Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
Usai cuti, Raph kembali bekerja, raut wajah dingin, datar dan kaku jadi ciri khas pria itu. Berbanding terbalik dengan Alexander sang atasan. Semenjak menikah, aura menyeramkan itu kini sering mengumbar senyum.
Tapi jangan salah dengan wajah ramah Alexander saat ini. Pria itu kini tambah menyeramkan. Di balik senyumnya. Baru saja pria berambut perak itu menggantung salah satu staff yang mencoba menggelapkan uang transportasi.
Seluruh karyawan bergidik ketika melewati resepsionis. Tubuh kaku pria itu dipamerkan di lobi perusahaan milik Alexander berikut buktinya.
"Jangan takut melapor padaku jika ada yang berani-berani menggunakan jabatannya untuk menekan kalian. Terlebih memakai nama keluargaku! Aku ingatkan. Aku tak punya keluarga busuk!" sahutnya memberi pengumuman.
Raphael menatap tubuh Alonso, pria yang digantung oleh bossnya.
"Menyusahkan!" dumalnya saat menurunkan tubuh kaku koruptor itu dan menyuruh beberapa anak buahnya untuk memakamkan pria itu secara layak.
Raph memasuki ruang kerja sambil membawa beberapa berkas.
Alexander sudah duduk di balik meja.
"Berikan tunjangan pada keluarga pria itu," ucapan itu membuat Raph menoleh.
"Tuan muda ... Anda sadar?" tanya Raph bingung. Karena tak biasanya sang atasan bermurah hati seperti itu.
"Pria berengsek itu punya simpanan yang harus ia hidupi. Gajinya tidak ia berikan seluruhnya untuk keluarga, tapi untuk gundiknya!" sahut Alexander kesal.
"Baik Tuan. Saya akan berikan uang tunjangan lima ratus dolar!" sahut Raph mengerti.
"Bagus ... ah ... Kok aku sudah merindukan istriku ya?" keluhnya malas menatap semua berkas yang ada di meja kerjanya.
"Tuan Muda, boleh saya bicara soal Nyonya Romanov?" sahut Raph hati-hati.
Alexander menatap tak suka ketika asistennya berkata demikian. Tapi ia mau mendengarkan apa kata Raph.
"Katakan!"
"Tuan, tadi pagi saya menerima kabar dari mata-mata jika Nyonya kembali bekerja di pabrik roti keluarga Odego Bakery," ujarn Raph memberitahu.
Alexander tiba-tiba berdiri sampai menjatuhkan kursi kerjanya. Bunyi gaduhpun terdengar.
"Apa!" teriaknya.
Raph menghela napas panjang.
"Untuk apa seorang Nyonya Romanov bekerja sebagai buruh ...."
"Nyonya bekerja sebagai pembuat roti ... Pencetus roti lapis strawberry!"
Muka Alexander yang memerah karena marah perlahan menyusut karena mendengar kata-kata 'pencetus' dari asistennya.
"Pencetus? Maksudmu dia yang menciptakan roti lapis itu?" tanyanya berubah nada.
"Benar Tuan," sahut Raph membenarkan.
Tubuh Alexander yang menegang perlahan kendur. Ia menatap kursinya yang jatuh, Raph buru-buru membetulkan letak kursi itu.
"Ck. Lambat!" gerutu Alexander, Raph hanya membungkuk untuk meminta maaf atas ketidak sigapannya.
Alexander duduk dengan tenang. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala kursi bernilai tiga ratus dolar itu. Terbuat dari kulit sapi pilihan, satu-satunya kursi yang punya linsensi karena dari kulit hewan asli.
"Tapi, bukankah istriku adalah lulusan terbaik. Kenapa dia jadi tukang buat roti?" tanyanya.
"Saya telah melakukan penyelidikan Tuan," kata-kata Raph mendapatkan lirikan tajam dari atasannya.
"Maksud saya, semua data Nyonya ada di tangan saya. Bagaimana Nyonya mendapat nilai terbaiknya, bahkan dapat pekerjaan baik dan nyaris diangkat sebagai cheap manager di sebuah perusahaan. Hanya saja, Nyonya kena fitnah besar dan mengharuskan dirinya keluar dari pekerjaan ...."
"Istriku difitnah?"
"Nyonya diduga melakukan penggelapan dan pencurian data. Walau tidak ada satu bukti pun yang menyudutkannya. Tapi rumor itu tetap beredar di perusahaannya. Karena semua staf yang iri tak percaya jika Nyonya bersih," jawab Raph panjang lebar.
"Teruskan!" suruh Alexander tertarik dengan masalalu istrinya itu.
"Nyonya keluar dan bekerja di Odego Bakery yang harus ditempuh dengan tiga kali naik bus," jawab Raph.
"Upahnya dua ratus dolar seminggu," lanjutnya lagi.
"Dua ratus dolar..." bisik Alexander dengan suara yang luar biasa dingin, hingga udara di dalam ruangan berpendingin itu terasa membeku. "Bahkan satu jam dari waktu istriku jauh lebih mahal dari seluruh isi pabrik roti busuk itu!"
Raph tetap berdiri tenang, Alexander langsung mengambil ponsel hendak menelpon Char.
Ponsel berdering, Alexander menunggu. Tapi satu menit kemudian telepon itu mati karena tidak diangkat.
"Berani-beraninya dia!"
"Tuan, jam segini. Nyonya sedang sibuk membuat roti ...."
"Sialan! Beli pabrik busuk itu!" teriak Alexander lagi.
"Sayangnya kita tak bisa Tuan, walau dengan seluruh kekayaan kita," jawab Raph menyesal.
"Apa?! Kenapa? Kenapa tidak bisa?!" tanya Alexander gusar.
"Keluarga Odego, walau keluarga kecil menengah. Tetapi ia punya kekuatan di Negara Montana ini, Tuan ...."
"Siapa? Dia bisa menyaingi Romanov!" teriak Alexander tak terima.
"Tidak ... memang tidak bisa," jawab Raph tetap tenang.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Alexander kesal.
"People power, Tuan," jawab Raph lagi-lagi tenang.
"Tapi aku juga punya orang-orang. ..."
"Bayaran yang hanya mau uang anda saja. Odego memiliki orang-orang yang punya hati dan ketulusan ...."
Jawaban Raph membuat Alexander terguncang dalam diam. Baru kali ini ia kalah ....
"Tapi uang selalu berkuasa ...."
"Benar Tuan. Tapi ada yang tidak bisa dibeli ...."
"Apa ... Apa yang tidak bisa kubeli dengan uangku, Raph!"
"Kesetiaan dan loyalitas serta keteguhan hati," jawab Raph.
Alexander terdiam. Tatapan kelabunya tetap tertuju kepada Raphael. Untuk beberapa detik, ruangan itu benar-benar sunyi.
"Kesetiaan...," ucapnya mengulang.
"Benar Tuan," sahut Raph.
Alexander tertegun. Kata-kata Raphael seolah menampar harga dirinya sebagai penguasa Romanov yang selalu menganggap segalanya punya label harga. Pria berambut perak itu menyandarkan tubuhnya kembali, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut.
"Jadi... kau mau bilang aku tidak bisa mengeluarkan istriku dari tempat itu hanya dengan tumpukan uang?" gumam Alexander dengan tawa miring yang getir.
"Bukan tidak bisa, Tuan Muda. Hanya saja jika Anda menghancurkan atau membeli tempat itu secara paksa, Anda hanya akan menyakiti hati Nyonya," jawab Raphael lugas tanpa rasa takut.
"Odego Bakery adalah tempat satu-satunya yang mau menampung dan menghargai bakat Nyonya ketika semua orang membuangnya karena fitnah. Pemiliknya merawat loyalitas para pekerjanya dengan kebaikan, bukan intimidasi."
Alexander mengepalkan tangannya di atas meja. Rasa cemburu dan tidak terima membakar dadanya—bukan cuma karena Charoen tidak mengangkat teleponnya, tapi karena ada tempat lain yang mendapatkan senyum dan kerja keras istrinya tanpa perlu membayar mahal.
"Lalu aku harus diam saja melihat istriku mengadoni tepung demi dua ratus dolar seminggu?!" seru Alexander gusar. "Dia Nyonya Romanov, Raph! Tempatnya di sisiku, bukan di depan oven panas!"
Raphael menatap atasannya yang tampak seperti anak kecil kehilangan mainan favoritnya.
"Jika uang tidak bisa membeli pabrik itu, maka Anda harus menggunakan cara lain, Tuan."
"Cara apa?"
"Investasi atas nama Nyonya," ujar Raphael tenang, menyodorkan sebuah dokumen baru.
"Jadilah mitra strategis. Jangan beli pabriknya, tapi suntikkan dana segar atas nama Nyonya Charoen Romanov untuk membangun lini produksi Strawberry Layer Cake secara global. Dengan begitu, Nyonya tidak lagi menjadi buruh kasar, melainkan Brand Ambassador sekaligus pemilik lisensi resep utamanya."
"Ah ... Ide bagus!" seru Alexander suka ide asistennya itu.
"Siapa nama pemilik pabrik itu?" tanyanya lagi.
"Nataniel Rov Odego," jawab Raph.
Alexander menatap Raph dan mengangguk pelan.
"Kau tahu segalanya ...."
"Saya harus menyeleksi siapa yang pantas bersama Tuan. Nyonya adalah orang yang pantas untuk anda!" ujar Raph penuh keteguhan..
"Lalu apa kau termasuk orang yang selalu berdiri di sisiku walau aku jatuh, Raph? Apa kau akan tetap menghormatiku jika aku tak punya uang?" cecar Alexander.
"Saya orang bayaran itu. Tapi untuk kesetiaan dan loyalitas. Saya jaminkan anda jika saya layak berdiri di samping anda selama anda membutuhkan saya!" jawab Raph cerdas.
Alexander tertawa puas, lalu ia berdiri merapikan jasnya. Raph sangat hafal apa yang atasannya hendak lakukan. Ia menghela napas panjang.
"Tuan, sebentar lagi utusan dari pemerintahan akan datang untuk masalah korupsi dan transportasi ilegal kemarin," ujarnya mengingatkan.
"Hah? Untuk apa mereka ke sini? Bukankah itu urusan kepolisian dan kejaksaan tinggi?"
"Seperti biasa Tuan. Recehan dan rengekan minta keringanan dan berita itu tidak menyebar ....."
"Sebarkan semua bukti pada Rakyat Montana!" potong Alexander cepat.
"Aku ingin lihat. Bagaimana mereka berhadapan dengan rakyat yang mengamuk karena uang kesejahteraan mereka dirampas tanpa sisa dari pejabat-pejabat korup itu!" suruh Alexander tegas.
"Baik Tuan!" sahut Raph.
"Raph!" panggil Alexander lagi.
"Saya Tuan!"
"Kau bilang Odego punya people power karena kebaikannya kan?" tanya Alexander.
"Benar Tuan."
"Apa perbuatanku menumpas koruptor itu baik?" tanya Alexander lagi.
Raph dapat menangkap maksud atasannya. Ia sangat salut akan kecerdasan sang Romanov.
"Benar Tuan. Perbuatan anda sangat baik!" jawab Raph membuat Alexander puas.
"Baiklah. Kau urus penjilat-penjilat itu!' suruhnya.
"Lalu , Tuan mau kemana?" tanya Raph.
"Ke tempat istriku, mengganggunya mengadon roti!"
Jawaban Alexander membuat Raph terkejut.
"Tuan ... Anda akan dimarahi Nyonya!" teriaknya sebelum atasannya menutup pintu.
"Tidak Raph. Jika Nataniel ada di pihakku! Kau tahukan kemampuanku?" seru Alexander menjawab.
Pintu kantor tertutup, Raph hanya tertegun mendengar jawaban bossnya. Ia mengguman pelan.
"Aku tahu Boss. Bagaimana kemampuanmu merekrut orang. Tetapi Nataniel berbeda. Anda pasti akan senang bertemu orang seunik Tuan Odego."
Bersambung.
wah....Ada apa nih? Nataniel seperti apa orangnya sampai-sampai Raph bilang begitu?
Next?
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung