"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Sepatu Pumps
Langkah kaki Zahira terasa begitu berat saat mendorong pintu kaca kedai kopi tempatnya bekerja. Aroma biji kopi yang sangrai dan kehangatan ruangan sama sekali tak mampu mengikis hawa dingin yang masih membungkus di relung dadanya.
Wajahnya yang pucat dan netranya yang sembap sama sekali tidak bisa menyembunyikan sisa ketegangan konflik tadi pagi.
"Ra? Kamu kenapa lagi? Muka kamu sudah kayak adonan kue yang gagal mengembang begitu," tegur Gisel, sahabat Zahira sekaligus putri dari pemilik kedai kopi tersebut. Gisel berjalan menghampiri Zahira yang sedang menyampirkan apron di tubuhnya.
Zahira memaksa sebuah senyuman tipis, mengibaskan tangannya pelan. "Nggak apa-apa, Sel. Cuma agak pusing aja, kurang tidur gara-gara sif semalam."
Gisel bersedekap tangan, menatap Zahira dengan tatapan penuh selidik yang tajam.
"Nggak usah bohong, Ra. Kita sudah berteman dari awal masuk kuliah. Tatapan mata kamu itu tajam bilang kalau kamu habis kena amuk 'Nyonya Besar' di rumah, kan? Apa lagi yang dia perbuat kali ini?"
"Sungguh, Gisel... aku cuma lelah," elak Zahira halus seraya meraih lap mikrofiber dan mulai menyapu debu halus di atas meja kasir yang baru saja buka. "Lagipula, sebentar lagi sidang skripsiku selesai. Aku cuma perlu bertahan sedikit lagi."
Di dekat mesin espresso, Ciki dan Hanum yang sedang menata cangkir-cangkir keramik ikut mencuri dengar. Mendengar percakapan itu, Ciki menghentikan aktivitasnya dan berjalan mendekati Zahira.
"Ra, maaf ya kalau aku ikut campur," potong Ciki dengan raut wajah prihatin. "Tapi cerita kamu tentang ibu tiri kamu itu udah di luar batas. Daripada kamu batin terus tinggal di sangkar emas, tapi beracun begitu. Kenapa kamu nggak pindah saja? Kosan tempatku masih ada satu kamar kosong, harganya murah kok!"
"Iya, Ra! Atau kalau mau, di kosanku juga bisa bertiga sama aku dan sepupuku," timpal Hanum dari balik meja bar. "Kamu itu udah mau lulus, tinggal nunggu jadwal sidang. Ngapain masih bertahan di rumah yang cuma bikin kamu makan ati?"
Zahira menghentikan sapuan lapnya, menghembuskan napas pelan. "Terima kasih banyak, Ciki, Hanum. Tapi nggak semudah itu... Papi baru saja pulang hari ini. Aku nggak mau nambah beban pikiran Papi."
Gisel memutar bola matanya gemas, tidak puas dengan jawaban Zahira yang terlalu banyak mengalah. Tanpa meminta persetujuan, Gisel merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan langsung men'dial sebuah nomor.
"Gisel? Kamu mau telepon siapa?" tanya Zahira cemas.
"Bunda," sahut Gisel singkat saat panggilan terhubung.
"Halo, Bunda? Ini Gisel. Bunda, paviliun kecil di belakang rumah kita yang kosong itu masih ada, kan? Yang biasa dipakai tamu Bunda? Gisel mau minta izin, boleh nggak Zahira tinggal di sana? Dia butuh tempat tinggal yang tenang buat persiapan sidang skripsi... Iya, Bunda. Zahira temen Gisel yang rajin itu... Wah, serius Bun?! Makasih ya, Bunda sayang!"
Gisel mematikan sambungan telepon dengan wajah berbinar, lalu menatap Zahira penuh kemenangan.
"Masalah selesai! Bunda mengizinkan kamu tinggal di paviliun belakang rumahku. Bebas sewa sampai kamu dapat pekerjaan tetap setelah lulus nanti. Nggak ada alasan menolak lagi, Ra!"
Mata Zahira berkaca-kaca menatap ketulusan Gisel dan dukungan dari Ciki serta Hanum. Di saat keluarga kandung dan ibu tirinya memperlakukannya bagai benalu, justru teman-temannya inilah yang menjadi tempat bersandar.
..
.
Sore harinya, saat jeda pergantian sif malam dan kedai mulai tenang karena waktu operasional mereka hampir usai, Zahira bersiap-siap untuk pulang. Namun, begitu ia mengaitkan tas kainnya di bahu, Ciki dan Hanum menghadang langkahnya di pintu belakang.
"Eits! Mau ke mana, Mba Barista?" goda Hanum seraya melambaikan beberapa lembar uang tunai. "Hari ini kan tanggal gajian! Kita wajib merayakan dompet yang sedikit menggemuk ini ke mall!"
"Iya, Ra! Pokoknya tidak ada penolakan!" tegas Ciki sambil menarik lengan kanan Zahira.
Zahira menggeleng cepat, raut cemas seketika membayang di wajahnya. "Jangan hari ini ya? Aku takut Mami marah besar kalau tahu aku nggak langsung pulang. Apalagi Papi pulang siang ini..."
"Ra, sekali-kali kamu harus tegas sama hidup kamu sendiri," potong Ciki lembut namun mantap.
"Kamu udah kerja keras sebulan penuh, berdiri berjam-jam, ditindas di rumah. Kamu berhak membahagiakan diri sendiri, minimal beli sepatu baru buat gantikan sepatu kusam kamu itu."
Melihat desakan hangat dari kedua temannya, pertahanan Zahira akhirnya luluh. Ia mengangguk pelan, membiarkan dirinya diseret menuju pusat perbelanjaan megah yang tak jauh dari lokasi kedai kopi.
.
.
Suasana mall begitu ramai oleh lampu-lampu etalase yang berkilauan. Riuh suara pengunjung dan alunan musik dari toko-toko papan atas mengisi udara. Zahira, Ciki, dan Hanum berjalan menyusuri koridor lantai dua.
Saat melintas di depan sebuah outlet busana mewah berlabel desainer internasional, langkah Ciki mendadak terhenti. Matanya memicing menatap ke dalam toko.
"Eh, Ra... Coba deh kamu lihat ke dalam sana. Bukannya itu adik tiri kamu yang sok kaya itu?" bisik Ciki seraya menunjuk dengan dagunya.
Zahira menyipitkan mata. Di dalam toko berinterior elegan itu, tampak Bianka sedang tertawa manja bersama tiga orang teman sosialitanya. Tangan Bianka menggenggam beberapa paper bag bermerek, sementara seorang pegawai toko tampak membawakan beberapa gaun mahal di belakangnya.
"Iya, itu Bianka," gumam Zahira pelan, dadanya tersentil perih mengingat bagaimana tadi pagi Bianka mengamuk hanya karena sekeping cangkang telur, sementara sore ini gadis itu menghamburkan puluhan juta rupiah tanpa beban.
"Duh, rasanya aku ingin masuk terus menyindir anak itu!" cercah Hanum gemas. "Uangnya hasil meras orang tua, tapi lagaknya kayak putri raja!"
"Jangan, Hanum, Ciki... Tolong jangan cari masalah," bisik Zahira panik, langsung memegang lengan kedua temannya. "Kita ke sini mau senang-senang, kan? Tolong abaikan saja. Aku cuma mau cari toko sepatu yang murah."
Dengan cepat Zahira memalingkan wajah dan menarik kedua temannya menjauh dari outlet tersebut menuju sebuah toko sepatu lokal berkategori menengah di seberang hall.
Zahira bernapas lega saat berhasil menghindar. Ia mulai menyusuri rak-rak yang memajang berbagai jenis alas kaki, mencari pengganti sepatu kets kusamnya yang sudah robek di bagian sol.
Bruk!
Karena kurang fokus saat membalikkan badan, bahu Zahira tak sengaja berbenturan dengan dada bidang seorang pria.
"Ah, maaf! Maafkan saya, saya tidak sengaja!" ucap Zahira refleks menunduk cemas, merapikan jilbabnya yang sedikit bergeser.
"Tidak apa-apa, saya yang harusnya minta maaf karena berdiri terlalu dekat rak," sahut sebuah suara bariton yang terdengar tenang dan hangat.
Zahira mendongak. Di hadapannya berdiri seorang pria muda bernyawa elegan dengan kacamata berbingkai tipis.
Pria itu mengenakan kemeja kasual yang tergulung rapi hingga siku. Di sampingnya, berdiri seorang pria lain dengan gaya yang lebih santai, membawa beberapa kotak sepatu di tangannya.
Pria berkacamata itu menatap Zahira sejenak, lalu pandangannya beralih ke rak sepatu wanita di samping mereka. Tatapannya menyorotkan binar gagasan.
"Permisi, Mbak..." ujar pria berkacamata itu sopan.
"Kalau boleh saya minta tolong sebentar? Saya dan teman saya sedang kebingungan memilih sepatu untuk hadiah tante saya. Usianya sekitar 58 tahun, beliau wanita yang sangat anggun tapi juga aktif. Kira-kira dari sudut pandang wanita, sepatu mana yang cocok dan nyaman dipakai?"
Ciki dan Hanum saling sikut di belakang Zahira, terkikik pelan melihat ketampanan pria di hadapan mereka. Zahira yang sempat tertegun sejenak, segera menguasai dirinya. Ia menatap deretan sepatu di rak, mencoba membayangkan sepatu yang paling ideal.
Zahira kemudian melangkah dua tindak dan menunjuk sepasang sepatu pumps bertumit rendah berwarna hitam elegan dengan aksen bros kecil berwarna perak di bagian depannya.
"Kalau boleh memberi saran, yang ini sepertinya sangat cocok, Mas," tutur Zahira dengan suara lembut dan tutur kata yang santun.
"Modelnya klasik dan tidak terlalu mencolok, tapaknya juga empuk jadi tidak akan membuat kaki cepat lelah untuk wanita usia 58 tahun. Warnanya hitam, sangat netral kalau beliau ingin memadukannya dengan kebaya atau gaun formal."
Pria berkacamata itu mengambil sepatu pilihan Zahira, mengamatinya dengan cermat, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang seketika mengubah garis wajah tegasnya menjadi begitu hangat.
"Pilihan yang sangat bagus dan peka," puji pria itu tulus, menatap mata Zahira. "Terima kasih banyak atas sarannya, Mbak...?"
"Zahira," jawab Zahira singkat dan sopan.
"Terima kasih banyak, Mbak Zahira. Bantuan anda sangat berarti," senyum pria berkacamata itu mengembang, lalu ia menoleh pada temannya. "Kita ambil yang ini saja."
Setelah melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih sekali lagi, kedua pria itu melangkah menuju meja kasir.
Zahira memperhatikan punggung pria berkacamata itu menghilang di balik kerumunan pembeli. Untuk sejenak, rasa sesak yang menghimpit dadanya sejak pagi terobati oleh kehangatan interaksi singkat yang tulus tersebut.
"Ehem! Ganteng banget, Ra! Mana sopan banget lagi!" bisik Ciki menggoda sembari menyikut pinggang Zahira.
Zahira tertawa kecil, menggelengkan kepalanya pelan. "Sudah, ah. Ayo balik fokus, kalian bilang mau membantuku memilih sepatu baru?"
Ketiganya pun kembali menyusuri deretan rak, mengumpulkan tawa kecil yang perlahan menyembuhkan luka di hati Zahira, tanpa menyadari bahwa roda takdir dalam hidupnya baru saja mulai berputar ke arah yang sama sekali tidak ia duga.