fengyun. Sementara murid-murid asal desa terpencil menempati meja-meja kayu polos di sudut remang-remang dekat dapur.

Saat Shen Jue, Xi'er, dan Gongsun Zhi melangkah masuk membawa baki berisi mangkuk nasi gandum dan sayur tumis sederhana, sebagian keriuhan di kantin mendadak surut. Lirikan mata penuh bisik-bisik rahasia langsung mengarah pada mereka. Kehancuran Batu Uji Energi di Lapangan Bintang tadi pagi masih menjadi misteri hangat yang memicu rasa ingin tahu sekaligus antipati.

"Duduk di sudut sana saja," tunjuk Xi'er ke arah meja kayu kosong di bawah naungan tiang penyangga utama.

Ketiganya menduduki bangku kayu panjang. Gongsun Zhi menyandarkan tombak beratnya di sisi meja dengan telaten, sementara Xi'er langsung menikmati sup hangatnya dengan lahap setelah kelelahan seharian.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Langkah kaki yang seragam dan berat bergema di lantai kayu kantin. Sekelompok murid berpakaian jubah sutra biru tua—anak buah lain dari kubu Zhongli Chen yang jumlahnya lebih banyak dari kelompok Gao Feng—berjalan mendekat. Mereka dipimpin oleh seorang pemuda bertubuh jangkung dengan rambut terkuncir tinggi bernama Mo Qi, salah satu petarung paling berpengaruh di antara para pengikut kota besar.

Tanpa permisi, Mo Qi menghentakkan telapak tangannya keras-keras ke atas meja kayu tempat Shen Jue duduk.

Brakkk!

Mangkuk sup Xi'er bergetar hebat hingga sedikit kuahnya terpercik keluar membasahi permukaan kayu. Beberapa murid desa di meja sekitarnya seketika memucat dan buru-buru menggeser duduk mereka menjauh.

"Shen Jue," gertak Mo Qi dengan pandangan mata yang merendahkan dari atas. "Aku dengar dari Gao Feng, kau bicara sangat berani di selasar belakang tadi. Kau bahkan berani memberi ancaman balik pada klan Zhongli?"

Xi'er meletakkan sumpitnya dengan hentakan kasar, berdiri membusungkan dada. "Temanmu yang datang cari masalah duluan! Kami cuma sedang jalan ke sini!"

Gongsun Zhi memegang batang tombaknya di bawah meja, matanya yang tajam menatap lurus ke arah Mo Qi tanpa sedikit pun rasa gentar. Hawa dingin yang tebal mulai memancar tipis dari tubuh pemuda tegap itu.

Namun, Shen Jue tidak berdiri. Ia bahkan tidak berhenti menyuap nasi gandum dari mangkuknya. Ia mengunyah pelan, menelan makanannya dengan tenang, baru kemudian meletakkan mangkuk kayu itu kembali ke atas baki dengan gerakan yang teramat halus.

Shen Jue mendongak perlahan. Matanya yang gelap, dalam, dan tanpa dasar menatap tepat ke dalam manik mata Mo Qi. Tidak ada amarah di sana, tidak ada ketakutan, hanya sebuah kedinginan absolut yang bagaikan jurang tanpa tepi.

"Ini jam istirahat," kata Shen Jue dengan nada suara yang sangat jernih dan tenang, namun memotong kebisingan di sekitar mereka hingga senyap.

Mo Qi mengerutkan alisnya, merasa terusik oleh respon dingin yang sama sekali tidak memperlihatkan kepanikan tersebut. "Kau tidak dengar pertanyaanku, bocah desa?!"

"Aku dengar," sahut Shen Jue santai sambil menyandarkan punggungnya di sandaran bangku kayu. "Dan aku berikan peringatan ini sekali saja untukmu dan seluruh anak buah Zhongli Chen yang berdiri di belakangmu."

Shen Jue memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya menyapu lima murid kota yang berdiri mengepung mejanya.

"Jangan cari masalah denganku saat aku sedang makan atau beristirahat," pungkasi Shen Jue mendatar. "Kalian boleh membanggakan nama klan kalian atau memamerkan jumlah kelompok kalian di lapangan latihan. Tapi kalau kalian sengaja mengganggu ketenanganku di sini..."

Shen Jue sengaja menghentikan kalimatnya sejenak. Ia mengulurkan jari telunjuk kanannya, menepuk pelan permukaan meja kayu jati tebal di depan Mo Qi.

Tuk!

Suara ketukan itu teramat halus, hampir tak terdengar di tengah gaung ruangan. Namun, tepat di bawah telapak tangan Mo Qi yang tadi menghentakkan meja, sebuah garis retakan hitam memancar mendadak. Retakan itu menyebar cepat di dalam serat kayu jati tanpa suara, memotong ikatan struktur meja hingga bagian tengah meja kayu tebal itu runtuh perlahan menjadi serbuk kayu halus yang berjatuhan ke lantai.

Brak-klotok!

Baki makanan Mo Qi terperosok jatuh melintasi lubang meja yang runtuh tersebut, hancur berkeping-keping di atas lantai batu.

Mo Qi melangkah mundur tiga tindakan refleks dengan wajah yang seketika berubah pucat pasi bagai mayat. Tangannya yang tadi menempel di meja gemetar hebat, merasakan bagaikan ada hawa dingin mematikan yang baru saja menyapu sejuta serat kayu hanya dalam satu ketukan jari.

Seluruh kantin mendadak senyap total. Puluhan murid dari kota besar yang tadinya menonton sambil tersenyum culas kini membeku kaku di tempat duduk masing-masing. Mereka menatap lubang melingkar yang rapi di tengah meja kayu jati tersebut dengan mata membulat tak percaya.

Shen Jue berdiri perlahan dari bangkunya. Ia merapikan jubah linen abu-abunya yang bersih, lalu menatap Mo Qi yang masih mematung ketakutan.

"Anggap serbuk kayu itu sebagai peringatan ramahku," pungkasi Shen Jue datar tanpa menaikkan nada suaranya. "Sekali lagi kau atau teman-temanmu datang mengganggu jam istirahat kami... aku tidak akan mengetuk meja."

Shen Jue mengangguk pelan pada Xi'er dan Gongsun Zhi. "Ayo. Makanan di sini sudah tidak tenang lagi."

Xi'er yang terpana melihat pemandangan itu segera menyambar tasnya, berjalan berdampingan dengan Gongsun Zhi mengiringi langkah Shen Jue keluar dari kantin. Tidak ada satu pun murid kota besar, termasuk Mo Qi, yang berani menghalangi atau memanggil nama mereka kembali saat tiga anak desa itu melangkah pergi menembus keheningan kantin.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!