Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Jam dinding kayu di ruang tamu utama berdenting pelan, menunjukkan pukul tiga pagi. Udara dingin malam perlahan merayap menembus celah jendela, namun Ruby tetap bergeming di atas sofa. Matanya yang sembap dan lelah terus menatap lurus ke arah pintu jati ganda yang tetap tertutup rapat.
Rasa cemas yang membelenggu dadanya terlalu berat untuk diabaikan. Kata-kata terakhir Luca sebelum pergi—tentang rasa memiliki, dendam, dan janji untuk kembali—terus bergema di kepalanya bagai mantra. Ruby memeluk kedua lututnya erat-erat, menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada sandaran sofa, hingga tanpa disadari, rasa lelah luar biasa akibat latihan fisik keras pagi tadi akhirnya memaksa matanya terpejam.
...
Cahaya matahari pagi yang hangat perlahan menerobos tirai tipis, menusuk lembut kelopak mata Ruby.
Gadis itu mengerjap pelan, menyesuaikan penglihatannya dengan silau ruangan. Ia mendudukkan tubuhnya yang terasa kaku, menyapu pandangan ke sekeliling ruang tamu yang luas dan megah itu.
Sepi.
Tidak ada suara deru mesin mobil yang kembali, tidak ada pengawal ber taktis yang lalu lalang dengan tergesa-gesa, dan tidak ada sosok tegap beraroma maskulin dingin yang biasanya melangkah intimidatif menembus ruangan tersebut. Mansion itu terasa begitu hening dan hampa, seolah waktu berhenti berputar di dalamnya.
Ruby beranjak berdiri dengan langkah ragu, mendekati pintu utama yang masih terkunci rapat dari dalam.
"Tuan Luca... belum pulang?" bisiknya pada diri sendiri, dadanya seketika dihantam oleh kepedihan dan rasa cemas yang makin membakar.
Saat itulah, Bi Ratna melangkah cepat dari arah dapur seraya membawa nampan berisi sarapan, wajahnya tampak sedikit tegang namun dipaksakan tersenyum netral begitu melihat Ruby sudah terbangun.
"Non Ruby... kok tidur di sofa?" tegur Bi Ratna lembut, meletakkan nampan di atas meja. "Kenapa tidak tidur di kamar saja, Non? Nanti bisa sakit."
Ruby berbalik, menatap Bi Ratna dengan pandangan menuntut penjelasan. "Bi... Tuan Luca mana? Dia belum kembali dari semalam?"
Bi Ratna seketika mengalihkan pandangannya sebentar, mengingat instruksi ketat dari Marco sebelum memantapkan suaranya. "Tuan Luca... tadi malam melanjutkannya langsung ke luar kota, Non. Ada urusan bisnis yang sangat mendadak dan penting di sana. Kata Tuan Marco, Tuan mungkin butuh waktu beberapa hari dan minta Non Ruby tetap fokus latihan dan pemulihan di mansion."
Ruby terpaku. Jawaban itu terdengar sangat masuk akal bagi seorang penguasa bisnis seperti Luca Oliver, namun insting dan ingatan Ruby akan sorot mata Luca sebelum pergi malam tadi menyuarakan hal yang berbeda. Ada rasa janggal yang menusuk ulu hatinya, meninggalkan benih kecurigaan bahwa ada sesuatu yang besar dan mengerikan sedang disembunyikan darinya.
...
Suara dentuman peluru yang memantul di dinding beton ruang bawah tanah terasa berbeda hari ini. Tidak ada aura intimidatif yang menekan dari belakang punggungnya, tidak ada suara rendah yang membimbing posisinya dengan dingin namun tegas, dan tidak ada sentuhan hangat yang membetulkan kuncian jarinya di gagang senjata.
Di samping Ruby, berdiri seorang instruktur pria bertubuh tegap berpakaian serba hitam—pelatih profesional yang disewa oleh faksi Oliver.
"Fokus, Miss Ruby," tegur instruktur itu dengan suara datar dan formal. "Bahu Anda terlalu tegang. Target Anda meleset tiga senti ke kanan."
Ruby menarik napas panjang, menurunkan pistolnya sejenak. Peluh dingin mengucur menembus pelipis dan lehernya, membasahi kaus taktis yang dikenakannya. Namun, bukannya bayangan target tembak di hadapannya, wajah Luca yang dipenuhi kilatan dendam membara malam itu yang terus berputar di dalam kepalanya.
*DOR!*
Ruby menekan pelatuknya lagi, tapi hasilnya makin berantakan. Firasat buruk yang menggerogoti dadanya sejak kemarin kini makin terasa nyata dan menyiksa.
"Kita istirahat lima menit," ujar sang instruktur seraya memeriksa papan skor otomatis.
Ruby menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju, lalu melangkah ke tepi matras untuk mengambil botol air mineral. Matanya tak sengaja menangkap sosok Marco yang melintas cepat di koridor luar ruang bawah tanah. Wajah pria kepercayaan Luca itu tampak sangat pucat, letih, dan menyimpan kecemasan yang luar biasa berat.
Ruby meletakkan botol airnya dan melangkah keluar ruangan tanpa memedulikan panggil instruksinya.
"Tuan Marco!" panggil Ruby tegas, menghentikan langkah tergesa-gesa pria itu di dekat pintu lorong rahasia.
Marco berbalik kaget, dengan cepat menetralkan raut wajahnya menjadi dingin dan profesional. "Ada apa, Miss Ruby? Bukankah ini jadwal latihan Anda?"
Ruby memangkas jarak di antara mereka, menatap Marco lurus-lurus dengan mata yang menuntut kejujuran. "Tuan Luca... dia tidak benar-benar pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, kan?"
Marco memicingkan mata, menyembunyikan keterkejutannya. "Saya tidak mengerti maksud Anda. Tuan Luca sedang—"
"Jangan bohongi saya, Tuan Marco!" potong Ruby, suaranya bergetar menahan gejolak emosi. "Saya tahu sorot mata Tuan Luca sebelum pergi semalam. Pria yang pergi untuk membunuh pembunuh orang tuanya tidak akan berbelok ke rapat bisnis begitu saja. Ada apa sebenarnya? Kenapa semua orang di mansion ini kelihatan tegang dan menyembunyikan sesuatu dari saya?"
Marco membisu sejenak. Ketajaman dan ketelitian Ruby yang kini terbentuk berkat latihan membuat gadis itu tidak lagi mudah dibodohi. Namun, mengingat kondisi Luca di ruang medis rahasia yang masih naik-turun dan penuh jahitan, Marco harus memegang teguh perintah bosnya.
"Tuan Luca menguasai posisinya dengan sangat baik, Miss," balas Marco dingin, suaranya dipaksa bergerak tenang. "Tugas Anda hanya satu: ikuti perintahnya, berlatih keras, dan jangan menambah beban pikirannya dengan kecurigaan yang tidak perlu."
Marco berbalik dan pergi sebelum Ruby sempat membalas.
Ruby berdiri mematung di lorong yang dingin itu. Tatapannya tertuju pada pintu besi di ujung koridor bawah tanah—pintu yang sejak kemarin selalu dijaga ketat oleh dua pengawal tegap. Firasatnya menjerit keras bahwa di balik pintu itulah jawaban atas hilangnya pria yang sangat ia cemaskan berada.