Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Makan Malam
Keesokan harinya...
Udara sore di kawasan perumahan elit tempat Aris tinggal terasa begitu tenang, namun tidak dengan atmosfer di dalam mansion mewah tersebut.
Sejak pukul tiga sore, staf katering profesional berdatangan membawa peralatan makan perak mewah, taplak meja sutra putih bersih, serta berbagai bahan makanan kelas atas atas perintah langsung dari Lidya Prakasa.
Ibu kandung Aris itu tidak main-main. Meskipun malam ini adalah makan malam yang diadakan di rumah Aris, Lidya mengerahkan koki pribadi keluarga Prakasa untuk memastikan setiap hidangan tersaji sempurna demi menyambut "calon menantu" mereka secara resmi.
Di kamar utama lantai dua, Raya berdiri di depan cermin rias berukuran besar. Ia mengenakan sebuah gaun midi elegan berwarna biru tua berpotongan klasik yang dibelikan khusus oleh Aris beberapa hari lalu.
Rambut hitam gelombangnya ditata rapi setengah ke belakang, memperlihatkan anting-anting mutiara kecil yang berkilau di telinganya.
Meskipun penampilannya tampak memukau, batin Raya berkecamuk hebat. Tangannya yang memegang sebotol parfum sedikit bergemetar.
"Aris..." panggil Raya lirih saat melihat bayangan kekasihnya melangkah masuk dari arah kamar mandi melalui pantulan cermin.
Aris mengenakan setelan jas hitam formal tanpa dasi, membuat penampilannya tampak lebih santai namun tetap memancarkan wibawa tinggi.
Begitu mendengar suara Raya, Aris segera mendekat. Ia menyadari kecemasan di wajah wanita itu, lalu meletakkan kedua tangannya di atas bahu Raya, menatapnya melalui cermin dengan senyuman menenangkan.
"Ada apa, Raya? Kamu gugup?" tanya Aris.
Raya membalikkan tubuhnya dan menatap Aris dengan mata bening yang menyiratkan keraguan. "Aris, aku sangat cemas... Orang tuamu adalah orang-orang terpandang, petinggi korporat besar. Apakah kehadiranku... dan statusku yang tidak ingat apa-apa ini benar-benar bisa diterima oleh mereka? Tadi siang mamamu membawa koki sendiri, menyiapkan semuanya secara megah... Aku takut aku berbuat salah atau mengecewakan mereka."
Mendengar kata-kata itu, dada Aris berdesir ngilu. "Kamu bukan hanya diterima, Raya... tapi kamu adalah wanita yang dunianya telah aku hancurkan," batin Aris pilu.
Namun, Aris segera memasang senyuman paling hangat yang ia miliki. Ia kemudian merengkuh jemari Raya yang dingin ke dalam genggamannya.
"Jangan berpikiran yang bukan-bukan, Raya," ucap Aris penuh keyakinan. "Papa dan Mama sudah melihat sendiri betapa bahagianya aku hidup bersamamu. Mereka datang malam ini murni untuk menyambutmu dan Cyla secara terbuka. Tidak ada yang perlu kamu takuti. Ada aku di sini."
Raya menarik napas panjang dan mencoba meredakan debar di dadanya, lalu mengangguk perlahan. "Baiklah... Terima kasih, Aris."
Pukul tujuh malam tepat, mobil sedan mewah berlogo keluarga Prakasa memasuki pelataran parkir mansion. Pak Baskoro dan Lidya Prakasa turun dengan anggun, disambut langsung oleh Aris dan Raya di teras depan.
"Selamat datang, Papa, Mama," sapa Aris sopan, sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Raya mengikuti langkah Aris dengan gugup namun penuh rasa hormat. Ia membungkuk perlahan dan menyalami tangan Lidya serta Baskoro. "Selamat malam, Pa, Ma. Terima kasih sudah datang berkunjung."
Lidya menatap wajah Raya lekat-lekat selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis, senyuman formal yang tampak begitu anggun namun menyimpan ribuan rahasia di balik tatapan matanya.
"Selamat malam, Raya. Penampilanmu malam ini sangat manis," puji Lidya dengan nada suara yang tenang dan berwibawa.
"Terima kasih, Bu... Maksud saya, Ma," ralat Raya cepat, pipinya merona merah karena salah tingkah, hingga mengundang kekehan kecil dari Pak Baskoro.
"Sudahlah, ayo kita masuk. Aromanya sudah sangat menggugah selera," ujar Pak Baskoro ramah, mencairkan sedikit ketegangan di udara.
Makan malam dilangsungkan di ruang makan utama yang didekorasi dengan lilin aromaterapi di atas meja panjang bermarmer. Cyla sudah diberi makan lebih awal oleh Suster Santi dan kini tertidur lelap di kamarnya, hingga membuat meja makan hanya diisi oleh empat orang, yakni Aris, Raya, Pak Baskoro, dan Lidya.
Hidangan pembuka berupa sup jamur truffle dan hidangan utama pan seared wagyu steak tersaji sempurna. Pelayan mondar-mandir menuangkan red wine berkualitas tinggi ke dalam gelas kristal.
Di permukaan, suasana makan malam itu tampak berjalan dengan sangat hangat. Pak Baskoro sesekali melempar obrolan ringan seputar perkembangan proyek properti Aris, sementara Raya berusaha menjadi pendengar yang baik sekaligus menuangkan air atau merapikan piring kecil di dekatnya dengan sopan.
Namun di balik senyuman ramah dan gemerincing alat makan perak itu, tersimpan ketegangan batin yang luar biasa hebat di antara orang-orang yang duduk di meja tersebut.
Bersambung..