Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. BUALAN PRIA BODOH
Hari-hari menjelang pesta pertunangan berlalu dengan cepat, namun tidak ada satu pun momen di mana Azka hadir menunjukkan batang hidungnya. Selama dua minggu penuh persiapan, pria itu tidak pernah sekalipun menjemput Aira, menemaninya memilih gaun pertunangan, atau sekadar menanyakan kabar.
Setiap kali Aira mencoba menghubungi lewat telepon, Azka selalu melontarkan alasan yang sama dengan nada bicara yang terburu-buru dan dingin: ia sibuk mengurus proyek penting kantor dan rapat bisnis keluarga yang tidak bisa ditinggalkan.
Di kehidupan lalu, Aira akan merenung di kamarnya, merasa bersalah dan takut jika dirinya menjadi beban bagi calon suaminya.
Namun kini, Aira hanya tersenyum dingin setiap kali menutup telepon dari Azka. Firasat dan ingatannya dari masa lalu tidak pernah meleset.
Sore itu, Aira melangkah anggun memasuki sebuah kafe eksklusif di pusat kota. Dengan gaun simpel berwarna krem dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, ia berjalan tenang menuju area semi-VIP yang dikelilingi pembatas tanaman hias.
Mata Aira yang tajam menangkap dua sosok yang sangat familier duduk di sudut ruangan yang cukup tersembunyi.
Di sana, Azka duduk berhadapan dengan Rani. Tidak ada raut wajah lelah atau sibuk seperti yang selalu dialasankan Azka di telepon. Pria itu justru tampak sangat segar, tertawa lepas sambil menggenggam erat kedua tangan Rani di atas meja.
Mereka saling bertukar pandang dengan binar kasmaran yang membara—terlihat persis seperti sepasang kekasih yang baru saja memadu kasih tanpa memedulikan status.
Aira melangkah tanpa suara, mengambil tempat duduk tepat di balik pembatas tanaman hias yang membelakangi meja mereka. Jarak mereka yang hanya terpisah rapat oleh dedaunan tebal membuat setiap kata yang terucap dari bibir kedua pasangan itu terdengar sangat jernih di telinga Aira.
"Kalau Kak Aira sampai tahu hubungan kita... bagaimana, Kak?" suara Rani terdengar mendayu-dayu, sengaja dibuat lembut dengan nada khawatir yang dibuat-buat.
"Aku takut sekali... Apa sebaiknya hubungan kita ini disudahi saja?"
"Kenapa harus disudahi, sayang?" balas Azka cepat. Suaranya terdengar begitu protektif saat ia mengusap punggung tangan Rani dengan lembut. "Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Aira itu tidak ada apa-apanya dibanding kamu. Dia tidak cantik, membosankan, dan tidak punya selera."
Rani mengerucutkan bibirnya, berpura-pura tidak puas.
"Tapi Kak Azka 'kan mau menikah dengannya! Aku tidak mau ya kalau harus berhubungan dengan pria yang berstatus suami orang, apalagi kalau nanti Kakak jadi duda!"
Tawa renyah dan penuh nada meremehkan mendadak keluar dari tenggorokan Azka.
"Kamu pikir aku sungguhan mau menjadikan wanita kaku itu sebagai istriku?" kekeh Azka dengan nada penuh rasa bangga atas kelicikannya.
"Aku mendekatinya hanya karena butuh statusnya sebentar. Almarhum ibunya meninggalkan sejumlah saham dan aset atas nama Aira yang saat ini masih membeku. Satu-satunya cara untuk mengaktifkan dan memindahkan seluruh hak milik itu ke tanganku adalah dengan ikatan pernikahan."
Rani membelalakkan matanya dengan binar tertarik. "Maksud Kak Azka?"
"Nanti, setelah semua aset dan saham peninggalan ibunya resmi berpindah ke namaku, aku akan membuangnya," kata Azka dingin tanpa beban.
"Dan kamu tidak perlu khawatir soal status duda. Aku tidak sebodoh itu untuk mendaftarkan pernikahan kami secara resmi di lembaran negara. Aku akan menyiapkan buku nikah palsu untuk Aira. Di mata hukum, dia tidak pernah menjadi istri sahku. Jadi, setelah semua hartanya mengalir ke rekeningku, hanya kamu satu-satunya wanita yang akan menjadi nyonya besar Gunawan."
"Janji, Kak?" Rani tersenyum manja, menyandarkan tubuhnya ke depan meja.
"Janji, sayangku."
Sesaat kemudian, terdengar bunyi kecupan basah yang tidak tahu malu bertukar di antara mereka berdua di tempat umum.
Aira yang duduk membelakangi mereka hanya mampu memejamkan mata sejenak. Rasa mual dan jijik yang sangat dahsyat menjalar dari perut hingga ke tenggorokannya.
Mendengar secara langsung konspirasi busuk yang dahulu berhasil menghancurkan hidup dan nyawanya ternyata memberikan kejelasan emosional yang luar biasa. Tidak ada lagi rasa sakit hati, tidak ada lagi histeris; yang tersisa dalam dada Aira hanyalah kepuasan karena ia telah memegang kartu AS dari kedua orang bodoh ini.
Aira berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang. Ia merapikan lipatan gaunnya tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun. Sebelum melangkah pergi meninggalkan kafe tersebut, Aira sempat melirik dari balik kacamata hitamnya ke arah sepasang kekasih yang masih sibuk berciuman tanpa rasa malu di sudut ruangan.
Bibir Aira menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan rasa jijik dan penyesalan masa lalu, lalu bergumam sangat pelan sebelum melangkah keluar, "Laki-laki bodoh."