Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laku Keras
Tiga hari telah berlalu. Selama waktu itu, Annabella menghabiskan sebagian besar waktunya menjahit di gudang tua. Meskipun kedua telapak tangannya belum pulih sepenuhnya, ia tetap terus bekerja selama rasa sakitnya masih bisa ia tahan.
Sementara itu, Ranti tidak berhenti mencari cara untuk menyiksanya, memberikan pekerjaan tambahan dan memarahinya tanpa alasan yang jelas. Namun wanita itu memilih bersabar, karena ia tidak ingin nyawa Aditya di rumah sakit terancam.
Untungnya, Minah sudah tahu keberadaan Yumna dan bersedia membantu menjaga gadis kecil itu.
Pagi itu, Minah masuk ke gudang dengan wajah yang sumringah.
“Annabellaaaa! Ada kabar baiiiik!”
Annabella segera meletakkan jahitannya.
“Ada apa, Minah?”
“Semua barang yang kamu jahit berhasil terjual! Dan, beberapa pelanggan langsung melakukan pesanan kembali!”
“Serius?”
“Serius! Tas tangan kecil, dompet kain, ikat rambut, bando hias, dan beberapa gaun anak buatanmu semuanya laku keras. Mereka menyukai jahitanmu karena rapi dan modelnya unik.”
Minah mengeluarkan sejumlah banyak uang dari tasnya, lalu menyerahkannya kepada Annabella.
“Ini hasil penjualannya setelah dikurangi biaya bahan dan pengeluaran lainnya. Keuntungannya cukup besar, Annabella!”
Annabella menatap uang itu dengan mata berkaca‑kaca, seolah tidak percaya keterampilannya sendiri bisa menghasilkan uang sebanyak ini.
“Ini… semuanya dari hasil jahitanku?”
Minah mengangguk dua kali.
“Iya. Orang yang membantuku menjualnya mengatakan permintaan pelanggan cukup tinggi. Kalau kualitasmu tetap seperti ini, kamu bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar.”
“Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini,” gumamnya dengan perasaan terharu.
“Kamu memang berbakat. Jangan sia‑siakan kemampuanmu.”
Annabella mengangguk dengan tegas.
“Aku akan terus menjahit. Aku ingin mengumpulkan uang sebanyak mungkin agar bisa membayar biaya Pamanku.”
Dan setelah itu, aku bisa terbebas dari Lucian.
Ia kemudian menatap Minah dengan penuh rasa terima kasih.
“Terima kasih sudah membantuku. Kalau tidak ada kamu, aku pasti tidak tahu harus menjual ini ke mana.”
“Sudahlah. Sekarang pikirkan apa yang perlu kamu lakukan dengan uang itu,” ucap Minah.
Annabella ingin sekali mengunjungi Aditya, sekaligus membeli beberapa kebutuhan untuk dirinya dan Yumna.
Namun, ia harus meminta izin kepada Lucian terlebih dahulu.
Annabella segera menuju ruang kerja Lucian. Setelah mengetuk pintu dan mendapat izin masuk, ia melihat pria itu sedang memeriksa dokumen bersama Faisal, asistennya.
“Tuan Lucian, saya ingin meminta izin.”
Lucian tidak mengangkat kepala.
“Apa?”
“Saya ingin mengunjungi Paman Aditya di rumah sakit. Saya juga ingin meminta Minah menemani saya.”
Lucian hanya berdehem singkat.
“Hm.”
Karena tidak mendapat jawaban lain, Annabella pun berbalik badan.
“Kalau begitu, saya permisi.”
Ia keluar dengan senyum getir. Meskipun Lucian tetap bersikap dingin, setidaknya pria itu tidak melarangnya mengunjungi Aditya.
Setelah Annabella pergi, Faisal melirik majikannya.
“Tuan, apakah Anda tidak ingin saya mengawasi Nyonya Annabella? Saya bisa memastikan dia benar‑benar pergi ke rumah sakit.”
Lucian membalik halaman dokumennya.
“Tidak perlu.”
“Lalu, bagaimana jika dia melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan Anda?”
Lucian mengangkat wajahnya.
“Aku akan bertanya langsung kepada Minah nanti.”
Faisal mengangguk dan tidak bertanya lagi.
Lucian kembali bekerja, tanpa menyadari bahwa Annabella tidak pergi hanya bersama Minah. Ada seseorang lagi yang ikut bersamanya.
Sebelum meninggalkan rumah, Annabella kembali ke gudang untuk menjemput Yumna.
“Onty, kita mau pelgi?”
Annabella tersenyum sambil merapikan ikatan rambut gadis kecil itu.
“Iya, Yumna. Tapi Yumna harus mengikuti aturan Onty, ya? Jangan bicara dengan suara keras dan jangan pergi jauh dari Onty.”
Yumna mengangguk patuh.
“Yumna janji!”
Annabella menyembunyikan Yumna di dalam kardus besar yang telah ia siapkan dengan celah udara yang cukup. Dengan bantuan Minah, ia keluar dari kawasan rumah Winston tanpa menarik perhatian siapa pun.
Setelah sampai di tempat yang aman, Annabella membuka kardus tersebut.
“Yumna, kita sudah sampai.”
Yumna mengintip dari dalam, lalu tersenyum lebar.
“Yeeay! Yumna bica jalan‑jalan!”
Annabella tertawa kecil.
“Iya. Tapi ingat, jangan sampai ada yang tahu kamu tinggal di rumah ini.”
“Baik, Onty!”
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju pusat perbelanjaan. Sesampainya di mal, Yumna pun terpukau melihat berbagai toko dan lampu‑lampu yang terang.
“Onty, banyak cekali toko!”
Annabella menggenggam tangannya.
“Iya. Tapi kita belanja kebutuhan dulu, ya?”
Yumna mengangguk, meskipun sesekali matanya melirik ke arah toko mainan. Annabella pun membeli berbagai bahan jahit. Kain, benang berkualitas, kancing, renda, hingga resleting. Ia juga beli beberapa peralatan tambahan agar bisa bekerja lebih nyaman tanpa terlalu membebani telapak tangannya.
Setelah itu, ia membeli kasur, bantal, selimut, seprai, meja kecil untuk mesin jahit, kursi, cermin, dan kotak penyimpanan. Ia ingin mengubah gudang tua itu menjadi tempat tinggal yang lebih layak.
Saat melewati toko mainan, Yumna berhenti di depan etalase. Matanya terpaku pada sebuah boneka beruang kecil dengan pita cantik.
“Yumna suka boneka itu?”
Yumna mengangguk pelan.
“Iya, boleh ambil catu?”
Annabella tersenyum melihatnya.
“Kalau begitu, kita beli satu.”
Mata Yumna langsung berbinar.
“Benal, Onty?”
“Benar dong.”
Annabella membelikan boneka itu untuknya. Yumna pun memeluknya dengan sangat erat.
“Maacih, Onty! Yumna cayang Onty!”
Annabella mengecup pipinya.
“Sama‑sama.”
Melihat kebahagiaan Yumna membuat Annabella pun merasa lega. Meski belum mampu memberikan barang yang mewah, ia harap gadis kecil itu merasakan kasih sayang darinya.
Setelah selesai berbelanja, mereka kembali ke rumah Winston dengan membawa banyak barang.
Dengan bantuan Minah, Annabella berhasil membawa Yumna masuk tanpa diketahui penghuni rumah lainnya. Begitu pintu gudang tertutup, ia segera mengeluarkan gadis kecil itu dari dalam kardus.
Yumna melompat kecil sambil memeluk boneka barunya.
Sementara itu, Annabella mulai menata barang‑barang belanjaannya. Kasur baru diletakkan di sudut ruangan, sedangkan meja jahit ditempatkan dekat sumber cahaya.
Gudang yang sebelumnya terlihat kosong mulai berubah menjadi tempat tinggal yang lebih layak.
Annabella tersenyum puas.
“Mulai sekarang, kita bisa tidur lebih nyaman, Yumna.”
Yumna mengangguk sambil tetap memeluk bonekanya.
“Yumna cukaaa kamaaal baluuu!”
Annabella tertawa kecil, lalu kembali merapikan barang‑barangnya.
Di ruang kerja, Lucian baru saja selesai membaca laporan ketika melihat Minah melewati lorong.
“Minah.”
Wanita itu segera menghampirinya.
“Ya, Tuan?”
“Annabella sudah kembali?”
“Sudah, Tuan.”
Lucian menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Apa yang dia lakukan selama pergi?”
Minah menjawab dengan jujur.
“Nyonya Annabella mengunjungi pamannya di rumah sakit. Setelah itu, dia pergi berbelanja.”
“Berbelanja?"
Dari mana dia dapat uang?
Lucian mengerutkan kening.
Minah mengangguk.
“Benar, Tuan. Nyonya menjual hasil jahitannya dan mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Uangnya digunakan untuk membeli bahan‑bahan menjahit, kasur, bantal, selimut, meja, dan beberapa perlengkapan lain untuk kamarnya.”
Lucian terdiam.
“Menjual hasil jahitan?”
“Benar, Tuan. Hasil jahitannya laku keras. Banyak pelanggan yang menyukai aksesori buatannya.”
Lucian menatap Minah, memastikan ia tidak salah mendengar. Selama ini, ia hanya mengenal Annabella sebagai wanita yang telah menipu keluarganya. Ia tidak pernah tertarik untuk mengetahui kemampuan wanita itu.
“Sejak kapan dia pandai menjahit?” gumamnya.
Minah menggeleng.
“Saya tidak tahu, Tuan. Tapi dari hasil yang saya lihat, keterampilannya cukup bagus.”
Lucian terdiam sesaat. Ia teringat ketika Annabella meminta alat‑alat menjahit beberapa hari sebelumnya. Saat itu, ia tidak menyangka wanita itu benar‑benar akan menggunakannya untuk menghasilkan uang.
“Begitu rupanya,” ucapnya dengan nada datar.
“Kalau begitu, saya permisi, Tuan.”
Lucian mengangguk singkat.
Setelah Minah pergi, Lucian kembali menatap dokumen di atas meja. Namun pikirannya terusik oleh informasi yang baru saja ia dengar.
Annabella ternyata tidak hanya berdiam diri di gudang sambil menunggu belas kasihan orang lain. Wanita itu berusaha mendapatkan uang sendiri.
Lucian mengernyitkan dahi, lalu menyandarkan tubuhnya.
Apa yang sebenarnya sedang direncanakan Annabella?
Apakah wanita itu sungguh‑sungguh ingin memperbaiki hidupnya, atau ada tujuan lain yang belum ia ketahui?
__
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???