Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Gerbang Balai Pengobatan
Langkah kaki Lin Wanru terhenti tepat di hadapan sebuah bangunan megah berlantai dua yang berdiri kokoh di sudut jalan utama Pasar Kecamatan Sungai Besi.
Bangunan itu jauh lebih terawat dibanding kios-kios di sekitarnya. Pilar kayu jati tua berwarna gelap diukir dengan detail ornamen klasik, dan papan nama berukir tinta emas tergantung megah di atas pintu masuk utama: Balai Pengobatan "Sumber Berkah".
Dari dalam bangunan itu, tercium aroma pekat rebusan akar ginseng, kulit kayu manis, dan berbagai jenis rempah kering yang menenangkan.
Para pasien berbusana rapi tampak keluar masuk dengan membawa bungkusan kertas obat di tangan mereka, dijaga oleh dua orang penjaga pintu berbadan tegap yang mengenakan seragam pengawal sipil yang bersih.
Bagi seorang pedagang kecil atau rakyat jelata berpakaian usang, melangkah masuk ke dalam balai pengobatan sebesar ini bukanlah hal yang mudah. Penjaga pintu biasanya akan langsung mengusir orang-orang kumuh yang dianggap hanya akan mengotori lantai atau mengemis di dalam.
Namun, Wanru tidak gentar sedikit pun. Ia merapikan sedikit ikatan kantong kain di bahunya, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan diri, lalu melangkah maju dengan postur tubuh lurus dan tatapan mata yang memancarkan keyakinan.
Begitu Wanru hendak melangkahkan kakinya melewati ambang pintu utama, salah seorang penjaga pintu berbadan kekar langsung menyilangkan tombak kayunya di depan dada Wanru, menghalangi jalannya.
"Hei, gadis kecil! Tempat apa ini yang kau datangi sembarangan?" bentak penjaga itu dengan nada suara merendahkan, seraya menatap compang-camping pakaian usang Wanru dari atas sampai bawah. "Balai Pengobatan Sumber Berkah bukan tempat bermain untuk anak-anak desa. Kalau mau meminta sedekah makanan, pergilah ke belakang dapur!"
Wanru tidak langsung marah atau membentak balik. Ia tahu, di dunia di mana kelas sosial ditentukan oleh pakaian dan penampilan, emosi sesaat hanya akan memperburuk posisinya.
Ia mengangkat dagunya sedikit, dan menatap lurus ke mata sang penjaga dengan senyuman tipis yang tenang.
"Aku tidak datang untuk meminta sedekah, Tuan Pengawal," jawab Wanru dengan nada suara yang jernih, tenang, dan bergemerincing jelas. "Aku datang untuk melakukan transaksi bisnis yang sangat menguntungkan bagi balai pengobatan ini."
Penjaga itu mendengus sinis, lalu tertawa kecil bersama rekannya. "Bisnis? Gadis kumuh sepertimu membawa barang apa untuk berbisnis? Jangan membuat kami tertawa. Cepat pergi sebelum aku menyeretmu keluar!"
Wanru menyipitkan matanya. Ia tahu ia tidak punya waktu untuk berdebat kusir di depan pintu. Alih-alih memohon, ia perlahan melonggarkan tali pengikat kantong kain di bahunya, lalu sedikit membuka bukaan kantong tersebut hingga aroma khas jamur hitam dan kesegaran ginseng liar muda menguar keluar menyapa indra penciuman siapa pun yang ada di dekat pintu.
"Aroma apa itu...?" gumam penjaga kedua yang tadinya diam, sambil mengendus-ndus udara dengan kening berkerut.
Wanru menarik keluar sebatang ginseng liar muda dengan akar serabut yang masih utuh dan bersih, lalu menunjukkannya tepat di bawah cahaya matahari pagi di hadapan kedua penjaga tersebut.
"Ginseng liar muda dari zona transisi pegunungan selatan, dan jamur hitam liar kualitas terbaik," ucap Wanru dengan suara berwibawa. "Apakah Tabib Kepala di dalam masih membiarkan orang yang membawa barang selangka ini diusir begitu saja di depan pintunya?"
Kedua penjaga itu terpaku seketika. Sebagai orang yang setiap hari bekerja di apotek obat terbesar, mereka sangat paham bentuk dan kualitas ginseng asli. Kulit akar yang kekuningan, aroma tanah hutan yang pekat, dan serabut yang utuh membuktikan bahwa itu bukan barang sembarangan.
Sikap arogan penjaga itu seketika melunak, digantikan oleh keraguan. "Ehm... tunggu sebentar di sini. Aku akan melaporkannya kepada Pengurus Toko," kata penjaga pertama dengan nada yang jauh lebih sopan, lalu bergegas masuk ke dalam bangunan.
Tidak butuh waktu lama bagi penjaga tersebut untuk kembali, ditemani oleh seorang pria paruh baya berbadan agak gempal, mengenakan jubah panjang sutra biru muda dengan cincin giok melingkar di ibu jarinya.
Pria itu adalah Tuan Gu, pengurus harian sekaligus penaksir obat senior di Balai Pengobatan Sumber Berkah.
Tuan Gu melangkah keluar pintu dengan tangan disembunyikan di balik lengan jubahnya, menatap Wanru dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang penuh perhitungan dagang.
"Nona muda, penjaga bilang kau membawa ginseng liar dan jamur hitam?" tanya Tuan Gu dengan suara serak namun terdengar tegas. "Tunjukkan barangnya. Jangan berani-berani mencoba menipu Balai Pengobatan Sumber Berkah, atau kau akan berurusan langsung dengan hukum wilayah ini."
Tanpa rasa terintimidasi, Wanru membuka lebar kantong kainnya dan menyerahkan batang ginseng serta beberapa lembar jamur hitam segar ke tangan Tuan Gu dengan gerakan yang sangat rapi.
Tuan Gu menerima barang tersebut. Ia langsung mengambil kacamata pembesar kecil dari saku jubahnya, mengamati setiap inci serat akar ginseng, meraba teksturnya, lalu mencium aromanya dengan saksama.
Semakin lama Tuan Gu mengamati, semakin lebar pula bola matanya. Sebagai penaksir profesional, ia tahu persis bahwa ginseng liar muda dengan kondisi segar dan tanpa cacat seperti ini sangat langka ditemukan di pasaran bebas.
Biasanya, barang-barang semacam ini sudah langsung dipesan khusus oleh para pejabat tinggi atau keluarga bangsawan istana.
"Gadis desa berpakaian compang-camping ini... dari mana dia mendapatkan barang kelas satu seperti ini?" batin Tuan Gu terkejut, namun ekspresi wajahnya segera ia ubah kembali menjadi dingin dan datar untuk menyembunyikan rasa tertariknya.
Tuan Gu meletakkan kembali ginseng itu ke atas meja kecil di samping pintu, lalu mendengus remeh.
"Hmm... lumayan," komentar Tuan Gu dengan nada suara yang sengaja direndahkan. "Tapi akarnya belum berusia ratusan tahun. Ini hanya ginseng liar muda kualitas menengah ke bawah. Dan jamur hitam ini... yah, cukup banyak ditemukan di hutan belakang desa. Tidak terlalu istimewa."
Mendengar taksiran merendahkan yang sengaja dibuat-buat itu, sudut bibir Wanru terangkat membentuk senyuman sinis tipis yang nyaris tak terlihat.
Sebagai mantan eksekutif puncak yang sudah sering menghadapi negosiator licik di meja rapat korporasi, Wanru langsung membaca taktik psikologis yang sedang dimainkan oleh sang pengurus toko. Ia sengaja menjelek-jelekkan kualitas barang di awal agar bisa membelinya dengan harga semurah mungkin.
Lin Wan melangkah maju setengah langkah, dan menatap tepat ke dalam mata Tuan Gu dengan sorot mata yang begitu tajam dan penuh keyakinan.
"Tuan Gu, Anda adalah penaksir senior di Balai Pengobatan Sumber Berkah yang terhormat," ucap Wanru dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk. "Apakah seorang profesional terhormat seperti Anda harus menutup sebelah mata demi menutupi kualitas kelas satu dari barang yang ada di tangan Anda?"
Bersambung...
😄😄😄😄😄🤣😄😄