Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Surai biru serenity
Hujan masih membasahi pesisir Tidebay. Meski tak lagi sederas tadi pagi, rintiknya yang turun konstan cukup untuk melumpuhkan aktivitas warga. Kedai roti Paman Marco tampak sepi, hanya ada deru angin laut dan suara gemericik air yang menetes dari tepian atap kayu.
Setelah selesai memanggang roti, Airyn duduk termenung di salah satu meja sudut dapur. Pandangannya menerobos jendela, menatap rinai hujan tanpa henti. Pikirannya kelana ke mana-mana, mengulangi kembali keanehan yang baru saja terjadi di dapur.
Air itu benar-benar bergerak... karena aku?
Ditengah kebingungan yang membuncah, Airyn menatap cangkir minumnya yang masih terisi setengah. Rasa penasaran mendorongnya untuk menguji kembali. Ia memfokuskan pikiran, merapatkan perhatian, lalu pelan-pelan mengangkat sebelah tangannya persis seperti gerakan sebelumnya.
Secara ajaib, permukaan air di dalam cangkir mulai beriak halus. Cairan bening itu terangkat sedikit, membentuk pusaran kecil yang melayang rendah sebelum akhirnya kembali tenang saat Airyn menyapu lengannya. Kali ini ia lebih terkontrol, tak ada jeritan, tak ada kepanikan. Hanya rasa tak percaya yang merambat dingin di tengkuknya.
Airyn menghentikan aksi di luar akal sehat itu, buru-buru menopang kepalanya dengan kedua tangan. "Sepertinya aku benar-benar sudah gila," gumamnya frustrasi.
Paman Marco yang melihat tingkah laku gadis itu dari meja kasir hanya mengernyitkan dahi. Kenapa anak itu? batinnya heran. Namun, ia memilih memberi Airyn ruang, menduga gadis itu sedang terbeban masalah pribadi menjelang kepindahannya.
Tring!
Lonceng pintu berdenting nyaring. Seorang pelanggan melangkah masuk.
Ada keanehan pada sosok itu: mantel tebalnya sama sekali tidak basah, dan sepatu botnya tampak begitu kering seolah-olah ia baru saja melayang menembus hujan deras di luar. Paman Marco tak terlalu memusingkan detail tersebut. Pria asing itu melangkah anggun, melepaskan mantelnya namun tetap mempertahankan tudung kepala yang menyembunyikan sebagian besar wajahnya.
"Selamat datang, Tuan. Ingin memesan apa?" sapa Paman Marco ramah ketika pria itu menduduki salah satu meja kayu.
"Bisa seduh kan aku secangkir teh panas? Juga sepotong roti panggang," pinta pria itu sopan, suaranya terdengar berat namun tertata.
"Tentu, tunggu sebentar," balas Paman Marco seraya menyeduh teh.
Sementara itu, Airyn masih terdiam dalam lamunannya.
"Ryn... Airyn!"
Panggilan Paman Marco memecah lamunan Airyn, menariknya kembali ke realita. Dengan cepat ia mengambil sepotong roti panggang hangat yang baru diangkat dari oven, lalu membawanya ke depan.
"Hujannya awet sekali hari ini," celetuk Paman Marco sembari menyajikan cangkir teh ke meja sang tamu.
"Iya. Sudah lama Tidebay tidak diguyur hujan seperti ini," jawab pria bertudung itu dengan tenang seraya menyeruput tehnya.
Airyn mendekat, menyajikan roti panggang tersebut dengan senyum sopan. "Silakan, Tuan."
Pria itu mendongak sejenak. Namun saat manik matanya menangkap wajah Airyn, tubuhnya mendadak kaku. Tatapannya terkunci penuh terkejut pada iris mata Airyn.
"I-itu... boleh aku bertanya sesuatu?" panggil pria itu terburu-buru saat Airyn hendak berbalik ke dapur.
Airyn menghentikan langkahnya, menoleh penasaran. "Ada apa, Tuan?"
"Warna matamu... apakah memang sudah seperti itu sejak lahir?" tanya pria itu dengan nada yang terlalu mendesak.
Pertanyaan itu menghantam topik paling sensitif bagi Airyn. Wajah cerianya berganti dingin. "Maaf, Tuan. Menurut saya Anda tidak sopan bertanya hal pribadi seperti itu," potong Airyn ketus, lalu melangkah cepat menuju dapur belakang.
Pria bertudung itu terperanjat dan berdiri, berniat mengejar Airyn ke area dapur. Namun, Paman Marco dengan sigap pasang badan menghalangi jalurnya.
"Tuan, hentikan! Kau membuatnya takut!" tegur Paman Marco tegas dengan nada mengancam. "Jika Kau kemari hanya untuk mencari masalah dengan pekerja saya, silakan pergi!"
Pria itu terdiam sebentar, lalu mengembuskan napas panjang. "Maafkan saya. Saya tidak bermaksud jahat." Ia akhirnya kembali duduk, menghabiskan teh dan rotinya dalam hening.
Paman Marco meliriknya sekilas lalu bergumam pelan, "Dia gadis yatim piatu. Sejak kecil sudah cukup menderita karena orang-orang sering mengolok-olok warna matanya yang berbeda."
Pria bertudung itu hanya mendengarkan dalam diam, merenungi rasa bersalah karena telah membuat gadis itu merasa tak nyaman. Tak lama setelah menghabiskan pesanannya, ia meletakkan koin pembayaran di atas meja lalu melangkah keluar melintasi rinai hujan.
Airyn baru keluar dari dapur setelah memastikan suasana aman. Paman Marco sengaja tidak membahas insiden tadi demi menjaga perasaan Airyn. Mereka menyelesaikan sisa pekerjaan hingga malam tiba tanpa banyak bicara.
Hujan telah berhenti total ketika kedai resmi ditutup. Airyn bersiap untuk pulang, sementara Paman Marco mengunci pintu depan.
"Airyn, jangan dimasukkan ke hati kejadian tadi, ya," ucap Paman Marco memulai percakapan.
Airyn tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Paman."
"Baguslah. Kapan kau resmi pindah ke kamar barumu?"
"Malam ini, Paman. Setelah ini aku akan kembali ke panti dulu untuk mengambil barang-barang."
"Perlu bantuan untuk membawanya?" tawar Paman Marco perhatian.
"Tidak perlu, Paman. Barangnya tidak banyak, aku bisa bawa sendiri kok."
Paman Marco mengangguk memahami.
Mereka pun berpisah di persimpangan jalan, melangkah menuju arah yang berlawanan.
Airyn menyusuri jalanan batu Tidebay seperti biasa. Udara malam terasa makin menusuk akibat hujan seharian. Langkah kakinya konstan, hingga bangunan panti asuhan mulai terlihat di ujung pandangan.
Wuuush!
Sebuah gerakan secepat kilat mendadak menarik tubuh Airyn masuk ke dalam gang sempit yang gelap di samping jalan bebatuan.
Jantung Airyn serasa melompat ke tenggorokan. Ia mencoba berteriak, namun sebuah telapak tangan yang besar dan hangat langsung membungkam mulutnya rapat-rapat. Mata emas Airyn membelalak penuh horor saat berhadapan langsung dengan sosok pria yang memitingnya di balik bayangan dinding batu.
Pria itu menempelkan telunjuk ke bibirnya sendiri, mengisyaratkan Airyn untuk tidak bersuara. Begitu Airyn mengangguk cepat tanda mengerti, pria itu perlahan melepaskan bungkaman tangannya.
"Kau?!" bisik Airyn terperanjat begitu mengenali mantel yang dikenakan pria di depannya. Pria yang sama dari kedai kopi tadi!
"Maafkan aku karena harus membuatmu terkejut," bisik pria itu penuh penyesalan. "Tapi aku benar-benar harus menanyakan hal ini padamu."
"Kau membuatku takut, Tuan!" sahut Airyn gemetar, ketakutan setengah mati terkurung di gang gelap bersamanya.
"Aku sungguh meminta maaf. Tapi tolong jawab aku... apakah warna matamu itu benar-benar asli sejak kau lahir?" tanya pria itu lagi, suaranya terdengar sangat memohon.
Airyn merasa kesal campur waswas. Kenapa orang asing ini begitu terobsesi dengan penampilannya?
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaan dari orang tak dikenal yang mendadak menyeretku ke gang!" tegur Airyn ketus, mencoba melepaskan diri dan menerobos keluar dari gang.
"Tolong, tunggu sebentar!" pria itu berusaha menahan pundak Airyn agar tidak pergi.
Dalam kepanikan, Airyn memberontak keras. Tangannya menghempas mantel sang pria yang tanpa sengaja menepis tudung tebal yang mengurung kepalanya hingga terhempas ke belakang.
Srettt!
Tudung itu terbuka penuh. Cahaya rembulan yang menerobos celah gang mendadak menyinari paras pria tersebut.
Langkah Airyn terhenti seketika. Tubuhnya membeku.
Di balik tudung yang terlepas itu, tampak paras pria berusia awal empat puluhan dengan potongan surai pendek berwarna biru serenity terang, warna langka dan indah yang sangat identik dengan warna rambut asli yang selama ini Airyn sembunyikan di balik pasta arang.
Airyn mematung beberapa detik, napasnya seolah tertahan di dada. Sementara itu, pria tersebut buru-buru menarik kembali tudungnya untuk menyembunyikan surai birunya dari pandangan luar.
Dengan pandangan mata yang berkaca-kaca, pria itu menatap Airyn lurus-lurus.
"Tolong jawab aku... apakah warna rambutmu yang sebenarnya juga sama denganku?"
Airyn masih berusaha mencerna apa yang baru saja disaksikannya. Tenggorokannya terasa kering. Entah mengapa, di balik ketakutan dan kebingungan yang melingkupinya, ada gejolak aneh di dalam dadanya. Perasaan yang dekat tapi juga jauh karena sosok asing itu.