Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IDENTITAS ASLI DOMINIC DAN KEBANGKITAN SANG PENCIPTA
Lorong rumah sakit mendadak terasa semakin dingin.
Dominic berdiri mematung. Pistol yang sejak tadi digenggamnya perlahan turun. Ia menatap pria tua di hadapannya dengan tatapan tidak percaya.
“Ulangi perkataanmu,” katanya.
Pria tua itu tersenyum tipis.
“Kau mendengarnya dengan jelas. Namamu bukan Dominic Laurent. Nama yang diberikan kepadamu sejak lahir adalah Alexander Imanuel.”
Dominic menggeleng keras.
“Bohong! Aku dibesarkan oleh keluarga Laurent. Aku memiliki dokumen kelahiran, identitas, dan seluruh catatan hidupku!”
“Semua itu bisa dibuat, Dominic.”
“Siapa kau sebenarnya?”
Pria tua itu melangkah mendekat.
“Aku adalah Alexander Laurent. Orang yang membangun Proyek Imanuel dua puluh tahun lalu. Dan aku adalah kakek biologismu.”
Victoria mundur beberapa langkah.
“Kalau kau benar-benar Alexander Laurent, seharusnya kau sudah meninggal tiga puluh tahun lalu.”
Pria itu tertawa.
“Kematian adalah sesuatu yang sangat mudah dipalsukan bagi orang yang memiliki kekuasaan dan uang.”
Isabella memandang pria tersebut dengan ketakutan.
“Kalau Dominic adalah cucumu, lalu siapa sebenarnya ayahnya?”
Alexander menoleh kepadanya.
“Pertanyaan yang bagus, Isabella. Tetapi sebelum aku menjawabnya, kau harus mengetahui bahwa kelahiranmu juga bukan sebuah kebetulan.”
Isabella mengepalkan tangan.
“Aku sudah cukup mendengar kebohongan!”
“Justru karena itulah aku datang. Aku ingin memberikan seluruh kebenaran.”
Alexander mengeluarkan sebuah amplop dari jasnya.
Di dalamnya terdapat tiga lembar sertifikat kelahiran, masing-masing dengan nama yang berbeda.
Dominic mengambil dokumen tersebut.
Pada dokumen pertama tertulis:
NAMA BAYI: ALEXANDER IMANUEL.
Pada dokumen kedua tertulis:
NAMA BAYI: ISABELLA IMANUEL.
Sementara dokumen ketiga memperlihatkan nama:
NAMA BAYI: VICTORIA IMANUEL.
Dominic mengerutkan kening.
“Kenapa nama kami semua menggunakan nama keluarga Imanuel?”
Alexander tersenyum.
“Karena kalian bertiga adalah generasi penerus proyek yang kuciptakan.”
“Proyek apa sebenarnya?” tanya Victoria.
Alexander menarik napas panjang.
“Proyek Imanuel bukan sekadar eksperimen pertukaran identitas bayi. Tujuannya adalah menciptakan tiga pewaris yang memiliki hubungan dengan tiga keluarga paling berpengaruh. Aku ingin menyatukan kekayaan dan kekuasaan mereka dalam satu garis keturunan.”
Isabella menggeleng.
“Kami manusia, bukan alat untuk memenuhi ambisimu!”
“Dulu aku juga berpikir demikian. Tetapi kekuasaan membuat seseorang melihat dunia dengan cara berbeda.”
Dominic meremas dokumen di tangannya.
“Sekarang jawab pertanyaanku. Siapa ayah biologisku?”
Alexander menatapnya lama.
“Namanya Adrian Imanuel.”
Dominic terkejut.
“Adrian?”
“Ya. Pria yang selama ini kalian kenal sebagai Richard Laurent adalah ayah biologismu. Namun ada sesuatu yang lebih rumit. Adrian juga memiliki hubungan darah denganku.”
Victoria menyela.
“Lalu kenapa Dominic diberi identitas sebagai anak Richard dan Mariana?”
Alexander tersenyum dingin.
“Karena Mariana adalah perempuan yang kupilih untuk membesarkannya. Aku membutuhkan seorang ibu yang bisa menjaga rahasia.”
Dominic tertawa pahit.
“Jadi selama ini seluruh hidupku hanyalah sandiwara?”
“Tidak seluruhnya. Kasih sayang yang diberikan kepadamu mungkin nyata. Tetapi identitasmu memang sengaja disembunyikan.”
Dominic menatap lantai.
Ia merasa seluruh dunianya runtuh dalam satu malam.
Beberapa menit kemudian, Isabella menerima panggilan dari rumah sakit.
“Isabella, ibumu sudah sadar,” kata seorang perawat.
Isabella langsung berlari menuju ruang perawatan.
“Ibu!”
Clara terbaring dengan wajah pucat. Bahunya masih diperban, tetapi matanya sudah terbuka.
Ketika melihat Isabella, Clara berusaha tersenyum.
“Sayang…”
Isabella menggenggam tangannya.
“Ibu, kenapa Ibu tidak pernah mengatakan semuanya kepadaku?”
Air mata mengalir dari sudut mata Clara.
“Karena aku ingin kau memiliki kehidupan yang normal.”
“Tapi sekarang semuanya hancur. Aku tidak tahu siapa ayahku, siapa keluargaku, bahkan siapa orang yang selama ini berada di sampingku.”
Clara menggenggam tangan putrinya lebih erat.
“Dengarkan Ibu. Ada satu rahasia yang belum diketahui Alexander.”
“Apa itu?”
Clara menoleh ke arah pintu.
Dominic baru saja memasuki ruangan bersama Victoria.
“Dominic,” panggil Clara.
Pria itu mendekat.
“Ya, Clara?”
Clara memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
“Alexander berbohong tentang asal-usulmu.”
Dominic terdiam.
“Apa maksudmu?”
“Adrian memang ayah biologismu menurut catatan yang mereka buat. Tetapi bayi yang dilahirkan pada malam itu bukanlah bayi yang dibesarkan oleh Mariana.”
Victoria mengerutkan kening.
“Jadi pertukaran bayi itu benar-benar terjadi?”
Clara mengangguk.
“Ya. Tetapi bukan hanya satu bayi yang ditukar.”
Isabella membeku.
“Maksud Ibu, ada bayi lain?”
Clara mengangguk lemah.
“Pada malam kelahiran kalian, terdapat empat bayi. Bukan tiga.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Dominic menatap Clara.
“Siapa bayi keempat?”
Clara menutup mata sejenak sebelum menjawab.
“Bayi keempat adalah anak yang seharusnya menjadi pewaris utama keluarga Imanuel. Namun Alexander memerintahkan agar bayi itu disembunyikan.”
Victoria bertanya dengan suara bergetar.
“Di mana anak itu sekarang?”
Clara menatap Isabella.
“Dia berada lebih dekat daripada yang kalian bayangkan.”
Isabella terkejut.
“Apa maksud Ibu?”
Clara belum sempat menjawab ketika suara pintu terbuka.
Mariana masuk ke ruangan.
Wajahnya pucat. Kedua tangannya gemetar.
“Aku tidak bisa menyimpan rahasia ini lebih lama lagi,” katanya.
Dominic menoleh.
“Mariana?”
Mariana menangis.
“Maafkan aku, Dominic. Selama ini aku telah berbohong kepadamu.”
Dominic menghampirinya.
“Siapa sebenarnya aku?”
Mariana mengusap air matanya.
“Kau bukan anak yang kulahirkan. Aku memang pernah melahirkan seorang bayi laki-laki, tetapi bayi itu meninggal beberapa menit setelah dilahirkan.”
Dominic terdiam.
“Lalu aku?”
Mariana menundukkan kepala.
“Kau adalah bayi keempat yang dibawa Alexander ke ruang persalinanku.”
Isabella menutup mulutnya.
“Jadi selama ini…”
Mariana mengangguk.
“Ya. Aku membesarkanmu seolah-olah kau anak kandungku karena Alexander mengancam akan membunuh semua orang yang mengetahui pertukaran itu.”
Dominic mundur beberapa langkah.
“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”
“Karena aku takut kehilanganmu.”
Dominic tidak sanggup berkata-kata.
Sementara itu, di lantai dasar rumah sakit, Alexander sedang berbicara melalui telepon.
“Ya, semuanya mulai terbuka,” katanya.
Suara seseorang terdengar dari seberang.
“Apakah mereka sudah mengetahui keberadaan bayi keempat?”
Alexander tersenyum.
“Belum semuanya.”
“Kalau begitu, kita harus segera menghabisi mereka.”
Alexander menatap layar CCTV yang memperlihatkan ruang perawatan Clara.
“Tidak. Aku ingin mereka mengetahui kebenaran terlebih dahulu.”
“Kenapa?”
Alexander tertawa pelan.
“Karena ada satu hal yang belum mereka ketahui. Isabella dan Dominic bukan satu-satunya pewaris proyek ini.”
Tiba-tiba seseorang berdiri di belakangnya.
“Dan kau juga bukan satu-satunya orang yang menciptakan proyek tersebut.”
Alexander langsung membalikkan badan.
Seorang perempuan berpakaian hitam berdiri beberapa meter darinya.
Wajahnya tertutup sebagian oleh masker.
Alexander terlihat sangat terkejut.
“Tidak mungkin…”
Perempuan itu melepas maskernya.
Wajah yang selama ini diyakini telah meninggal ternyata masih hidup.
“Selamat malam, Alexander.”
Alexander mundur.
“Helena?”
Perempuan itu tersenyum dingin.
“Dua puluh tahun kau mengira telah berhasil mengubur semua rahasia. Sayangnya, kau melupakan satu hal.”
“Apa?”
Helena mendekat.
“Akulah orang yang pertama kali menciptakan Proyek Imanuel. Dan malam ini, aku datang untuk mengambil kembali anakku.”
Alexander membeku.
Helena mengangkat sebuah foto bayi.
Di belakang foto itu tertulis satu nama.
VICTORIA IMANUEL.
Di ruang perawatan, Victoria tiba-tiba menerima pesan.
Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat.
Ibu kandungmu masih hidup. Dia sedang berada di rumah sakit.
Victoria membaca pesan itu berulang kali.
Wajahnya berubah pucat.
Isabella menghampirinya.
“Victoria, ada apa?”
Victoria perlahan mengangkat wajahnya.
“Aku rasa… perempuan yang baru saja muncul itu adalah ibuku.”
Dominic menatapnya.
“Siapa namanya?”
Victoria memperlihatkan foto yang dikirim bersamaan dengan pesan tersebut.
Clara langsung terkejut.
“Itu Helena…”
Isabella bertanya dengan suara pelan.
“Siapa Helena?”
Clara menatap mereka satu per satu.
“Perempuan yang selama ini mengendalikan Adrian, Alexander, dan seluruh Proyek Imanuel.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Dan dia adalah perempuan yang sebenarnya melahirkan Victoria.”
Tiba-tiba lampu rumah sakit padam.
Terdengar suara langkah kaki berlari di lorong.
Kemudian sebuah pengumuman terdengar melalui pengeras suara.
PERHATIAN! SELURUH PASIEN DAN PENGUNJUNG DIMINTA TETAP BERADA DI RUANGAN. TELAH TERJADI PENYUSUPAN DI AREA RUMAH SAKIT.
Dominic segera mengambil pistolnya.
Namun ketika ia menoleh ke tempat Victoria berdiri, perempuan itu sudah menghilang.
Di atas ranjang hanya tersisa sebuah kertas kecil.
Tulisan di dalamnya membuat Isabella gemetar.
Jangan mencariku. Aku akhirnya bertemu dengan ibu kandungku.
Di bagian bawah kertas terdapat satu kalimat tambahan.
JIKA KALIAN INGIN MENYELAMATKAN VICTORIA, TEMUKAN ANAK KELIMA.
Isabella menatap Clara.
“Ibu… bukankah tadi Ibu mengatakan hanya ada empat bayi?”
Clara memejamkan mata.
Air matanya kembali mengalir.
“Tidak, Isabella…”
Ia menggenggam tangan putrinya.
“Anak kelima adalah rahasia yang paling mengerikan dari Proyek Imanuel.”
Bersambung...
jangan lupa mampir kakk..🤭