Apa jadinya jika pengetahuan kultivasi tingkat dewa dimiliki oleh jiwa pemuda modern
Qin Feng terbangun di dalam goa isolasi sebagai Master Legendaris Gu Tian. Namun, alih-alih bisa terbang membelah langit, musuh utamanya saat ini adalah encok, pinggang kram, dan jalur meridian yang kaku.
sang "Master Tua" berjiwa pemuda ini harus memutar otak agar tidak mati konyol untuk kedua kalinya di tengah kepungan musuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Qin Feng duduk bersender di dinding batu goa sambil menatap pakaian barunya dengan pandangan serius.
Fakta bahwa musuh-musuh lama Gu Tian adalah para ahli tingkat atas yang sanggup meratakan gunung membuat kepalanya sedikit pusing. Meskipun kini penampilannya sudah berubah menjadi sosok pria setengah baya yang karismatik dan fisiknya sudah menembus Ranah Fondasi Bintang 4, angka itu masih sangat jauh dari kata "aman" di dunia yang kejam ini.
"Pikirkan dengan dingin, Qin Feng..." bisiknya pada diri sendiri sambil memutar otak jeniusnya. "Sekarang aku punya dua pilihan di hadapanku."
Pilihan pertama: Dia tetap mengasingkan diri di dalam goa ini, memanfaatkan seluruh fasilitas dan peninggalan Gu Tian untuk berkultivasi lebih lama lagi sampai mencapai tingkat kekuatan yang cukup aman sebelum menunjukkan hidung ke dunia luar.
Pilihan kedua: Dia keluar dari goa sekarang juga, menggunakan salah satu ilmu rahasia milik Gu Tian yaitu Teknik Penyamaran Bayangan untuk menyembunyikan identitas dan auranya, lalu mengintip situasi dunia luar secara diam-diam.
Qin Feng menimbang-nimbang kedua opsi itu di dalam kepalanya selama beberapa menit.
"Kalau aku keluar sekarang cuma modal Teknik Bayangan dan Ranah Fondasi Bintang 4..." Qin Feng menggelengkan kepala cepat-cepat. "Satu kali ketahuan oleh musuh lama kakek ini, aku bahkan tidak akan punya kesempatan untuk minta ampun! Lagi pula, di kehidupan sebelumnya aku mati gara-gara terlalu nekat dan ceroboh. Di kehidupan kedua ini, aku harus ekstra hati-hati!"
Rasa trauma mati konyol akibat kelelahan dan tekanan di Bumi membuat Qin Feng memiliki naluri bertahan hidup yang sangat tinggi. Dia tidak mau bertaruh nyawa pada keberuntungan semata.
"Pilihan pertama! Aku memilih bertahan di goa ini dulu!" tegas Qin Feng dengan keputusan bulat. "Setidaknya... aku harus menembus sampai ke Ranah Inti Emas (Golden Core Realm)! Tanpa Inti Emas di dalam Dantian-ku, keluar dari tempat ini sama saja dengan mengantarkan leher ke pisau jagal!"
Dengan keputusan mantap tersebut, Qin Feng berdiri dan melangkah kembali ke ruangan utama goa tempat dia pertama kali terbangun dari koma seminggu lalu.
Lantai batu goa itu masih dipenuhi oleh senjata-senjata pusaka dan botol porselen. Namun, saat mata Qin Feng menyapu jari jemari tuanya sendiri, perhatiannya mendadak tertuju pada sebuah benda kecil yang melingkar di jari manis tangan kirinya.
Sebuah cincin perak ukir berhiaskan batu permata hitam yang memancarkan pendar energi tak kasat mata: Cincin Penyimpanan Spasial (Spatial Ring) milik Gu Tian.
"Astaga! Bagaimana bisa aku melupakan cincin peninggalan kakek tua ini?" seru Qin Feng menepuk jidatnya sendiri.
Menggunakan pemahaman ingatan Gu Tian yang sudah melekat di otaknya, Qin Feng menyentuh permukaan batu permata hitam pada cincin tersebut, lalu mengalirkan seutas benang Qi dari Ranah Fondasi Bintang 4 milik fisiknya.
BZZZZT!
Koneksi batin seketika terhubung. Sebuah ruang hampa udara berukuran seluas lapangan sepak bola mendadak terhampar jelas di dalam penglihatan batin Qin Feng!
Dan pemandangan di dalam ruang penyimpanan itu sukses membuat mata Qin Feng terbelalak lebar, hampir melompat keluar dari kelopak matanya.
"B-Buset... Mampus aku!" jerit Qin Feng histeris.
Di dalam ruang cincin spasial yang luas itu, terhampar gunung-gunung kristal berwarna biru pekat dan emas mengilap yang bertumpuk tinggi bagaikan bukit. Itu adalah ribuan—tidak, puluhan ribu Batu Spiritual Tingkat Tinggi (High-Grade Spiritual Stones)! batu-batu bernilai fantastis yang kaya akan energi Qi murni, sebuah mata uang sekaligus sumber energi paling diburu oleh seluruh kultivator di benua ini.
Selain bukit batu spiritual, di sudut lain ruang cincin itu juga tersimpan puluhan rumput herbal langka berusia ribuan tahun, ribuan kitab teknik, serta porsi cadangan pil-pil kultivasi kelas atas yang belum tersentuh.
"Hahaha! Kaya raya! Aku beneran jadi sultan mendadak!" Qin Feng tertawa terbahak-bahak hingga suaranya bergema di seluruh ruangan goa. "Di Bumi dulu aku dikejar-kejar penagih utang sampai mati karena tidak punya uang belasan ribu rupiah, tapi di dunia ini aku malah memegang gunung harta karun milik mantan pakar nomor satu!"
Antusiasme membara seketika menyelimuti dadanya. Dengan tumpukan Batu Spiritual Tingkat Tinggi yang melimpah ini, proses kultivasinya untuk menembus Ranah Fondasi Bintang berikutnya hingga mencapai Ranah Inti Emas (Golden Core) tidak akan lagi terkendala oleh kekurangan energi alam.
Qin Feng melambaikan tangannya.
SWOOSH!
Dengan satu jentikan kesadaran dari cincin spasialnya, ratusan Batu Spiritual Tingkat Tinggi berwarna keemasan keluar melayang dan jatuh mengepung tempat duduk beredarnya di atas lantai goa. Hawa dingin bercampur energi murni yang amat pekat seketika mengepul memenuhi udara sekitar, menciptakan atmosfer latihan yang sepuluh kali lebih kuat dari sebelumnya.
Qin Feng mengibaskan jubah biru tuanya dengan anggun, lalu duduk bersila di tengah-tengah tumpukan batu berkilau tersebut.
"Baiklah, Kakek Gu Tian..." gumam Qin Feng sambil memejamkan mata dan mengusap janggut peraknya dengan senyum penuh percaya diri. "Mari kita gunakan harta karunmu ini untuk melompat langsung ke Ranah Inti Emas!"
Terima kasih sudah membaca cerita ini /Smile//Smile/