Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARGA SEORANG SUBJEK
Anaxa terpaku melihat dosennya yang kini berjalan mendekati dirinya. Lalu berdiri sambil melipat kedua lengannya di dada. Sorot matanya yang tajam dan dingin menyorot ke Anaxa, membuat Anaxa merasa terintimidasi
"Kamu belum cabut laporan pelanggaran etika nya." Ucap Aglaea, tetapi membuat Anaxa seketika tersulut emosi.
"Ibu kira saya bisa mencabutnya? Ponsel saya rusak. Kaki saya patah. Pinggul saya cidera. Apakah ibu bodoh dan tak bisa lihat kondisi saya?" Nada bicara Anaxa naik beberapa tingkat. Sedangkan Aglaea tetap diam.
"Kalau begitu, teman-teman mu akan terseret lebih dalam lagi ke—"
"Dengan senang hati saya akan menyeret penelitian ilegal tersebut sampai ke neraka!" Ucap Anaxa. Matanya berkilat penuh amarah
Aglaea mengatupkan mulutnya setelah perkataannya di sela oleh Anaxa.
"Jika itu mau mu..." Aglaea merogoh sesuatu dari tas tentengan kemudian menyodorkan dua amplop coklat ke Anaxa.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Anaxa menerima amplopnya. Rasanya sangat enggan untuk membuka amplop setelah bermimpi buruk tentang laporan observasi.
"Dan ini semua. Juga untukmu" Ucap Aglaea yang tadinya melangkah menjauhi ranjang Anaxa dan kemudian kembali menyeret dua tas ke dekat Anaxa.
Pria itu hanya menatap kebingungan melihat kedua tas itu. "Apa ini?"
Aglaea membuka resleting salah satu tasnya dan menunjukkan isinya ke Anaxa. Dan Anaxa melihat banyak sekali bundelan uang disana.
"Berapa..." Ucap Anaxa setelah terdiam sejenak
“Satu koma dua lima miliar.” Dan ucapan Aglaea sukses membuat mata Anaxa melebar karena terkejut.
"Ibu serius?!"
Aglaea tidak menjawab. Dia hanya beranjak mundur berniat untuk meninggalkan Anaxa. Namun sebelum Aglaea hilang dari pandangan Anaxa, dosen perempuan itu berkata “Data penelitian sudah mencapai kesimpulan. Tingkat keberhasilan eksperimen hampir sempurna. Peran Anda sebagai subjek sudah tidak diperlukan."
"Krieet!"
Bersamaan dengan bunyi pintu tertutup, air mata langsung mengalir membasahi pipi Anaxa. Kalimat terakhir Aglaea, kini benar-benar menghancurkan hidupnya.
Dirinya benar-benar jadi subjek yang tidak berguna. Bahkan dia sudah dibuang oleh orang yang meneliti nya. Dan hidupnya seakan-akan dihargai oleh uang.
"Aghh haghhh...." Anaxa menangis dengan pilu. Dirinya bahkan menancapkan kukunya ke ranjang rumah sakit akibat tidak kuat menahan rasa sakit yang dialaminya
Entah kebetulan atau apapun itu, pintu ruang rawat terbuka. "Hello Anaxa, lagi apa— loh Anaxa! Kamu nangis kenapa." Ribka dengan panik melangkah mendekati Anaxa sambil mendorong tiang infus nya.
Bukannya menjelaskan, tangis Anaxa semakin pecah. Kini, dirinya yang sedang berada di titik paling rentan dalam hidupnya, saat dilihat oleh orang lain malah merasa jauh lebih hancur.
"Anaxa..."
Namun Anaxa tidak memberi respon. Dia masih menangis hebat. Mau tak mau Alya bermaksud mencari tahu penyebab utama dari tangisan Anaxa.
Mata Ribka pertama kali jatuh ke dua tas besar tergeletak di lantai. Ribka memeriksa salah satunya dan sangat terkejut ketika mendapati uang cash dalam bundle yang banyak sekali
"Ini uang siapa, Anaxa? Sebanyak ini?"
"Haghhh... Bu Aglaea berikan itu untukku... Sebagai kompensasi menjadi subjek penelitian. Dan sekarang aku sudah tak berguna lagi." Ucap Anaxa sambil tertawa miris. Namun air mata yang mengalir dari mata Anaxa malah menjadi semakin deras
"Subjek... Penelitian?" Ribka memiringkan kepalanya karena bingung.
Sedangkan Anaxa kini menggigit bibirnya untuk berhenti menangis dan mengerang kuat. Dia menjulurkan tangannya meraih dua amplop coklat. "Ini... Mungkin menjelaskan sesuatu."
Ribka menerima dua amplop yang Anaxa sodorkan. Dan wajah Ribka seketika menjadi serius. Dibuka nya amplop pertama. Berisi tulisan yang sukses membuat Ribka yang membacakan dan Anaxa yang mendengar nya sangat terkejut.
SURAT PEMBERHENTIAN SUBJEK PENELITIAN
Nomor: EVA/213/07/FIN-XXX
Perihal: Pemberhentian Status Subjek Penelitian
Yth.
Elrad, Anaxa Daemyn
Subjek Penelitian EVA-213 / Subject 07
Dengan hormat,
Berdasarkan hasil evaluasi akhir terhadap rangkaian observasi dan pengumpulan data dalam Program EVA-213, kami menyampaikan bahwa proses penelitian terhadap Saudara telah mencapai tahap akhir dan menghasilkan data yang dinilai telah memenuhi tujuan penelitian.
Dengan demikian, terhitung sejak surat ini diterbitkan, status Saudara sebagai Subjek Penelitian EVA-213 dinyatakan berakhir.
Kami menyampaikan apresiasi atas waktu, keterlibatan, dan dedikasi yang telah Saudara berikan selama proses penelitian berlangsung.
Kontribusi Saudara memiliki nilai penting terhadap keberhasilan penelitian dan penyelesaian keseluruhan proses observasi.
Sebagai bentuk penghargaan dan kompensasi atas keterlibatan Saudara selama penelitian, pihak penyelenggara memberikan kompensasi akhir sebesar Rp1.250.000.000,00 (satu miliar dua ratus lima puluh juta rupiah).
Selain kompensasi tersebut, Saudara juga diberikan akses terbatas ke Server EVA melalui perangkat laptop yang disediakan oleh pihak penelitian. Akses tersebut diberikan sebagai bagian dari fasilitas akhir penelitian dan dapat digunakan sesuai dengan ketentuan akses yang tercantum pada perangkat.
Setelah pemberhentian ini, Saudara tidak lagi memiliki kewajiban untuk mengikuti proses observasi maupun prosedur penelitian berikutnya, kecuali apabila terdapat ketentuan administratif yang secara khusus diberitahukan kemudian.
Kami mengucapkan terima kasih atas seluruh kontribusi Saudara selama menjadi bagian dari penelitian ini.
Hormat kami,
Pihak Penyelenggara EVA-213
Research Administration Division
"Ini... Serius?" Lidah Ribka terasa kelu. Sementara itu, dada Anaxa yang sudah merasa sesak, malah jadi lebih sesak lagi seolah ditancapkan beberapa pisau sekaligus.
"Hahahah...." Tawa Anaxa malah membuat dirinya lebih menyedihkan.
Ribka berniat membaca amplop kedua namun pergerakannya terhenti. Suara berisik Keenan, pintu yang terbuka, Alya yang tertawa, dan Dimas yang melontarkan pembicaraan random... Mereka yang baru masuk langsung tertegun setelah mendengar tangisan Anaxa. Mereka langsung cepat cepat menghampiri.
"King! Ada apa. Kamu kenapa nangis?"
"Ada apa Rib?" Tanya Dimas. Dan Ribka hanya menyodorkan kertas yang baru saja dibacanya ke Dimas. Sedangkan Alya, dia berusaha untuk menenangkan Anaxa.
Keenan yang melihat selembar kertas di tangan Dimas, langsung kepo dan curi-curi baca. Dan apa yang tertulis disana langsung membuat mereka berdua shock berat.
"King..."
Alya menoleh ke arah Keenan dan Dimas. Akhirnya Dimas mengulurkan kertas tersebut untuk Alya baca. Dan seperti dugaan, Alya juga shock saat membaca surat tersebut.
"Anaxa..."
Sekarang mereka bertiga tau alasan kenapa Anaxa bisa menangis sehebat itu.
Ribka kemudian menyodorkan amplop coklat lainnya kepada Dimas. “Ada lagi.”
Dimas menerima amplop tersebut dengan ragu. Setelah membukanya, beberapa lembar kertas berukuran besar langsung terlihat. Dimas menarik salah satunya dan membentangkan nya di atas meja kecil di samping ranjang.
“Ini... blueprint?” gumam Dimas.
Keenan ikut mendekat. “Blueprint apaan?”
Dimas mengamati denah tersebut lebih lama. Kemudian ekspresinya perlahan berubah. “Tunggu... Ini bukannya denah kos Anaxa?”
Anaxa yang masih menangis langsung mengangkat wajahnya. “Apa?”
Dimas menunjuk beberapa tanda pada blueprint. Di setiap sudut kamar terdapat kode kecil seperti CAM, MIC, TEMP, dan MOTION. Bahkan terdapat jalur kabel yang mengarah ke sebuah ruangan tersembunyi di bawah bangunan. “Ini bukan cuma kos...” ucap Dimas
Alya mengambil blueprint itu dan membaca keterangan di bagian bawah. RESIDENTIAL OBSERVATION FACILITY — SUBJECT 07
Di bawahnya terdapat tulisan:
CONTROL ROOM — EVA-213 CENTRAL MONITORING SYSTEM BEHAVIORAL DATA SERVER AI OBSERVATION UNIT
Keenan langsung terdiam. “Jadi... kamar Anaxa dipasang kamera?”
Dimas menggeleng. “Bukan cuma kamera.”
Anaxa menatap blueprint tersebut dengan tubuh yang mulai gemetar. “...Mereka bikin kosku jadi laboratorium?”