Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Dipecat? Maksud kamu sekarang kita gak punya penghasilan?" Teriakan Sarah membuat dua anak kecil dirumah itu menangis secara bersamaan
"Apa kamu tidak bisa diam? Anak-anak menangis, Sarah"
"Ini gak mungkin kan, mas? Aku gak mau hidup miskin. Aku gak mau"
Astaga, Sarah menikahi Andra untuk hidup enak. Bukannya hidup penuh kekurangan seperti ini
Tidak disangka, niat hati ingin hidup mewah malah jatuh miskin
"Kamu tenang saja, aku akan cari pekerjaan baru" Ujar Andra, kepalanya sedang sakit. Namun ia harus tetap berusaha untuk kehidupan istri serta dua buah hatinya
"Jika kamu tidak bisa, biar aku yang kerja" Ucap Sarah membuat sang suami meradang
"Apa maksud kamu?"
"Kamu gak ngerti? Aku akan bekerja"
"Lalu bagaimana dengan anak-anak? Terlebih Riski masih bayi" Andra tentu saja memikirkan nasib putra kecilnya yang masih menyusu
"Aku gak peduli, aku udah berulang kali bilang untuk pake pengasuh, tapi kamu selalu menolak" Kesal hati Sarah saat ini, ia lelah dan sekarang suaminya malah pulang dengan berita buruk
"Kamu yang gak ngerti, kamu tahu sendiri kalau sekarang aku gak punya pekerjaan, lalu dari mana kita dapat uang untuk bayar pengasuh"
Suara tangis bayi semakin menggema, namun pasangan suami istri itu enggan untuk berhenti
"Aku gak mau tau mas, besok kamu udah harus punya kerjaan" Sarah keluar dari rumah, ia butuh yang namanya ketenangan dan ia tidak sanggup dengan suara tangisan bayi
Andra menghampiri kedua buah hatinya, dengan lembut ia menenangkan keduanya yang terus saja menangis
Sementara itu ditempat berbeda, tepatnya sebuah kamar sederhana. Aini tersenyum membaca pesan yang dikirimkan oleh Tristan
Setiap kata nya membuat hatinya puas, sekarang kehancuran dua orang yang telah melukainya telah dimulai
"Ini belum ada apa-apanya, mas. Aku akan memastikan kalian jatuh hingga ke dasar" Aini menyimpan kembali ponselnya, besok ia akan bertemu dengan pengacara yang Tristan katakan
Keesokkan harinya, Aini bertemu seorang pria paruh baya. Dia adalah pengacara ternama di kota ini
"Tuan Tristan sudah mengatakan semuanya. Saya sudah menyiapkan semuanya disini" Pria paruh baya itu menyodorkan sebuah map pada Aini
Wanita cantik itu tersenyum, selangkah lagi ia akan mendapatkan kembali hak asuh atas putrinya
"Kita juga bisa menuntut dengan undang-undang perlindungan anak" Ujar Pria didepan Aini
"Tidak perlu, pak. Saya tidak ingin berurusan dengan pihak berwajib"
Pria paruh baya itu hanya menurut, jika itu yang kliennya inginkan maka akan ia laksanakan
"Baiklah, jika nona sudah setuju maka saya akan segera menyerahkan berkas perkara ini pada pengadilan dan nona Aini akan segera mendapatkan kembali hak asuh itu"
"Terima kasih, pak" Keduanya saling berjabat tangan, sebelum akhirnya Aini meninggalkan restoran
"Sebentar lagi kita akan kembali bersama sayang" Aini menitihkan air matanya, sebentar lagi ia dan buah hatinya akan tinggal bersama lagi
Sementara itu, seorang pria kembali melangkah keluar dari sebuah gedung perusahaan
Ini sudah perusahaan ke-lima dan dirinya belum juga mendapatkan pekerjaan. Sekarang apa yang bisa ia lakukan, Andra merasa dirinya tidak berguna sebagai seorang kepala rumah tangga
"Ya Allah, kenapa cari kerja sesusah ini?" Andra mengusap keringat yang membasahi wajah serta lehernya lalu kembali menyusuri trotoar
***
Sebelum mengetuk pintu, Aini menghela napasnya. Saat keberanian itu didapatkan barulah ia mengetuk
Terdengar suara sahutan dari dalam, pintu terbuka dan menampilkan seorang pria yang tengah menenangkan seorang bayi kecil yang tengah menangis
"Aini? Kamu disini?"
Aini menatap penampilan suaminya, Andra terlihat kacau dengan penampilan yang berantakan dan rambut yang acak-acakan
"Apa kamu ada waktu? Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Aini
Andra mengangguk, ia bergeser hingga Aini kini telah berada didalam rumah
"Kamu duduk dulu! Biar aku tidurin Riski dulu" Aini melihat suaminya yang kesulitan menenangkan bayi dua bulan itu
"Dimana istri kamu, mas?" Andra menoleh pada sang mantan istri yang duduk diatas sofa
Andra merutuki kebodohannya, apa yang membuatnya berpaling? Lihatlah Aini, wanita ini sangat sempurna, bahkan semenjak bercerai sepertinya wanita ini semakin cantik saja
"Sarah keluar untuk cari kerja. Untuk sementara ini aku belum kerja karena aku dipecat" Jawab Andra, Aini juga tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut
"Dia kenapa?"
"Riski demam sejak semalam, mungkin karena belum biasa ditinggal sama ibunya"
Aini bangun dari duduknya, wanita cantik itu mengulurkan tangannya meminta bayi kecil itu
Andra menyerahkannya tanpa bertanya "Sepertinya perutnya kembung" Ujar Aini
Bayi kecil itu dibaringkan diatas sofa panjang dan Aini mulai menepuk pelan perutnya
"Kamu punya minyak kayu putih?" Tanya Aini lembut
"Ada dikamar, Sebentar" Andra berlalu, tak lama ia datang dengan botol minyak kayu putih lalu menyerahkannya pada sang mantan istri "Ini"
Aini membalurkan minyak tersenyum ke tubuh sang bayi dengan usapan lembut, perlahan tangisan Riski juga berhenti, hanya terdengar isakan kecil saja
"Biar aku ganti pakaiannya dulu! Kasian dia pasti gak nyaman" Ujar Aini pada Andra
"Gak apa-apa, biar nanti sama aku aja!" Andra jelas tidak enak membiarkan Aini mengurus anak nya
"Gak apa-apa mas, kasian. Popoknya sepertinya juga penuh"
"Ya udah aku ambil keperluannya dulu" Andra menurut saja, bagaimanapun ia tidak bisa mengurus bayi
Aini mengurus bayi kecil itu dengan telaten, Andra memperhatikan nya tanpa berkedip. Sungguh ia adalah laki-laki paling bodoh didunia
Ia kehilangan wanita paling sempurna, hanya karena kesenangan sesaat. Lihatlah Aini! Wanita ini adalah definisi istri serta ibu idaman
"Susunya?" Aini mengulurkan tangan dan Andra menyerahkan botol susu ke tangan sang mantan
Aini lebih dulu mengecek suhu dari susu itu lalu memberikannya pada si kecil. Bayi itu menghisap sambil menatap wajah Aini yang sepertinya asing
Namun alih-alih menangis, bayi kecil itu justru sangat tenang dalam dekapan hangat Aini
"Itu sepertinya suara Kasih, dia pasti udah bangun" Andra kembali kedalam kamar, tak lama ia kembali sambil menggendong seorang gadis kecil yang menangis
Melihat sang ibu, Kasih merengek minta untuk diturunkan. Andra kewalahan dan memilih untuk menurunkannya
"Bu" Kasih sudah menangis, Aini tersenyum melihat putrinya yang sepertinya cemburu
"Sebentar yaa sayang"
"Sini Riski nya, dia juga udah selesai tuh nyusunya" Bayi kecil itu terlihat menguap
"Sebentar mas" Aini mendudukkan bayi kecil itu lalu menepuk pelan punggungnya hingga terdengar suara "Biar perutnya nyaman"
Andra mengangguk, ada banyak hal yang ia tidak ketahui. Selama Kasih bayi, ia tidak pernah turut serta dalam mengasuhnya
"Dia udah tidur, sini! Biar mas pindahin ke kamar" Aini menyerahkan putra dari mantan suaminya itu lalu bergantian memangku putri kecilnya yang semakin menggemaskan
"Kasih kangen sama ibu yaa?" Tanya Aini lembut pada putrinya "Ibu ada hadiah untuk Kasih" Bocah menggemaskan itu begitu senang melihat boneka lembut yang ibunya berikan
Tak lama Andra kembali dan wajahnya terlihat begitu lelah. Mengurus dua bayi kecil memang sangat tidak mudah
"Kamu seperti nya kewalahan, mas"
"Mas cuma belum biasa aja" Jawab Andra lalu menegakkan tubuhnya menatap wanita cantik yang duduk dihadapannya "Ngomong-ngomong kamu ada perlu apa kesini?"
"Aku mau bawa ini" Aini menyerahkan sebuah amplop pada mantan suaminya itu
"Apa ini?"
"Aku mau menuntut kembali hak asuh atas Kasih"
lebih suka Aini sama Yudha saja sih, Yudha juga laki-laki yang baik