NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERNIKAHAN DI ATAS LUBANG DOSA

Pintu kayu jati kamar VIP 808 terbuka lebar, membelah kesunyian malam dengan dentuman yang memekakkan telinga.

"Ammar! Abah sudah sampai di depan hall, mari kita..."

Kalimat itu terputus di udara. Sosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan jubah putih bersih, sorban yang melilit anggun di kepalanya, serta janggut beruban yang rapi membeku di ambang pintu. Di belakangnya, berdiri dua orang pengawal pribadi berjas hitam dan seorang pengurus hotel berpakaian rapi.

Mata tua nan teduh milik pria bertongkat kayu itu membelalak hebat. Tangannya yang memegang tasbih kayu cendana mendadak gemetar.

Di depan matanya, terhampar sebuah pemandangan yang menghancurkan seluruh kehormatan keluarga: Habib Ammarullah putra tunggalnya, lulusan Al-Azhar Kairo yang baru dua hari tiba di Indonesia, seorang Habib muda yang dipandang sebagai simbol kesucian dan ilmu sedang berhimpitan di atas lantai bersama seorang wanita bergaun merah super ketat yang memperlihatkan paha dan bahunya secara terbuka.

"A-Abah...?" Suara pria di atasku mendadak bergetar hebat.

Habib Ammarullah segera mendorong tubuhnya bangkit dengan panik. Wajahnya yang tampan kini pucat pasi, keningnya dibanjiri keringat dingin. Dengan tangan yang gemetar, ia merapatkan jubah mandinya, lalu bersujud berlutut di kaki pria bersorban itu.

"Abah! Demi Allah, ini tidak seperti yang Abah lihat! Ini... ini fitnah, Bah! Wanita ini tiba-tiba ada di dalam kamar!" jerit Ammar dengan suara menahan tangis. Keringat dingin menetes dari pelipisnya, membahasahi karpet hotel.

Aku ikut bangkit berdiri dengan susah payah. Tumit sepatu hak tinggiku rasanya hampir patah. Rambutku berantakan, dan gaun merahku tersingkap hingga paha atas. Aku menatap pria tua bersorban itu dengan tatapan bingung sekaligus takut. Abah? Habib Ammarullah?

Seketika dadaku menghantam kenyataan pahit yang mengerikan. Pria tampan yang tadi kuhina sebagai 'pria hidung belang sok suci' bukanlah pelanggan kelab malam. Dia adalah seorang Habib! Seorang keturunan Nabi yang sangat dihormati!

"Astaghfirullahal'adzim... Astaghfirullahal'adzim..."

Pria tua yang dipanggil Abah itu melangkah masuk ke dalam kamar. Langkah kakinya berat, menyeret tongkat kayunya dengan tangan yang gemetar hebat. Wajahnya yang biasa dipenuhi ketenangan kini memerah padam, menyiratkan duka dan amarah yang amat dalam. Air mata perlahan menetes dari sudut matanya yang keriput, membasahi janggut putihnya.

"Ammar..." suara Abah terdengar sangat dalam, melengking hampa, dan sarat akan kekecewaan yang tak tertahankan. "Kamu... anak yang Abah didik belasan tahun di tanah para nabi... kamu yang digadang-gadang akan memimpin pesantren keluarga... melakukan perbuatan hina ini di kamar hotel?"

"Tidak, Bah! Demi Allah, tidak!" Ammar memeluk kaki Abahnya, menangis tersedu-sedu. Pria gagah berotot itu kini tampak seperti anak kecil yang kehilangan arah. "Ammar tidak menyentuh wanita ini sama sekali! Ammar baru selesai mandi, pintu tidak terkunci, lalu wanita ini masuk secara tiba-tiba! Abah harus percaya sama Ammar!"

Abah mengalihkan pandangannya tajam ke arahku. Tatapan mata tua itu tidak memancarkan kebencian mesum seperti pria-pria yang biasa kutemui, melainkan sebuah sorot mata yang begitu suci, berwibawa, dan sangat terluka.

"Siapa kamu, Nak?" tanya Abah dengan suara bergetar. "Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamar putraku?"

Aku membisu. Tenggorokanku terasa kering bagai padang pasir. Seluruh keberanian dan kepura-puraanku sebagai 'Nayla' si kupu-kupu malam mendadak runtuh tak berbekas. Di hadapan kesucian pria tua ini, aku merasa seperti kotoran paling hina di muka bumi.

"Saya... saya Nayla," jawabku dengan suara sangat pelan. "Saya... dikirim dari agen untuk melayani pemesan kamar 808..."

"Kamar 808?!" Pengurus hotel yang berdiri di pintu mendadak berseru kaget. Pria berpakaian rapi itu memeriksa tablet digital di tangannya dengan wajah pucat pasi. "M-mohon maaf sebesar-besarnya, Syekh! Ini... ini kesalahan sistem kami! Pesanan untuk layanan kupu-kupu malam dari pihak luar seharusnya untuk kamar 808-B di gedung wing barat! Kamar VIP 808 di gedung utama ini adalah kamar reservasi khusus atas nama Habib Ammarullah!"

Kesalahan sistem. Salah kamar.

Satu kalimat itu menghantam kesadaranku bagai petir di siang bolong. Suasana kamar mendadak hening mencengkeram. Mami Rosa... atau pihak hotel... telah melakukan kesalahan fatal. Dan kesalahan bodoh itu kini telah menghancurkan dua kehidupan dalam satu malam.

Ammar mendongak dengan mata memerah, menatap Abahnya. "Abah dengar kan?! Ini salah kamar! Ammar tidak bersalah, Bah! Ammar tidak pernah memesan wanita ini!"

Namun, Abah tidak tersenyum lega. Pria tua itu justru memejamkan matanya erat-erat. Dua bulir air mata kembali menetes.

"Pengawal," panggil Abah lirih.

"Siap, Syekh!" kedua pria berjas hitam di pintu maju satu langkah.

"Tutup pintu. Pastikan tidak ada orang lain, wartawan, atau siapapun di koridor ini yang melihat kejadian ini. Ambil seluruh CCTV di lantai ini."

"Baik, Syekh!"

Pintu kamar VIP 808 kembali ditutup rapat, mengunci kami dalam sebuah persidangan takdir yang mencekam. Abah berjalan perlahan menuju sofa, mendudukkan tubuh tuanya yang lelah.

"Ammar," ucap Abah dengan nada yang sangat berbobot. "Kamu tahu siapa kita. Kamu tahu garis keturunan yang kamu sangga di atas pundakmu. Kamu adalah seorang Sayyid, seorang Habib. Jika ada satu saja mata luar yang melihat kamu berada di dalam kamar bersama wanita berpakaian kurang bahan ini, jika foto kalian tersebar... bukan cuma namamu yang hancur. Nama Rasulullah yang ada di dalam darahmu akan tercoreng!"

"Tapi Ammar dijebak oleh keadaan, Bah..." bisik Ammar pasrah.

Abah mengabaikan pembelaan Ammar, lalu menatapku. "Kamu... menjual dirimu untuk uang, Nak?"

"Iya," jawabku jujur, mencoba menegakkan kepala meski dadaku sesak luar biasa. "Saya butuh uang. Ibu saya sakit jantung dan kami terlunta-lunta di jalanan karena utang judi ayah saya. Saya butuh uang untuk makan adik saya!"

"Ammar," panggil Abah tegas tanpa ragu lagi. "Malam ini... sebelum fajar menyingsing... kamu harus menikahinya."

BLAR!

"APAA?!" jeritku dan Ammar secara bersamaan.

"Abah gila?!" jerit Ammar tak percaya. "Menikahi wanita ini?! Dia wanita penghibur, Bah! Dia kupu-kupu malam!"

"Jaga bicaramu, Ammar!" bentak Abah tegas. "Nasi sudah menjadi bubur. Satu-satunya cara menyelamatkan marwah keluarga dan menjaga wanita ini dari kebinasaan adalah dengan pernikahan!"

"Tapi aku belum pernah disetubuhi pria manapun!" potongku keras, tak terima dihina. Air mata rasa terhina pecah di pipiku. "Aku pakai obat tidur untuk semua pelangganku! Aku cuma butuh uang mereka! Aku gak pernah nyerahin tubuhku buat siapapun!"

Abah tersentak mendengar pengakuanku. Ada kilatan haru di mata tua itu. "Dia masih menjaga kehormatan terbesarnya di tengah neraka hidupnya, Ammar. Pernikahan ini akan tetap dilaksanakan secara siri malam ini juga. Kamu akan membawanya pulang, bertangung jawab atas hidupnya, dan melunasi seluruh utang keluarganya."

Ammar memejamkan mata rapat-rapat, mengangguk pasrah karena tak mampu mendurhakai Abahnya. Abah kemudian menatapku, "Bagaimana denganmu, Aisyah? Kamu mau menerima pernikahan ini?"

Aku membisu sejenak. Menikah dengan Habib yang membenciku? Tapi... membayangkan Ibu yang terbatuk darah di semen dingin dan Awan yang kelaparan... aku tak punya pilihan.

"Saya mau," jawabku dingin. "Tapi ada syaratnya."

Ammar menoleh menatapku dengan tatapan tajam dan penuh permusuhan. "Syarat? Wanita seperti kamu berani mengajukan syarat di depan keluarga saya?!"

"Ammar, diam," potong Abah tenang. "Katakan, Aisyah. Apa syaratmu?"

Aku menatap Abah dan Ammar bergantian dengan pandangan lugas.

"Pertama, jangan pernah paksa aku untuk menggunakan hijab atau mengikuti aturan agama kalian. Aku sudah lama tidak percaya Tuhan dan aku tidak mau dipaksa berpura-pura menjadi wanita solehah," tegasku tanpa ragu.

Ammar mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Mata cokelatnya memancarkan kemarahan luar biasa mendengar kalimat kufur itu keluar dari mulut calon istrinya.

"Lalu apa syarat keduamu?" tanya Abah, wajahnya tetap tenang meski ada duka tersirat di matanya.

"Kedua, hubungan pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat dari publik. Jangan ada satu orang pun di luar ruangan ini yang tahu bahwa aku adalah istri seorang Habib. Aku tidak mau hidupku diusik, dan aku yakin kalian juga tidak mau nama besar kalian tercoreng karena punya istri mantan cewek kelab," lanjutku tajam.

Abah mengangguk pelan. "Baik. Dua syaratmu Abah terima. Pernikahan ini akan dirahasiakan, dan tidak akan ada paksaan dalam agama. Biar kebaikan yang mengetuk hatimu sendiri kelak."

Ammar menghembuskan napas kasar. Pria itu melangkah maju, berdiri tepat di hadapanku dengan aura ketegangan yang sangat dingin. Ia menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan.

"Sekarang giliran saya," suara Ammar terdengar begitu berat dan menusuk. "Sebelum pernikahan ini dilangsungkan, sebutkan... kamu mau mahar apa? Katakan berapa puluh atau ratus juta uang yang kamu inginkan untuk menjual kebebasanmu malam ini?"

Pertanyaan Ammar sarat akan nada penghinaan, seolah menegaskan bahwa aku hanyalah wanita matre yang bisa dibeli dengan nominal angka.

Aku menatap mata cokelat mewahnya tanpa berkedip sedikit pun. Bibirku tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sarat akan rasa sakit dan ketegasan.

"Aku tidak mau uang tunai untuk maharku," jawabku lugas.

Kening Ammar berkerut. "Lalu?"

"Aku mau sebuah rumah."

Ammar tersentak kaget, begitupun dengan Abah.

"Rumah?" ulang Ammar dengan nada tak percaya.

"Ya. Sebuah rumah atas namaku," jawabku tegas.

Di dalam benakku, bayangan wajah Ibu yang pucat dan tubuh kurus Awan yang tertidur di atas kardus bekas teras ruko mendadak melintas. Aku tidak butuh perhiasan mahal atau uang tunai yang bisa habis dalam sekejap. Yang terpenting bagiku saat ini adalah memberikan tempat berteduh yang layak, aman, dan hangat untuk Ibu serta adik kecilku. Sebuah rumah di mana Ibu bisa beristirahat tanpa perlu takut diusir satpam atau dikejar-kejar debt collector lagi. Itulah satu-satunya alasan aku mengorbankan masa depanku malam ini.

Ammar terkekeh sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Sangat serakah. Bahkan untuk ukuran mahar, kamu meminta aset bernilai ratusan juta rupiah."

"Ammar!" tegur Abah keras. Pria tua itu menatapku dengan pandangan yang melunak, seolah mampu membaca kepedihan dan niat mulia di balik permintaanku. "Permintaan Aisyah sah secara hukum Islam. Mahar adalah hak mutlak calon istri. Abah yang akan menyiapkan sertifikat rumah itu besok pagi atas nama Aisyah."

"Tidak perlu, Bah," potong Ammar dingin. Pria itu merogoh dompet kulitnya, mengeluarkan sebuah kunci kuningan berukir dengan gantungan berlogo perumahan elite. "Gunakan rumah atas nama saya di kawasan Jakarta Selatan. Saya serahkan rumah itu atas nama Aisyah sebagai mahar pernikahan malam ini."

Ammar melempar kunci itu ke atas meja di depan kami. Suara denting kunci yang menghantam kaca meja terdengar sangat nyaring di dalam kamar yang sunyi.

Satu jam kemudian, prosesi sakral yang dingin itu pun dimulai.

Seorang penghulu paruh baya kepercayaan Abah telah tiba di kamar VIP 808. Ammar kini telah mengenakan baju koko putih dan peci hitam yang dibawakan pengawal. Wajahnya sangat kaku, tanpa ekspresi, bagaikan patung es yang tak tersentuh.

Di sisinya, aku duduk berbalut kain selendang putih polos yang hanya menutupi gaun merah ketatku tanpa menutup kepalaku—sesuai syarat pertama yang kubuat. Wajahku bersih dari makeup, memperlihatkan paras asliku yang pucat dengan mata yang sembab.

"Saudara Habib Ammarullah bin Syekh Ali Al-Habsyi..." suara penghulu menggema lembut di ruangan. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Aisyah binti Ahmad, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan satu unit rumah dibayar tunai."

Ammar memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu mencengkeram tangan penghulu dengan erat.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Aisyah binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"SAH!"

"Alhamdulillahirabbil'alamin..."

Doa dilantunkan. Di detik itu, statusku resmi berubah. Aku bukan lagi Nayla si kupu-kupu malam berharga puluhan juta rupiah. Aku adalah istri sah dari Habib Ammarullah.

Setelah doa selesai, Abah menyenggol lengan Ammar. "Ammar, bimbing istri mudamu untuk bersalaman."

Ammar mengalihkan pandangannya padaku. Matanya yang cokelat terang tidak lagi memancarkan keteduhan, melainkan rasa dingin yang membeku. Ia mengulurkan tangannya yang kaku.

Aku menyambut uluran tangan itu. Saat bibirku menyentuh punggung tangannya, aku bisa merasakan tubuh Ammar tegang luar biasa, seolah-olah kulitku adalah racun yang membakar tangannya.

Ammar mendekatkan wajahnya ke telingaku saat Abah dan penghulu sedang berbicara di sudut lain ruangan. Napas hangatnya berhembus dingin di kulit leherku.

"Dengar baik-baik, Aisyah," bisik Ammar dengan suara yang sangat rendah, begitu tajam dan menusuk hingga ke tulang. "Kamu sudah mendapatkan rumah untuk keluargamu dan melunasi utang-utangmu. Tapi jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan kehormatan atau cinta dari saya. Bagi saya, kamu tetaplah noda dalam hidup saya."

Aku mendongak, menatap mata cokelat mewahnya dengan keberanian yang sama dinginnya.

"Aku juga tidak butuh cinta atau ceramah agamamu, Habib," bisikku balik dengan senyuman sinis. "Kita menikah cuma karena jebakan takdir. Jadi, jangan berlagak seperti pahlawan."

Ammar menarik tangannya kasar dari genggamanku. Pernikahan kami tidak diawali dengan cinta atau kehangatan, melainkan dengan benih kebencian, dua syarat yang membatasi, dan dua dunia yang saling bertolak belakang.

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!