demi mendukung karier suaminya Arga Prasetyo, Ariana rela menikah selama delapan tahun secara diam-diam. Ariana menemani Arga berjuang di perusahaan nya tapi balasan yang didapatnya adalah perselingkuhan, bahkan pelakor itu terang-terangan menantang nya.
setelah menyiapkan perceraian dan pergi dengan tenang ternyata Arga menolak untuk melepaskan nya. hingga seorang laki-laki lain datang membuka babak baru untuk nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ariana berjalan menuju lift, ketika pintu lift terbuka wanita itu segera masuk dengan memijat sedikit bahunya sambil bersandar pada dinding lift itu.
Baru saja pintu ingin tertutup, tiba-tiba sebuah tangan kekar menahannya. pria yang tak lain adalah Adrian langsung masuk kedalam lift menatap Ariana.
"sudah puas balas dendam nya hmm ?".
"sedikit".
"tapi kenapa terlihat lelah seperti itu ?".
Ariana mendongak menatap Adrian yang tinggi menjulang. "hanya capek".
"kalau capek pulanglah dan istirahat".
Ariana mengangguk, wanita itu memperbaiki posisi berdirinya agar tidak terlihat canggung. tatapannya menatap lurus kedepan.
Adrian menatap Ariana melalui pantulan lift yang kinclong, senyum kecil terbit pada bibirnya sangat kecil sampai tidak terlihat sama sekali.
'menarik'. Batin Adrian tidak bisa melepaskan pandangannya dari pantulan Ariana.
"terimakasih untuk hari ini".
"hmmm".
Adrian menyandarkan badan kekarnya pada dinding lift, dengan tangan bersedekap dada melirik Ariana yang masih canggung.
"tuan Adrian capek juga ?". Arian bertanya tanpa menoleh pada Adrian.
"hmmm saya juga ingin pulang istirahat".
"ummm". Ariana mengangguk memegang erat tas nya.
"jadi ?".
Ariana berbalik menatap Adrian menatap manik mata abu-abu itu dengan wajah yang kebingungan.
'ha ? Diakan mau pulang istirahat, aku juga mau pulang istirahat. Kenapa dia bertanya jadi ? Aku harus menjawab apa ?'. Batin Ariana memejamkan mata sesekali melirik membuka mata sedikit menatap Adrian yang seperti salah tingkah karena harus bertanya seperti itu.
'aku harus jawab apa sekarang ?'.
Ting
Lift itu berbunyi, tak lama pintu nya terbuka
"saya duluan tuan Adrian, selamat istirahat". Ariana mengangkat gaunnya bagian bawah keluar dari lift itu tanpa berbalik lagi.
Adrian terdiam menatap punggung mukus Ariana, ketika pintu lift terbuka, tangannya tiba-tiba menahan sambil berdehem pelan.
Ariana hag mendengar deheman itu berbalik menatap Adrian.
"jas nya udah saya coba".
"bagiamana apa jas nya cocok ?".
"sedikit kecil dibadan saya".
"kalau begitu, saya akan mengganti nya dengan uang saja".
Adrian tidak menghiraukan ucapan Ariana, pria itu kembali menutup pintu lift, kening wanita itu mengerut tidak mengerti dengan Adrian yang aneh.
"sebenarnya apa mau tuan Adrian, dia sangat terlihat aneh". Ariana menggelengkan kepalanya. "apa jas nya bagus atau atau tidak ? Kenapa begitu saja tidak bisa menjawab". hembusan nafas pelan keluar dari mulutnya berbalik pulang kerumahnya.
sedangkan di tempat yang lain, Arga kini berada di kantor polisi. Lebih tepatnya di ruang interogasi.
Dua orang polisi berada didepannya tengah duduk menatap Arga yang sedang melihat beberapa Poto pelaku yang hampir saja melecehkan Ariana.
'kalau saja Ariana di lecehkan oleh para pria s'alan ini, aku harus bagaimana ? Saat itu dia pasti sangat putus asa". Tangan Arga menggenggam poto itu dengan erat, urat-urat leher nya bahkan kelihatan dengan jelas.
Dua polisi penyidik menatap Arga. "saa kejadian, istri anda mengatakan jika di suntikkan obat bius dan juga obat p*rangs*ng".
Arga membulatkan mulutnya menatap kedua penyidik itu, tak percaya jika Ariana akan mengalami hal seperti ini.
"istri anda dibawa ke dalam kamar hotel, setelah sadar mendapati empat pria yang ada difoto itu". Tunjuk penyidik pada foto yang Arga pegang. "istri anda sudah menelpon sebanyak tiga kali, dua kali Anda tidak menjawab telepon nya, yang ketiga kali ternyata tersambung, dan yang menjawab nya adalah selingkuhan anda, nona putri Darmawan. istri anda merekam suara nya, saya akan putar kan rekamannya, dengar KA baik-baik". penyidik itu memencet sebuah tombol, tak lama suara putri terdengar.
"Ariana, Video mu bersama empat pria akan ku unggah besok ke internet...".
Arga menegang mendengar suara rekaman yang sempat didengar nya di ballroom saat di putar oleh Ariana. Kini rekaman itu kembali diputar, pria itu menunduk mengepalkan tangannya terlihat urat-urat tangannya menonjol.
Nafas Arga memburu dengan mata terpejam tangan yang terkepal tadi menyangga wajahnya.
"jelaskan pada kami, kenapa anda tidak menjawab telepon dari istri anda ? Dan kenapa ponsel anda berada di tangan selingkuhan anda ?". Penyidik itu menatap datar Arga.
dengan nafas yang masih tersengal-sengal, Arga membuka matanya. Tidak mampu melihat wajah penyidik yang bertanya pada nya terus menerus
"malam itu...aku masih sangat sibuk di perusahaan memeriksa beberapa dokumen. Tiba-tiba putri masuk meminjam ponsel ku dengan alasan ingin bermain game, karena saya sibuk makanya saya hanya membiarkan nya". Jawab Arga dengan wajah pasrah.
penyidik yang bertanya tadi membisikkan sesuatu pada rekan nya yang duduk disamping dengan laptop yang stay didepan nya.
setelah berbisik, penyidik itu kembali melihat Arga. "ponsel itu milik pribadi dan sangat privasi bagi pemilik nya. Bagaimana bisa anda membiarkan selingkuhan anda memainkannya ?".
rahang Arga mengeras dengan tangan mengepal kuat menatap kedua penyidik itu.
"saya sudah memasang cctv di ruangan saya, kalau kalian tidak percaya silahkan periksa".
"tenanglah...kami hanya bertanya, kami pasti akan periksa sampai tuntas".
Sedangkan di ruangan yang lain, putri duduk dengan tangan di borgol diatas meja. Hal itu terpaksa dilakukan karena wanita manja itu terus saja memberontak.
gaun pesta nya bahkan masih belum di ganti, polisi tidak memberi sedikit pun toleransi terhadap nya
Helaan nafas pelan keluar dari salah satu penyidik perempuan yang duduk didepan putri bersama satu rekannya.
"kami terpaksa melakukan ini nona, anda tidak mematuhi peraturan kami". Ujar salah satu penyidik perempuan itu menatap putri tanpa rasa kasihan.
Putri memalingkan wajahnya, nafasnya memburu merasa harga dirinya di injak-injak oleh penyidik itu.
"anda tau sendiri, kami menangkap anda karena telah melakukan kejahatan".
"bukan saya...kalian...keluarga Darmawan tidak akan tinggal diam!!!". Putri mengepalkan tangannya.
"panggil nyonya Martha masuk".
Rekan yang lain berdiri didekat pintu mengangguk, membuka pintu Bu Martha masuk dengan tangan yang juga di borgol, wajah Bu Martha sedikit takut apalagi melihat putri yang duduk dengan tangan di borgol juga.
"silahkan duduk nyonya Martha". Pinta penyidik itu.
Dengan pelan Bu Martha duduk. "lepaskan saya, ini bukan rencana saya. Dia....". Tunjuk Putri dengan dua tangan yang terbuat borgol. "dia yang merencanakan semua nya, saya tidak tau kalau dia menyewa empat pria untuk mencelakai menantu saya".
"TUTUP MULUT MU NENEK TUA!!!!". Putri berteriak marah menatap nyalang kearah Bu Martha yang terus memojokkan nya.
"kalau bukan karena mu, aku tidak mungkin berada ditempat s*alan ini!!!".
"kamu...".
"DIAM!!!".
"kalian sudah salah tapi saling memojokkan, bukannya sadar diri". penyidik itu menunjuk Bu Martha dan putri melihatnya secara bergantian.
Salah satu rekannya disamping mengelus punggung nya. "sabar...orang kaya memang akan seperti itu".
penyidik itu menarik nafas dalam, menghembuskan nya dengan pelan. Sejak tadi dia sangat emosi karena melihat putri yang terus memberontak ditambah lagi kedatangan Bu Martha membuatnya tidak bisa menahannya.
"proses penyidikan akan kami selidiki sampai tuntas, bawa dia ke sel dulu".
Polisi membawa kedua nya keluar dari ruangan interogasi, tapi sebuah keributan diluar bahkan pintu ruangan itu ditendang
BRAKKKKK
Bersambung...