Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Fajar belum sepenuhnya naik ketika lonceng pertama berbunyi di atas lapangan batu. Tiga ratus calon murid berdiri berbaris di bawah awan yang masih kelabu, dan embun dingin menempel di ujung rambut mereka.
Yu Tian berada di barisan tengah dengan bilah bambu bernomor dua ratus empat belas tergenggam di tangan, menguap tanpa menutup mulutnya.
Di ujung lapangan, sebuah aula terbuka berdiri dengan enam tiang merah. Di dalamnya, seorang lelaki tua berjanggut kelabu duduk di balik meja panjang, dengan sebuah kristal sebesar guci arak bertengger di atas alas kayu di hadapannya.
Ia mengetukkan tongkat ke lantai batu satu kali, dan seluruh lapangan langsung terdiam. "Aku Tetua Shen. Kalian dipanggil satu per satu sesuai nomor, dan kristal ini yang menentukan apakah akar spiritual kalian layak menjadi murid Awan Azure. Jangan berbohong padanya, dan jangan berbohong padaku."
Pemeriksaan berjalan lambat. Seorang pemuda bertubuh kekar menekan telapak tangannya ke kristal dan menghasilkan cahaya kuning samar yang segera padam, lalu ia digiring keluar dengan bahu merosot. Seorang gadis berambut kepang menangis ketika kristalnya tetap gelap sepenuhnya, dan seorang pelayan berseragam harus membimbingnya turun dari tangga aula.
Nomor tujuh puluh tujuh maju dengan dada membusung. Ia adalah bocah gemuk berjubah sutra yang kemarin berceloteh tentang pamannya, dan hari ini keningnya sudah basah sebelum ia menyentuh apa pun. "Tetua, pamanku kenal Tetua Wen dari Paviliun Obat, jadi mungkin Tetua bisa..."
"Kristal ini tidak kenal pamanmu." Tetua Shen bahkan tidak mengangkat pandangan dari gulungan catatannya. "Letakkan tanganmu."
Bocah itu meletakkan tangan, dan kristal menyala dengan cahaya hijau yang tipis sekali, bergetar sebentar, lalu padam. Tetua Shen mencoret sesuatu di gulungannya. "Tidak lulus. Berikutnya."
Yu Tian mengamati semua itu dengan tangan terlipat di dada.
'Kristal penguji ini hanya membaca kepekaan akar terhadap Qi dan unsurnya, tidak lebih. Alat sederhana, tetapi cukup untuk memilah orang yang akan dibuang dan orang yang akan dipungut.' Ia menunggu dengan sabar, memperhatikan setiap tangan yang menyentuh kristal itu dan setiap kilau yang muncul, dan menghitung kecepatan getaran cahaya yang selalu menandai batas keberhasilan.
Nomor seratus delapan puluh tiga dipanggil sekitar tengah hari. Seorang pemuda kurus berjubah abu-abu melangkah ke depan tanpa suara, dan ketika Tetua Shen menanyakan namanya, ia menjawab pendek. "Lu Heng, Tetua."
Telapak tangannya menyentuh kristal, dan sepersekian napas kemudian cahaya merah menyembur dari dalam kristal begitu cepat sampai bayangan semua orang di lapangan memanjang ke belakang. Udara di aula menghangat, kertas-kertas di meja Tetua Shen berkibar, dan kristal itu bergetar hebat dengan bunyi dengung rendah yang menekan telinga. Tiga ratus orang berhenti bernapas.
Tetua Shen berdiri. Tongkatnya terlepas dari tangannya dan jatuh berdenting di lantai batu, dan ia tidak menunduk untuk memungutnya.
"Akar api tingkat atas. Sudah dua belas tahun tidak ada yang menyalakan kristal ini sampai sejauh itu." Suaranya turun, dan matanya tidak lepas dari pemuda kurus itu. "Lu Heng, kau tidak perlu mengantre lagi. Tunggu di bawah tiang kiri."
Lu Heng mengangguk dan berjalan ke tiang itu dengan kedua tangan kaku di sisi tubuhnya. Bisik-bisik meledak di lapangan, dan beberapa kepala menoleh iri.
Yu Tian hanya mengangkat sebelah alis. 'Akar api yang baik untuk ukuran dunia ini. Anak itu belum tahu betapa mahal yang ia bawa, dan yang lain akan memperebutkannya sebelum ia sempat belajar menjaga dirinya.'
Pelayan di samping meja mengangkat bilah bambu dan berseru dengan suara lantang. "Nomor dua ratus empat belas!"
Yu Tian melangkah naik tanpa tergesa-gesa, dan Tetua Shen sudah kembali duduk, tetapi jemarinya masih mengetuk meja pelan, dan ia menatap Yu Tian dari atas sampai bawah. "Namamu?"
"Yu Tian." Ia berhenti di depan kristal dan menatapnya sebentar. "Apa ini sakit?"
"Hanya bagi yang punya sesuatu untuk disembunyikan. Letakkan tanganmu."
'Tepat sekali.' Yu Tian menarik napas pelan dan menekan telapak tangannya ke permukaan kristal. Ia tahu apa yang akan terjadi jika ia membiarkan tubuhnya bekerja sewajarnya: meridian sempurna miliknya akan menarik Qi dari kristal dengan kecepatan yang tidak dimiliki siapa pun di aula ini, dan cahayanya akan memenuhi seluruh lapangan. Ia memampatkan aliran Qi di perutnya menjadi seutas benang, mengurung sisanya, dan membiarkan hanya sebagian kecil merembes ke telapak tangan.
Kristal itu menyala putih bening, naik sampai tiga perempat tingginya, lalu bergetar pelan dan berhenti. Keringat dingin mengalir di pelipis Yu Tian, dan rahangnya mengeras menahan dorongan untuk melepaskan semuanya. 'Terlalu terang, mereka akan menggali. Terlalu redup, aku akan diusir. Tiga perempat sudah cukup.'
Tetua Shen memandang kristal itu lama sekali. Alisnya menyatu, dan jarinya berhenti mengetuk.
"Akar campuran, kualitas di atas rata-rata. Hampir mencapai batas murid berbakat." Ia mengangkat pandangan, dan tatapannya tajam. "Tanganmu berkeringat, Nak. Kau menahan sesuatu?"
"Keringat karena panas." Yu Tian menarik tangannya dan mengusapkannya ke jubah. "Hampir pun sudah cukup bagiku. Aku tidak datang untuk dipuji."
Tetua Shen mendengus pelan, dan sudut bibirnya bergerak sedikit, entah menahan senyum atau kesal. Ia mencoret gulungannya dan melambaikan tangan. "Lulus sebagai murid luar. Berikutnya."
Yu Tian menuruni tangga aula dengan langkah malas. Ia bisa merasakan satu tatapan menempel di punggungnya, dingin dan teliti, dan ia tidak menoleh sekalipun sampai tiba di ujung lapangan.