Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Malam di Safe House, Aturan yang Retak, dan Suara di Luar Jendela
“Karena kalian terus-terusan dekat,” kata Aira datar.
Keenan tersenyum tipis. “Atau karena kamu mulai terbiasa.”
Reza muncul di pintu. “Semua ke ruang tamu. Ada laporan baru.”
Mereka pindah. Aira duduk di sofa, dibungkus selimut tipis yang Raka berikan. Reza menunjukkan layar ponsel.
“Tim pengintai melihat dua mobil mencurigakan berputar di radius satu kilo dari sini. Belum mendekat. Tapi pola mereka sama seperti sebelum serangan sebelumnya.”
Raka mengeraskan rahang. “Kita pindah lagi?”
“Belum. Malam ini terlalu riskan. Besok pagi, setelah ada backup tambahan.”
Aira menatap layar. “Mereka menunggu kita lengah.”
“Ya,” jawab Reza. “Makanya tidak ada yang lengah.”
Keenan duduk di sisi lain sofa. “Aira harus tetap di dalam. Tidak boleh dekat jendela.”
“Saya tahu.”
Raka berjongkok di depan Aira. “Tidur di sini. Di sofa. Supaya kami bisa lihat kamu.”
“Tidak. Saya tidur di kamar. Pintu terbuka.”
“Aira—”
“Kompromi. Pintu terbuka. Lampu koridor menyala. Kalau ada bunyi aneh, saya yang panggil kalian dulu.”
Reza mengangguk. “Baik.”
Aira berdiri. “Satu lagi. Kalau besok kita benar-benar diserang dan rumah ini rusak, siapa yang bayar ke pemiliknya?”
Ketiga pria itu menatapnya serentak.
Raka menjawab lebih dulu. “Saya.”
Reza. “Negara.”
Keenan. “Kita bagi tiga.”
Aira mengangguk puas. “Bagus. Sekarang saya coba tidur.”
Dia kembali ke kamar. Pintu dibiarkan terbuka lebar. Lampu koridor menyala kuning. Aira berbaring, kali ini menghadap ke pintu. Pisau lipat tetap di bawah bantal.
Di ruang tamu, ketiga pria duduk dalam diam cukup lama.
Raka yang pertama bicara. “Dia masih menghitung uang di kepala bahkan saat hampir mati.”
Keenan tersenyum kecil. “Itu caranya bertahan. Kalau dia mulai berhenti menghitung, berarti dia sudah percaya.”
Reza memeriksa senjata lagi. “Semoga dia belum percaya terlalu cepat. Karena percaya di situasi seperti ini bisa membunuhnya.”
Satu jam kemudian, Aira masih belum tidur. Dia mendengar langkah pelan di koridor. Bukan Reza. Bukan Raka. Langkah Keenan.
Dokter itu berhenti di depan pintu terbuka. “Masih bangun?”
“Ya.”
Keenan masuk, duduk di kursi kayu dekat kasur. “Nyeri?”
“Terkendali.”
“Bohong lagi.” Dia mengeluarkan termometer kecil. “Saya cek sekali lagi.”
Aira menurut. Saat Keenan menempelkan alat di dahinya, jari-jari dokter itu tersisa di pelipis Aira lebih lama. “Kamu panas sedikit.”
“Wajar.”
Keenan menurunkan tangan, tapi tidak menjauh. “Aira. Kalau semuanya selesai nanti… kamu mau ke mana?”
“Cari arena lain. Atau pekerjaan yang bayar tunai.”
“Tidak terpikir untuk berhenti?”
“Berhenti berarti tidak ada pemasukan. Tidak ada pemasukan berarti mati pelan-pelan.”
Keenan menatapnya lama di cahaya kuning koridor. “Kamu membuat tiga orang dewasa kehilangan akal. Tahu itu?”
“Saya tidak minta.”
“Justru itu masalahnya.” Dia berdiri. “Tidur. Saya di luar.”
Setelah Keenan pergi, Raka muncul. Dia tidak masuk, hanya bersandar di pintu.
“Dia suka kamu,” kata Raka pelan.
“Dokter itu?”
“Ya. Reza juga. Dengan caranya sendiri.”
Aira menatap langit-langit. “Dan kamu?”
Raka terdiam. Lalu menjawab, “Saya sudah melewati tahap suka.”
Aira merasakan sesuatu yang aneh di dada. Bukan nyeri rusuk. Sesuatu yang lebih dalam dan lebih merepotkan. “Pergilah ke sofa, Raka.”
“Saya di sini.”
“Aturan.”
“Aturan bisa retak malam ini.”
Aira tidak membalas. Dia hanya memejamkan mata. Raka tetap di ambang pintu, menjaga.
Di luar rumah, dua mobil yang tadi berputar-putar akhirnya berhenti di bawah pohon berjarak tiga ratus meter. Pria bertato leher menurunkan kaca jendela, menatap rumah cat krem itu.
“Semua di dalam,” lapornya lewat radio. “Tiga pria. Target di kamar kanan.”
Suara bos di seberang dingin. “Tunggu sampai pukul tiga. Matikan listrik dulu. Lalu masuk dari belakang. Kali ini jangan gagal. Saya ingin dia hidup… atau setidaknya masih bisa berbicara.”
Pria itu mengangguk. “Siap.”
Di dalam kamar, Aira tiba-tiba membuka mata. Insting lama yang sudah bertahun-tahun dia coba matikan sekarang berteriak pelan.
Sesuatu akan datang. Dan kali ini, uang mungkin tidak akan cukup untuk membayar harganya.
Pukul dua dini hari. Rumah masih sepi. Hanya bunyi detak jam dinding dan sesekali derit kayu saat angin malam menyusup lewat celah jendela. Aira berbaring miring di kasur, mata terbuka, pisau lipat tetap di bawah bantal. Dia sudah mendengar cukup banyak malam seperti ini di masa lalu—malam sebelum sesuatu yang buruk datang.
Di ruang tamu, Reza duduk di kursi yang sama sejak dua jam lalu. Senjata masih di pangkuan. Raka bersandar di sofa dengan mata setengah terpejam, tapi jari-jarinya mengetuk sandaran terus-menerus. Keenan memeriksa botol obat di meja untuk ketiga kalinya, seolah jumlah tablet bisa berubah kalau tidak dia hitung ulang.
Ponsel Reza bergetar. Bukan getaran biasa tapi dengan pola khusus. Reza menatap layar, rahangnya langsung mengeras. Dia berdiri dan berjalan ke sudut ruangan yang lebih gelap sebelum mengangkat. “Kakek.”
Suara di seberang langsung masuk, tegas, sedikit serak karena umur, tapi masih penuh otoritas. “Reza. Jam segini kamu masih belum tidur. Saya tahu.”
“Ada urusan dinas.”
“Urusan dinas atau urusan perempuan itu?”
Reza terdiam sejenak. Raka dan Keenan yang duduk tidak jauh langsung menegangkan tubuh. Mereka tidak mendengar isi percakapan, tapi nada Reza sudah cukup membuat mereka waspada. “Kakek memanggil untuk apa?” tanya Reza pelan.
“Mengingatkan. Acara perjodohan dengan keluarga Hadi sudah dijadwalkan ulang. Dua minggu lagi. Kamu harus hadir. Tidak ada alasan dinas kali ini.”
Reza menghela napas sangat pelan. “Saya masih dalam penugasan penting.”
“Semua penugasan bisa diganti orang lain. Perjodohan ini tidak. Kakekmu sudah berjanji. Keluarga kita tidak boleh kehilangan muka lagi.”
Di sofa, Raka menoleh ke Keenan. Mata mereka bertemu. Keduanya mendengar kata perjodohan dengan jelas.
Reza membalik badan, memunggungi kedua pria itu. “Saya mengerti. Tapi saat ini saya tidak bisa meninggalkan lokasi.”
“Lokasi di mana? Masih mengejar gadis itu?”
Udara di ruang tamu seolah mengental. Raka duduk tegak. Keenan meletakkan botol obat dengan hati-hati.
Reza menjawab datar, “Pencarian masih berlangsung. Belum ada hasil pasti.”
“Belum ada hasil? Sudah berapa minggu? Kakek mendengar dari orang dalam bahwa kamu sudah bertemu dengannya. Bahkan menjaganya.”
Reza menutup mata sesaat. “Informasi itu tidak akurat.”
“Jangan bohongi kakek. Kamu buruk berbohong sejak kecil. Gadis itu berbahaya. Mantan pembunuh. Kalau kamu terlalu dekat, keluarga kita yang akan kena getahnya. Selesaikan cepat. Tangkap atau netralisasi. Lalu pulang untuk acara perjodohan.”
Reza membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Akhirnya dia hanya bilang, “Saya akan laporkan perkembangan secara resmi.”
“Reza.” Suara kakek turun, lebih rendah. “Jangan sampai perempuan itu membuatmu lupa posisi. Kamu calon penerus. Bukan penjaga gadis liar dari arena ilegal.”