Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stephany
Lexus putih milik Julian akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah Elena. Begitu turun dari mobil, Julian membawakan seluruh kantong belanjaan dan makanan mewah tadi dengan sigap.
Seperti biasa, di hadapan orang tua Elena, Julian selalu berhasil menampilkan sosok pria santun, berkelas, dan penuh tata krama. Pria itu menyapa ibu Elena dengan hangat, menyerahkan semua bawaan sembari mengobrol singkat dengan nada suara yang tenang dan penuh hormat.
Tak ada sedikit pun gestur posesif atau riak gejolak batin yang terlihat Julian benar-benar lihai memasang topeng "sahabat kecil yang bisa diandalkan".
Setelah berpamitan dengan sopan dan mencium tangan ibu Elena, Julian melangkah kembali ke mobilnya. Elena berdiri di tepi teras, mengawasi hingga Lexus putih itu perlahan bergerak menjauh dan melesat menghilang di ujung jalan.
Setibanya di dalam rumah, Elena langsung melangkah naik menuju kamarnya. Rasa lelah setelah seharian diajak berputar-putar dan dihadapkan pada rentetan aksi posesif Julian membuat tubuhnya terasa pegal.
Cincin berlian yang berkilau di jari manisnya sempat diliriknya sejenak sebelum akhirnya ia melepaskan barang-barang mewah itu dan meletakkannya di atas meja rias.
Elena bergegas masuk ke kamar mandi, membersihkan diri di bawah pancuran air hangat untuk meluruhkan seluruh rasa lengket dan ketegangan hari ini. Aroma sabun yang segar perlahan mengembalikan kesegarannya.
Selesai berpakaian santai dengan kaos rumahan yang nyaman, Elena turun kembali ke area ruang makan. Aroma tenderloin steak dan pizza hangat yang tadi dibelikan Julian sudah tertata rapi di atas meja makan rumahnya, siap untuk disantap bersama keluarganya malam ini.
...
Suasana pagi di Medan menyambut Elena dengan kesibukan yang langsung merenggut seluruh perhatiannya. Sejak Julian terbang kembali ke Jakarta kemarin, ritme hidup Elena kembali pada poros aslinya tenang, mandiri, dan sepenuhnya berada di bawah kendalinya sendiri. Tidak ada lagi bayangan tatapan tajam, intervensi posesif, atau desakan emosional yang selama beberapa hari terakhir mendominasi harinya.
Hari ini, Elena membagi fokusnya di antara dua dunia bisnis yang ia rintis dengan penuh dedikasi.
Pagi-pagi sekali, ia menyambangi butik fesyen miliknya yang terletak di kawasan strategis pusat kota.
Butik bernuansa minimalis modern itu memajang rapi koleksi pakaian trendi, outerwear elegan, hingga jajaran tas dan sandal pilihan yang selalu diburu oleh para pencinta mode muda di Medan.
Elena mengecek laporan inventaris, menata ulang tata letak display jendela depan agar tampak semakin menarik, dan berkoordinasi singkat dengan para stafnya untuk pengiriman * restocking* mingguan.
Menjelang siang, Elena beralih ke lokasi bisnis keduanya: sebuah kafe mini berkonsep cozy yang terletak di kantin salah satu universitas ternama di Medan.
Kafe itu selalu ramai dipadati mahasiswa yang mengincar berbagai menu praktis namun lezat buatan kafenya. Namun, ada satu aturan mutlak di dapur kafe tersebut: untuk beberapa menu andalan dan resep rahasia pencuci mulut serta hidangan spesialnya, sama sekali tidak ada karyawan yang diizinkan meraciknya kecuali Elena sendiri.
Dibalik balutan apron bersih, Elena bergerak terampil di dapur mininya. Aroma sedap dari bumbu rahasia masakan andalannya langsung menguar memenuhi udara, menarik antrean mahasiswa yang sudah tak sabar ingin mencicipi hidangan tersebut begitu jam istirahat kuliah berbunyi.
Bagi Elena, kesibukan mengurus butik dan meracik menu rahasia di kantin kampus ini adalah bentuk kebebasan yang sesungguhnya.
Jauh dari hiruk-pikuk drama emosional Julian, ia merasa hidupnya kembali tertata rapi, damai, dan sepenuhnya berjalan di atas jalurnya sendiri.
Di tengah riuhnya kesibukan dapur kafe kampus yang mengepulkan aroma sedap masakan, langkah Elena mendadak terhenti. Tangannya yang tengah merapikan wadah bumbu di atas meja kerja tertegun.
Sekelebat rasa sesak yang asing tiba-tiba menghantam dadanya tanpa peringatan.
Bukan bayangan atau kenangan tentang Nathan masa lalu yang dulu begitu mudah meremukkan hatinya yang melintas di kepalanya.
Justru kepingan memori terakhir bersama Julian yang mendadak berkelebat tajam: tatapan mata pria itu yang sarat akan keputusasaan saat mengaku tak pernah rela, genggaman erat di butik perhiasan, kilau cincin berlian yang kini tersemat di kamar rumahnya, hingga tarikan napas berat Julian sebelum berpamitan.
Sensasi aneh itu membuat dada Elena terasa nyeri, menyesakkan rongga pernafasannya selama beberapa detik yang terasa begitu panjang.
Namun, Elena bukan tipe wanita yang membiarkan dirinya terjebak dalam pusaran emosi yang tak tentu arah.
Dengan raut wajah yang segera dikendalikan, ia menutup mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan debar jantungnya, lalu menepis bayang-bayang itu jauh-jauh.
Nggak, El. Jangan mulai, batinnya menegaskan.
Elena menggelengkan kepalanya pelan, menepis sisa-sisa rasa sesak yang sempat singgah.
Ia kembali mengangkat dagunya, memasang senyum ramah begitu mendengar suara panggilan dari stafnya di depan meja saji, dan kembali fokus sepenuhnya pada deretan pesanan mahasiswa yang menunggu.
Elena kembali bergerak gesit di balik etalase kaca kafe mininya.
Jemari lentiknya dengan telaten menata ulang posisi piring saji, mengusap permukaan kaca hingga mengkilap, dan menyesuaikan pencahayaan agar tatanan hidangan kreasinya terlihat semakin menggiurkan dan estetis.
Bagi Elena, detail kecil seperti ini selalu sukses memberikan kepuasan tersendiri di tengah hiruk-pikuk suasana kantin.
Saat Elena baru saja selesai memposisikan sebuah vas bunga kering mungil di sudut meja saji, gemerincing bel di pintu kafe berbunyi.
Empat orang pria melangkah masuk ke dalam area kafe. Kehadiran mereka seketika menyedot perhatian beberapa mahasiswa lain di sekitar sana.
Mereka adalah rombongan mahasiswa S2 Fakultas Teknik pria-pria dewasa dengan aura mature, gaya berpakaian simpel namun berkelas, serta karisma yang begitu menonjol dibanding mahasiswa S1 pada umumnya.
Di antara keempatnya, ada satu sosok yang paling menyita perhatian bernama Fattah Fernandez.
Pria bertubuh tinggi dengan rahang tegas dan tatapan mata yang teduh namun tajam itu melangkah paling depan. Tak butuh waktu lama bagi siapapun di dalam ruangan itu untuk menyadari ke mana arah pandangan Fattah tertuju.
Sorot matanya yang dalam terkunci lurus pada Elena, memancarkan ketertarikan yang begitu jelas, hangat, dan tanpa ragu.
"Siang, Elena," sapa Fattah dengan suara berat yang terdengar sangat tenang saat tiba di depan meja kasir. Kawan-kawannya di belakang hanya menyunggingkan senyum penuh arti, sengaja memberi ruang bagi Fattah.
Elena mendongak, menyambut kedatangan para pelanggan setianya itu dengan senyuman profesional yang ramah. Meskipun ia bisa merasakan intensitas tatapan Fattah yang terang-terangan menunjukkan kekaguman, Elena tetap mempertahankan kontrol dirinya.
Tidak ada rona canggung atau gestur salah tingkah; ia tetap bersikap sangat tenang, anggun, dan menguasai keadaan.
"Siang, Mas Fattah," balas Elena halus, mengandalkan keramahan alaminya sebagai pemilik kafe.
"Mau pesan menu biasa, atau mau coba menu resep baru hari ini?"
Suasana kafe yang semula tenang mendadak diwarnai oleh suara ketukan hak sepatu yang berderap cepat di lantai keramik. Bel pintu berbunyi nyaring, disusul oleh kemunculan sesosok mahasiswi berpenampilan modis dan mencolok.
Stephany.
Bintang kampus dari jurusan S1 Manajemen yang terkenal dengan paras cantiknya yang eksotis, gaya berpakaian selalu up-to-date, namun juga melekat dengan reputasi sebagai gadis yang ceroboh dan hobi mencari perhatian.
Kehadirannya di kantin teknik siang itu jelas bukan tanpa alasan. Target utamanya sudah sangat jelas: gerombolan mahasiswa S2 Teknik yang berdiri di depan meja kasir, terutama Fattah.
Belum sempat Stephany menginjakkan kaki sepenuhnya di karpet kafe, sebuah insiden kecil khas dirinya langsung terjadi. Kakinya tersandung ujung keset lantai.
Brugh!
"Aduh!" pekik Stephany tertahan, hampir saja mencium lantai jika tangannya tidak refleks mencengkeram lengan jaket salah satu rekan Fattah.
Suasana seketika hening sejenak.
Beberapa mahasiswa melirik ke arahnya dengan tatapan setengah geli, sementara Stephany langsung menegakkan tubuhnya dengan wajah merona merah karena malu. Namun, alih-alih meminta maaf dengan canggung, sifat aslinya yang suka tebar pesona langsung mengambil alih.
"Ups... sorry, sorry, tangannya licin banget kayak es batu," ujar Stephany dengan nada manja, sengaja melirik sekilas ke arah Fattah sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Fattah hanya melirik sekilas dengan tatapan datar, menarik lengannya pelan dari cengkeraman Stephany tanpa menunjukkan ketertarikan sedikit pun.
Pria itu justru kembali mengalihkan pandangannya sepenuhnya ke arah Elena di balik meja saji.
Bagi Stephany, sikap dingin Fattah itu bukan penghalang, melainkan tantangan.
Dan penyebab utamanya bukanlah karena Fattah tidak suka wanita, melainkan karena pria itu selalu melirik wanita lain yang paling dibenci oleh Stephany: Elena.
Sejak dulu, Stephany selalu menganggap Elena sebagai saingan terberatnya.
Di mata Stephany, Elena adalah tipe wanita tenang, berkelas, dan mandiri yang tidak perlu repot-repot bertingkah konyol atau kecobohan untuk menarik perhatian para pria mapan seperti Fattah dan gengnya.
Dan fakta bahwa Fattah pria S2 Teknik yang paling diidam-idamkan di kampus tampak begitu terpikat pada Elena, membuat darah Stephany mendidih.
Dengan langkah sengaja dibuat anggun, Stephany menyibak rambut panjangnya lalu merangsek maju, berdiri tepat di sebelah Fattah seolah ingin memotong antrean.
"Eh, Elena? Lagi sibuk banget ya kayaknya?" sapa Stephany dengan nada manis yang dibuat-buat, meski sorot matanya menatap tajam ke arah Elena.
"Tolong dong pesanan aku disiapin duluan. Aku buru-buru nih, takut telat kelas, lagian kan cuma menu biasa, nggak ribet kayak resep rahasia kamu yang dipamerin itu."
Elena menatap Stephany sekilas dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak berubah tetap tenang, tanpa ada secercah emosi tersinggung pun. Elena justru melipat tangan di depan dada dengan anggun, membiarkan dinamika canggung itu berputar di sekeliling meja kasirnya.
ayo tor lanjutin update nya