Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Bel penutup sekolah yang berdering nyaring pada pukul tiga sore disambut dengan helaan napas lega oleh seluruh siswa SMA Tunas Bangsa, tak terkecuali Aurelia. Setelah melewati jam-jam pelajaran yang melelahkan—terutama karena ia harus berbagi bangku dan menahan diri agar tidak meledak emosinya setiap kali melirik ke arah Grayson—kini saatnya ia pulang ke rumah.
Aurelia buru-buru memasukkan buku-buku terakhirnya ke dalam tas ransel, berniat untuk langsung kabur dari kelas sebelum pemuda bermata amber itu sempat melirik atau mengajaknya bicara lagi.
"Ar, Lun, yuk pulang!" ajak Aurelia terburu-buru kepada kedua sahabatnya yang baru saja berdiri dari meja mereka.
"Wah, tumben kamu semangat banget mau pulang, Li. Biasanya juga masih ngobrol dulu di koridor," heran Aluna sambil merapikan letak tasnya.
"Lagi pengen cepat-cepat sampai rumah aja, gerah di kelas," elak Aurelia, padahal alasan utamanya adalah menghindari aura mencekam dari Grayson yang sejak tadi terus memperhatikannya dari sudut ekor mata pemuda itu.
Tanpa membuang waktu lebih lama, ketiga gadis itu berjalan berdampingan meninggalkan kelas menuju area parkir sepeda. Setelah berpamitan dengan Aluna dan Aruna yang dijemput oleh kendaraan umum dan ojek online, Aurelia segera mengambil sepedanya dari deretan rak parkir.
Lututnya yang sempat lecet karena kecelakaan kecil tadi pagi sudah diobati dengan plester tebal di UKS, sehingga saat ia mengayuh pedal sepeda, rasa perihnya sudah jauh berkurang meskipun sesekali masih terasa kaku.
Aurelia mengayuh sepedanya keluar dari gerbang sekolah dengan hati-hati. Suhu udara sore hari di kota itu terasa cukup bersahabat, angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya yang lelah. Ia memilih jalur jalan perumahan yang lebih sepi dan rindang agar bisa menikmati perjalanan pulang dengan tenang, berharap kejadian buruk tadi pagi tidak terulang kembali.
Namun, baru beberapa ratus meter ia meninggalkan area sekolah dan memasuki kawasan jalan raya perumahan elite menuju kompleks sederhananya, rantai sepeda mini berkeranjang rotan miliknya tiba-tiba terasa longgar dan bergeser.
Klek... kletak!
"Eh?" Aurelia mengerem sepedanya secara mendadak. Ia turun dari sadel, lalu melirik ke arah bagian bawah sepedanya. Sial, rantai sepedanya lepas dari gir utama dan tersangkut di antara jeruji besi.
Gadis itu mendengus pasrah sambil berjongkok di pinggir trotoar jalan yang cukup teduh di bawah pohon angsana. Jemarinya yang lentik mencoba meraba rantai besi yang berlumuran sedikit pelumas hitam. Baru saja ia berniat merapikannya, jemarinya langsung kotor dan ia menyadari kalau ia tidak membawa tisu basah atau kain perca di dalam tasnya.
"Duh, apes banget sih hari ini. Dari pagi keserempet, sebangku sama cowok nyebelin, sekarang rantai sepeda malah lepas," gerutu Aurelia pelan, meniup poninya yang sedikit basah oleh keringat.
Tiba-tiba, dari arah belakang, sebuah suara lembut bernada ramah menyapa pendengarannya, diiringi oleh suara decitan ban sepeda balap yang berhenti dengan mulus di dekatnya.
"Lagi kesusahan ya, Calista?"
Aurelia sontak mendongakkan kepalanya. Di hadapannya kini berdiri seorang pemuda tinggi berwajah bersih, mengenakan seragam sekolah yang sangat rapi lengkap dengan lencana ketua OSIS yang berkilau di dada sebelah kanannya. Senyuman manis terukir di wajah pemuda itu, menampilkan lesung pipi di sebelah kiri yang membuat penampilannya terlihat sangat karismatik sekaligus menenangkan.
Dia adalah Galang Pradana, siswa kelas XII-IPS 1 yang juga menjabat sebagai ketua OSIS teladan di SMA Tunas Bangsa. Tidak hanya itu, Galang ternyata adalah tetangga yang tinggal persis di blok sebelah rumah Aurelia di perumahan sederhana mereka. Keduanya sudah saling mengenal sejak lama karena sering berpapasan saat berangkat atau pulang sekolah, bahkan orang tua mereka kadang kala saling bertamu.
"Eh, Kak Galang..." sapa Aurelia agak kikuk, buru-buru berdiri dari jongkoknya sambil menyembunyikan telapak tangannya yang terkena pelumas hitam rantai di balik punggung rok abu-abunya.
Galang turun dari sepeda balap roadbike miliknya, meletakkan standar samping, lalu memperhatikan sepeda Aurelia yang tergeletak di atas trotoar. Pria itu tersenyum maklum.
"Rantainya lepas lagi ya? Sepeda kesayangan kamu ini kayaknya udah minta diservis total ke bengkel langganan tuh," ujar Galang dengan nada bercanda yang hangat.
"Iya nih, Kak. Tadi pas di tikungan agak ngebut dikit, eh tiba-tiba macet. Repot banget, tangan aku malah jadi kotor kena oli," keluh Aurelia jujur, memperlihatkan telapak tangannya yang sedikit menghitam dengan wajah cemberut yang menggemaskan.
Galang terkekeh pelan. Tanpa ragu, pemuda itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar tisu basah beraroma mint yang masih bersih, lalu mengulurkannya kepada Aurelia.
"Nih, pakai tisu basah aku dulu. Biar nggak kotor banget tangannya. Sini, biar Kakak yang bantu benerin rantainya. Dulu waktu SMP, Kakak jago banget bongkar pasang sepeda lipat adiknya Kakak."
"Eh, nggak usah repot-repot, Kak! Nanti tangan Kak Galang jadi ikut kotor lho, seragamnya juga masih bersih gitu," tolak Aurelia sungkan, merasa tidak enak merepotkan seorang ketua OSIS yang dihormati di sekolah.
"Udah, nggak apa-apa. Anggap saja ini bentuk solidaritas antar tetangga satu kompleks," jawab Galang mantap.
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Galang langsung berjongkok di samping sepeda Aurelia. Dengan cekatan dan tangan yang terbiasa terampil, pemuda itu menarik pelan rantai besi yang tersangkut, memutar pedalnya sedikit demi sedikit, hingga dalam hitungan detik rantai tersebut kembali terpasang dengan sempurna pada tempatnya.
Aurelia yang berdiri di sampingnya memperhatikan dengan tatapan kagum. "Wah... hebat banget, Kak. Padahal tadi aku udah coba berkali-kali tapi malah makin berantakan."
Galang berdiri sambil mengibas-ngibaskan kedua tangannya pelan, lalu mengambil tisu basah lain untuk membersihkan sisa-sisa pelumas di jarinya. Ia tersenyum ramah menatap Aurelia.
"Makanya, jangan terlalu sering ngelamun kalau di jalan. Oh iya, omong-omong soal jalanan, tadi waktu di sekolah Kakak sempat dengar gosip heboh anak-anak kelas sebelas. Katanya ada murid pindahan baru yang bikin onar di kelas kamu ya? Namanya kalau nggak salah... Grayson?"
Mendengar nama itu disebut, ekspresi wajah Aurelia seketika berubah. Senyuman cerianya langsung memudar, digantikan oleh decakan kesal di bibirnya.
"Duh, jangan sebut nama itu deh, Kak! Dia bukan cuma bikin onar, tapi emang biang masalah nomor satu!" keluh Aurelia blak-blakan, melupakan sejenak rasa sungkan nya kepada sang ketua OSIS. "Udah bawa motor ugal-ugalan, nyerempet aku pagi-pagi, nggak minta maaf, galak lagi, eh pas di kelas malah ditaruh duduk sebangku sama aku sama Pak Joko. Sumpah, hari ini benar-benar hari terburuk dalam sejarah sekolah aku!"
Galang mendengarkan curhatan panjang lebar itu dengan sabar. Alih-alih menertawakan, ia justru tersenyum hangat, merasa gemas melihat bagaimana Aurelia mengomel dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Wah, separah itu rupanya? Kalau butuh perlindungan dari ketua OSIS, bilang sama Kakak ya. Nanti Kakak tegur anak baru itu kalau dia berani macam-macam sama kamu di sekolah," gurau Galang berniat mencairkan suasana.
"Ih, Kak Galang malah becanda! Aku serius lho. Sorot mata anak itu tuh... aneh banget. Kayak serigala lapar yang mau mangsa orang. Sumpah, aku jadi parno sendiri," lanjut Aurelia, merapatkan tali ranselnya.
"Iya-iya, Kakak percaya. Tapi tenang aja, selama masih ada jam sekolah dan aturan ketat, nggak akan ada yang berani ganggu Aurelia Calista yang terkenal rajin dan sopan ini," puji Galang tulus, membuat pipi Aurelia seketika merona merah malu-malu.
Galang kemudian melirik jam tangan digital di pergelangan tangannya. "Udah hampir jam empat sore. Kalau kita lanjut ngobrol di sini terus, nanti Mama kamu di rumah bisa nyariin karena anaknya belum pulang-pulang."
"Eh, iya juga ya! Makasih banyak ya, Kak Galang, udah bantuin benerin rantai sepedaku," ucap Aurelia tulus sambil tersenyum manis.
"Sama-sama, Calista. Nah, berhubung sepeda kamu baru saja sembuh dari 'sakitnya', bagaimana kalau kita pulangnya barengan? Biar Kakak kawal dari belakang sampai depan gerbang rumah kamu. Jaga-jaga kalau rantainya kumat lagi di jalan," tawar Galang dengan ramah.
Aurelia mengangguk antusias. "Boleh banget, Kak! Yuk, jalan."
Kedua remaja itu akhirnya melanjutkan perjalanan pulang dengan bersepeda berdampingan di sepanjang jalan perumahan yang mulai diterpa cahaya kemerahan matahari sore. Obrolan ringan seputar kegiatan sekolah, tugas-tugas osis, hingga cerita lucu tentang guru-guru killer mengalir begitu saja di antara mereka, membuat suasana sore itu terasa sangat menyenangkan dan menenangkan bagi Aurelia.
Tanpa mereka sadari berdua, dari balik kaca spion sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di seberang jalan tikungan perumahan, sepasang bola mata berwarna amber terang tengah mengamati interaksi keakraban mereka dengan tatapan yang sangat gelap, dingin, dan penuh dengan bara api kecemburuan yang mematikan.
Grayson mengepal setir mobil sewaan yang dikendarainya dengan buku-buku jari yang memutih. Napasnya terhembus berat, menciptakan embun tipis di kaca mobil.
"Dekat banget sepertinya..." bisik Grayson dingin seorang diri di dalam kabin mobil yang senyap. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah seringai mengerikan. "Nikmati saja waktu luang kalian sore ini... karena mulai besok, tidak akan ada seorang pun yang boleh tersenyum ramah di dekat kamu selain aku, Aurelia."