NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:160
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30

Jamuan yang Menjadi Perangkap

Pertemuan tertutup itu berlangsung di ruang baca Eyang Sri.

Hartono duduk di kepala meja. Wida berada di sebelahnya. Rendra berdiri dekat jendela, sementara Kirana mengikuti dari kursi roda karena tubuhnya belum pulih setelah melahirkan. Sasa ditinggalkan bersama perawat di kamar lain.

Pak Handoko datang melalui pintu samping agar tidak terlihat staf rumah.

"Sekar sudah meminta audit penuh," katanya. "Kalau buku lama dibuka, aliran dana Astarasa dan pengalihan saham akan terlihat."

"Hapus yang bisa dihapus," ujar Wida.

Pak Handoko menggeleng. "Dia sudah menyimpan nomor dokumen. Menghilangkan arsip sekarang justru membuktikan ada pelanggaran."

Eyang Sri mengetukkan tongkat. "Lalu untuk apa kami membayarmu selama ini?"

"Untuk menjaga kendali operasional. Bukan untuk mengubah hukum. Selama Sekar masih pemegang hak tertentu, paten inti tidak bisa dialihkan tanpa persetujuannya."

Hartono menatap Rendra. "Itulah sebabnya pernikahanmu tidak boleh berakhir sebelum dia menandatangani."

Rendra berbalik dari jendela. "Aku tidak akan memaksanya melepas semua aset."

Wida tertawa pendek. "Kamu sudah mengejarnya di jalan seperti orang kehilangan akal. Sekarang mau berpura-pura membela? Kalau dia menang gugatan dan membawa bukti serangan, kariermu selesai."

"Kirana yang mengirim orang."

"Mas tahu!" Kirana menahan sisi perut ketika bergerak terlalu cepat. "Mas tahu ada orang Ayah yang mengurusnya."

"Aku tidak tahu akan ada senjata."

"Cukup," potong Hartono. "Kalian berdua sama-sama bisa jatuh. Karena itu Sekar harus dibuat kehilangan kredibilitas sebelum sidang."

Ia membuka rancangan acara keluarga. Yayasan Danuwijaya akan mengadakan peringatan ulang tahun berdirinya sekaligus peluncuran program sosial baru. Wartawan, donatur, dan tokoh bisnis akan diundang. Di atas panggung, keluarga akan mengumumkan rekonsiliasi dengan Sekar.

"Dia tidak akan datang," kata Rendra.

"Dia akan datang kalau kita menawarkan pengembalian dokumen dan aset milik ibunya," jawab Eyang Sri. "Dia terlalu peduli pada keluarga Reksonegoro."

Pak Handoko mendorong map abu-abu ke tengah meja. Di dalamnya terdapat surat pelepasan klaim atas seserahan, pernyataan bahwa Sekar pergi karena hubungan dengan lelaki lain, dan kuasa pengelolaan hak suara serta paten.

"Tiga dokumen ini tidak boleh terlihat bersama," katanya. "Tanda tangan diperoleh pada meja berbeda. Pernyataan rekonsiliasi lebih dulu. Kuasa aset diselipkan dalam berita acara pengembalian."

"Dan kalau dia membaca?" tanya Kirana.

Wida menatapnya. "Kita buat keributan. Kamu tahu caranya."

Kirana tersenyum tipis. Rasa sakit membuat wajahnya pucat, tetapi kebencian menghidupkan matanya. "Saya bisa datang membawa Sasa. Kalau Sekar menolak berdamai di depan bayi, dia akan terlihat kejam."

"Sasa tidak dibawa ke kerumunan," kata Rendra.

"Baru sekarang Mas peduli?"

Rendra menatapnya tajam. "Jangan gunakan bayi untuk urusan ini."

"Kita semua dipakai untuk urusan ini," balas Kirana. "Bedanya, Sekar selalu punya pilihan untuk pergi."

Hartono mengangkat tangan. "Bayi tetap di rumah. Kita tidak butuh risiko medis. Kirana cukup hadir sebentar."

Rencana lain disiapkan di belakang panggung. Seorang perempuan akan mengaku pernah melihat Sekar bersama Arka sebelum meninggalkan rumah. Foto dipotong agar tampak intim. Ketika suasana kacau, petugas keamanan akan membawa Sekar ke ruang privat untuk 'menenangkan diri'. Di sanalah dokumen akhir menunggu.

Pak Handoko menunjukkan susunan acara yang sudah dimodifikasi. Sesi tanda tangan dijadwalkan segera setelah kesaksian palsu, sebelum wartawan diberi kesempatan bertanya. Layar besar akan menampilkan foto Sekar berada dalam pelukan Arka saat dievakuasi dari halaman berdarah, tetapi bagian yang memperlihatkan ambulans dan garis polisi telah dipotong.

"Kalau dia menyebut hasil toksikologi?" tanya Wida.

"Kita katakan pemeriksaannya dilakukan atas kemauan sendiri dan tidak membuktikan siapa memberi obat," jawab Hartono. "Wartawan yang kita undang akan mengarahkan pertanyaan pada hubungan dengan jenderal."

Rendra mengambil salah satu foto. "Ini malam dia diserang. Kalian mengubah penyelamatan menjadi perselingkuhan."

"Kamu sendiri cemburu saat melihatnya," kata Wida. "Publik akan berpikir sama."

"Aku tidak setuju memakai foto ini."

Eyang Sri memandangnya tajam. "Tetapi kamu setuju Sekar harus pulang dan menarik gugatan. Jangan ingin hasilnya kalau tidak sanggup melihat caranya."

Rendra meletakkan foto tanpa merobeknya. Sekali lagi, keberatannya berhenti sebelum menjadi tindakan.

Kirana melihat keraguan itu dan tersenyum pahit. "Mas takut Sekar membenci Mas? Dia sudah membenci kita semua."

"Aku hanya tidak mau perkara serangan dipakai melawan kita."

"Selalu nama Mas," bisik Kirana. "Bukan aku. Bukan Sasa. Bukan Sekar."

Hartono meminta mereka diam. Ia menunjuk dua tombol panggilan di meja panitia. Satu memanggil staf acara, satu lagi tim keamanan keluarga. Jika Sekar menolak mengikuti sesi privat, aliran listrik panggung akan diputus dan pintu samping ditutup atas alasan keadaan darurat.

"Tidak ada bekas luka, tidak ada kamera pribadi, dan tidak ada keributan di depan umum," katanya.

Pak Handoko menambahkan, "Begitu kuasa hak suara ditandatangani, kami bisa mengesahkan restrukturisasi sebelum pihak Reksonegoro mengajukan pembekuan. Setelah itu, Sekar boleh pergi ke mana pun."

Tidak seorang pun di meja bertanya apakah tanda tangan yang diperoleh melalui penahanan dan kekacauan masih bisa disebut persetujuan.

"Tidak ada kekerasan," kata Rendra.

Eyang Sri menatap cucunya dengan dingin. "Keluarga ini sedang menyelamatkan namamu. Jangan mengatur cara kami setelah kamu gagal mengurus istrimu."

Rendra mengepalkan tangan. Ia ingin Sekar kembali, tetapi tidak pernah bertanya apakah cara membawanya kembali akan menghancurkan perempuan itu sekali lagi.

***

Dua hari kemudian, kurir mengantar sebuah kotak putih ke Vila Reksonegoro.

Bening memeriksa paket sebelum membawanya masuk. Di dalamnya ada undangan berlapis emas, selembar daftar barang yang katanya akan dikembalikan, dan surat tulisan tangan Rendra.

`Datanglah. Aku akan menyelesaikan semuanya di depan keluarga. Tidak ada yang akan menyakitimu.`

Sekar membaca kalimat itu tanpa ekspresi.

"Kalau dia harus menjanjikan tidak ada yang menyakiti, berarti dia tahu tempat itu tidak aman," kata Ningsih.

Pak Djoyo memeriksa daftar barang. "Mereka menyebut sertifikat lama rumah Ratih dan satu kotak arsip Eyang. Kalau benar ada, kita membutuhkannya."

Arka bergabung melalui panggilan video dari Kota Palagan. Yudha berada di Vila bersama tim keamanan sipil dan berkas penyidik.

"Anda tidak wajib datang hanya karena mereka memegang dokumen," kata Arka.

"Kalau aku tidak datang, mereka akan terus memakai dokumen itu sebagai umpan."

"Kalau datang, mereka mungkin mencoba menahan Anda lagi."

Sekar menatap layar. "Karena itu kita buat mereka percaya aku masuk perangkap, sementara semua pintu sudah diawasi."

Arka tidak langsung setuju. "Saya ingin rencana keluar sebelum rencana masuk."

Mereka menyusun keduanya.

Bening memetakan pintu ballroom, tangga darurat, ruang persiapan, dan area parkir. Yudha menghubungi penyidik agar kehadiran petugas didasarkan pada perkara yang sedang berjalan, bukan perintah pribadi Arka. Ningsih menyiapkan transmisi langsung terenkripsi dari bros Sekar, tetapi hanya akan merekam area percakapan yang ia ikuti.

Pak Djoyo dan Eyang Kus menangani sisi perusahaan. Pada jam acara, mereka akan meminta salinan resmi buku saham dan mengirim pemberitahuan hukum yang membekukan perubahan terkait paten sampai sengketa diperiksa.

Ratih dan Bayu mengambil peran terpisah. Ratih akan hadir sebagai pihak yang namanya dipakai dalam beberapa dokumen lama, sedangkan Bayu menunggu bersama kuasa hukum di luar ruang acara. Jika penyelenggara menghalangi Ratih memberi keterangan atau mencoba membawa Sekar ke ruang tertutup, mereka akan meminta polisi mencatatnya sebagai bagian dari pola intimidasi.

"Mama yakin mau masuk?" tanya Sekar melalui panggilan.

"Dulu mereka memakai diam Mama untuk membuat semua tanda tangan terlihat benar," jawab Ratih. "Kali ini Mama akan berdiri di sampingmu dan mengatakan mana yang tidak pernah Mama setujui."

Suara ibunya masih lembut, tetapi tidak lagi mudah dipotong.

Bening menyiapkan kata aman. Jika Sekar mengucapkan `delima belum matang`, seluruh tim akan menghentikan acara dan mengeluarkannya. Jika sambungan komunikasi terputus lebih dari tiga puluh detik, mereka tidak menunggu kata aman.

"Jangan mencoba bertahan hanya untuk mendapatkan satu pengakuan lagi," pesan Bening. "Bukti kita sudah cukup untuk melanjutkan perkara. Keselamatan lebih penting daripada drama panggung."

Sekar mengangguk. "Kalau situasi berubah, kita keluar."

Arka yang masih berada di layar baru menyetujui rencana setelah setiap jalur keluar, kendaraan, rumah sakit terdekat, dan kontak penyidik tertulis. Ia tidak menawarkan seragam sebagai ancaman. Kehadirannya dirancang sebagai saksi dan pengaman, bukan pusat pertunjukan.

"Mereka mungkin menyelipkan kuasa dalam berita acara pengembalian," kata Sekar. "Aku tidak menandatangani apa pun di tempat. Semua dokumen difoto, diberi tanda terima, lalu diperiksa pengacara."

"Bagaimana kalau mereka membuat tuduhan baru di panggung?" tanya Ningsih.

Sekar membuka folder bukti. "Kita siapkan tiga lapis jawaban. Pertama, dokumen publik tentang hak Vila dan kontrak. Kedua, toksikologi serta log hotel jika mereka membuka foto lama. Ketiga, rekaman Kirana dan jalur Yulia hanya jika penyidik menyatakan waktunya aman."

"Jangan keluarkan lapis ketiga untuk memenangkan perdebatan," kata Arka.

"Aku tahu. Itu untuk perkara, bukan tepuk tangan."

Tatapan Arka bertahan pada wajahnya melalui layar. "Saya akan kembali ke Jakarta pada hari acara."

"Tugas Anda?"

"Sudah diserahkan sesuai jadwal. Saya datang sebagai pendamping keamanan keluarga saya, bukan untuk mengendalikan acara."

Kata keluarga membuat Sekar terdiam. Arka mungkin merujuk kepada Bimo dan Nala yang menjadi sasaran ancaman, tetapi kehangatan tetap bergerak di dadanya.

Anak-anak masuk membawa sepiring buah. Mereka sudah diberi tahu Sekar akan pergi ke Jakarta untuk urusan kerja, bukan detail perangkap.

"Mbak Sekar pulang lagi?" tanya Nala.

"Iya."

"Janji?"

Sekar berjongkok. "Janji."

Bimo menyerahkan gelang benang sederhana yang dibuatnya saat belajar. "Untuk keberanian."

Sekar memakainya. "Aku akan menjaganya."

Setelah panggilan berakhir, Pak Djoyo membalik undangan. Di bagian bawah tercantum tanggal dan lokasi acara.

Jari Sekar berhenti.

"Ada apa?" tanya Bening.

Tanggal itu adalah hari wafat Eyang Wiryo.

Orang-orang yang mengambil keuntungan dari sakit dan kematiannya memilih hari tersebut untuk memaksa ahli warisnya menyerahkan sisa harta.

"Mereka sengaja," kata Pak Djoyo. Wajahnya memerah oleh marah.

Sekar menutup undangan. Anehnya, kemarahan justru membuat pikirannya semakin jernih.

"Bagus," ucapnya. "Kita selesaikan semuanya pada hari itu."

***

Di Menteng, Pak Handoko menerima pesan bahwa undangan sudah dibuka.

Wida memeriksa susunan meja. Hartono menghubungi wartawan yang dapat diarahkan. Eyang Sri menyimpan tiga map di brankas ruang persiapan. Kirana duduk di kamar sambil menyusui Sasa, lalu mengirim satu pesan kepada Yanti.

`Pastikan perempuan saksi itu tidak berubah pikiran.`

Rendra berdiri sendiri di halaman, di depan tunggul pohon delima yang belum disingkirkan.

Ia meyakinkan diri bahwa setelah acara, Sekar akan pulang.

Di Puncak, Sekar menyematkan gelang keberanian dari Bimo di samping jam tangannya.

Kedua pihak menunggu hari yang sama.

Yang satu menyiapkan perangkap.

Yang lain menyiapkan agar perangkap itu menutup pada pembuatnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!