Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — Daftar Orang Terdekat
BAB 3 — Daftar Orang Terdekat
Rendra berhenti dua anak tangga di bawahku.
Sejak menikah, baru malam itu aku berdiri lebih tinggi darinya tanpa merasa perlu mengecilkan suara.
“Kita bicara di sini,” ulangku.
Tatapannya bergerak dari wajahku ke buku abu-abu di tanganku. Ia tidak mencoba mengambilnya atau mendekat. Sikap tenangnya justru membuat amarahku semakin sulit kutahan.
“Kamu sudah membacanya sampai mana?” tanyanya.
Aku mendengus pelan. “Itu pertanyaan pertamamu?”
“Aku perlu tahu apa yang sudah kamu lihat.”
“Supaya kamu bisa memilih kebohongan yang sesuai?”
Rendra merapatkan bibir sebentar. “Supaya aku tidak menjelaskan sesuatu yang belum kamu tanyakan.”
“Itu sama saja.”
“Tidak.”
“Buatku sama.”
Aku membuka buku itu pada halaman yang sudah kutandai dengan sobekan kertas. Lampu teras jatuh tepat di atas nama Tara.
“Tara Savitri. Pembayaran setiap bulan. Kode TEMANI.” Aku mencari matanya. “Benar?”
“Benar.”
Ia tidak menyangkal atau mencoba menyebutnya salah paham.
Jawaban jujur yang datang terlalu cepat ternyata bisa terasa lebih kejam daripada kebohongan.
“Kamu membayar sahabatku.”
“Aku meneruskan pembayaran yang sudah ada, lalu mengubah beberapa ketentuannya.”
“Meneruskan dari siapa?”
Rendra diam.
Aku mengangguk pelan. “Baik. Kita baru satu nama dan kamu sudah mulai memilih bagian mana yang boleh kuketahui.”
“Ada hal-hal yang bukan hanya milikku untuk diceritakan.”
“Hidupku ada di dalam buku ini. Jangan bilang itu bukan milikku.”
Ia menaiki satu anak tangga, lalu berhenti ketika aku mundur.
Gerakan itu kecil. Rendra melihatnya. Wajahnya tidak berubah, hanya kedua tangannya turun ke sisi tubuh, terbuka dan kosong.
“Aku tidak akan mengambil bukunya,” katanya.
“Kamu berharap aku berterima kasih?”
“Tidak.”
“Bagus.”
Aku duduk lagi karena lututku mulai lemas. Bukan untuk menenangkan percakapan. Buku itu terasa lebih berat daripada ketika Tara memberikannya.
Rendra tetap berdiri di tangga.
Aku membuka halaman berikutnya.
Dr. Mira Handayani — LAPOR.
Nama itu membuat tenggorokanku mengering.
Aku mulai menemui Dr. Mira dua tahun setelah Ibu meninggal. Rendra yang merekomendasikannya, tetapi aku sendiri yang memutuskan datang. Setidaknya, sampai malam ini aku percaya begitu.
“Dr. Mira juga kamu bayar?”
Rendra membiarkan pertanyaanku menggantung.
“Jawab.”
“Ada pembayaran dari yayasan.”
“Yayasan keluargamu.”
“Iya.”
“Untuk melaporkan apa?”
“Risiko keselamatan.”
“Risiko menurut siapa?”
“Awalnya menurut penilaian profesionalnya.”
“Awalnya?”
Rendra menatapku tanpa berkedip. “Aku tidak akan menjelaskan batas laporan itu di teras.”
Aku menutup buku dengan keras. “Kamu masih mencoba memindahkan percakapan ke tempat yang kamu inginkan.”
“Karena pembicaraan tentang psikologmu tidak seharusnya didengar penjaga kompleks.”
Aku menoleh ke arah gerbang. Pos keamanan berada cukup jauh. Tidak ada orang di sekitar kami.
Masuk akal.
Aku benci bahwa sebagian kalimatnya selalu masuk akal.
“Kita pindah ke taman samping,” kataku. “Bukan ke dalam rumah.”
Rendra menerima tanpa berdebat.
Kami berjalan memutari rumah dengan jarak beberapa langkah. Taman samping tidak besar. Ada dua kursi rotan di bawah pohon kamboja dan meja rendah yang jarang digunakan. Lampu dinding menyala otomatis ketika kami datang.
Aku memilih kursi yang menghadap pintu keluar taman. Rendra duduk di seberang setelah menunggu sampai aku lebih dahulu mengambil tempat.
Hal-hal seperti itu dulu membuatku merasa dihormati.
Sekarang aku bertanya-tanya berapa banyak sikap baiknya yang memang lahir dari cinta dan berapa banyak yang dipelajari agar aku selalu merasa aman di dekatnya.
Aku membuka buku lagi.
Gilang Adiputra — JEMPUT.
“Gilang?”
“Iya.”
“Dia juga dibayar khusus untukku?”
“Dia bekerja untukku.”
“Jangan bermain kata.”
Rendra mengusap rahangnya. “Tugas awalnya menjemputmu dalam keadaan darurat.”
“Tugas awal?”
“Setelah kita menikah, aku menambahkan tanggung jawab lain.”
“Seperti melaporkan aku pergi ke mana?”
Ia membiarkan pertanyaan itu lewat.
Itu sudah cukup.
Aku mengingat setiap kali Gilang muncul sebelum aku sempat memesan kendaraan. Setiap kali hujan turun dan mobil sudah menunggu di depan kantor. Setiap kali Rendra menelepon beberapa menit setelah aku mengubah rencana.
Selama ini aku menyebutnya perhatian.
Ternyata perhatian itu punya jadwal kerja.
Aku membalik halaman dengan jari yang mulai dingin.
Nama pemilik apartemen lamaku tercatat di sana. Bu Ratna, perempuan yang memberiku harga sewa murah ketika aku baru merintis kantor. Kodenya PINDAHKAN.
“Bu Ratna menerima uang darimu?”
“Tidak langsung dariku.”
“Dari perusahaanmu?”
“Dari rekening yang berada dalam pengelolaanku.”
“Kamu sengaja membuatku tinggal di apartemen itu?”
“Apartemen itu memiliki keamanan lebih baik daripada tempat yang kamu pilih sebelumnya.”
“Aku tidak bertanya apakah tempatnya lebih baik.”
Rendra menunduk sebentar. “Iya.”
Satu kata itu mengubah kenangan tentang kamar sempit dengan jendela menghadap jalan menjadi sesuatu yang asing.
Aku masih ingat hari ketika Bu Ratna menelepon dan berkata unit tersebut baru kosong. Aku mengira aku beruntung. Lokasinya dekat kantor pertama Ruang Tengah. Harganya berada di bawah pasar. Dari tempat itulah aku mengenal lingkungan baru, mendapat klien lebih banyak, dan akhirnya bertemu Rendra dalam seminar yang diadakan dua gedung dari apartemen.
Tatapanku tetap padanya.
“Kapan semua ini dimulai?”
Rendra menyandarkan kedua siku ke lutut. “Sebelum kita menikah.”
“Berapa lama sebelum kita menikah?”
Ia tidak menjawab.
Aku kembali ke bagian awal buku. Tanggal-tanggal lama tersusun tanpa belas kasihan.
Empat tahun pernikahan kami.
Pembayaran pertama kepada Bu Ratna tercatat tujuh tahun lalu.
Tiga tahun sebelum aku menjadi istrinya.
Dua tahun sebelum Rendra mengaku pertama kali melihatku di seminar.
Aku menggeser halaman.
Ada nama Naufal Haris, klien pertama yang membuat Ruang Tengah dibicarakan media. Lelaki yang datang dengan kasus rumit mengenai kakaknya, lalu merekomendasikanku kepada beberapa keluarga lain setelah mediasi selesai.
Kode di samping namanya adalah PERCAYA.
“Jangan,” kata Rendra.
Aku mengangkat kepala. “Jangan apa?”
“Jangan menyimpulkan seluruh kariermu dibeli hanya dari satu baris.”
“Kalau kamu ingin aku tidak menyimpulkan, jelaskan.”
“Naufal benar-benar membutuhkan mediator. Hasil pekerjaannya nyata. Kemampuanmu juga nyata.”
“Tapi dia diarahkan kepadaku.”
“Iya.”
“Dan dibayar.”
“Iya.”
Suara itu keluar lebih pelan, tetapi tetap jelas.
Aku menunduk.
Klien pertama. Kantor pertama. Apartemen pertama yang sanggup kubayar. Psikolog yang membantuku melewati kematian Ibu. Sahabat yang tahu setiap kelemahanku. Pengemudi yang selalu datang tepat waktu.
Orang-orang terdekatku tidak berdiri mengelilingiku karena kebetulan.
Mereka ditempatkan.
“Apa ada satu hal dalam hidupku yang tidak kamu sentuh?” tanyaku.
Rendra menatapku lama. “Perasaan mereka kepadamu.”
“Itu bukan milikmu untuk dijadikan jawaban.”
“Aku tidak membayar siapa pun untuk mencintaimu.”
“Tapi kamu membayar mereka untuk tinggal.”
Rendra tidak menyangkalnya.
Angin malam menggeser beberapa helai rambut ke wajahku. Biasanya ia akan mengangkat tangan untuk menyingkirkannya. Kali ini tangannya tetap berada di atas lutut.
Aku kembali melihat tanggal-tanggal di buku.
“Pembayaran ini sudah ada sebelum kita bertemu,” kataku. “Jadi, kamu berbohong ketika bilang kamu melihatku pertama kali di seminar.”
“Aku melihatmu sebelumnya.”
“Di mana?”
“Dari berkas.”
Jawaban itu membuatku menatapnya tajam.
“Berkas apa?”
“Bukan malam ini.”
Aku berdiri. “Kamu tidak punya hak menentukan kapan.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kalau tahu, kamu akan menjawab.”
“Ada nama lain yang terlibat, Nadira.”
“Selalu ada alasan.”
“Ada orang yang sudah meninggal.”
Kalimat itu menghentikanku.
Rendra menatap buku, bukan wajahku. Ada sesuatu dalam ekspresinya yang belum pernah kulihat. Bukan rasa takut tertangkap, melainkan takut mengatakan terlalu banyak.
Aku tidak memberinya waktu untuk menyusun ulang percakapan.
Aku membalik halaman demi halaman, mencari tanggal paling lama. Beberapa nama asing lewat di depan mata. Perusahaan keamanan. Yayasan. Pengacara. Orang-orang yang belum kukenal atau mungkin pernah kutemui tanpa mengingat namanya.
Lalu sebuah halaman yang lebih tebal terselip di antara dua lembar lama.
Kertasnya berbeda. Lebih putih. Tintanya lebih baru.
Di sana hanya ada satu nama.
Rendra Kalyana.
Aku membaca tanggal di sampingnya.
Tujuh tahun lalu.
Setahun sebelum seminar tempat kami mengaku pertama kali bertemu.
Tidak ada jumlah pembayaran. Hanya nomor dokumen dan satu kata kerja yang dicetak dengan huruf kapital.
Aku mengangkat buku itu agar Rendra melihat halaman yang sama.
Wajahnya berubah.
Sedikit saja. Cukup untuk menghapus ketenangan yang dipakainya sejak tiba.
Aku menurunkan pandangan ke kata tersebut.
NIKAHI.