Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
****
Malam semakin larut, namun keheningan di Istana Kekaisaran pecah sepenuhnya oleh badai kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berita tumbangnya Putri Dermawan Agung, Xiu Ying, akibat racun di tengah perjamuan teh Ibu Suri menjalar cepat bagaikan api liar. Di balik kemegahan pilar berlapis emas, amarah Kaisar Yang Mulia dan Ibu Suri telah meledak di puncaknya.
"Panggil Kasim Utama dan seluruh Pasukan Pengawal Kehormatan!" bentak Kaisar dengan suara menggelegar dari atas Singgasana Naga. "Geledah seluruh sudut Istana Dalam! Tanpa terkecuali! Siapa pun yang terlibat dalam percobaan pembunuhan terhadap Istri Pangeran Ke-7 harus diseret ke hadapanku sebelum fajar tiba!"
Ratusan obor menyala serentak di sepanjang lorong batu. Barisan pengawal zirah besi melangkah cepat, mengepung seluruh kompleks Istana Dalam, menyapu bersih kediaman para selir hingga Halaman Belakang yang paling terpencil.
Sementara itu, di dalam Kediaman Utama Putra Mahkota...
Suasana di kamar peraduan Pangeran Ke-4 terasa membeku oleh uap arak dan wewangian bunga yang pengap. Di atas pembaringan empuk berlapis sutra emas, Pangeran Ke-4 sedang meluapkan seluruh kekecewaan dan amarah politiknya melalui penyatuan liar bersama dua pelayan wanita pribadinya.
Tubuh tegap sang Putra Mahkota menegang, napasnya memburu kasar saat ia bergerak dalam irama yang dalam, meluapkan seluruh obsesi dan rasa frustrasinya atas bayangan Xiu Ying yang tak pernah bisa ia miliki. Pakaian sutra para pelayan itu terkoyak di atas lantai. Erangan rendah Pangeran Ke-4 bersahutan dengan desahan tertahan kedua pelayan wanita di bawah kungkungannya.
"Yang Mulia... mnh... pelan-pelan..." cicit salah satu pelayan wanita dengan napas tersengal-sengal, jemarinya mencengkeram sprei sutra merah.
Pangeran Ke-4 tidak memedulikan rengekan itu. Ia terus memburu kepuasan semu, menancapkan dominasinya di tengah kegelapan kamar peraduan, membiarkan gejolak hasratnya membakar dinginnya malam tanpa menyadari bahwa badai kehancuran sedang melangkah mendekati pintu gerbang kediamannya.
Di saat yang bersamaan, di dalam paviliun tua Halaman Belakang yang dingin dan lembap...
Pemandangan yang tak kalah kelam terjadi di atas pembaringan kayu yang kusam. Di bawah pendar temaram lilin yang hampir padam, Xiu Mei kembali menyerahkan tubuhnya kepada pengawal gempal yang tadi membantunya. Sebagai imbalan dan "hadiah" tambahan agar pengawal itu tetap menjaga kerahasiaan racun Cairan Jiwa Merana, Xiu Mei membiarkan pria kasar itu kembali menikmati keindahan tubuhnya.
Dengan perutnya yang sudah membuncit besar menandakan kehamilannya yang makin tua, Xiu Mei bersandar pada bantal kusam. Gaun selir tipisnya tersingkap sepenuhnya. Pengawal gempal itu bergerak di atas tubuh Xiu Mei dengan napas kasar yang berbau arak, mencengkeram pinggul Xiu Mei tanpa ada sedikit pun kelembutan atau rasa hormat.
"Nngghh... ahh..." desah Xiu Mei parau, air mata kepahitan menetes lambat menyusuri pipinya yang tirus.
Rintihan nikmat bercampur hinaan itu bergema di dalam kamar yang berbau apak. Setiap hentakan kasar dari pengawal gempal itu membuat perut besarnya terguncang, namun Xiu Mei menahan seluruh rasa malunya demi memastikan rencananya berjalan mulus. Di dalam benaknya yang diliputi kegilaan, ia membayangkan Xiu Ying sedang merintih kesakitan akibat racun mematikan yang diselundupkannya.
"Suka, hm? Selir Rendah..." bisik pengawal gempal itu parau di dekat telinga Xiu Mei, terkekeh kejam saat mempercepat irama penyatuan murah mereka di atas ranjang kayu.
"Mnh... cepatkan... ahh..." balasan Xiu Mei tersengal-sengal, jemari lentiknya mencengkeram lengan kekar pengawal itu, menyerahkan kehormatan terakhirnya di dasar lumpur kehinaan.
Puncak penyatuan yang terlarang dan kotor itu pecah bersama erangan berat pengawal gempal di atas tubuh Xiu Mei. Pengawal itu menghempaskan nafasnya, merapikan pakaiannya yang berantakan dengan senyum puas.
Namun, belum sempat pengawal gempal itu melangkah keluar dari pintu belakang paviliun...
BRAK!
Pintu kayu tua itu didobrak hingga hancur berkeping-keping!
Puluhan Pengawal Keagungan Kerajaan bersama Kasim Utama melesat masuk dengan pedang terhunus berkilat di bawah pendar obor!
"TANGKAP MEREKA BERDUA!" teriak Kasim Utama melengking.
Pengawal gempal itu terbelalak kaget setengah mati, mencoba mencabut pedangnya dan melompat ke arah jendela untuk melarikan diri. Namun, dua perwira zirah besi langsung menerjangnya, menghentakkan tubuh gempal itu ke atas lantai es hingga terdengar bunyi tulang patah.
"AAAKKKH!" jerit pengawal gempal itu histeris.
Di atas pembaringan, Xiu Mei berteriak histeris, buru-buru menarik kain kusam untuk menutupi tubuh polos dan perut besarnya yang terekspos. "A-Apa yang kalian lakukan?! Beraninya kalian menyergap kediaman Selir Putra Mahkota?!"
Kasim Utama melangkah maju dengan wajah dingin bagai es. Tangannya memberi isyarat pada para pengawal. "Geledah seluruh tempat ini!"
Hanya dalam hitungan detik, seorang pengawal menemukan botol porselen hitam sisa racun Cairan Jiwa Merana yang tersembunyi di dalam lipatan bantal Xiu Mei.
"Melapor Kasim Utama! Sisa racun mematikan ditemukan di tempat tidur Nona Xiu Mei!" seru pengawal tersebut seraya menyerahkan botol porselen.
Wajah Xiu Mei seketika berubah pucat pasi bagai mayat, matanya membelalak horor.
Sementara di bawah lantai, pengawal gempal yang disiksa dan ditekan lehernya oleh pedang pengawal kerajaan mendadak kehilangan seluruh keberaniannya. Ketakutan akan hukuman mati membuat pria itu memuntahkan seluruh pengakuannya di tempat!
"Ampun! Ampunkan hamba, Kasim Utama!" jerit pengawal gempal itu bersujud gemetaran di atas lantai es. "Hamba dipaksa! Nona Xiu Mei yang menyogok hamba! Dia menyerahkan tubuhnya dua kali di bawah pohon plum dan di atas ranjang ini agar hamba mau menyuruh pelayan memasukkan racun itu ke dalam teh Nyonya Xiu Ying! Hamba punya bukti botol ini! Tolong ampuni nyawa hamba!"
BUM!
Pengakuan gamblang yang memuakkan dari mulut pengawal gempal itu mengunci kejahatan Xiu Mei tanpa celah sedikit pun!
Xiu Mei tersungkur di atas lantai, menangis histeris sambil memegangi perut besarnya. "T-Tidak! Dia berbohong! Hamba tidak melakukannya! Hamba tidak bersalah!"
"Seret mereka berdua ke hadapan Kaisar sekarang juga!" perintah Kasim Utama tanpa belas kasihan.
Satu jam kemudian, di Aula Utama Kekaisaran...
Suasana aula begitu mencekam. Kaisar Yang Mulia duduk di takhta naga dengan wajah merah padam menahan murka yang teramat sangat. Ibu Suri duduk di sampingnya dengan napas terengah-engah akibat kemarahan yang meluap.
Di tengah aula, Pangeran Ke-4 yang baru saja diseret paksa dari kamar peraduannya berdiri gemetaran dengan jubah yang belum terikat rapi. Di sampingnya, Xiu Mei dan pengawal gempal terikat rantai besi tebal di atas lantai marmer dingin.
Kasim Utama melangkah maju, membacakan seluruh laporan penggeledahan, pengakuan pengawal gempal, serta penemuan botol racun di kamar Xiu Mei secara lantang di hadapan seluruh menteri dan pangeran yang hadir.
"Pelanggaran susila yang keji... percobaan pembunuhan terhadap Putri Kekaisaran... dan pengkhianatan terhadap kehormatan istana!" jerit Ibu Suri seraya memukul pegangan takhtanya keras-keras. "Keluarga Xiu dan wanita murahan ini telah mencoreng seluruh martabat Kekaisaran!"
Pangeran Ke-4 terbelalak lebar, memandang Xiu Mei dengan mata merah penuh kebencian yang membara. "Wanita sialan! Kau benar-benar serangga busuk yang menghancurkan hidupku!"
Xiu Mei merangkak di atas lantai, air mata dan keringat dingin membasahi wajah sembapnya. "Yang Mulia Kaisar! Kasihanilah janin di dalam perut hamba! Anak ini adalah darah daging Putra Mahkota!"
PRANG!
Kaisar melempar cangkir emas di mejanya hingga hancur berantakan di depan wajah Xiu Mei!
"Tutup mulutmu, wanita kotor!" bentak Kaisar dengan suara menggelegar yang membuat seluruh pilar aula bergetar. "Kau menjual tubuhmu kepada pengawal rendah di saat kau mengandung benih kerajaan! Kau membawa racun ke dalam perjamuan Ibu Suri! Tidak ada darah suci Kekaisaran pada wanita sebejat dirimu!"
Kaisar berdiri tegap, memancarkan aura penguasa yang amat mematikan. Ia mengangkat tangan kanannya, menjatuhkan vonis hukum tertinggi:
"Dengarkan Titah Kaisar! Mulai detik ini, seluruh status kebangsawanan Xiu Mei dicabut sepenuhnya! Janin yang dikandungnya secara resmi dihapus dari silsilah kekaisaran dan kehilangan seluruh hak waris! Seret Xiu Mei dan pengawal gempal itu ke penjara bawah tanah terkumuh untuk dieksekusi setelah kelahiran janin tersebut!"
"T-TIDAK! YANG MULIA! AMPUN! AMMPUUNN!" jerit Xiu Mei meraung histeris saat para pengawal memapah dan menyeret tubuhnya yang bersimbah air mata keluar dari aula.
Kaisar kemudian memindahkan pandangan dinginnya yang amat murka ke arah Pangeran Ke-4.
"Dan kau... Putra Mahkota!" tegas Kaisar dengan nada suara yang membeku laksana es. "Kegagalanmu memimpin kediamanmu, skandal moralmu yang menjijikkan, serta ketidakmampuanmu menjaga ketertiban telah membuktikan bahwa kau tidak layak memegang takhta ini!"
Pangeran Ke-4 berlutut ketakutan, dadanya sesak. "A-Ayahanda Kaisar... hamba tidak terlibat dalam racun itu... hamba mohon..."
"Cukup!" pangkas Kaisar tanpa ampun. "Mulai malam ini, gelar Putra Mahkota resmi dicopot dari Pangeran Ke-4! Seluruh kewenangan politik dan militermu dicabut total! Kau dikurung di kediaman pribadi di bawah pengawasan ketat hingga keputusan pengasingan ditetapkan!"
BUM!
Vonis Kaisar menghantam jantung Pangeran Ke-4 bagaikan dentuman petir di siang bolong!
Pangeran Ke-4 terduduk lemas di atas lantai marmer, matanya melotot kosong tanpa daya. Pangkat, kekuasaan, dan impian masa depannya untuk menjadi Kaisar runtuh sepenuhnya dalam satu malam yang kelam.
Di sudut aula, dari balik tirai emas yang tersembunyi, Pangeran Zhen Yu yang telah kembali dari Istana Zhen menyaksikan seluruh kejatuhan musuh-musuhnya. Dari balik bayangan jubah birunya, Zhen Yu menyunggingkan senyum miring yang sangat tampan dan dingin.
Rintangan terakhir telah hancur. Panggung takhta tertinggi Kekaisaran kini telah terbuka lebar bagi Istana Ke-7.
(Bersambung)
gini2 terus jadi gua skip🙏