**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03-SEPULUH TAHUN YANG LALU
Sepuluh Tahun.
Aku menatap angka di kalender itu berkali-kali, seolah dengan menatapnya lebih lama aku bisa menemukan penjelasan atas semua kegilaan yang sedang terjadi.
17 Maret 2016.
Tanggal yang sama.
Tahun yang berbeda.
Tidak.
Bukan hanya tahunnya yang berbeda.
Seluruh hidupku telah kembali ke titik awal.
Aku berdiri di depan cermin dengan napas yang masih belum teratur.
Wajah di hadapanku adalah wajahku.
Tetapi bukan wajah perempuan berusia dua puluh sembilan tahun yang baru saja mati.
Ini wajah Nadia Arlena yang berusia sembilan belas tahun.
Wajah yang belum mengenal pengkhianatan.
Wajah yang belum tahu bagaimana rasanya kehilangan.
Wajah yang masih percaya bahwa keluarga adalah tempat paling aman untuk pulang.
Aku menyentuh pipiku perlahan.
Hangat.
Nyata.
"Aku benar-benar kembali..."
Sebuah ketukan terdengar dari pintu.
Tok.
Tok.
"Nona Nadia?"
Aku langsung menoleh.
Suara itu.
Bu Sari.
"Masuk."
Pintu terbuka.
Bu Sari masuk membawa nampan sarapan.
"Nona jangan membuat saya khawatir. Tadi Nona tiba-tiba pingsan setelah membaca pesan dari Tuan Edward."
Aku terdiam.
"Pesan?"
Bu Sari mengangguk.
"Tuan meminta Nona sarapan bersama keluarga pagi ini."
Aku menatapnya.
Ayah.
Edward Arlena.
Nama itu membuat dadaku terasa sesak.
Dalam kehidupan pertamaku, aku selalu menganggap ayah sebagai pria yang terlalu keras.
Terlalu sibuk.
Terlalu dingin.
Aku sering berpikir dia tidak pernah benar-benar menyayangiku.
Tetapi setelah semuanya terjadi...
aku tidak lagi yakin.
Ada terlalu banyak hal yang tidak kuketahui tentang keluargaku sendiri.
"Jam berapa sekarang?"
"Hampir pukul delapan."
Aku mengangguk.
"Baik. Aku akan turun."
Bu Sari tersenyum lalu berjalan keluar.
Tanganku kembali menyentuh wajahku.
Aku menatap diriku sendiri.
Dalam kehidupan pertama, setelah sarapan pagi itu, hidupku mulai berjalan menuju kehancuran.
Hari ini... aku akan mengubahnya.
Ruang makan keluarga Arlena masih sama.
Meja kayu panjang.
Lampu kristal.
Jendela besar yang menghadap taman belakang.
Dan aroma kopi yang dulu selalu kusukai.
Aku berhenti beberapa langkah dari pintu.
Di ujung meja duduk seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.
Rambutnya mulai dipenuhi uban.
Wajahnya tegas.
Matanya tajam.
Edward Arlena (Ayahku)
Di sebelahnya duduk seorang wanita dengan wajah lembut.
Rambutnya disanggul sederhana.
Tatapannya selalu hangat.
Maria Arlena (Ibuku)
Dan di kursi paling dekat jendela...
seorang pemuda sedang sibuk dengan ponselnya.
Rambutnya berantakan.
Kemejanya tidak dimasukkan dengan rapi.
Wajahnya terlihat kesal ketika menyadari aku berdiri di sana.
"Kak."
Aku membeku.
Ethan.
Adikku.
Dia masih hidup.
Benar-benar hidup.
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Ethan mengangkat alis.
"Kenapa lihat aku seperti itu?"
Aku menelan ludah.
Dalam kehidupan pertama, aku tidak pernah menyadari betapa berharganya pemandangan sederhana seperti ini.
Keluargaku lengkap.
Tidak ada rumah sakit.
Tidak ada pemakaman.
Tidak ada foto dalam bingkai hitam.
Hanya kami.
Aku berjalan mendekati Ethan.
Tanpa mengatakan apa-apa, aku memeluknya.
Tubuh Ethan langsung kaku.
"Kak Nadia?"
Aku semakin erat memeluknya.
"Diam."
"Kak..."
"Biarkan aku sebentar."
Aku menutup mata.
Air mata hampir jatuh.
Ethan menatap kedua orang tua kami dengan wajah bingung.
"Dia kenapa?"
Maria tersenyum kecil.
"Mungkin kakakmu sedang banyak pikiran."
Edward hanya memperhatikan kami.
Aku melepaskan pelukan.
Ethan menatapku aneh.
"Serius, Kak. Kamu demam?"
Aku tertawa kecil.
"Belum."
"Belum?"
"Kalau nanti demam, kamu yang jaga."
Ethan mendengus.
"Ogah."
Aku tersenyum.
Senyum yang sudah lama tidak pernah kurasakan.
Bahagia.
Sederhana.
Dan untuk pertama kalinya aku menyadari...
kesempatan kedua ini bukan hanya tentang balas dendam.
Ini tentang menyelamatkan orang-orang yang dulu gagal kuselamatkan.
Aku duduk di kursiku.
Edward meletakkan cangkir kopinya.
"Setelah sarapan, ikut ayah ke kantor."
Aku mengangkat wajah.
"Untuk apa?"
"Ada beberapa hal yang perlu kamu pelajari."
Aku mengerutkan kening.
Dalam ingatanku, ayah tidak pernah mengajakku ke kantor pada hari ini.
Setidaknya...
aku tidak mengingatnya.
"Kenapa tiba-tiba?"
Edward menatapku cukup lama.
"Kamu sembilan belas tahun sekarang."
"Ayah ingin kamu mulai memahami bisnis keluarga."
Aku terdiam.
Bisnis keluarga.
Perusahaan Arlena.
Perusahaan yang dalam kehidupan pertamaku akhirnya hampir bangkrut karena berbagai keputusan yang tidak pernah kupahami.
Perusahaan yang ternyata memiliki hubungan dengan rahasia kelahiranku.
Dan mungkin...
dengan kematianku.
Aku menatap ayahku.
Untuk sesaat, aku ingin bertanya.
Tentang masa lalu?
Tentang ibuku?
Tentang siapa ayah kandungku:
Tentang semua rahasia yang kelak menghancurkan hidupku?
Tetapi aku menahannya.
Belum.
Aku belum tahu siapa yang bisa dipercaya.
Bahkan di rumah ini sekalipun.
"Baik," jawabku.
Edward mengangguk.
Namun sebelum sarapan selesai, suara ponselku berdering.
Aku melihat layarnya.
Satu nama muncul.
Selena Marvia.
Dadaku langsung menegang.
Selena.
Sahabatku.
Orang yang pernah kuanggap seperti saudara sendiri.
Orang yang pada kehidupan pertama menjadi salah satu alasan kehancuranku.
Ponsel itu terus berdering.
Ethan melirik layar.
"Angkat saja."
Aku tidak bergerak.
Dulu, aku akan langsung mengangkat teleponnya.
Dulu, aku akan tersenyum hanya karena mendengar suaranya.
Dulu...
aku mempercayainya.
Sekarang aku tahu terlalu banyak.
Aku menekan tombol diam.
Panggilan berhenti.
Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk.
Selena:
"Nadia, kita perlu bertemu. Ada sesuatu yang harus aku ceritakan tentang Ryan."
Aku menatap pesan itu lama.
Ryan.
Nama yang dulu membuat jantungku berdebar.
Nama yang kelak menjadi alasan aku mati.
Aku mengunci layar ponsel.
Tidak ada seorang pun di meja yang menyadari perubahan ekspresiku.
Kecuali...
Edward.
Ayahku menatapku dari seberang meja.
Tatapan kami bertemu.
"Siapa?"
Aku tersenyum tipis.
"Teman."
Edward tidak bertanya lagi.
Namun entah kenapa...
aku merasa tatapannya terlalu lama berada di wajahku.
Seolah dia sedang mencoba memastikan sesuatu.
Satu jam kemudian, aku duduk di kursi penumpang mobil keluarga.
Gedung Arlena Holding mulai terlihat dari kejauhan.
Aku menatap gedung tinggi itu melalui kaca jendela.
Gedung yang sama.
Tempat yang sama.
Tetapi kali ini...
aku bukan Nadia yang sama.
Aku membuka ponsel.
Pesan Selena masih ada.
Aku membaca sekali lagi.
"Ada sesuatu yang harus aku ceritakan tentang Ryan."
Aku tersenyum tipis.
"Ryan..."
Untuk pertama kalinya, nama itu tidak membuatku bahagia.
Nama itu membuatku waspada.
Mobil berhenti di depan gedung.
Ayah turun lebih dulu.
Aku mengikuti.
Namun baru beberapa langkah memasuki lobi, aku melihat seorang pria berdiri di dekat lift.
Tinggi.
Mengenakan jas hitam.
Wajahnya dingin.
Tatapannya tajam.
Aku tidak mengenalnya.
Setidaknya...
aku merasa tidak mengenalnya.
Pria itu menoleh.
Mata kami bertemu.
Hanya beberapa detik.
Tetapi entah kenapa...
jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Pria itu kemudian berjalan melewatiku tanpa mengatakan apa-apa.
Aku menoleh mengikuti langkahnya.
"Siapa dia?"
Ayah berhenti.
Untuk sesaat, ekspresinya berubah.
Sangat singkat.
Namun aku melihatnya.
"Dia?"
Aku mengangguk.
Edward menjawab dengan suara datar.
"Adrian Varell."
Aku terdiam.
Nama itu...
seharusnya tidak asing.
Tetapi dalam kehidupan pertamaku...
aku hampir tidak pernah mengenal pria itu.
Aku kembali menatap pintu lift yang baru saja tertutup.
Adrian Varell.
Pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dalam hidupku.
Namun aku belum tahu...
bahwa pertemuan singkat hari itu akan menjadi awal dari perubahan terbesar dalam hidup keduaku.
Dan tanpa kusadari...
Adrian ternyata sedang memperhatikanku dari balik pintu lift.
Tatapannya menyipit.
"Dia bukan gadis sembilan belas tahun biasa."
Bersambung...