NovelToon NovelToon
Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Aku Perna Hidup Dari Cintamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: My Chubby

Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Selembar memo internal kantor yang terlipat rapi itu kini tersimpan di bagian paling dasar tumpukan diktat kuliah di sudut meja plastik. Keira tidak membuangnya, tidak pula membicarakannya kepada siapa pun. Setiap kali ia merapikan meja, matanya sekilas melirik ke arah tumpukan buku tersebut, dan sensasi dingin yang sama seperti berdiri di atas lantai kaca yang retak kembali merayap di ujung jemarinya.

Namun, hidup di dalam petak kamar berukuran tiga kali tiga meter itu tetap harus berjalan seperti biasa.

Hari-hari berikutnya, Keira mencoba menenggelamkan pikirannya pada hal-hal lain agar bayangan memo perjalanan dinas ke Bandung itu tidak terus-menerus mencekiknya. Buku sketsa bersampul hitam tebal menjadi pelarian utamanya. Setiap kali Davin berangkat kerja ke kantor, Keira membuka buku itu, mencoretkan garis-garis arsitektur bangunan impian, potret sudut ruangan kos, atau sekadar siluet pepohonan yang dilihatnya dari balik kaca jendela kecil.

Menggambar bukan lagi sekadar hobi masa lalu; kegiatan itu kini berubah menjadi semacam cara bagi Keira untuk menenangkan diri sebuah tempat pelarian di mana ia bisa bernapas sejenak tanpa harus selalu memikirkan apa pun selain goresan tinta di atas kertas.

Pukul sepuluh pagi di hari Selasa, suasana di sekitar gang Jalan Melati terasa cukup lengang. Di luar jendela, langit tampak cerah berawan, menyebarkan cahaya putih lembut ke seluruh ruangan.

Di tengah kesibukannya mengarsir bayangan pada sketsa terbarunya, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kayu kos. Ketukan yang tidak berirama tegas seperti biasa, melainkan ketukan ringan yang familier.

Keira meletakkan pulpennya di atas meja, merapikan letak kerudungnya, lalu melangkah membuka pintu.

Di ambang pintu, Bu Rina berdiri sambil membawa wadah plastik kecil berisi beberapa buah mangga, tersenyum ramah kepada Keira.

"Pagi, Mbak Keira. Lagi sibuk ya?" sapa Bu Rina sopan.

"Ini kemarin dikirimin buah mangga sama keluarga dari kampung, manis banget rasanya. Sengaja saya sisain separuh buat Mbak Keira di sini."

Keira tersenyum tulus, rasa hangat langsung merambati dadanya melihat kebaikan sederhana dari tetangga sebelah kamarnya itu. Ia menerima wadah plastik tersebut dengan kedua tangan.

"Wah, repot-repot lagi, Bu. Terima kasih banyak ya, mangganya kelihatan segar banget."

"Sama-sama, Mbak. Oh ya, kebetulan saya mau ngobrol sebentar kalau Mbak Keira lagi senggang," ujar Bu Rina sambil melirik pelan ke arah koridor kos yang sepi.

"Kemarin waktu saya beresin jemuran di belakang, saya lihat Mbak Keira punya buku gambar tebal ya? Wah, hebat ih, anak muda jaman sekarang masih ada yang telaten hobi seni kayak begitu."

Keira sedikit terkesiap mendengar ucapan Bu Rina. Ia teringat sempat meninggalkan buku sketsanya di dekat meja dekat jendela yang sedikit terbuka beberapa hari lalu.

"Ah... iya, Bu. Cuma coret-coret biasa buat ngisi waktu luang aja, biar gak bosan di dalam kamar terus."

"Bagus dong, Mbak! Jangan dipendam bakatnya," kata Bu Rina menyemangati dengan mata berbinar.

"Dulu ponakan saya juga suka gambar-gambar begitu, sekarang malah kerja jadi desainer grafis freelance dari rumah. Enak, bisa dapet penghasilan sendiri tanpa harus pusing capek di jalanan macet kota."

Pernyataan sederhana itu meluncur begitu saja dari mulut Bu Rina, tetapi di kepala Keira, kata-kata tersebut beresonansi sangat kuat.

Penghasilan sendiri...

Bayangan tentang kartu nama Galeri Senja Bimantara yang tersimpan di dalam dompet hitam lamanya sekilas berkelebat di benaknya. Selama ini, Keira selalu merasa bahwa satu-satunya cara untuk keluar dari ketergantungannya pada Davin adalah dengan mencari pekerjaan formal di luar sana sebuah langkah besar yang selalu membuatnya ketakutan setengah mati karena membayangkan reaksi Davin. Namun, mendengarkan cerita Bu Rina tentang ponakannya yang bekerja dari rumah lewat keterampilan menggambar, sebuah kemungkinan baru yang jauh lebih sunyi dan aman mendadak terbuka di kepalanya.

Apakah aku juga bisa...? pikir Keira ragu.

Tanpa harus melamar kerja kantoran yang menyita waktu? Tanpa harus meninggalkan kamar kos ini secara terang-terangan?

"Iya ya, Bu... Kapan-kapan mungkin saya coba," jawab Keira tersenyum kikuk, berusaha menutupi gejolak pikiran yang tiba-tiba bergemuruh di dadanya.

Setelah mengobrol ringan beberapa menit lagi tentang resep masakan rumahan, Bu Rina pamit kembali ke kamarnya. Keira menutup pintu kayu, menguncinya rapat-rapat, lalu kembali duduk di tepi kasur sambil memegang wadah mangga pemberian tetangganya itu.

Ia menatap ke arah sudut meja tempat buku sketsanya tergeletak terbuka. Halaman yang baru saja ia gambar menampilkan sketsa jendela besar dan siluet kota di luar sana.

Untuk pertama kalinya sejak ia menemukan memo perjalanan dinas Davin, ketakutan yang mencekik dadanya sedikit mengendur. Keira menyadari bahwa dunianya memang sempit, dan rasa asing terhadap rutinitas kekasihnya sempat membuatnya gamang.

Namun, di dalam goresan tinta di atas kertas dan gagasan sederhana tentang keterampilan yang ia miliki, ia baru saja menemukan sebutir benih harapan baru bahwa ia tidak harus selamanya menjadi perempuan yang hanya menunggu di dalam kamar kos, menanti kepulangan seorang lelaki yang membawa seluruh dunianya ke tempat-tempat asing yang tidak bisa ia jangkau.

Menjelang sore hari, suara deru motor matic yang familiar terdengar memasuki halaman kos. Ketukan tiga kali di pintu kayu menyusul beberapa detik kemudian.

Jantung Keira berdegup sekilas, namun ia segera menenangkan napasnya. Ia menutup buku sketsanya, meletakkannya di bawah tumpukan diktat bersama memo kantor tersebut, lalu bangkit untuk membukakan pintu.

Davin berdiri di sana dengan senyuman lebar, mengenakan kemeja kerja yang sedikit kusut dan membawa sekotak martabak manis kesukaan mereka.

"Sore, Sayang," sapa Davin riang, langsung masuk ke dalam kamar dan mencium kening Keira penuh kasih sayang.

"Hari ini di kantor bikin pusing lagi, tapi pas inget mau ketemu kamu rasanya ilang separuh capeknya."

Mendengar kalimat manis itu, Keira tersenyum tipis. Ia menatap mata Davin yang tampak lelah namun tulus menyayanginya. Di permukaan, semuanya tampak kembali berjalan normal. Tidak ada pertengkaran, tidak ada kecurigaan yang diucapkan.

Namun, saat ia memeluk pinggang Davin untuk menyambut kedatangan lelaki itu, ada satu bagian kecil di dalam diri Keira yang telah berubah secara senyap sebuah ruang rahasia di dalam kepalanya yang kini tidak lagi sepenuhnya menyerahkan seluruh hidupnya ke tangan sang kekasih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!