NovelToon NovelToon
14 Days

14 Days

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:300
Nilai: 5
Nama Author: justjeha

❝Let's meet in the future. Kita pasti akan bertemu kembali di masa depan. Setelah itu, mari kita buka time kapsul kita bersama-sama.❞

Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.

Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.

Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Closer

"Ara? Bangun, Ra."

Ara perlahan membuka kedua matanya.

Di hadapannya, seseorang yang sangat ia rindukan sedang duduk sambil memandangi dirinya yang baru saja terbangun dari tidur. Wajah itu begitu familiar. Wajah yang selama beberapa hari terakhir hanya bisa ia lihat melalui foto.

Entah bagaimana, Ara bisa tertidur di perpustakaan kampusnya.

Namun, yang lebih membuatnya terkejut adalah sosok yang kini duduk di hadapannya.

"Kok... kok kamu bisa ada di sini?" Ara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Bukannya kamu udah-"

"Aku kangen sama kamu, Ra."

Senyuman tipis terukir di wajah lelaki itu.

"Maaf karena aku ninggalin kamu lebih dulu. Padahal aku pengin banget ngomong sesuatu sama kamu sebelum aku pergi. Tapi ternyata aku nggak punya kesempatan."

Ara hanya terdiam.

"Aku takut bikin kamu makin sedih kalau kamu tahu."

Air mata Ara mulai menggenang.

"Jujur, aku juga pengin ngomong sesuatu sama kamu." Suaranya bergetar. "Tapi kamu jahat!"

Lelaki itu terdiam.

"Jahat banget karena udah ninggalin aku begitu aja!"

"Maaf, Ra."

"Sebenarnya aku udah suka sama kamu sejak dulu."

Ara menatapnya dengan mata penuh air mata.

"Maaf kalau selama ini aku selalu ngerjain kamu."

Ara menggeleng pelan.

"Aku juga."

Suaranya nyaris berbisik.

"Aku juga punya perasaan yang sama kayak kamu. Aku juga udah suka sama kamu sejak dulu."

Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.

"Maaf juga karena aku pernah punya perasaan benci sama kamu dan malah menjauhi kamu. Padahal..." Ara terisak. "Padahal aku sayang banget sama kamu."

Lelaki itu hanya tersenyum.

Ia kemudian menarik Ara ke dalam pelukannya.

Ara membalas pelukan tersebut dengan erat. Tangisnya pecah di dada lelaki itu, seolah seluruh rasa kehilangan yang selama ini ia pendam akhirnya menemukan tempat untuk ditumpahkan.

"Jangan pergi..." bisik Ara. "Kumohon."

"Gak bisa, Ara."

Pelukan itu perlahan terasa semakin longgar.

"Tempatku bukan di sini lagi."

Ara menggeleng kuat.

"Jangan."

"Maaf."

Lelaki itu tersenyum untuk terakhir kalinya.

"Sekarang aku pamit, ya, Sayang."

"Gak boleh!"

Ara berusaha mempertahankan pelukan itu.

"Kamu gak boleh pergi! Jangan pergi!"

Sosok lelaki itu perlahan menjauh.

"Bara!!!"

"Dek! Bangun! Ara? Bangun!"

"Hah!"

Ara tersentak.

Matanya langsung terbuka lebar. Napasnya tersengal ketika ia mengarahkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Bukan perpustakaan. Ia berada di kamarnya sendiri.

Ara mengusap kedua matanya yang basah. Air mata ternyata masih mengalir di pipinya akibat mimpi yang terasa begitu nyata.

Di hadapannya, Biru berdiri dengan wajah panik.

"Dasar! Baru juga pulang beli buku, udah langsung tidur. Mimpi buruk, kan, jadinya."

"Ya, maaf." Ara mengusap wajahnya. "Aku ngerasa ngantuk banget, Bang."

"Abang panik waktu kamu manggil nama Bara sambil teriak-teriak kayak tadi. Untung aja abang belum berangkat ke kampus."

Biru duduk di tepi ranjang.

"Tapi kamu nggak apa-apa, kan, Dek?"

Ara menunduk.

"Huft..."

Ia kembali teringat mimpinya.

"Bara bilang sayang sama aku, Bang. Dia bahkan pamit juga sama aku tadi."

Suaranya bergetar.

"Aku cuma masih belum rela kalau dia pergi."

"Dek, jangan gitu." Biru menghela napas. "Kamu jangan galau terus kayak gini. Kasihan Bara di atas sana."

Biru berusaha mencairkan suasana.

"Apa kamu mau abang kenalin sama teman-teman abang yang ganteng?"

"Gak!"

Ara langsung menatap kakaknya dengan kesal.

"Aku masih pengin sendiri. Aku belum mau buka hati buat laki-laki lain selain Bara."

"Ya udah. Kalau gitu abang mau pergi ke kampus dulu. Ada rapat UKM dadakan."

Biru berdiri.

"Ingat, ya, Dek. Kamu boleh sedih, tapi jangan sampai kesedihan itu bikin hidup kamu berantakan."

"Iya, Bang. Iya!"

"Oke." Biru mengambil tasnya. "Sekarang abang tinggal kamu sendirian di rumah, nggak apa-apa, kan?"

"Gak apa-apa, Bang. Aku juga udah bukan anak kecil lagi."

Ara kemudian teringat sesuatu.

"Terus Mama sama Papa jadinya pulang kapan? Jadi berangkat ke luar kota?"

"Mama sama Papa udah pergi waktu kamu tidur tadi. Niatnya mau bangunin kamu, tapi mereka nggak tega."

Biru berjalan menuju pintu.

"Kayaknya Mama sama Papa baru pulang minggu depan. Kalau gitu abang pergi dulu. Jaga rumah, terus kunci pintunya. Abang pulang malam, soalnya."

"Iya!"

Ara melambaikan tangannya.

"Cerewet banget sih, Bang. Pergi sana! Enyah dari hadapanku sekarang juga!"

Biru tertawa.

Ia berjalan mendekati Ara, lalu mengacak rambut adiknya dengan lembut.

"Dasar bocah."

Setelah itu, Biru pun meninggalkan rumah dan berangkat ke kampus menggunakan motor kesayangannya.

Kini Ara sendirian di rumah.

Sebenarnya, ia sudah terbiasa ditinggal sendirian seperti ini. Namun, kali ini terasa berbeda.

Terlebih setelah beberapa hari lalu kabar buruk itu datang dan mengubah seluruh kehidupannya.

...---...

"Ra, lo udah dapat kabar dari Bara, belum?"

"Kabar apa? Emang gue peduli sama dia?"

"Ra, nggak usah pura-pura, deh. Gue tahu selama ini lo suka sama dia."

Ara langsung memalingkan wajah.

"Perasaan lo jadi nggak tersampaikan karena dia suka ngerjain lo, kan?"

"Apaan, sih! Gue nggak punya perasaan apa-apa sama dia."

Ara berusaha terdengar santai.

"Lagian emang dia kenapa? Dia tiba-tiba udah nikah sama cewek yang waktu itu?"

"Bego!"

Sora menatap Ara dengan kesal.

"Kak Marissa itu bukan ceweknya Bara. Dia kakak kandungnya Bara."

Ara terdiam.

"Bara..."

Sora menarik napas panjang.

"Bara pergi, Ra."

"Pergi ke mana?"

Ara masih belum memahami maksud Sora.

"Ke luar kota? Atau pergi ke luar negeri?"

Ia tertawa kecil.

"Ya udah, kalau dia pergi, ya pergi aja. Gue nggak peduli. Lagian gue juga bukan siapa-siapa buat dia."

"Ra..."

Nada suara Sora berubah.

"Bukan. Dia beneran udah nggak ada."

Senyuman Ara perlahan menghilang.

"Dia selama ini ternyata nutupin sakitnya."

Ara menatap Sora dengan bingung.

"Ma... maksud lo?"

Sora terdiam sejenak sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang tidak pernah Ara bayangkan akan ia dengar.

"Bara udah meninggal, Ra."

Jantung Ara seolah berhenti berdetak saat itu juga. Dunia di sekelilingnya mendadak terasa sunyi.

Bahkan untuk beberapa detik, Ara tidak mampu memahami apa yang baru saja dikatakan Sora.

"Bara..."

Suaranya bergetar. Dunia seakan berhenti berputar.

Begitu sulit bagi Ara untuk menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini diam-diam ia sukai sudah tidak ada.

Lelaki itu pergi begitu saja. Tanpa sepatah kata.

Tanpa sempat memberitahunya tentang penyakit yang selama ini disembunyikannya.

Air mata Ara jatuh begitu deras. Kedua kakinya bahkan terasa tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.

Sora dengan cepat memegangi tubuh Ara yang hampir ambruk.

"Dia sakit apa?"

Ara menatap Sora dengan mata penuh air mata.

"Dia sekarang ada di mana?"

"Katanya leukemia."

Sora menelan ludah.

"Baru aja selesai dimakamin tadi."

Ara membeku.

"Lo nggak apa-apa, Ra? Wajah lo udah pucat banget. Gue anter pulang, ya?"

"Gak mau!"

Ara langsung menggeleng.

"Anter gue ke sana."

"Ke mana?"

"Ke tempat Bara."

Sora hanya bisa mengangguk.

Saat ini, Ara hanya bisa menangis sejadi-jadinya di depan ruang kaca tempat abu Bara disemayamkan.

Matanya terus tertuju pada foto Bara yang terpajang di sana. Foto itu memperlihatkan senyuman Bara yang begitu familiar.

Senyuman yang dulu selalu membuat Ara kesal. Senyuman yang selama ini diam-diam ia sukai.

Kini, senyuman itu hanya tersisa dalam sebuah foto.

Tangis Ara pecah. Hatinya terasa begitu sakit. Sakit yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Bagaimana mungkin Bara bisa menyembunyikan penyakitnya selama ini?

Bagaimana mungkin ia bisa bersikap seolah semuanya baik-baik saja?

Dan mengapa lelaki itu tega membuat Ara membencinya?

Mengapa Bara memilih untuk terus mengusili dan menjauhkannya Benar-benar lelaki egois.

"Gue tahu lo bakal jadi kayak gini."

Sora berdiri di samping Ara.

"Udah, gue anter lo pulang sekarang. Atau mau gue telepon abang lo biar jemput lo?"

"Gak mau!"

Ara menggeleng kuat.

"Gue pengin di sini."

Air matanya terus mengalir.

"Gue masih pengin di sini..."

Tubuh Ara semakin lemas.

"Ra?"

Pandangan Ara perlahan menjadi gelap.

"Bara..."

Tubuhnya akhirnya ambruk.

Ia pingsan setelah terlalu lama menangis dan meneriakkan nama lelaki yang tidak akan pernah bisa menjawab panggilannya lagi.

...---...

"Oh, sampai lupa."

Ara yang baru terbangun langsung teringat sesuatu.

"Tadi ibu-ibu itu ngasih ramuan aneh ke gue."

Ia segera turun dari ranjang dan merogoh tasnya. Kedua botol kecil itu ternyata masih ada di sana.

Ara mengeluarkannya, lalu mengamati kedua botol tersebut dengan saksama. Ia membuka salah satu tutupnya dan mencium aroma cairan berwarna gelap di dalamnya.

Tidak ada bau apa pun.

"Ibu-ibu tadi nggak gila, kan?"

Ara mengernyit.

"Mustahil kalau gue minum ini, terus gue bisa balik ke masa lalu."

Ia menatap botol tersebut.

"Dunia ini dunia nyata, bukan dunia fantasi kayak di film-film."

Ara kemudian duduk di kursi meja belajarnya. Buku Time Travel yang dibelinya tadi ia letakkan di atas meja.

Ia membukanya. Halaman demi halaman dibaliknya. Tidak ada sesuatu yang aneh. Buku itu tampak seperti novel biasa.

Namun, ketika Ara sampai di bagian tengah buku, ia menemukan sesuatu yang berbeda.

Sebuah mantra.

Tulisan pada halaman tersebut menggunakan aksara yang berbeda dari tulisan lainnya.

Ara mengernyit.

Ia kembali teringat pada perkataan wanita tua yang ditemuinya di toko buku tadi.

Ramuan pertama akan membuatmu kembali ke masa lalu.

Ramuan kedua harus kamu minum agar kamu bisa kembali ke masa sekarang.

Waktumu hanya empat belas hari.

Ara menatap halaman tersebut cukup lama. Ia memang menyukai hal-hal aneh dan tidak masuk akal.

Namun, haruskah ia benar-benar percaya bahwa sesuatu yang selama ini dianggap mustahil justru bisa menjadi kenyataan?

Ara memandangi buku dan botol ramuan itu secara bergantian.

Haruskah ia mencobanya? Haruskah ia mempercayai perkataan wanita tua tersebut?

Bagaimana jika ramuan itu ternyata racun? Bagaimana jika ia benar-benar mati setelah meminumnya?

Ara terdiam.

Namun, di dalam hati terdalamnya, kematian bukan lagi sesuatu yang begitu ia takuti.

Jika ia benar-benar harus mati...

Mungkin tidak masalah. Setidaknya, siapa tahu ia bisa bertemu Bara di sana.

Sebuah pemikiran yang gila.

Namun, bagi Ara yang sedang kehilangan seseorang yang begitu berarti, pemikiran itu terasa masuk akal.

"Oke."

Ara menarik napas panjang.

"Coba aja."

Ia menggenggam botol ramuan tersebut.

"Gue nggak peduli. Yang penting gue usaha dulu."

Ara menatap buku Time Travel di hadapannya.

"Hasilnya mau gimana, biar gue pikir belakangan."

Ia kemudian membuka halaman mantra tersebut. Dengan sungguh-sungguh, Ara mulai membacanya.

Satu per satu kata diucapkannya dengan sepenuh hati. Ia benar-benar ingin kembali ke masa ketika Bara masih hidup.

Ia ingin mengubah semuanya. Ia ingin memperbaiki kesalahannya. Ia ingin mengatakan bahwa dirinya menyukai Bara. Dan yang paling penting, ia ingin melihat Bara sekali lagi.

"Kalaupun aku nggak bisa membuat Bara hidup kembali, setidaknya aku bisa mengucapkan perpisahan kepadanya."

Jika memang takdir Bara tetap mengharuskannya pergi, Ara hanya ingin memiliki kesempatan untuk mengatakan semua hal yang selama ini tidak pernah sempat ia katakan.

Setelah selesai membaca mantra, Ara membuka tutup botol pertama. Ia memejamkan mata. Kemudian meminum seluruh cairan di dalamnya hingga habis.

Tidak terjadi apa-apa.

Ara membuka matanya. Ia menunggu beberapa detik. Tidak ada perubahan. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada tubuh yang tiba-tiba kejang. Tidak ada busa yang keluar dari mulutnya seperti orang keracunan.

"Kenapa biasa aja?"

Ara mengamati tubuhnya sendiri.

"Kenapa nggak ada yang terjadiㅡ"

Kalimatnya terhenti.

Perlahan, kedua matanya mulai terasa berat. Padahal ia sudah tidur cukup lama.

Namun, rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya begitu saja.

"Ngantuk..."

Ara mencoba melawan rasa kantuk tersebut.

Namun, kelopak matanya semakin berat. Kepalanya akhirnya terkulai di atas meja belajar.

Dalam hitungan detik, Ara tertidur. Ia tidak tahu bahwa saat itu sesuatu yang mustahil sedang terjadi.

Tubuhnya tetap berada di kamar. Namun, kesadarannya telah dibawa menuju masa lalu.

Menuju empat belas hari yang pernah ia lewati. Menuju masa ketika Bara masih hidup.

Dan tanpa Ara sadari...

Perjalanan empat belas harinya telah dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!