Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Beberapa bulan berlalu sejak Nina melangkahkan kaki di rumah megah itu. Namun, waktu tak jua melunakkan hati mertua dan kakak iparnya. Setiap hari selalu ada saja drama dan siksaan psikis yang dirancang rapi oleh Rukmini dan Ruhi untuk menyudutkan Nina.
Pagi itu, aroma bumbu tumisan membumbung di dapur. Nina sibuk membantu Mbok Siti menyiapkan sarapan. Di luar, langkah kaki Rukmini yang tergesa terdengar menuju meja makan, disusul teriakan melengkingnya yang memecah kesunyian pagi.
"Ngapain saja kalian di dapur?! Kenapa sampai jam segini makanan belum juga terhidang?!" bentak Rukmini dengan dada membusung gusar.
Mbok Siti yang panik bergegas keluar membawa mangkuk, menunduk dalam. "Maaf, Bu... Tadi tabung gasnya mendadak habis."
"Alasan melulu! Jangan mentang-mentang sekarang ada kawannya, Mbok jadi ikut-ikutan malas!" celetuk Ruhi yang baru turun dari tangga, melirik Nina dengan tatapan cemooh.
Nina memilih diam, menahan kepalan tangannya di balik celemek. Pagi-pagi sekali Roni sudah berangkat ke pabrik pengolahan kayu tempatnya bekerja karena ada lembur mendadak. Tanpa kehadiran Roni, keberadaan Nina di rumah itu bagaikan mangsa empuk di sarang serigala.
Nina dan Mbok Siti cekatan menyajikan seluruh hidangan di meja. Namun, baru dua langkah Nina berbalik menuju dapur...
PYAAARRR!
Mangkuk keramik berisi oseng kangkung yang masih mengepul berasap dihantamkan Rukmini ke lantai papan hingga pecah berkeping-keping.
"Siapa yang memotong kangkung ini?!" sentak Rukmini menunjuk gundukan sayur yang berserakan di tanah.
"Saya, Bu..." sahut Nina pelan, menghentikan langkahnya.
Rukmini maju mendelik tajam. "Apa kau berniat membunuhku, hah?! Lihat potongannya, terlalu panjang dan kasar! Cepat bersihkan! Aku sudah hilang selera!"
Nina menelan ludah, berlutut mengambil serpihan mangkuk dan gundukan kangkung panas itu menggunakan tangannya untuk dibuang ke tempat sampah. Namun, baru saja ia berdiri, bentakan Rukmini kembali menghentikannya.
"Mau kau bawa ke mana kangkung itu?!"
"Mau Nina buang ke belakang, Bu," jawab Nina tulus.
"Enak saja dibuang! Kau pikir beli kangkung tidak pakai uang, hah?!" Rukmini menuding wajah Nina. "Kau yang memasaknya, kau yang harus menghabiskannya!"
Nina terbelalak. "Tapi, Bu, ini sudah jatuh ke lantai kotor dan terkena pecahan beling.."
"Aku tidak peduli! Cepat makan!" bentak Rukmini tanpa belas kasihan.
Dada Nina bergemuruh hebat. Di bawah tatapan mengintimidasi sang mertua dan senyum puas Ruhi yang bersedekap dada, Nina terpaksa berlutut kembali. Dengan jemari gemetar, ia memungut helai demi helai kangkung berdebu itu dan memasukannya ke dalam mulut.
Setetes air mata hangat menetes jatuh menimpa kangkung di tangannya. 'Nenek, Nina rindu Nenek.' bisiknya menjerit dalam hati. Di balik tirai dapur, Mbok Siti menyapu air matanya sendiri, tak kuasa menyaksikan penderitaan gadis berhati emas itu.
**
Malam harinya, siksaan pagi itu membekaskan rasa sakit yang luar biasa. Perut Nina melilit hebat hingga tubuhnya menggigil di atas ranjang.
"Aduh, perutku sakit sekali." keluh Nina meremas jemarinya.
Roni yang baru selesai mandi bergegas mengikis jarak, mengusap dahi istrinya yang membasah oleh keringat dingin. "Kamu kenapa, Dek?"
Nina menggeleng pelan, enggan membeberkan kehinaan yang dialaminya pagi tadi. "Mungkin salah makan, Mas. Oh iya, bolehkah aku bicara sesuatu?"
"Bicara saja dek," sahut Roni sembari menggenggam erat tangan Nina.
"Aku mau kita pindah rumah saja, Mas," bisik Nina menatap manik mata suaminya dengan tatapan memohon.
Roni tertegun. Melihat raut ketakutan di wajah Nina, ia tak perlu bertanya lebih lanjut untuk tahu apa yang terjadi selama ia pergi bekerja. Roni menghela napas berat, dipeluknya sang istri rapat-rapat.
"Bukan Mas tidak mau. Tapi berikan Mas waktu sampai Mbak Ruhi menikah bulan depan. Mas janji, setelah Mbak Ruhi dipersunting orang, kita akan langsung keluar dari rumah ini," bisik Roni.
Mendengar janji suaminya, Nina hanya bisa pasrah mengangguk.
*
Waktu berlalu bagai kedipan mata. Hari yang dinanti Ruhi pun tiba. Pesta pernikahan megah digelar di kediaman Rukmini. Seluruh penjuru rumah disulap menjadi bangsal pengantin berdekorasi serba biru yang mewah.
"Ron, ini seragam untuk acara besok," Ruhi menyodorkan sebuah kantong plastik pada Roni.
Roni merengkuh kantong tersebut, namun dahinya berkerut saat mendapati isinya. "Kok cuma satu stel, Mbak? Untuk Nina mana?"
"Kainnya tidak cukup!" sahut Ruhi acuh tak acuh sembari memoles kukunya. "Yang penting dia pakai baju warna senada saja, tidak usah aneh-aneh!"
Roni mengepalkan tangan menahan amarah. Demi menjaga perasaan istrinya, malam itu Roni memutuskan untuk menolak mengenakan seragam keluarga tersebut dan memilih memakai kemeja biasa yang senada dengan gaun pudar milik Nina.
Saat rombongan pengantin pria tiba dalam deretan enam mobil mewah, sorak-sorai tetangga membumbung tinggi. Ruhi resmi dipersunting oleh Herman, seorang pria berpenampilan rapi yang mengklaim bekerja sebagai agen properti sukses.
Sepanjang acara akad dan pesta yang meriah, Nina sama sekali tak diperbolehkan menampakkan diri di ruang tamu. Rukmini menyuruhnya mengurung diri di dapur membantu Mbok Siti mencuci tumpukan piring kotor.
Baru ketika larut malam tiba dan para tamu melangkah pulang, rumah kembali lengang. Nina meluruskan kakinya yang pegal di tepi ranjang saat Roni masuk.
"Maafkan keluarga Mas ya. Semoga suatu hari hati Ibu terbuka," bisik Roni lembut sembari mengusap kepala istrinya. Nina hanya mengulas senyum tipis, lalu memejamkan mata karena kelelahan yang luar biasa.
Keesokan harinya, aroma racikan rempah kembali menyeruak dari dapur. Herman yang baru bangun melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air dingin.
"Ada yang ketinggalan, Mbok?" tanya Nina tanpa menoleh, mengira itu Mbok Siti yang baru saja pamit ke warung.
"Ehem."
Nina terkejut. Ia membalikkan badan dan mendapati Herman, kakak ipar barunya sedang berdiri bersandar di pintu dapur, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang tak biasa.
"Kau, istrinya Roni, ya?" tanya Herman, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang membuat bulu kuduk Nina berdiri.
"Iya, Mas," sahut Nina singkat, bergegas menundukkan pandangannya.
"Cantik juga," gumam Herman pelan sebelum akhirnya berlalu.
Di meja makan, seluruh anggota keluarga berkumpul menyantap sarapan hidangan Nina. Herman menyendokkan lauk ke piringnya, lalu mengunyahnya perlahan.
"Masakan ini enak sekali," puji Herman tiba-tiba.
Ruhi yang sedang mengunyah langsung menghentikan gerakannya, wajahnya ditekuk kesal. "Aku juga bisa memasak yang jauh lebih enak dari itu!"
"Betul kata Ruhi. Anak Ibu ini jago memasak," timpal Rukmini membela anak kesayangannya, meski Mbok Siti di balik tembok dapur hanya bisa menggelengkan kepala mengetahui Ruhi tak pernah menyentuh kompor.
Di tengah keheningan sarapan, Roni mendadak meletakkan sendok dan garpunya. Ia menatap ibu dan kakaknya dengan raut wajah mantap.
"Bu, Mbak. Ada hal penting yang mau Roni sampaikan sebelum Roni berangkat kerja," ujar Roni memecah suasana.
"Ada apa, Ron?" tanya Rukmini acuh.
"Roni dan Nina memutuskan untuk pindah dari rumah ini mulai besok."
PRANG!
Rukmini tersentak kaget. "Apa-apaan kamu, Ron?!"
"Apa maksudmu, Ron?!" seru Ruhi ikut meradang.
"Aku sudah berjanji pada Nina, setelah Mbak Ruhi menikah, kami akan mandiri," tegas Roni tanpa ragu.
"Mau pindah ke mana kamu?! Daripada uangmu habis dibuang-buang untuk bayar kontrakan demi menuruti wanita itu, lebih baik uangnya kamu serahkan pada Ibu!" cecar Rukmini dengan mata mendelik.
Roni menggeleng tenang. "Kami tidak akan menyewa kontrakan, Bu. Kami akan pulang dan menetap di rumah Nek Nilam di desa."
"APA?!" pekik Rukmini dan Ruhi serempak, suara mereka menggelegar memenuhi ruang makan.
Nina yang mendengar pernyataan suaminya pun ikut terhenyak. Roni tak pernah membicarakan rencana kepindahan mereka ke desa Nina.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭