Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Hari itu matahari baru saja meluncur ke ufuk barat, membawa warna jingga yang memudar di langit, bersamaan dengan suara mesin mobil Askar yang memasuki halaman rumah. Seperti biasa, sebelum pintu depan terbuka, Miska sudah memastikan semuanya beres — rumah rapi, makan malam terhidang, dan dirinya sendiri tampak tenang, seolah tak ada badai yang menerpa sepanjang hari. Di ruang tengah, Bu Surya sudah duduk dengan senyum terukir sempurna, siap menyambut anaknya seolah tak pernah ada makian yang meluncur dari bibirnya beberapa jam sebelumnya.
"Assalamualaikum," sapa Miska lembut, menyambut suaminya di pintu, mengambil tas kerjanya dengan tangan yang berusaha tak bergetar.
"Waalaikumsalam, Sayang," jawab Askar, tersenyum hangat, lalu mencium keningnya.
"Maaf ya, mas pulang agak terlambat. Pekerjaan di kantor lumayan menumpuk." Ia berjalan masuk, menuju ruang tengah, lalu menepuk bahu ibunya dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana hari ini Bu? Miska merawat Ibu dengan baik, kan?"
"Tentu saja, Nak!" Bu Surya tertawa lembut, matanya berbinar bahagia. "Miska sangat baik. Dia rajin, penurut, dan selalu menyiapkan makanan yang enak. Ibu sangat bersyukur kamu memilih istri sebaik dia. Banyak hal yang Ibu pelajari darinya soal kesabaran dan keramahan."
Miska berdiri di sudut ruangan, mendengarkan pujian-pujian manis itu yang terasa seperti duri menancap di dadanya. Ia menelan ludah, berusaha menahan rasa sakit yang perlahan menjalar. Pujian itu begitu kontras dengan kata-kata yang ia dengar tadi siang — anak orang miskin tak tahu diri, tak pantas di rumah ini, hanya beban bagi keluarga kami. Kini, di depan suaminya, ibu mertuanya memujinya setinggi langit, seolah Miska adalah permata yang paling berharga.
Malam itu, saat makan malam berlangsung, suasana begitu hangat dan damai. Askar bercerita tentang rencana proyek di kantor, Bu Surya menyimak dengan antusias, sesekali menoleh pada Miska dan bertanya dengan nada penuh perhatian,
"Benar kan, Miska? Anakku memang hebat sekali." Miska hanya mengangguk pelan, menjawab seperlunya, sementara di dalam dadanya, pertentangan batin semakin memuncak. Ia ingin sekali berteriak, membongkar semua kepura-puraan ini, namun ia tahu itu hanya akan membuatnya terlihat seperti istri yang tak tahu sopan santun.
Hingga akhirnya, setelah makan selesai dan mereka berdua berada di kamar, Miska memberanikan diri. Pintu tertutup rapat, dan di ruangan yang hangat itu, ia melihat kesempatan untuk berbicara jujur. Ia berdiri di depan Askar yang sedang melepas kemejanya, napasnya tertahan di tenggorokan. Hatinya berdebar kencang — ini adalah kali pertama ia berniat mengadu secara langsung, bukan sekadar menyimpan luka sendirian.
"Mas..." panggilnya pelan, suaranya bergetar namun tegas.
"aku mau bicara sebentar? sudah lama Aku mau bilang "
Askar berhenti bergerak sejenak, menoleh padanya. "Tentu saja, Sayang. Ada apa? Sepertinya kamu serius sekali." Ia duduk di tepi tempat tidur, menatapnya dengan tatapan yang diharapkan Miska penuh perhatian.
Miska menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri agar tak menangis. "Mas... sebenarnya, selama kamu pergi bekerja, Ibu selalu bersikap berbeda. Bukan seperti yang kamu lihat di sini. Dia sering memaki saya, menghina keluarga saya, menyuruh saya melakukan semua pekerjaan rumah sendirian tanpa henti. Dia bilang saya anak orang miskin yang nggak pantas di rumah ini, saya hanya beban yang harus kalian tanggung..."
Belum selesai kalimat itu keluar, ekspresi wajah Askar berubah drastis. Kerutan muncul di dahinya, tatapan matanya yang tadinya lembut kini berubah tajam dan dingin. Ia berdiri perlahan, suaranya rendah namun penuh ancaman.
"Miska,apa maksudmu ngomong kayak gitu?"
"Saya hanya berkata jujur, Mas," jawab Miska tergesa-gesa, merasa mulai panik melihat reaksi suaminya.
"aku nggak pernah membantah, aku selalu sabar. Tapi hari ini ibu menampar ku karena nggak sengaja numpahin sedikit kuah di lantai. aku sudah berusaha sebaik mungkin, tapi setiap kali kamu nggak ada, ibu selalu merendahkan aku sampai nggak bisa berkata-kata lagi..."
"Cukup!"
Teriakan Askar menggema di kamar, membuat Miska terkejut hingga mundur selangkah. Wajah suaminya merah padam, rahangnya mengeras, dan tatapan yang ia berikan bukan lagi tatapan seorang suami yang penuh kasih, melainkan tatapan penuh kemarahan dan kekecewaan yang mendalam.
"Kamu berani ngomong gitu tentang Ibuku?" tanya Askar, suaranya naik satu oktaf, penuh ketidakpercayaan. "Kamu tahu betul Ibu itu seperti apa! Dia wanita paling lembut, paling penyabar, dan paling baik hati yang pernah aku kenal. Selama ini dia selalu memujimu di depanku, selalu berkata kamu menantu kesayangannya. Dan sekarang kamu Kamu menfitnah nya di belakang punggungnya sendiri?"
"Bukan fitnah, Mas!" Miska memohon, air mata mulai jatuh membasahi pipinya. "Itu semua benar! Kalau kamu nggak percaya, coba saja pulang lebih awal, atau tanya sama tetangga yang pernah mendengar teriakannya. aku tak pernah bohong sama kamu, Mas. aku cuma mau kamu tau apa yang sebenarnya terjadi..."
"Kamu malah berani membela diri?" potong Askar tajam, melangkah mendekat hingga Miska bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari tubuhnya. "Kamu tau apa yang paling membuatku kecewa, Miska? Bukan karena kamu mengeluh, tapi karena kamu tega menuduh wanita yang telah melahirkanku, wanita yang selalu menyayangimu tanpa syarat, dengan tuduhan keji begitu! Kamu pikir aku nggak tahu apa-apa? Ibu nggak pernah berkata satu hal buruk pun tentangmu. Justru dia selalu membelamu saat aku kesal sama kamu!"
Askar berbalik, berjalan mondar-mandir dengan napas memburu, seolah sedang menahan amarah yang meluap-luap. "Aku kira kamu wanita yang tulus, wanita yang penuh kasih sayang dan pengertian. Ternyata di balik wajah lembutmu itu, hatimu penuh racun dan kebencian. Kamu ingin memisahkan aku dari Ibuku, bukan? Itu tujuanmu sejak awal, bukan? Menikah denganku lalu perlahan-lahan merusak hubungan kami berdua?"
"Tidak, Mas! Sama sekali tidak!" Miska mendekat, ingin menyentuh tangan suaminya, namun Askar menepisnya dengan kasar hingga ia terhuyung mundur.
"Jangan sentuh aku!" bentaknya. "Mulai sekarang, jangan pernah lagi kamu katakan hal buruk tentang Ibu. Sedetik pun. Kalau kamu masih merasa tidak nyaman di sini, maka itu salahmu sendiri karena hatimu yang kotor, bukan karena Ibu yang tidak baik. Dia terlalu mulia untuk diperlakukan begitu oleh orang sepertimu."
Miska terdiam, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Ia menatap suaminya — pria yang ia cintai lebih dari siapa pun di dunia ini, namun justru dialah yang kini melukainya paling dalam. Ia tak membayangkan bahwa mengadu justru akan berbalik menjadi tuduhan baru baginya. Bukan didengarkan, bukan dibela, melainkan dicap sebagai pembohong, penfitnah, dan wanita yang berniat jahat.
"Sana tidur," ucap Askar dingin, berbalik memunggungi istrinya dan duduk di tepi tempat tidur sambil memijat pelipisnya, seolah keberadaan Miska saja sudah membuatnya sakit kepala. "Aku nggak mau lihat wajahmu malam ini. Dan ingat, besok pagi jangan pernah kamu ulangi kata-kata itu di depan siapa pun. Apalagi di depan Ibu. Kalau kamu berani menyinggung hal itu, kamu tahu sendiri akibatnya."
Miska berdiri terpaku di tempatnya, tubuhnya gemetar hebat. Kata-kata itu seperti pisau yang berulang kali ditusukkan ke dadanya, berputar perlahan hingga tak ada lagi bagian yang tak terluka. Ia berjalan perlahan menuju sudut ruangan, duduk di kursi kayu di dekat jendela, membiarkan udara malam yang dingin menyentuh kulitnya. Hatinya hancur — bukan hanya karena hinaan ibu mertuanya, tapi karena suaminya sendiri yang memilih memercayai kata-kata ibunya tanpa pernah sekalipun mencoba memercayainya.
Di luar, angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai jendela. Miska menatap ke arah kegelapan, bertanya-tanya dalam hati: Apakah aku salah? Apakah aku yang terlalu sensitif? Atau memang aku yang tak pantas di sini? Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu ia tak berbohong. Ia tahu betul apa yang ia lihat dan dengar setiap hari. Dan kenyataan bahwa suaminya tak mau melihatnya, itu adalah kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada semua makian yang pernah ia terima.
Malam itu, Miska tak tidur di tempat tidur. Ia duduk di kursi itu hingga fajar menyingsing, matanya kering namun hatinya basah oleh kesedihan yang tak bertepi. Ia menyadari satu hal yang jelas dan pahit: di rumah ini, ia sendirian. Bahkan di samping suaminya sendiri, ia tetaplah seorang diri. Dan pertarungan yang harus ia hadapi mulai saat ini bukan lagi sekadar menghadapi ibu mertuanya, melainkan menghadapi kenyataan bahwa orang yang paling ia cintai justru menjadi orang yang paling tidak memihak kepadanya.
BANTU LIKE DAN KOMEN YA🥺🥺
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪